Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Sumber Kehidupan Peri Hutan



Ilustrasi Mutiara Starseed



Marlos, yang telah selesai melakukan kegiatanya bergegas menemui Nonnus dengan berhati hati dalam setiap langkahnya. Sayapnya mengepak laju, pikiranya tidak terfokuskan di jalan yang sedang ia lewati. Sesekali dia menengok ke kanan lalu ke kiri. Pada saat dia menengok, tanpa sengaja bertabrakan dengan Nonnus yang sedang bersama Lobelia di luar.


Gedubrak....


Suara tubuh yang bertabrakan, Lobelia menengoknya.


"Kakak... kau kenapa?" ucap Nonnus.


"Kau katanya ke tempat Lobelia. Kenapa bisa sekarang kau berada di luar. Sudah saya bilang kondisi peri tengah dalam pengawasan. Tidak boleh ada yang berkeliaran di luar ruangan," ungkap Marlos, meninggikan suara.


"Apa...?? Kenapa saya tidak tahu jika ada info seperti itu," tanya Lobelia.


"Apa kau tidak mengerti bahwa kita semua sedang dalam pengawasan kerajaan peri," ujar Marlos.


Lobelia menggelengkan kepala lalu berkata, "jika memang begitu, lalu..." mengernyitkan dahinya, "lalu mengapa kau berada di luar, dan memperbolehkan Nonnus ke tempat saya." Sambung Lobelia kepada Marlos.


"Jadi begini... saya mempercayai kau, Lobelia. Nonnus sangat takut sendiri saat saya tinggal pergi untuk bekerja. Saya 'bergotong royong' bersama peri hutan yang lain membantu pekerjaan mereka. Kami semua diam-diam melanggar aturan karena, kami juga membutuhkan persediaan makanan juga obat-obatan."


"Jadi, seperti itu. Apa kau bisa menceritakan apa yang tengah terjadi dengan peri hutan saat ini," pinta Lobelia.


"Baiknya saya ceritakan di tempat kau saja, Lobelia."


"Baiklah...silahkan," angguk Lobelia memberi jalan.


Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh Ellgar yang telah mempersiapkan hidangan kue dari Belle di meja.


"Waah... makanan dari istana peri," ungkap Nonnus berbunga bunga.


"Kenapa kau bisa tahu?" balas Lobelia.


"Ha ha ha ha... Lobelia masih harus banyak belajar soal peri hutan," jawab Nonnus.


"Iya... tadi Putri Belle datang kemari, dan membawakan kue-kue ini," ujar Ellgar yang kemudian mempersilahkan semuanya untuk duduk dan makan bersama.


Sembari makan kue-kue itu Marlos melanjutkan pembicaraan yang sempat terjeda tadi bersama Lobelia, yang juga di saksikan oleh Ellgar dan Nonnus.


"Saat ini para pengawal kerajaan peri hutan tengah berpatroli baik di dalam istana maupun di luar istana. Itu semua karena telah menghilangnya sumber kehidupan para peri. Apa kaliah tahu apa itu?" ujar Marlos, mendekat.


"Sayap..???" jawab Ellgar dan Lobelia berbarengan tanpa sengaja.


"Haaiiih....bukan."


"Lalu," tanya Ellgar.


"Sumber kehidupan peri hutan adalah sebuah benda pusaka yang berharga dan sakral. Di dalamnya terdapat anak bintang yang mengatur keseimbangan dan kesetabilan peri hutan."


"Hah! bukan sayap." Ujar Ellgar.


"Bukan. Itu kami sebut sebagai Mutiara Starseed."


"Sebuah mutiara??" timbal Lobelia, bertanya.


"Iya, itu bukan mutiara biasa. Mutiara Starseed telah memberikan kekuatanya pada kehidupan para peri hutan. Bahkan sang Phon dapat hidup sampai ratusan tahun juga dari kekuatanya, begitu pula dengan Ratu Pheesa."


"Ada apa dengan Ratu,'' tanya Lobelia.


"Dia pernah mengalami masa kritis beberapa tahun lalu karena ulah peri dari luar yang mencoba menerobos masuk dan membuatnya terluka. Mutiara Starseed memberinya energi kehidupan pada Ratu Pheesa untuk hidup ke dua kalinya dan bangun dari masa kritisnya."


"Dengan kata lain mutiara tersebut dapat memberikan kita apa saja." Sambung Lobelia, bertanya memastikan.


"Ya, benar sekali." Jawaban dari Marlos, membusungkan dada.


"Lalu bagaimana jika mutiara itu hilang," tanya Ellgar. Lobelia, mengikuti Ellgar dengan anggukan kepada Marlos.


"Kami seluruh peri hutan tidak akan mengerti tentang hal itu." Menunjukan ekspresi murung.


"Iya... kakak benar. Jika terjadi apa-apa kami pun pasti ikut terkena dampaknya. Tapi, kami juga tidak mengerti harus bagaimana," timbal Nonnus dengan ekspresi sedihnya.


