Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Isi Pengelihatan Qin Perak



Pada hari berikutnya peri kecil Lobelia telah mempersiapkan obat yang telah ia racik untuk para peri istana. Dia berangkat di temani Ellgar seperti biasa. Lelaki itu selalu setia menemaninya dan mendukung setiap hal yang di perbuat Lobelia. Perbuatan baik keduanya sebagai tanda syukur mereka atas kehidupan yang telah di anugerahi oleh Dewa kehidupan.


Lobelia, di istana membagikan obat yang telah dia racik untuk di berikan kepada Ratu dan para pelayan. Seketika itu pula setelahnya Qin Perak mendatangi Lobelia, dengan maksut ingin berbicara empat mata denganya di tempat sang Phon.


"Apa nona masih mengingatnya," tanya Qin Perak.


"Ya... saya dan Ellgar, sampai di sini melalui pohon ini."


"Yang perlu kau ingat nona, dia adalah Phon. Layaknya kita, dia juga makhluk hidup yang dapat mati."


"Iya, penasihat Qin."


Dengan hati-hati Lobelia menjawab, dan kemudian diam dengan menatapnya. Dia ingin mencari tahu apa maksut dari Qin Perak mengajaknya ke tempat itu.


"Saat ini kau tidak perlu khawatir padaku. Kau telah mengetahui tentang kekacauan di istana, Nona. Kau begitu berani, kau mampu membuat suasana berubah seketika bahkan kau mampu membaca peristiwa yang akan terjadi. Nona Lobelia..." suara lembut itu terhenti dan tersenyum pada Lobelia.


"Iya..." jawab Lobelia.


"Kau sudah tahu tentang kakak beradik itu. Tapi, kami tidak bisa dapat bukti kuat jika hanya dengan racikan obat itu saja. Awalnya saya sendiri yang mengujinya tapi, dia terlalu cerdik. Saya bahkan tidak dapat membaca tiap rencana dan langkahnya."


"Penasihat... kau!"


"Tidap apa...Nona. Nona..."


"Iya.."


"Penasihat ini ada satu permintaan padamu."


"Iya, silahkan penasihat Qin."


''Bantulah kerajaan hutan peri ini, akan ada peristiwa besar di kemudian hari yang menimpa tempat ini. Saya tahu bahwa kau adalah seorang manusia suci dari tempat suci itu yang di naungi oleh para Dewa-Dewi langsung. Jadi, mohon bantuan dari kau kedepanya, nona."


Pernyataan itu sontak membuat Lobelia terkejut yang membuatnya membelalak terdiam.


"Dari mana kau mengetahuinya?"


"Sang Phon lah saksinya. Apa kau pernah mendengar tentang pohon ini dapat berkomunikasi layaknya seperti kita. Dan di dunia ini hanya ada dua peri yang dapat mendengarnya."


"Siapa, kau? dan siapa lagi," tanya Lobelia dengan mengangkat kedua alis.


"Sang Ratu, Ratu Pheesa."


"Huh!!!"


"Kau tenang saja, sang Phon hanya mengatakanya kepada saya. Dia jarang sekali berkomunikasi langsung dengan Ratu Pheesa."


"Apakah kau dapat merahasiakan ini?"


"Ya, nona... tapi, saya dapat menggambarkan jika ini tidak akan bertahan lama."


"Kenapa bisa begitu?"


"Saya pun tidak mengerti. Saya hanya mendapatkan pengelihatan sedemikian rupa. Jika kau dan Ellgar lah yang dapat menyelamatkan dunia peri sampai akhirnya kalian sendiri yang akan membuka identitas diri kalian sendiri."


"Apakah benar seperti itu?"


"Sesungguhnya ini benar atau tidak masih menjadi rahasia alam."


"Baik," angguk Lobelia.


Setelah itu penasihat Qin Perak menunjukan sesuatu pada Lobelia tepat di bagian perut sang Phon. Satu tangan kananya menyentuh badan yang keras itu, kemudian terdapat pancaran cahaya yang keluar dari dalam perut sang Phon yang berwarnwa violet dan terbukalah dimensi lain yang memperlihatkan bentuk manusia mungil cantik seperti bayi sekecil peri namun tak bersayap. Dia terlihat tengah terlelap dalam tidur.


