
"Kemana paman Baron dan nona Lysandra," tanya Sera kepada kepala koki.
"Saya kurang tau tapi, mereka mengatakan ingin pergi ke rumah lumbung."
"Terimakasih, saya dan Phylos akan menyusul."
"Iya."
Di rumah lumbung Lysandra menemukan sekendi cairan yang telah di campur dengan serbuk racun yang sama.
"Paman, tolong bantu selidiki hal ini," ucap Lysandra.
"Baik."
"Saya akan terus pantau kesehatan mereka."
"Iya... terimakasih, nona. Nona Lysandra, bagaimana dengan kondisi di mansion atas?"
"Itu... baru-baru ini datang sedikit masalah. Kami para tetua akan merundingkan hal itu."
"Baiklah... jika ada yang bisa kami bantu maka, kami akan sukarela untuk berbagi."
"Terimakasih, paman."
"Paman, hosh... hoosh." Seru Sera dan Phylos.
"Kalian ...?" Baron menoleh dengan terkejut melihat keduanya tengah panik.
"Tenanglah... ada apa?" ucap Lysandra.
"Iya, coba katakan." Ucap Baron
"Kami menemukan Inggrid tengah sekarat di kamarnya."
"Apa!!"
"Mari ! cepat kesana."
"Ayo... ayo!"
Mereka berempat bergegas pergi ke tempat Inggrid. Sesampainya di sana, banyak pelayan dari mansion bawah yang telah mengerumuni tempat tersebut.
*Bisik...Bisik*...
"Minggir.... minggir semua. Beri jalan!" teriak Phylos.
"Silahkan nona..."
Lysandra, melihat Inggrid yang ingin berbicara dalam keadaan sekarat namun tak mampu berucap. Wajahnya putih pucat, bibirnya mulai kebiruan, suhu tubuhnya begitu dingin, matanya yang membelalak ke atas atap seakan akan tengah berkata tolong...dan tolong. Lysandra, juga melihat bekas luka cakar di leher dan lebam pada lingkar lehernya.
''Dia terkena racun yang kita temukan di dapur dan rumah lumbung, paman."
"Apa?! lalu bagaimana," tanya Baron, resah.
"Nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Tapi, sebelum dia menutup mata saya akan melihat kejadian yang lalu pada ingatanya. Dan mungkin ini akan sedikit menyakitkan baginya. Jika di perbolehkan, saya meminta ijin pada paman Baron untuk mencari tahunya."
"Begitu ya..." Baron berpikir sejenak dan, "Baiklah, silahkan nona." Sambungnya pada Lysandra mempersilahkan untuk di periksa ingatanya.
Lysandra, melihat ingatan dari Inggrid sesaat sebelum terkena racun tersebut. Ingatan masa lalunya mengatakan bahwa, Inggrid di paksa untuk membunuh seluruh prajurit Melian baik prajurit inti ataupun cadangan dengan racun yang telah di persiapkan Liona. Sehingga, dia mencampur racunya ke dalam air kendi itu dan menyembunyikanya di rumah lumbung agar tidak ketahuan. Namun, kali ini Inggrid tidak bisa melakukanya sehingga, menggagalkan rencana dari Liona dengan mengganti racun tersebut dengan racun biasa untuk pencuci perut dengan efek sakit pada perut, mual muntah, serta demam. Dia tidak ingin melakukan hal yang konyol lagi atau tindak kejahatan karena dia telah menjadikan seluruh penduduk gunung melian khususnya para mansion bawah yang mau menerima dan merawatnya sebagi keluarganya sendiri dimana merekalah yang dengan tulus memperlakukan Inggrid dengan baik.
"Kau kenapa tidak melakukanya," ucap Liona dengan mencekik leher Inggrid.
"Akhh... akh! sakit..."
"Mengapa kau tidak melaksanakan perintahku," ucap Liona di penuhi amarah.
"Kau !! kem-ba-lilah ke ... ke-jal-an yang be-nar," ucapnya terbata menahan cekikan dari tangan Liona.
"Apa !!" Liona mencakar lehernya dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
"Sakit...!! dasar biadap. Uhuk...uhuk!!
"Kurrrrrang Aj**r," Liona melempar tubuh Inggrid dengan keras hingga terpental.
Kejadian itu terjadi tepat di kamar perempuan. Dimana kamar Liona juga berbarengan dengan kasur-kasur pelayan yang lainya.
Inggrid, menyenderkan kepala pada kasur putih itu karena kerasnya benturan di bagian kepala yang membuatnya pusing dan sakit. Matanya mulai buram melihat langit-langit.
"Karena kau telah menggagalkan rencana ku rasakan amarah ini." Liona, memasukan bubuk racun yang tersisa di kantongnya ke dalam mulut Inggrid. Sehingga, membuat Inggrid dadanya terasa panas, sesak, begitu tersiksanya dia menahan tubuhnya yang tengah meminta pertolongan. Dia berusaha keluar ruangan dengan merangkak dan Liona meninggalkanya di tempat lalu menghilang.