"Ini tidak bisa di biarkan. Kehidupan para peri bisa terancam. Jika memang seperti ini kejadianya, kenapa para pengawal tidak perketat penjagaan sampai kemari. Ellgar, apa sebaiknya kita pergi ke istana dan bertanya pada mereka." Tanya Lobelia kepada Ellgar dengan kode alis mata terangkat satu.


"Tenang Lobelia... tenang. Kita setelah ini akan pergi bersama. Kita pun juga tidak tahu siapa pelakunya. Bagaimana jika dengan diantara kita," balas Ellgar.


"Ehem..ehem.." deheman dari Ellgar. "Hehehe.... kenapa jadi berubah suasana? apa saya salah berkata barusan," tanya Ellgar.


"Tidak... tidak!! tidak apa yang salah. Aah...tapi Ellgar apa yang Lobelia ucapkan benar. Lebih baik segera bergegas ke istana peri."


"Ya, kau betul. Apa kalian juga ikut?"


"Tidak! kami tidak dapat ikut."


"Kenapa begitu?" balas Ellgar.


"Saya dan Nonnus harus segera kembali ke rumah. Jika kami kembali sebelum mereka datang kami akan lolos dari hukuman. Dan juga, jika kami ketahuan bersama kalian kami akan di hukum."


"Ya...ya. Kau benar juga, Marlos."


"Kalau begitu, kami permisi."


"Ya, hati-hati di jalan.''


Ellgar, dan Lobelia saling menatap. Mereka saling mengerti apa yang harus di lakukan selanjutnya.


Di tengah perjalanan terdengar, " Hahahahahahaha...." tawa keras dari kakak beradik Marlos, dan Nonnus.


Keesokan harinya Ellgar dan Lobelia, yang kemarin berencana bergegas menuju istana kini telah sampai di tempat.


"Apa yang telah kalian semua perbuat di saat genting seperti ini."


Lobelia, berteriak dan menggila di dalam istana dengan menyebutkan perkataan yang sama berulang kali. Karena tidak tahan dengan kelakuan Lobelia, ke tiga serangkai Soni, Sila dan Grek mencegahnya untuk tidak mengacau lebih parah lagi.


"Apa yang kau maksut," sahut Grek menyodorkan tombak perinya.


"Oo.. ou ou ou ou," ucap Lobelia mencoba menghindar dan mendorong tombak Grek.


"Kenapa kalian diam di saat genting seperti ini?"


"Apa sebenarnya yang kau maksut dengan genting," tanya Soni.


"Mohon...mohon tenang. Kami hanya ingin mencari Putri Belle yang sudah tidak terlihat sejak tadi. Katanya dia akan ke tempat kami. Tapi beliau tidak kunjung datang ke tempat kami, jadi kami pikir Putri dalam keadaan bahaya." Balas Ellgar, menenangkan suasana.


"Kau jangan berlebihan!!! Putri ada di dalam merawat Ratu," jawab Grek.


"Ratu...?? kenapa dengan Ratu, dan kemana Ratu," tanya Lobelia dengan ekspresi kegilaanya yang panik.


"Ratu sedang sakit," balas Sila.


"Sakit?? sakit apa," tanya lagi Lobelia.


"Kau ini!!! Ratu Pheesa sedang sakit. Jangan mengganggu."


Para garda depan itu dengan tatapan tajam, dan sinis menghalangi Ellgar dan Lobelia untuk mencari tahu tentang keadaan Ratu yang sebenarnya. Soni, Sila, dan Grek tidak mengerti apa yang tengah di rencanakan oleh Ellgar dan Lobelia.


"Jika memang Ratu sedang sakit, mengapa kalian tidak mengobatinya?" tanya Ellgar.


"Kau jangan sembarangan berbicara."


"Penasihat Qin Perak telah merawatnya. Dan para peri hutan seperti Marlos dan yang lain juga telah merawatnya dengan memberi racikan tanaman obat," ungkap Sila tegas.


Lobelia sontak kaget mendengar pernyataan dari Sila tersebut.


"Apa saya boleh menawarkan bantuan," tanya Lobelia.


"Kau bisa apa?" balas Grek.


"Saya juga seorang peri peracik obat, dan kemampuan saya sudah turun temurun dari leluhur."


"Leluhur..."


"Maksutnya dari pendahulu saya."


"Tidak bisa!"


"Saya mohon, berikan saya kesempatan. Saya bisa mengobati, saya ingin membantu." Balas Lobelia, memaksa masuk ke ruangan Ratu Pheesa hingga terjadi saling dorong yang membuat Ellgar marah karena Lobelia terpelanting akibat dorongan dari Grek.


Penasihat Qin Perak, yang berada di dalam ruangan Ratu sampai keluar akibat dari keributan yang mereka berlima perbuat.