Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Ecidna



Dataran Thebes, begitulah panggilan untuk wilayah yang di penuhi lembah dan hutan, sedikit tandus karena tidak pernah turun hujan. Kini hangus tanpa tersisa apapun akibat amukan penguasa di wilayah itu. Sang penguasa bersama kaki tanganya yaitu, naga tua dari timur kini tengah sibuk melakukan pencarian seorang gadis cantik yang beberapa bulan lalu di temuinya. Namun, apapun usaha yang di lakukanya gagal. Mereka kehilangan jejak dari gadis itu tanpa tersisa petunjuk apapun. Untuk melampiaskan segala amarahnya, dia menyakiti sang naga tersebut.


"Ampun tuan... ampuni saya," seru Ecidna.


"Ini akibat kebodohan kau," ucap Apollodorus yang tetap menyakiti tubuh Ecidna, hingga kondisinya melemah.


Di saat kondisi yang seperti ini, membuatnya teringat dengan pemilik lamanya. Hanya saja mereka berbeda perlakuan untuk Ecidna.


#FlashBack On


"Haha.. hahaha... hihihi..."


Suara tertawaan kecil seorang anak di salah satu padang rumput berwarna warni di wilayah timur.


Anak wanita itu di jaga oleh 2 penjaga dari salah satu kelompok besar yang bernama Serigala putih. Dua laki-laki itu adalah kaki tangan dari raja kerajaan Hong terdahulu. Mereka berdua di pilih langsung oleh raja, dan di ambil secara resmi dari kelompok serigala putih. Sepanjang hidup, mereka mengabdikan diri untuk melindungi sang putri yang bernama Hua Shanguang. Hua, mahir menggunakan panah sedari kecil karena bimbingan dari kedua pamanya yaitu, Wuji dan Wuxian dari serigala putih. Hua, juga suka belajar memahami ilmu pengobatan tradisional serta gemar membaca buku pengetahuan tentang racik meracik obat.


"Paman... paman,'' suara nan mungil yang memanggil Wuji dengan menarik lengan bajunya.


"Iya, putri..."


"Apa paman tahu? kenapa Hua tidak di perbolehkan pergi ke lembah merah," tanya Hua Shanguang.


Penyebutan lembah merah ini karena, tempatnya yang terbentuk dari tanah serta bebatuan merah tanpa di tumbuhi tanaman atau pepohonan yang membuatnya terlihat gersang. Pernah di jadikan pertempuran berdarah antar monster.


Wuji menoleh ke arah Wuxian, dimana keduanya kemudian merendah (jongkok) sambil memegangi kedua tangan Hua Shanguang.


"Putri... besok kita latihan memanah lagi kan," tanya Wuji.


"Ya...," jawabnya


"Di saat putri sibuk latihan memanah dengan berburu. Apakah putri melihat hewan buruan?"


"Ya."


"Lalu... dimanakah hewan buruan itu."


"Di hutan yang banyak tumbuhan."


"Baik. Lalu, jika putri pergi ke tempat yang tidak di penuhi tumbuhan dan pohon seperti di hutan. Apakah putri akan menemukan hewan...?"


"Sepertinya tidak."


"Pada saat kau di hutan... apa yang putri temui."


"Hewan-hewan cantik dan lucu. Misalnya kupu-kupu, rusa, kelinci, dan burung."


"Baik... di semua tempat ada kehidupan putri termasuk di lembah merah. Namun, jika putri pergi ke sana, apa mungkin putri akan menemukan hewan-hewan lucu itu. Yang mana putri tahu bahwa, mereka hidup berdampingan di hutan yang di penuhi tumbuh tumbuhan. Bagaimana jika sebaliknya...?"


"Ah, kau benar paman. Saya tidak terpikirkan untuk hal itu."


"Putri sangat berani. Tapi... jangan sampai melanggar aturan ya."


"Baik paman."


Wuji dan Wuxian, selalu mendampingi kemanapun perginya Hua Shanguang. Namun, suatu ketika Hua berkenalan dengan seseorang anak perempuan di usianya yang menginjak 15 tahun. Perempuan itu bernama Zhu Wulan, pelajar berprestasi dari kalangan menengah.


