
Agaphi telah datang ke pafiliun bangau emas.
"Salam dari saya putri, ada apa kau memanggil kemari?"
"Senior, murid mu telah melakukan tindak kekerasan pada pelayan mansion bawah," ujar Lobelia.
"Liona, coba jelaskan pada guru mu ini."
"Guru, saya... saya."
Liona menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Brugh...! Liona tidak sengaja melakukanya, saya hanya ingin membantu nona Grece saja." Jawab Liona meleparkan masalah.
"Apa maksut kau?" timpal Grece bertanya padanya karena dia sendiri tidak pernah memintanya melakukan hal tersebut.
"Grece, saya tadi hanya sedikit emosi saja karena melihatnya tidak sopan kepada kau," jelasnya dengan tatapan tajam.
Disaat yang bertepatan Ellgar dan Phylos tiba dengan membawa Inggrit.
"Putri, ini pelayan yang bernama Inggrit," seru Phylos.
"Semuanya di mohon tenang."
Lobelia berusaha menenangkan suasana di sana yang saat ini tengah ramai.
Paman Baron dan Bibi Wani, juga telah tiba di tempat setelah mendengar keributan hari ini.
"Saya akan memulainya padamu, inggrit. Apa benar kau yang telah menyuruh Sera untuk menggantikan dirimu mengirimkan pakaian?" tanya Lobelia, memastikan.
"Itu...putri saya tidak melakukanya."
"Bohong! dia berbohong putri, waktu itu dia yang menyuruh saya menggantikanya," sela Sera.
"Tenanglah... "
"Sera benar, Inggrit berbohong."
"Bibi Wani, " seru Lobelia.
"Maafkan saya memotongnya, putri."
"Tidak apa bi, coba bibi jelaskan apa yang terjadi," pintanya.
"Waktu itu, saya menyuruh Inggrit untuk mengirim pakaian pesanan tersebut, lalu saya sadar tenyata dia kembali lebih cepat dan masih membawa keranjang pakaianya yang bertepatan dengan itu pula, saya melihat Sera di temani Phylos membawa keranjang yang sama seperti keranjang yang di bawa Inggrit."
"Itu tidak benar." Seru inggrit, memotong pembicaraan.
"Lanjutkan bibi," pinta Lobelia.
"Setelah itu, saya memeriksa keranjang yang di bawa kembali oleh Inggrit, dan ternyata adalah sebuah gaun yang minggu lalu saya buat. Saat ini saya telah membawanya kemari. Saya kemari karena mendapat kabar dari Phylos, serta tidak ingin membela siapa pun tapi, kebenaran memang harus di ungkapkan." Ungkapnya dengan penuh kewibawaan.
"Tunjukan gaun itu pada saya, " pintanya lagi.
"Ini putri...silahkan di periksa," balas bibi Wani, mempersilahkan.
"Grece, coba periksa. Apa benar ini gaun pesanan kau." Ujar Lobelia, menyodorkan gaun itu.
"Iya putri... ini gaun pesanan saya," jawabnya.
"Jadi, sekarang kau bisa memakai gaunya untuk keperluan mu nanti, dan lepaskanlah Sera, dia tidak perlu bertanggung jawab lagi."
"Baik."
"Dan untuk kau Inggrit, sekarang apa yang ingin kau sampaikan atas kebohongan mu?"
"Saya... putri saya di suruh oleh dia! " tunjuk Inggrit pada Liona.
"Kau...kau melempar masalah mu pada ku. Guru tolong saya dia menfitnah saya," pinta Liona, memohon.
"Biarkan putri yang memberi mu jawaban," balasnya.
Lobelia, berjalan mendekati Inggrit dan menenangkanya.
"Ingrit, jelaskan pelan pelan kepada saya, dan biarkan saya memberi mu keadilan," bujuknya.
"Baik, putri. 2 hari yang lalu saya di temui oleh nona Liona, dia membujuk saya agar dapat melakukan kekacauan di mansion atas, hingga membuat anda kualahan untuk menjaga gunung melian. Saat itu kebetulan hari bertugas saya dengan Sera jadi, saya melempar tugas saya padanya serta menggantinya dengan baju pelayan." Tutur Inggrit, menjelaskan kejadian sebenarnya dengan berkaca kaca dan ketakutan.
"Atas dasar imbalan apa kau menyetujuinya?" tanya Lobelia.
"Dia akan memberikan kebebasan kepada saya untuk keluar masuk mansion atas, juga mengabulkan semua keinginan pribadi saya, putri." Ungkapnya dengan jujur karena sudah tidak ada pembelaan lagi.
"Di sini sudah terlihat jelas senior bahwa, biang dari permasalahanya adalah murid mu," terang Lobelia.
"Saya minta maaf putri karena telah gagal mendidik murid saya."
"Guru, tidak...! jangan begitu."
"Jangan mempersulit ku!!"
"Saya tidak bermaksut mempersulit mu, guru."
"Minta maaflah pada semuanya sekarang!" pinta Agaphi padanya.
"Tidak! saya tidak akan meminta maaf pada pelayan rendahan." Jawabnya membantah.
"Kau sungguh tidak sopan, Liona."
"Walaupun mereka hanya pelayan rendahan, tapi masih memiliki etika," sela Lobelia.
"Kau lagi, saya sangat membenci mu. Kau wanita murahan...!" timpal Liona yang di penuhi kebencian.
