Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Pengejaran 2 : Tersadar jika sendiri, tersadar jika luka (berdo'a)



Apollodorus bersama dengan Ecidna masih melakukan pencarian. Dia terlihat begitu murkanya sampai menghancurkan wilayah tersebut. Dia merasa sangat yakin dengan kemampuanya yang sekarang, dia dapat dengan mudah menangkap buruanya itu.


Lobelia dan Ellgar, yang tengah berada di dalam perut pohon sedang bersiap jika bahaya datang. Namun, Ellgar melihat gelagat Lobelia yang tak enak sedang mondar mandir seperti memikirkan sesuatu hal.


"Kau kenapa?" tanya Ellgar.


"Bagaimana, jika kita meminta pertolongan pada mansion atas? saya sudah tidak ada cara lagi untuk melawanya. Kau tahu sendiri kekuatan ini, tubuh ini sudah melawanya selama berhari hari."


"Apa kau yakin? setelah apa yang telah kita berdua lakukan pada gunung suci melian," balas Ellgar, bertanya.


"Saya juga belum yakin. Maka dari itu, dari tadi saya berpikir harus bagaimana lagi kita untuk mengahadapi penguasa itu." Balasnya dengan mengertakan giginya.


Mereka terdiam dan mulai menenangkan pikiran masing masing selama beberapa menit.


"Saya sudah membuat keputusan. Saya akan mengaktifkan telepath untuk meminta bantuan," ucap Lobelia.


"Hmm...baiklah," balas Ellgar, angguk.


Dengan posisi duduk di atas bebatuan di dalam perut sang pohon yang di penuhi kehijauan rerumputan kecil, Lobelia mengfokuskan diri untuk bertelepath dengan mansion atas. Dia memulainya dengan meminta bantuan kepada temanya yaitu, Grece kemudian di lanjutkan dengan tetua pafiliun venus.


"Grece, ayolah... kenapa tidak bisa." Lobelia mencoba berkali kali untuk memberi signal telepath pada Grece, namun usahanya gagal.


Kemudian di lanjutkan kepada tetua pafiliun venus.


"Senior, maaf kan jika saya mengganggu. Saya ingin meminta bantuan darimu," ujar Lobelia.


"Apa itu, putri?" tanya Agaphi.


"Saya dalam keadaan bahaya. Apollodorus, penerus dari kerajaan Thebes tengah mengejar kami berdua. Apa kau ingat, kau pernah bercerita soal wilayah barat daya? saya tengah berada di sana sekarang."


"Mohon maaf putri. Saya tidak dapat membantu kau saat ini. Kami para tetua, dan murid tengah fokus dalam pelatihan untuk melakukan antisipasi melindungi melian. Akibat dari kebakaran besar pada malam itu, banyak penjahat dari luar gunung yang berdatangan untuk menyerang kami."


"Gunung dalam keadaan bahaya?" tanya Lobelia, cemas.


"Iya, putri," jawab Agaphi.


Seketika itu pula mata kiri Lobelia meneteskan air matanya dalam keadaan sedang terpejam.


"Lalu, senior...kemanakah Grece? saya telah memberi signal padanya tapi tidak ada pembukaan gerbang telepath sama sekali," ujar Lobelia, bertanya.


"Putri, Grece telah kehilangan inti spiritualnya."


"Apa?!"


"Tenang putri... keadaanya sekarang membaik. dia sedang melakukan tugasnya menjadi seorang biksuni di vihara bawah."


"Siapa yang membuat inti spiritualnya menghilang?" tanya Lobelia.


"Liona, Liona...putri. Waktu itu, putri sedang berada di pafiliun awan untuk menerima hukuman pengasingan."


"Berati, itu pada saat ujian kenaikan tingkat?"


"Iya putri, benar..." jawab Agaphi.


