Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
KERACUNAN



Agaphi, tidak dapat mencegah Dewi kebijaksanaan untuk menyusul Lobelia di dataran barat daya. Saat Agaphi mencoba mencegah di tepis oleh pukulan tenaga dalam Te Heya.


"Kau tidak apa?" ucap Lysandra yang tanpa sengaja melihat kejadian itu.


"Uhuk uhuk...!! tidak, saya tidak apa. Tolong kau cegah sang Dewi kebijaksanaan untuk jangan kau biarkan dia pergi turun gunung menyusul Lobelia."


"Apa...?! Dia akan turun gunung," tanya Lysandra.


"Iya."


"Baiklah... saya permisi, jaga dirimu."


"Ya."


Te Heya, dengan gagah berani membawa pedang kabut esnya di balut dg baju putihnya yang elegant. Dia berjalan dengan tatapan dingin dan mata yang setajam elang. Tekad akan keputusanya itu untuk turun gunung suci melian telah bulat dan dia berniat mendatangi paman Baron selaku penanggung jawab mansion bawah, dan juga sosok yang begitu dekat dengan si pandai besi itu. Bola mata yang selalu terlihat seperti bongkahan es di kutub itu, tiba-tiba berubah menjadi api yang berkobar kobar.


"Dewi," seru Phylos menyambutnya di pintu utama mansion bawah. "Dewi...k,kau.." sambungya terbata melihat tatapan menakutkan itu. Ini baru pertama kalinya Phylos, melihat seorang pertapa yang berubah menjadi seperti di hadapanya.


"Antar saya kepada paman Baron."


''Ba...baik."


Lysandra, dari belakang bergegas untuk segera mencegah langkahnya dengan memukul Te Heya dari belakang hingga pingsan dan kembali di bawa ke pafiliun bangau emas.


"Sebenarnya apa yang terjadi nona Lysandra," tanya kepala pelayan pafiliun bangau emas.


"Tidak apa. Kau jaga Dewi Te Heya. Suruh para pelayan untuk melayani dengan baik. Jangan sampai dia nekat untuk turun gunung."


"Tu..turun gunung?"


"Ya."


Lysandra, bergegas pergi untuk menemui Elvern di kuil suci melian yang terletak di atas awan. Dan menceritakan kejadian hari ini.


"Apa kau sedang sibuk?"


Lysandra menghampiri Elvern dengan terburu mulai dari pintu kuil tersebut.


"Tidak." Elvern menoleh, lalu di sambungnya lagi, "Ada apa? apa yang terjadi hingga buatmu kemari, Illios?" tanyanya dengan santai menata buku.


"Suasana semakin kacau."


"Kacau bagaimana?"


"Dewi... Te Heya berniat untuk turun gunung. Dia tengah murka. Di tambah lagi Liona mantan murid dari tetua Agaphi, menghilang dari penjara bawah dan 7 penjaga di sana mati semua."


"Apa?! kenapa kejadianya separah ini?"


"Kabarnya hari ini Dewi menemui Agaphi karena hal itu dan membuat dia tak terkontrol amarahnya.''


"Lalu, bagaimana dia sekarang?"


"Saya menggagalkanya. Dia tengah terbaring di tempat tidurnya."


"Apa Grece sudah tau?"


Lysandra, menggelengkan kepalanya, "kemungkinan tidak..!" ucapnya menjawab Lysandra.


"Saya ingin ke pafiliun bangau emas."


"Hemm..." angguk Lysandra.


Lysandra dan Elvern, terbang menuruni kuil dan altar melewati awan-awan putih. Mereka turun dengan tenang selayaknya kertas putih yang tengah terjatuh. Mereka turun dengan wibawa di balut dengan baju yang melambai lambai di udara.


Di pertengahan jalan saat menuju pafiliun bangau emas salah satu pelayan Lysandra mencarinya dan menemukan mereka tengah berjalan berdua.


"Nona."


"Ada apa lily?"


"Paman Baron memberi pesan darurat bahwa para murid mansion bawah yang tengah berlatih baru saja keracunan selang beberapa menit lalu."


''Sreeeek...." suara pintu yang di geser.


Grece, yang telah datang duluan dan berada di samping Te Heya seketika terkejut bahwa yang datang adalah Elvern. Sontak saja tubuhnya otomatis berdiri dan langsung menyapanya.


"Elvern...'' sebutnya menyapa.


Elvern pun terkejut melihat Grece telah berada di sana lebih dahulu dan melihat ke arah Grece yang sekarang telah berubah dengan wajah yang makin bersinar saat menjadi biksuni.


"Grece..." balasnya menatap Grece dengan lembut.


"Saya baru tahu bahwa dia bisa selembut ini," ucapnya dalam hati. "Apa kau ingin melihat Dewi?" ucap Grece.


"Iya, sebentar saja. Kau jagalah dia, saya akan menyusul Lysandra ke tempat pelatihan." Jawabnya sambil memegang pergelangan tangan Te Heya, mengecek denyut nadi.


"Ada apa?"


"Para murid keracunan dan korbanya murid mansion bawah."


"Apa?!"


"Jagalah Dewi. Saya permisi."


"Baik. Nanti saya akan berkunjung."


"Iya..."


Lysandra, yang telah sampai langsung saja melihat seluruh kondisi murid mansion bawah. Terlihat sekita 25 orang yang keracunan makanan. Lysandra pun dengan para pelayanya segera menangani mereka.


"Paman, dapatkah saya melihat seluruh makanan yang ada di dapur?"


"Ya. Baik-baik," jawabnya mempersilahkan.


"Ini... dia bibi Anh, kepala koki di sini." ucap Baron.


"Iya, nona. Saya adalah kepala kokinya." Ucap Anh, menunduk.


"Bantu saya untuk melihat semua makanan di sini."


"Baik nona."


Seluruh pelayan dapur langsung menepi dan mempersilahkan pemeriksaan di sana yang dilakukan oleh seluruh penyidik dari pafiliun jaksa yang di pimpin oleh tetua Utai yang telah mahir di bidangnya. Kerjasama antara pafiliun jaksa dengan pafiliun kehijauan membuahkan hasil. Di bawah meja dapur salah satu penyidik menemukan bukti serpihan bubuk racun berwarna putih dan berbau pekat.


"Tetua...silahkan lihat ini," sodornya pada Utai.


"Lysandra, lihatlah...! ini racun yang sangat berbahaya. Baunya begitu pekat sekali."


Lysandra, benar mencium bau racun berbahaya di dalamnya tetapi racun ini berbeda dengan keracunan hari ini.


Lysandra, mengambil kain hitam yang terdapat bukti tersebut. "Bantu saya untuk mengecek kembali seluruh makanan baik yang mentahan ataupun yang matang dan makanan sisa hari ini."


"Baik," jawab mereka bersamaan.


"Nona Lysandra," seru Baron.


"Ya, paman."


"Apa perlu melihat ke rumah lumbung?"


"Lumbung padi?"


"Iya, nona."


"Baiklah... antar saya ke sana paman."


"Baik. Mari saya antar kau nona."


Keduanya menuju ke rumah lumbung yang mana di sana banyak terdapat mentahan bahan pangan.