
Masih di dalam perut pohon yang cantik, sesaat setelah Lobelia dan Ellgar berdo'a, mereka tiba tiba merasakan tubuhnya terasa ringan dan seketika melayang sejenak. Di sekitar tubuh mereka muncul cahaya kunang-kunang kecil dan, "buuufttt...!!!" mereka berdua menjelma menjadi makluk kecil nan mungil bersayap. Mereka masih bingung sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan 'tubuh besarnya'. Lalu, terdengar suara besar yang menggema ke seluruh ruangan perut pohon tersebut yang berkata, "Do'a...do'a yang kalian panjatkan ku kabulkan. Kalian dapat hidup dengan damai, dengan wujud baru ini... tanpa kejaran dari sang penguasa itu. Hiduplah dengan baik di kehidupan baru yang akan kalian jalani kedepanya. Berlakulah adil kepada sesama, serta berbuat baiklah..." ucap dari sang Dewa yang berpesan kepada dua peri kecil itu.
"Baik...terimakasih atas pertolongan kau, Dewa..." ucap keduanya.
Mereka berdua saling memandang satu sama lain sejenak kemudian mengangguk, tanda siap untuk menempuh petualangan selanjutnya.
"Mari...mari kita nikmati perjalanan ini dengan mengikuti cahaya di depan sana," ujar Ellgar menunjukan jalan.
"Baik...
Sang Dewa melindungi akses menuju jalan ke hutan peri dengan menutupi pohon tersebut dengan pelindung sehingga, tidak dapat di jangkau oleh Apollodorus. Dewa kemudian menurunkan hujan deras di kawasan itu yang bisa menghambat jalanya pencarian Apollodorus.
"S**l kenapa tiba-tiba turun hujan. Wilayah ku tidak pernah di jatuhi air sebelumnya." Teriak Apollodosrus, mendongak ke atas dan kesal.
Ecidna, kemudian membawanya ke tempat lain untuk berteduh.
"Kau tunggu di sini." Ucap Apollodorus pada Ecidna.
Apollodorus, bersiap untuk mencari mereka berdua melalui pengelihatanya. Dia dapat menjangkau seluruh wilayah Thebes karena tanda yang telah dia buat sebelumnya.
Dia berusaha dengan sekuat tenaga berjam jam tapi tidak kunjung bertemu dengan wujud keduanya. Mata yang tetap terpejam, kening 'mengernyit', dan keringat yang mengalir bergantian dari kanan lalu sisi kiri wajah sampai ke tubuhnya. Urat-urat nadi yang terlihat di sepanjang wajah nan tampan jika terlihat oleh orang biasa itu, begitu menggoda dengan derasnya kucuran keringat. Ecidna yang merupakan monster ular naga berkelamin wanita, sesungguhnya adalah seorang perempuan. Dia melihat tuanya yang begitu tampan dan menggoda, akhirnya terpikat olehnya. Kedua mata yang menatap penuh dengan rasa kagum itu, menjadi benih benih cinta yang tumbuh seiring berjalanya waktu.
"Kurang a**r..!!! kemana perginya wanita s****n itu," teriak Apollodorus yang terbangun dari pengelihatanya.
Ecidnya yang mendengarnya pun ikut terkejut dan sontak mendekati tuanya. Dia berputar putar mengelilingi Apollodorus. Jika dia dalam wujud manusia itu menandakan dia tengah di samping Apollodorus dengan posisi mendekap.
"Tuanku..." ucap Ecidna.
"Siapa disana..." seru Apollodorus, bertanya.
"Ini saya tuan, Ecidna."
"Huh...!! kau... kau dapat berbicara?" tanyanya terkejut.
''Iya tuan... saya mendengarkan semua keluhan kau selama ini. Jika boleh tahu, kenapa kau bisa begitu terobsesi dengan wanita itu tuan?" tanya sang naga.
"Itu bukan urusan kau."
"Maaf tuan... saya hanya berniat membantu mu," ucap Ecidna yang sebenarnya hanya sebatas mencari tahu tentang wanita idamanya.
"Dia wanita tercantik yang pernah ku lihat sepanjang masa. Terlebih lagi dia adalah musuh bebuyutan ku."
"Jadi tuan, apa kau menginginkanya karena dia cantik, atau kau menginginkanya karena dia musuh mu...?" tanya Ecidna, memojokan.
"Mengapa kau memberikan ku pertanyaan sesulit ini," bentaknya.
"Saya tidak bermaksut menyulitkan tuanku... jika tuan sang penguasa hebat dapat mengetahui jawabanya, maka tuan juga akan dapat mencarinya, atau memangsa yang baru. Bukankah tuan sedang berencana ingin menghancurkan tempat tinggal mereka...?"
"Yang kau ucapkan ada benarnya? tapi di sini aku masih ingin menggenggam wanitaku."
"Tuan...!!!"
"Kau berani membentak tuan mu?"
"Ti...tidak tuan. Saya tidak berani pada kau tuanku yang hebat," ucap Ecidna gemetar.