"Oh...Dewa, kenapa hal seperti ini bisa terjadi. Dan kenapa saya pun tidak mengetahuinya. Kenapa semua menjadi seperti ini," tuturnya dan mulai mengeluarkan air matanya. "Terimakasih untuk informasinya, lalu bagaimana keadaan mansion bawah?" sambungnya, bertanya lagi.


"Mereka banyak yang terluka dan masih dalam penyembuhan. Karena, banyak yang terkena dampak akibat racun dari kebakaran besar malam itu, disaat itu pula putri menghilang dan guru putri juga begitu kehilangan. Dia sangat sedih malam itu putri,'' ungkap Agaphi.


"Hiks...hiks...sampaikan maaf saya padanya senior. Saya sangat malu jika harus berhadapan denganya."


"Baik..."


"Terimakasih banyak," salam terakhir dari Lobelia.


"Sama-sama putri..."


"Ellgar..." sahut Lobelia memeluknya.


" Kau kenapa?" tanyanya.


"Saya tidak tahu, jika hal sebesar ini telah terjadi pada orang-orang yang saya cintai."


"Apa? katakan apa itu?"


"Jadi mansion atas*******...." Lobelia menceritakan semua yang telah terjadi kepada Ellgar. "Di tambah lagi dengan teman saya, dia kehilangan inti spiritualnya," sambungnya lagi.


Keduanya saling memeluk satu sama lain menguatkan hatinya. Ini akibat dari ulah keduanya.


"Saya akan mencobanya sekali lagi," ujar Lobelia.


"Kali ini siapa?" tanyanya.


"Lysandra, saya hanya punya dia."


"Baiklah..."


Kembali dalam posisi duduk dan bersiap aktivasi telepath.


#Memberi signal...


"Lysandra..."


"Lobelia...! ah, maksut saya putri. Iya benar, putri...ini benar kau??" tanya Lysandra terkejut, bahagia.


"Iya... ini saya, Lysandra."


"Syukurlah...saya begitu merindukan kau apalagi sang Dewi, dia juga sangat merindukan mu. Kau kemana saja? kenapa lama sekali tidak aktifasi pembukaan gerbang telepath?"


"Apa itu, putri?" jawab Lysandra, bertanya.


"Saya dalam keadaan bahaya. Apollodorus sang penerus dari kerajaan Thebes sedang mengejar kami berdua. Kekuatan saya telah melemah karena telah melawanya berhari hari."


"Sebelumnya, bolehkah saya bertanya?"


"Silahkan..."


"Apakah putri bersama Ellgar si pandai besi itu?"


"Iya..."


"Putri, seperti yang kau ketahui kemampuan saya tidak dapat di lakukan lebih dari jarak tertentu. Jika kau perlu, Ellgar harusnya membantu mu," balasnya.


"Oh, maaf... saya melupakan hal itu. Dan Ellgar juga turut serta membantu. Dia bisa sedikit beladiri dan memanah. Tapi dia juga sudah kelelahan." Ungkap Lobelia memberikan penjelasan akurat.


"Bagaimana, jika putri meminta bantuan dari Dewi Kebijaksanaan. Dia juga keluarga mu, yang merawat, dan mendidik mu sejak kecil putri," balas Lysandra.


"A...apa?"


"Pikirkanlah dengan baik putri."


"Baiklah...terimakasih atas saran kau, Lysandra."


"Sama-sama...putri."


Percakapan keduanya telah selesai dan Lobelia kembali termenung. Terlihat Lobelia telah selesai dari telepathinya, dan berpikir dengan tatapan kosong, Ellgar mulai memanggil manggilnya.


"Lobelia...!!!!" sahut Ellgar.


"Ah...ya!! kenapa? ada apa kau berteriak," tanyanya terkejut.


"Saya telah memanggil kau berkali kali sedari tadi," balas Ellgar.


"Maaf...maafkan saya tidak mendengarmu."


"Ada apa...?" tanya Ellgar dengan lembut.


"Semua tidak dapat membantu kita," jawab Lobelia.


"Bagaimana dengan gurumu?" tanyanya lagi.