"Dialah yang sering berkomunikasi dengan saya Nona," ujar Qin perak. Sambungnya lagi," jangan lihat bentuknya. Suaranya besar dan menggema tidak seperti tubuhnya."


"Tidak, nona! dia tidak tertidur. Dia juga dalam kondisi yang lemah. Sang Phon juga mendapatkan energi kehidupan dari mutiara starseed. Jika sebuah pintu utama dan pemimpin dalam suatu kelompok melemah, maka pertahanan pun akan melemah pula. Apa dari sini kau dapat mengerti, nona?"


"Emm.." jawabnya mengangguk.


"Coba...dekatkan tubuh mu pada sang Phon," ujar Qin Perak.


"Baik."


Sayap cantik dari Lobelia mengepak dengan sendirinya dan hempasan angin darinya membuat pohon yang redup itu bercahaya kembali dalam beberapa detik saja.


"Jadi nona, seperti yang kau lihat. Sayap mu memiliki energi kehidupan juga seperti milik mutiara starseed. Di dalam mutiara starseed terdapat anak bintang yang dapat keluar kapan saja jika di perlukan oleh pemiliknya khusunya di saat genting. Satu yang perlu kau ingat lagi, jika kau memberikan sayap mu kau dapat membantu kehidupan para peri, namun ada yang harus kau relakan untuk membayarnya."


"Apa itu?"


"Kau kembali menjadi manusia seutuhnya lagi."


"Apa! apa itu juga berlaku pada Ellgar?"


"Ya. Kalian berdua memiliki kekuatan energi kehidupan yin dan yang."


"Jadi, itu alasan kau membawa saya kemari."


"Ya. Namun, saya kembalikan lagi semuanya pada keputusan kau sendiri, nona."


"Pasti akan ada jalan keluarnya," ujar Lobelia.


Selepas dari Phon, Lobelia di dalam istana terus memikirkanya. Dia berpikir keras kenapa bisa seperti ini. Dia tiba-tiba teringat dengan kejadian Grece yang melihat Pilar bunga segi 5 di gunung melian. Dia sedang ingin sendiri, sembari mencari solusi untuk kali ini. Setiap harinya dia tetap merawat Ratu secara rutin dan pembersihan dalam kamar Ratu Pheesa.


"Ada apa?" tanya Ellgar yang mencemaskanya.


"Sebenarnya hasil dari racikan Marlos sudah bisa menjadi bukti. Tapi, Qin Perak berkata itu belum bisa menjadi bukti kuatnya."


"Lalu... bagaimana?"


"Apa kau ada rencana," tanya balik Lobelia.


"Bagaimana jika begini ****." Ellgar memberitahukan tentang rencananya untuk kakak beradik itu.


.


.


#Di tempat lain : Kerajaan wilayah timur.


"kemungkinan mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi."


"Apa kau bilang! kurang a***r."


Dari balik bilik di kegelapan malam terdengar suara dua orang yang bertengkar hebat dan cukup keras. Terlihat hanya bayangan tubuh mereka serta melakukan tindak kekerasan sesekali terlihat dari balik bilik bayangan itu. Suara itu terdengar seperti suara wanita dan laki-laki yang berbadan tinggi besar.


"Haaaahh....!!! Braaak"


Suara barang yang di geser dengan keras dan geraman laki-laki itu.


"Bo***h semua! tidak becus. Pergi kau dari hadapanku. Sekarang!!!"


"Ba...baik."


Malam itu, di atas atap di bawah sinar rembulan. Kedua mata itu menatap sayu ke atas langit melihat sinarnya yang indah dan menenangkan. Terlihat dua anak kecil yang berkejar kejaran dan saling tertawa satu sama lain bersama di dalam bayangan cahaya bulan. Terlihat pula wanita itu memasangkan riasan kepala di rambut kawan kecilnya itu.


"Mereka sepertinya telah dewasa. Anak-anak itu, suatu hari nanti akan menyelamatkan negara ini Hua Shanguang, Zhu Wulan."