"Biadap ! manusia biadap ! sungguh tidak manusiawi kau Liona," ucap Lysandra.
Selang beberapa detik setelah itu Inggrid menghembuskan napas terakhirnya di tempat.
"Inggrid," teriak Sera yang kaget melihatnya tak bergerak kembali.
"Dia sudah pergi," ucap Lysandra.
"Ba.. bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Baron.
"Dia mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kita semua."
Seketika itu pula semua wanita di kamar tersebut menangis sejadinya memeluk tubuh Inggrid tak terkecuali dengan Bibi Wani yang juga berada di sana. Wanita yang selalu menjadi bahan omongan dan di kucilkan semenjak kejadianya yang lalu itu, dia ternyata memiliki hati yang lembut dan mulia. Phylos pun merasa bersalah padanya karena pernah mengabaikan dirinya.
(Silahkan check episode : 9/10 (permasalahan yang inggrid buat di masalalu bersama liona))
Mayat inggrid kemudian di urus oleh paman Baron dan yang lain.
"Ada paman. Silahkan masuk..."
Kini semenjak Te Heya, memberlakukan aturan yang baru seluruh pelayan baik mansion atas atau bawah dapat saling bekerja sama tanpa harus menanyai hal pribadi masing-masing. Jika dahulu seluruh aktivitas mereka di batasai, di hari ini mereka bebas bergerak, berkreasi dan menjalin komunikasi dengan siapapun namun juga tetap harus menaati tata tertibya dan aturan yang di berlakukan di gunung suci melian.
"Nona, maafkan saya mengganggu waktu mu." Ucap Baron, membungkuk.
"Tidak paman. Duduklah..."
"Saya dari kemarin terpikir terus dengan Liona. Apakah dia sudah tertangkap?"
"Dia menghilang."
"Apakah dia sebuah ancaman?"
"Bisa iya, namun juga tidak."
"Lalu ? kami harus bagaimana."
"Yang pertama, tetaplah tenang biar ini menjadi tugas kami para tetua paman. Paman tetap lah terus menjaga mansion bawah dan tetap mengarahkan anak didik paman untuk mengikuti pelatihan beladiri karena kita tidak pernah tahu kapan peperangan itu akan terjadi lagi. Kita hanya perlu persiapan yang matang saja."
"Baik. Baik, nona. Jika begitu saya permisi dulu nona."
"Tunggu paman!"
"Ya"
"Apa phylos ada di tempatnya?"
"Ada"
"Paman, tolong sampaikan padanya jika saya memerlukan bantuanya untuk mencarikan tanaman di kertas ini. Persediaan tanaman ini di tempat kami habis, dia mudah di temukan di hutan melian. Tolong juga katakan untuk membawakan benihnya kepada saya. Hari ini pafiliun kehijauan kosong karena kami akan menuju kepada para korban yang kercunan. Jadi, nanti Phylos langsung datang saja di tempat medis prajurit."
"Baik. Dengan senang hati nona."
"Terimakasih paman."
#Di tempat lain
Lobelia dan Ellgar, tengah bergegas pergi meninggalkan hutan peri.
"Lobelia, Ellgar, tunggu." Seru Ratu Pheesa menghentikan langkah keduanya.
"Iya, Ratu."
"Bawalah kompas ini untuk membantu mu mencari arah."
"Terimakasih Ratu."
"Ellgar..." seru Sila.
Lobelia, menjadi sedikit cemburu semenjak keduanya menjadi begitu dekat.
"Bawalah benda ini. Dia akan memberi mu keberuntungan di tempat manusia."
"Baiklah, terimakasih."
"Lobelia..."
"Iya, Belle."
"Saya tidak bisa memberi kau apa-apa, mungkin kue-kue ku ini dapat membantu kalian mengganjal perut saat perjalanan."
"Belle...ini semua sudah lebih dari cukup. Kami akan segera berangkat."
"Baiklah... kalian hati-hati di jalan."
"Iya..." teriaknya
"Selamat jalan."
Mereka hanya mengantar keduanya di depan sang Phon. Perjalanan singkat itu di mulai oleh keduanya menuju wilayah timur. Dalam perjalanan Lobelia, sekilas melihat bayangan Te Heya yang tengah terbaring sakit.
"Akh.."
"Kau kenapa?"
''Pusing," Lobelia memegangi kepala
"Mari istirahat sebentar."
"Tidak. Tidak perlu!"
*Gluduk... Gluduk*...
"Sepertinya akan turun hujan."
"Kau benar."
"Mari mencari tempat berteduh."
Karena, tiba-tiba hujan turun deras mereka akhirnya memberhentikan perjalanan dengan berteduh ke gua bebatuan kecil. Dengan kepekaanya, Ellgar mencari dedaunan untuk alas mereka dan menghangatkan tubuh Lobelia dengan menghidupkan api unggun juga duduk memeluk Lobelia di sampingnya.
"Terimakasih..."
Senyum keduanya saling bertatapan dengan penuh hangat.