Lobelia, terdiam. Dia merasa malu jika harus meminta pertolongan kepada gurunya. Melihat dari kondisi psikis Lobelia saat ini, Ellgar pun ikut berpikir, " andai....cinta tidak membuat semua menjadi serumit ini. Pasti mereka tidak akan mendapatkan masalah sebesar sekarang," ungkapnya pada diri sendiri memikirkan apa yang telah terjadi.


"Putri Lobelia..." seru Ellgar, mendekatinya. "Kau tahu benar apa yang harus kau lakukan. Pikirkanlah dengan baik, buang egomu karena kau bisa melihat sendiri bagaimana kondisi kita saat ini. Dia akan segera menemukan tempat ini," sambungnya lagi memberikan keyakinan penuh kepada Lobelia, dan mengelus rambut coklat tuanya yang terurai indah di balut dengan aksesoris cantik.


Selang beberapa menit Lobelia, akhirnya mengambil keputusan. Dia mulai mengambil posisi duduk di atas bebatuan tanpa bersila, dan telepathi di aktifkan kembali.


"Kakak... maksut saya guru," ucap Lobelia, gerogi.


"Ya..." jawab Te Heya.


"Saya membutuhkan pertolongan darimu."


"Apa itu?"


"Saya tengah di kejar oleh Apollodorus, seorang penguasa keturunan dari kerajaan Thebes. Dia begitu kuat. Saya telah melawanya berhari hari. Saya bukan tandinganya," ujar Lobelia menjelaskan.


"Saya tidak dapat membantu kau kali ini, Lobelia. Berdoalah pada Dewa, dia akan mendengar do'a do'a mu." Jawaban dari Te Heya.


"Tapi guru..." seruanya terhenti.


"Kenapa?" tanya Te Heya.


"Tidak... baiklah guru. Saya akan memohon pada Dewa Kehidupan."


Ellgar menatap Lobelia, sedari tadi menunggu jawaban apa yang akan mereka dapat kan dari sang Dewi kebijaksanaan lalu bertanya, "bagaimana....?"


Menggelengkan kepala. Lobelia telah selesai dengan urusanya lalu berkata, "mari kita berdo'a pada sang Dewa agar dapat menolong kita."


Ucapan yang terlontar dari mulut yang bergetar seakan tengah menahan rasa sedih yang teramat dalam di situasi sempit. Hal yang di rasakan adalah, seseorang yang mencoba hidup bebas dan sendiri ternyata berujung kembali kepada yang merawat atau pencipta.


"Baiklah...." jawaban dari Ellgar yang mulai berkaca kaca dan sudah pasrah. Mereka berdua mulai memanjatkan do'a.


Dummm....duuuummmm....


Suara kekacauan, gemuruh yang berasal dari luar pohon indah itu. Menandakan sang penguasa sudah mulai dekat dengan mereka. Namun, mereka berdua tidak terkecoh sedikit pun, dan tetap memanjatkan do'a kepada sang Dewa.


"Kurang ajar....!!! kemana perginya buruanku," teriak Apollodorus.


Sekali lagi guncangan itu membuat mereka tidak nyaman, walaupun terganggu mereka tetap tenang dalam do'a do'anya. Mereka saat ini benar-benar fokus, dan tidak memperdulikan apa yang terjadi di luar sana.


Do'a do'a dari keduanya akhirnya tersampaikan. Do'a yang telah di dengar oleh sang Dewa itu kemudian mendapat pengabulan. Dia membantu keduanya lolos dari kejaran Apollodorus, dengan memberikan sesuatu hal yang baru pada mereka.


.


.


.


Haaaiii.... para pembaca setia ku, terimakasih sudah meninggalkan jejak di novel Love In The Last Holy Mountain atau disingkat LITL.HM. Dukungan kalian semua sangat membantu author semakin berkembang dalam berkarya, dan semoga cerita di dalamnya dapat menginspirasi para pembaca di semua kalangan.


Terimakasih untuk Like, Vote dan Komentarnya...♥