"Plak...Plak! "
"Guru kau menampar saya, kau sedang melakukan tindak kekerasan pada saya."
"Itu hukuman atas mulut mu yang tidak sopan."
"Apa saya salah? Dia tidak lebih baik dari pada saya tapi, begitu di segani di sini. Saya tidak kalah cantik dari dia, tapi dia dapat gelar langsung oleh Dewa kehidupan sebagai putri kecantikan. Dia tidak lebih hebat dari saya, tapi di berikan tanggung jawab untuk menggantikan posisi senior Te Heya, dan bukan guru."
"Cukup! Cukup Liona."
"Dan... dan... dan juga kenapa dia bisa begitu dekat dengan mu, sedangkan saya tidak." Balasnya dengan menunjuk Lobelia.
Air mata membanjiri wajahnya dan saat ini dia telah mempermalukan diri sendiri di depan yang lain, karena menujukan betapa irinya dia kepada Lobelia.
"CUKUP!!!!"
Bentak Agaphi yang sudah tidak tahan lagi kepada muridnya.
Lobelia, yang melihat pemandangan guru dan murid itu merasa terenyuh, sehingga merindukan Te Heya.
"Kau sudah sangat keterlaluan, bahkan kau sudah sampai di titik ini. Putri saya serahkan murid saya kepadamu."
"Baiklah... sesuai hukum yang berlaku. Liona telah melakukan tindak kejahatan dan kekerasan fisik sehingga di beri hukuman pengasingan selama 1 tahun dan membaca kitap suci di pafiliun awan."
Umum Lobelia di depan para murid mansion atas.
"Guru! Guru! Guru!"
"Jatuhan hukuman telah di berikan! Kau mau apalagi."
"Ini sangat berlebihan guru."
"Tidak, itu tidak berlebihan, semua itu setimpal di tambah lagi kau telah melakukan tindak kekerasan hari ini. Jangan lupakan hal itu!"
Liona, menahan rasa sakit hati atas perlakuan mereka semua hari ini khususnya pada Lobelia.
"Ini semua gara gara kau Lobelia, saya akan membalas mu suatu hari nanti." Tuturnya dalam hati dengan menatap tajam Lobelia.
"Paman Baron, saya serahkan pelayan Inggrit padamu selaku penanggung jawab di sana," pinta Lobelia.
"Baik, putri."
"Sera segeralah pergi ke pafiliun kehijauan untuk meminta tanaman obat."
"Ba.. Baik. "
"Dan Liona, pergilah ke pafiliun awan untuk menyelesaikan hukuman pengasingan 1 tahun dan membaca kitab suci, serta pelayan tidak ada yang boleh melayaninya, di sana ada dapur dia dapat memasak sendiri, bahan pangan akan di kirim 1 minggu sekali."
"Untuk Grece, segera minta maaflah pada Sera."
"Baik, putri."
"Maafkan saya yang telah menuduh mu dan berlaku kasar hari ini."
"Iya nona...tidak apa, " balas Sera, tersenyum.
"Sekarang semua bisa kembali ke tempat masing masing."
"Baik..."
"Ayo, saya antar kau ke pafiliun kehijauan."
Phylos menuntun Sera untuk mengambil tanaman obat di pafiliun kehijauan, dia tidak tega melihat Sera duduk di tanah terlalu lama.
"Putri, maafkan saya karena telah lancang memanggil mu Lobelia." Tutur Ellgar, yang tiba tiba mendatangi Lobelia namun, Lobelia mengabaikanya dan memilih pergi menemani Grece.
Di kamar Grece.
"Coba jelaskan pada saya kau kenapa?" tanya Lobelia.
"Kau harus berjanji jangan marah pada saya."
"Ayolah, tidak akan! Kita saudara," jwab Lobelia, meyakinkan Grece.
"Saya menyembunyikan dari guru dan kau bahwa, saya telah menjalin kedekatan dengan mantan kepala pelayan kita."
Lobelia hanya memandangnya saja.
"Kau! Kau jangan berbicara pada guru," ujar Grece, ketakutan.
"Hahaha...!"
"Kau...!!!"
"Haha...! sudahlah tidak apa. Kenapa harus di sembunyikan, murid yang tidak memiliki gelar di persilahkan mencintai siapa pun di sini," jawab Lobelia, santai.
"Apa kau lupa bahwa, dia sekarang berada di kuil melian karena kasus pembunuhan 1 tahun lalu dan tidak boleh bertemu dengan siapa pun."
"Ha..!!! jadi, yang kau maksut mantan kepala pelayan yang sekarang di juluki si putih itu," balas Lobelia, kaget.
"Iya."
"Apa kau menjalin kasih denganya?" tanya Lobelia.
"Tidak! Kami hanya sekedar dekat saja dengan meminum teh hijau setiap bertemu," jawabnya.
"Bukanya dia ahli spiritual hebat yang bersembunyi."
"Iya, setelah kasus pembunuhan itu, dia di penjara dan atas ijin guru dia di bebaskan. Selanjutnya dia di tempatkan di kuil, kini rambutnya memutih beserta bulu matanya padahal dia belum setua itu!" jelasnya pada Lobelia.
"Lalu.."
"Hmm...! Lalu?" tanya Grece.
"Lalu? kenapa kau bisa mengenalnya?" tanya Lobelia yang penasaran kepada temanya.