
..."Siiiinnnggg..."...
..."Blaar...!!!"...
Suara dari segel yang telah terbuka membelah langit dari biasan cahaya yang berwarna hitam legam kemudian keluarlah seperti tombak berwarna hitam keunguan dan kemudian menghunus ke tubuh Te Heya kemudian perlahan menjadi serpihan cahaya putih dan merah lalu lenyap.
"Dewi !!!!" teriakan dari Elevern yang tak kuasa menahan tangis. Dimana dia tetap didampingi oleh Illios atau Lysandra mereka berdua pun tak kuasa menahan tangis yang begitu menyesakkan dada. Di tengah-tengah tangisan mereka berdua tiba-tiba terdengar suara gemuruh bercampur dengan petir kemudian muncul getaran besar dari langit hingga para penduduk gunung Melian keluar semua untuk menyaksikan fenomena tersebut dari arah langit terlihat getaran besar itu berasal dari sebuah pedang yang telah terlepas dari sabuknya dan kemudian meluncur dengan cepat ke bawah menuju batu spiritual milik Te Heya.
"Itu, Elvern. Lihat...!"
"Iya, saya mengerti. Dia telah pergi untuk selamanya."
Pedang kabut es itu kemudian melekat di atas batu spiritual dan menyatu dengannya sehingga tak berwarna lagi seperti sebelumnya. Elevern dan Illios, begitu kehilangan yang amat mendalam sampai akhirnya Dewa Morpha, yang menyaksikan pedang kabut es kembali tanpa pemilik pun akhirnya turun gunung dan berkata, "Apa yang terjadi padanya." Ungkap tegas menusia setengah Dewa itu.
"Maafkan hamba Dewa... hamba tak mampu melindunginya." Tangis Elevern, bersujud.
"Katakan saja..." ucap Morpha lembut.
"Dewi.... Dewi kebijaksanaan telah lenyap di dataran barat daya bersama dengan singa emas dan dia mewariskan pedang kabut es untuk pemilik yang akan dipilihnya sendiri nanti di masa depan."
"Siapa pelakunya...?"
"Penguasa Apollodorus."
"Ternyata sumpah yang pernah terikrarkan itu masih berlaku hingga sekarang. Baiklah jagalah Melian dengan baik, "ucap Dewa kehidupan."
"Baik, Dewa." Ucap mereka berdua.
Morpha, melihat dari langit dan memberikan bencana besar pada wilayah tersebut berupa kebakaran besar, angin topan, kemudian disusul dengan hujan yang turun terus-menerus dan hujanya begitu lebat dibarengi oleh petir. Lagi-lagi Apollodorus bersama Ecidna, mampu lolos dan seluruh kekuasaan Barat Daya diratakan dengan tanah oleh bencana dahsyat tersebut.
"Uhuk...uhuk, uhuk."
Efek dari bencana itu berdampak pada hutan peri sang Phon masih berusaha melindungi mereka tapi dia berkata kepada Ratu Pheesa bahwa... " aku takkan mampu lagi melawan kemarahan dari alam."
"Apa maksut kau?"
"Bencana ini adalah murka sang Dewa."
"Mengapa??"
"Cobalah untuk mencari solusi dalam setiap masalah jangan mencari masalah dari setiap solusi. Kau hanya perlu meninggalkan tempat ini, segera...!! bersama rakyat mu ! selamatkan rakyat mu."
"Tapi bagaimana denganmu??" suara Ratu Pheesa, yang bertabrakan dengan angin kencang juga kabut tebal yang bisa membuat seluruh makhluk sesak jika menghirup nya.
"Aku sudah tua takkan mampu bertahan lagi waktu kalian hanya tersisa 3 hari Untuk bertahan atau kabut tebal dan genangan air ini akan meluluh lantahkan rakyatmu."
Ratu Pheesa, menangis dalam diam melihat pengorbanan dari kesatrianya itu. Dia mahluk yang sebenarnya begitu kecil dan mungil di mana makhluk itu menempati pohon tua tersebut.