"Kau ini, sebenarnya apa?" tanyanya.
"Saya monster ular naga tuan..."
"Lalu kenapa kau dapat berbicara?"
"Saya adalah monster biasa yang mendapatkan kekuatan manusia dari pemilik sebelumnya. Sehingga, saya dapat memiliki kekuatan untuk berubah wujud," jawabnya.
"Oh ya... lakukanlah sekarang," seru Apollodorus, memerintahnya.
"Berubah wujud tepat di hadapan tuan mu ini," ucap Apollodorus.
"Baik."
Ecidna, kemudian merubah dirinya menjadi sosok wanita cantik yang di balut dengan baju berwarna merah maron. Rambutnya hitam memanjang, kulit putih, dan mata yang di percantik dengan kemerahan di sekitar kelopaknya, bibirnya dengan warna pink kemerahan yang begitu menggoda saat berbicara, '' Tuanku...!" ucapnya menyambut tuan yang sedang berada di hadapanya.
"Ya...ya. Kau dalam wujud seperti ini saja saat berhadapan dengan ku." Ujar Apollodorus yang di balas 'senyuman manis' oleh Ecidna lalu, "tapi..!!!" timbalnya membentak yang sontak membuat Ecidna kaget hingga takut. "Kau jangan ikut campur urusan ku dengan wanita itu," sambungnya memperingatkan Ecidna.
"Baik, tuan." Jawaban dari Ecidna, hormat.
"Ayo, kita cari mereka lagi sampai ketemu. Tidak peduli hujan. Turutilah permintaan tuan mu."
"Ba...baik tuan."
Mereka melakukan perjalanan selanjutnya untuk melakukan pencarian.
Di tempat Lobelia dan Ellgar, keduanya terus berjalan ke arah depan dengan mengandalkan feeling masing-masing mengikuti cahaya yang datang kemudian, mengantarkan keduanya pada sebuah pintu ke dunia yang belum pernah mereka temui. Kedua bola mata itu memandang dengan penuh 'binar binar' di sekitar pupil matanya, melihat pemandangan yang sangat memuaskan untuk di nikmati.
"Indah sekali... apa ini?" tanya keduanya diikuti dengan saling bertatapan.
"Ya, Lobelia. Ini lebih indah dari gunung suci melian," jawab Ellgar.
Ilustrasi gunung suci melian :
"Duuugh...aaah..!!" suara benturan kepala Ellgar pada pintu masuk ke arah tempat tersebut.
"Tunggu sebentar. I..ini... ini dinding pelindung." Ucap Lobelia.
"Dinding pelindung...?" tanya Ellgar.
"Ya... ini seperti milik saya. Tapi ini lebih kuat. Pantas saja pohon besar tadi tidak hancur saat terkena guncangan blood storm."
"Ya, Lobelia. Kau benar, saat kita berdo'a tadi saya juga merasakanya," balasnya.
"Emm..." angguk Lobelia lalu berkata, " ternyata pohon ini memancarkan kekuatan pelindung yang kuat dari dalam..." mengarahkan pandangan pada Ellgar.
"Dari mana asal kekuatan besar ini?" tanya Ellgar.
"Saya juga tidak tahu. Mari kita mencari tahunya. Saya akan mencoba dengan kekuatan spiritual saya."
"Baik..."
Lobelia bersiap mengumpulkan kekuatanya dan, " tidak mungkin...!! ini tidak mungkin. Kekuatan saya menghilang," ucapnya kaget melihat dirinya yang tidak memiliki kekuatanya kembali.
"Kenapa bisa ?" tanya Ellgar.
"Apa mungkin, karena tubuh baru ini. Ya, mungkin benar Dewa membantu kita lolos dari kejaran Apollodorus, tapi dia juga mengambil kekuatan saya. Itulah sebabnya dia menyampaikan pesan itu."
"Itu bisa jadi. Tapi setidaknya kita telah selamat."
"Ya...kau benar," jawaban dari Lobelia.
Lobelia dan Ellgar selama 2 hari telah berdiam diri di depan pintu masuk itu. Mereka memakan buah buahan kecil yang tumbuh di sekitarnya. Itu semua sudah cukup untuk mengganjal perut keduanya.
Apollodorus, yang telah sia-sia mencarinya berhari hari pada akhirnya menghukum Ecidna yang dikatakan tidak becus dalam mencari Lobelia. Ecidna pun semakin membenci Lobelia, karena dia Ecidna di salahkan.
Gunung suci melian saat ini masih dalam keadaan tenang dan mulai melakukan pelatihan setiap harinya. Mansion bawah pun saat ini mulai di berikan pembekalan dalam ilmu beladiri, mengingat paman Baron dan para pengikutnya dulu dapat melakukanya dengan baik, yang kemudian di bantu oleh beberapa tetua dari mansion atas. Atas kejadian yang telah terjadi sebelumnya, mereka sekarang bekerjasama untuk bersatu saling bahu membahu menjaga gunung suci melian.