
"Saya lupa memberikan pedang ini padamu."
''Guru... ini untuk apa?" tanya Lobelia.
"Semoga kau bertahan dengan hukuman ini. Pedang ini saya pesan khusus untuk kau."
"Guru..."
"Walaupun kau jauh, berlatihlah dengan baik. Jangan dengarkan isu-isu di luar pafiliun awan."
"Guru, kali ini saja! saya mohon, ijinkan saya bertemu denganya. Saya sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya."
"Kau sungguh keras kepala, Lobelia. Kau bahkan tidak membalas pembicaraan saya dan malah menanyainya."
"Saya mohon pada guru."
"Huuuuft... " helaan napas panjang, Te Heya.
"Baiklah, besok saya beri waktu kau untuk bertemu denganya tepatnya di malam hari agar tidak mencolok."
"Baik. Terimakasih, guru."
.
.
.
Mansion Bawah.
"Paman, saya mewakili Lobelia, mengijinkan Ellgar untuk bertemu denganya besok malam."
"Dewi... saya tidak berani membantah, jadi saya akan menyampaikanya."
"Terimakasih atas kerjasamanya."
"Sama-sama dewi."
3 bulan berlalu Grece, yang di rawat oleh Lysandra akhirnya, sembuh total hanya saja saat ini dia tidak memiliki inti spiritual lagi, dan berusaha menepati janjinya.
"Kau yakin akan tinggal di vihara, dan menjadi biksuni?" tanya Elvern.
"Ya."
"Itu keputusanya, itu yang terbaik." timbal Lysandra.
"Terimakasih atas dukunganya. Bila kalian mendengar kabar tentang Lobelia, tolong beritahu saya juga."
"Jangan khawatirkan itu, kami akan siap membantu kau."
"Terimakasih."
Saat ini Grece menjadi pribadi yang dingin seperti gunung es.
Dia belum pernah mendengar kabar tentang Lobelia, yang sedang berada di pafiliun awan.
Pafiliun venus setelah kejadian 3 bulan yang lalu, sekarang menjadi tempat yang sangat ketat dalam pembelajaran ilmu spiritual. Agaphi, selalu memperhatikan satu persatu dari anak didiknya, agar yang sudah terjadi tidak terulang kembali.
"Bagaimana kabar kau saat ini?" tanya Agaphi.
"Kenapa kau tiba tiba peduli?" tanya balik.
"Kau dulu, mantan murid saya dan pernah memiliki kenangan bersama di pafiliun venus, apa salah jika saya bertanya tentang kabar kau saat ini."
"Seperti yang kau lihat!"
"Kau menjadi... "
Agaphi, melihat seorang wanita yang di depanya itu dengan wujud yang kurus kering berbaju lusuh, dan tak terurus. Dia sedang duduk lemah di tanah sambil memandanginya.
"Kau dulu murid saya yang paling berbakat."
"Jangan samakan!"
"Tapi...mengapa kau membuat diri sendiri menjadi malang seperti ini?"
"Saya tidak butuh belas kasihan kau."
"Apa yang bisa saya lakukan?"
"Pergi!!!"
"Kau mengusir saya?"
"Saya berhak mengusir kau karena, kau bukan siapa siapa lagi."
"Baiklah... istrahat dan makanlah dengan baik."
"Semoga... "
"Semoga?"
"Semoga kita dapat bertemu lagi di kemudian hari dengan status, dan kondisi yang berbeda."
Seringai, Liona pada Agaphi.
Agaphi, hanya menoleh lalu melangkah pergi meninggalkanya di sel.
_________________
"Srriiing.... swooosh.. trang trang sriiing... "
Suara Lobelia, yang tengah berlatih mencoba pedang kebajikanya.
Tanyanya pada pedang barunya itu.
"Apa karena kau di buat untuk kebaikan bukan untuk perlawanan?"
"Lalu, bagaimana jika suatu hari nanti diri ini mengalami masalah untuk melindungi diri sendiri, dan orang yang saya cintai?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Pedang Kebajikan, adalah pedang yang di buat dengan sangat unik, penempanya juga penempa pilihan yaitu, Ellgar, pandai besi yang terampil, dan tuan Xirius, penempa tertua yang mahir sejak jaman Morpha saat masih tinggal di gunung melian.
Pedang ini unik karena, satu satunya pedang yang di buat khusus untuk melindungi yang lemah, digunakan untuk mengangkat nilai nilai kebaikan di bumi. Sangat cocok dengan Lobelia sebagai putri kecantikan. Hanya saja dia saat ini masih belum bisa cara menggunakan pedang tersebut.
Te Heya, berharap suatu hari nanti akan ada satu sosok lagi yang di angkat ke nirwana, dengan harapan yang selanjutnya adalah seorang wanita.
Te Heya, sampai detik ini masih melanjutkan jalan hidup dari kedua orang tuanya.
Keesokan harinya tepat di malam hari sesuai dengan janji temu yang telah di setujui, Te Heya.
"Putri, ada apa?"
Lobelia, di dampingi oleh Te Heya yang akan bertemu dengan Ellgar, di dampingi oleh paman Baron.
Saling mendekat.
"Selama di pafiliun awan saya tidak dapat menggunakan merpati surat."
"Iya, tidak apa."
"Bukan itu!"
"Hah, lalu!"
"Dengarkan baik baik. Saya telah mencari jalan keluar selama 3 bulan, saya telah mengawasi denah dari gunung melian."
Tutur lirih Lobelia, berhati hati.
"Denah apa?"
"Mencari pintu keluar."
"Hah...!!!"
Lobelia, sepontan membungkan mulutnya.
"Ssstt... "
"Ya...ya! maksutnya apa?"
"Maksutnya, mari kita keluar dari tempat ini, dan hidup bersama hingga bahagia di luar sana."
"Tapi, yang saya ketahui di luar sangat berbahaya."
"Apa kau takut, bahaya?"
"Sa... saya, tidak takut apa pun."
"Lalu ... yang benar bagaimana?"
"Apa sudah kau pikirkan matang matang putri."
"Ya."
"Huuuftt.... baiklah."
"Bukankah kau mencintai saya, dan ingin hidup bersama saya."
"Iya... Lobelia. Saya mencintai kau... "
"Hmm... baiklah."
"Besok kita bertemu di malam hari tepat pukul dini hari, dan melakukan sedikit kekacauan untuk mengecoh mereka."
"Pu... putri!"
Karena teriakan Ellgar yang kedua, Te Heya berniat menghampirinya.
"Bagaimana, apa teejadi sesuatu?"
"Iya, maaf saya tanpa sengaja menginjak kakinya."
"Berhati hatilah, ini sudah malam dan gelap. Segera selesaikan, dan kembali."
"Baik."
"Maaf, maaf Lobelia."
"Gak papa, ingat besok bertemu di sini, " suara lirih Lobelia.
"Baik."
Keduanya kemudian pergi meninggalkan tempat, dan kembali ke mansion masing masing.
.
.
.
Grece yang saat ini sedang berada di vihara tengah bersungguh sungguh menjalani kehidupan barunya.
Dia belajar tentang agama dan spiritual dengan membaca buku buku di sana.
Walaupun inti spiritualnya telah di renggut, dia tetap belajar dan belajar. Grece, berpikir di lain hari dia dapat membuat pil yang dapat membangkitkan inti spiritualnya lagi.