"Cepatlah...! Kumpulkan rakyatmu dan Cari jalan keluarnya."
"Maafkan aku ..." ucap Ratu Pheesa, menatap makhluk kecil itu.
"Pergilah..." jawabnya tersenyum
***
Ellgar dan Lobelia, yang telah mendapatkan informasi tentang kerajaan Timur dan misi Lin Wang bersama kawan-kawannya di sana, mereka segera memutuskan kembali ke hutan peri. Mereka telah berjalan selama 5 hari penuh dan kini telah mendekati hutan peri. Mereka pulang dan terkejut melihat badai besar di depannya. Sayap itu tak lagi mampu membawa keduanya terbang lebih tinggi lagi."
"Apa yang sedang terjadi ?? Mengapa tiba-tiba berkabut dan ada apa dengan angin kencang ini ? kemudian kenapa tiba-tiba banjir sampai sebegitu besarnya juga."
"Lobelia... awas, "Ellgar membawanya ke atas pohon yang masih utuh dan tidak roboh dari terjangan banjir yang datang.
"Apa ini semua?! mengapa ada..."
"Aah...!!" sontak Lobelia kaget melihat fenomena alam seperti ini banjir bandang, kemudian disertai angin kencang, juga terdapat kabut tebal akibat kebakaran hutan hingga gundul di beberapa pohon sampai terbakar hangus, juga terdapat kilatan-kilatan petir yang menyambar. Tak ada makhluk satupun yang hidup kecuali satu berang-berang yang mengambang di atas kayu itu pun dia telah melemah karena telah banyak menghirup kabut asap tersebut.
''Lobelia, pakai penutup ini."
"Ya. Bagaimana kita bisa sampai ke hutan peri."
"Bagaimana jika kita gunakan kayu dari berang-berang yang telah mati itu."
"Baiklah"
"Apa kau masih mampu terbang sebentar untuk menuju ke kayu itu?"
"Ya"
Setelah melewati banyak perjuangan di atas kayu mereka terombang-ambing. Mereka pun sampai pada gerbang sang Phon.
"Ellgar, tunggu !"
"Apa?"
"Kita bagi tugas."
"Ya"
"Kau selamatkan rakyat peri dan saya akan meminta bantuan pada Gunung Melian."
"Tidak !"
"Ellgar," cela Lobelia. "Kali ini saja turutilah permintaan saya." Lobelia, meyakinkan elgar dengan penuh kekuatan yang terpancar darinya.
"Baiklah... tapi bagaimana kau bisa sampai ke sana?"
"Kompas tua dan kayu ini."
"Ya, baiklah. Hati-hati...! kau harus janji untuk kembali dengan selamat."
"Ya, pasti."
Sang Phon, yang Mendengar pembicaraan mereka berdua pun akhirnya memberikan sebuah tunggangan untuk Lobelia agar sampai kepada gunung Melian dengan waktu yang cukup singkat.
...Clliiinng...cliinggg...
Karena mereka berdua tidak dapat berkomunikasi dengan sang Phon akhirnya sang Phon pun hanya memberikan sebuah tunggangan berupa daun dari tubuhnya di mana daun tersebut dapat terbang tinggi hingga membawa Lobelia sampai ke gunung Melian dalam waktu yang cukup singkat.
"Ini maksutnya kau di suruh untuk pakai ini?!" ucap Ellgar.
"Entahlah..."
Karena Lobelia yang tak mampu berkomunikasi dengannya akhirnya dia mengatakan kepada sang Phon bahwa... "jika benar ini maksud mu maka gerakan lah badan mu."
Lalu sang Phon pun, mengiyakan permintaanya dengan menggerakkan tubuhnya.
"Ya"
"Hati-hati Lobelia"
"Baiklah..."
Mereka berdua pun kini akhirnya terpisah kembali dari wilayah tersebut.