Suatu ketika, Zhu Wulan dan Hua Shanguang pergi ke hutan lalu melihat seekor ular naga berukuran setengah dari manusia dewasa yang tengah terluka. Awalnya Zhu Wulan melarangnya mendekat karena, mereka berdua tengah berada tanpa pengawasan dari ke dua pamanya Hua. Akan tetapi, Hua bersikukuh untuk tetap melakukanya dan mendekat kepada ular naga tersebut.


"Tenanglah.... dia tidak punya tenaga untuk melawan," ucap Hua Shanguang pada Zhu Wulan.


"Siapa kau," tanya Zhu Wulan yang sontak kaget saat membawakan makanan.


"Saya Ecidna," jawabnya.


"Siapa," sambung Hua Shanguang, bertanya.


"Naga yang kalian tolong beberapa minggu lalu," balasnya.


"Kau...?? Kenapa kau. Kau apa? kau manusia atau ular naga," tanya Hua Shanguang.


"Mari berkenalan dulu dan dengarkan saya..." Ecidna, kemudian berkenalan dengan mereka. Dia berbincang bincang banyak sekali. Mereka hari demi hari saling bertemu sampai menginjak usia ke 18 tahun. Saat itu Hua Shanguang di sibukan dengan pernikahanya yang membuatnya lama tidak mengunjungi teman-temanya.


Ecidna, yang telah lama merindukan mereka, mencoba memasuki wilayah kerajaan dengan melewati keramaian penduduk dan pasar.


"Ecidna," seru Zhu Wulan yang tanpa sengaja melihatnya di jalan.


"Zhu..." sapanya dengan memeluk Zhu Wulan.


"Kau nekat sekali," ucap Zhu Wulan.


"Saya merindukan kalian," balasnya.


"Hmmh... Hua saat ini tengah mengurus pernikahanya dengan pangeran sebrang laut. Saat ini, saya tengah menyiapkan hadiah pernikahanya. Jadi, saya tidak bisa menemani kau," ungkap Zhu Wulan.


"Dia menikah?? Secepat itu," tanya Ecdina, kaget.


"Iya... dia di jodohkan oleh ratu."


"Jadi begitu. Baiklah... kau selamat berbelanja."


"Iya... terimakasih. Kau berhati hatilah. Jangan hiraukan jika ada yang jahil di tengah jalan." Ucap Zhu Wulan memberi pesan kepada Ecidna.


"Baik..."


Setengah perjalanan Ecidna memikirkan apa yang akan dia berikan pada teman kecil Hua Shanguang, sampai dia melihat seorang wanita dewasa yang telah menikah dan menggandeng anaknya yang membawa seekor anjing yang kemudian, dibuang di samping tempat pembuangan sampah lalu Ecidna bertanya, "Apa itu bibi..." sambil mendekati wanita itu dengan suara lirih yang lembut.


"Anjing. Dia dulu milik saya. Saat masih muda dia terlihat lucu, sekarang dia sudah tua tidak lucu lagi. Sekarang saya sudah menikah dan punya keturunan jadi lebih baik dia saya tinggal disini, barang kali nanti ada yang mengasuhnya."


"Apa dia jahil...?"


"Tidak. Itu karena saya dulu sendiri. Saat ini saya sudah menikah. Memang dulu kami tumbuh berdua, tapi seiring berjalanya waktu perasaan suka terhadapnya hilang. Apalagi saya sudah menikah tanggungan saya lebih besar dan sudah tidak mampu merawatnya lagi."


"Apa kau menyukainya," tanya Ecidna.


"Ya, dulu...sekarang luntur."


"Bagaimana ciri perasaan suka yang berubah menjadi luntur," tanyanya lagi.


"Biasanya kau akan menjadi acuh, tidak pernah melihatnya apalagi untuk sekedar bermain saja," balas wanita tersebut.


"Ooh...baik." Angguk Ecidna, yang kemudian pergi melanjutkan perjalananya.


Ecidna, sepanjang perjalanan menuju kerajaan berpikir begitu panjang lalu bergumam, "Hua... Hua, tidak akan seperti itu," ungkapnya memastikan agar dirinya tidak banyak berpikir. Iring-iringan kereta kerajaan berjalan bertepatan dengan langkah kakinya yang akan menuju istana kerajaan Hong. Dia melihat tandu berwarna merah yang di jaga oleh banyak penjaga berkuda, juga para pelayan istana.


"Hua...Hua..." teriaknya melambai lambai, "Hua... Huaa...Huaa Shanguang," teriaknya lagi yang kemudian dapat respon dari Wuji dan Wuxian.