
Blar... blaar... Dum... dum...
Suara cambukan yang mengeluarkan petir begitu dahsyat.
Grece tidak gentar, dia tetap melanjutkan pertarunganya, dia telah bertekad apapun yang terjadi, dia tetap harus bertahan serta, bertanggung jawab atas setiap perbuatan juga perkataanya sendiri.
Cambukan dari Liona, mengfokuskan dalam penyerangan jarak jauh sedangkan, Grece dengan tombaknya dapat melakukan serangan dalam jarak dekat.
"Blar... blar... dum...dum!"
Serangan demi serangan saling mereka kerahkan dengan kekuatan penuh ke arah satu sama lain, sampai akhirnya Grece mengambil langkah untuk menghindar lalu membaca situasi selanjutnya.
Hingga akhirnya, "kreet... krak, tak!"
Tombak Grece mampu memutuskan cambuk Liona sebagian saja, dan hampir melempar Liona keluar arena.
"Barang siapa yang mampu mengeluarkan lawan mainya dari arena spiritual, dia dinyatakan lolos, dan naik tingkat ke tahap selanjutnya sehingga, dapat memasuki perpustakaan spiritual, dan mengemban ilmu di sana. Sedangkan, bagi mereka yang tidak dapat bertahan hingga keluar dari arena dinyatakan gugur, serta harus mengulang perogam belajar dari awal. Semua telah tertulis sesuai dengan ketentuan ketentuan yang berlaku." Seru juri, mengumumkan.
Setelah mendengarnya, Liona menambah kecepatan bertarungnya, dan Grece tetap tenang menghadapi Liona sambil menganalisa kekuatan dari cemeti kegelapan miliknya.
Dia yakin bahwa, setiap apapun yang dengan segala kelebihanya pastilah memiliki suatu kelemahan.
"Majulah! kau dari tadi hanya menghindari serangan saya." Ujar Liona, menunjuk.
"Hmmh...!!! setidaknya tombak saya ini hampir membuat kau terlempar keluar arena."
"Ha ha ha ha... ! jangan bangga dulu kau. Saya belum mengerahkan seluruh kemampuan saya."
"Hoo... silahkan! saya akan melayani kau dengan baik."
"Hiiyaat! cetak.. cetak..."
"Blaaaaar... dum dum!"
Liona, mengeluarkan serangan penuhnya.
"Belum saatnya, " gumam Grece yang melewati efek cemeti kegelapan.
Grece, mencoba membaca kelemahanya selama beberapa menit terakhir, hingga akhirnya dia mendapatkan celah. Dia harap segala perhitunganya berhasil.
"Brugh..."
Grece, tersungkur dan berguling guling.
Perhitunganya meleset, ternyata Liona juga menguasai teknik serangan jarak dekat. Seperti yang semua ketahui bahwa, pafiliun Venus hanya menggunakan penyerangan jarak jauh seperti senjata cambuk, dan panah.
"Wuussshh... bug bag bag baang.... "
"Duak. Akkh!"
''Grece!"
Teriak gurunya, Te Heya yang khawatir.
"Lakukanlah! jika kau ingin mengeluarkan saya dari arena ini, sekarang."
Ungkap Grece dengan menahan sakit di seluruh tubuhnya.
"Ha ha ha ha. Percaya diri sekali kau! sejak kapan saya berkata akan mengeluarkan kau dari arena ini!" balasnya.
"Lalu? apa mau kau?"
"Hahaha! kau sama seperti Lobelia, terlalu naif hingga, membuat diri ini muak!"
"Kau!!!"
"Ya! saya ingin mengalahkan kau, dan bukan hanya sekedar mengeluarkan kau dari arena, melainkan memusnahkan inti spiritual kau. Hahahahaha!!!!"
''Blaar.... Blaar..."
Tanah bergeser seketika dan tubuh Grece terpental jauh keluar arena, yang kemudian di hampiri Liona lalu membanting tubuhnya.
Greeeet...! " rasakan ini."
"Akkkhhh..."
"Grece! Liona, cukup."
Teriak Te Heya, dari kejuhan yang tidak tega melihat muridnya teraniaya, dan segera pergi menghampirinya.
"Hmm! saya terlalu meninggikan kau. Ternyata kau hanya anak kecil yang masih di bawah perlindungan guru mu."
"Bunuh, jika kau ingin!" balas Grece, tidak takut mati.
"Baik!"
Liona, mengambil langkah selanjutnya untuk menghancurkan inti spiritual milik Grece.
"Aaaaaakkkkhh....."
Teriakan Grece yang menahan sakit di sekujur tubuhnya hingga muntah darah, dan kaku setelahnya.
Te Heya, melakukan serangan balasan kepada Liona. Namun, kali ini dia sangat terlambat.
"Dugh, buagh! uhuk... uhuk uhuk."
Tubuh Liona terpelanting akibat serangan dari Te Heya, dan muntah darah.
"Kau, sudah sangat keterlaluan. Apa kau ingin membunuh saudara seperguruan sendiri!" murka Te Heya.
Agaphi, juga ikut turun ke arena spiritual dan menghampiri mereka. Kali ini sudah tidak ada ampun untuk Liona lagi, dia benar benar sudah muak sehingga, memutuskan hubungan antara guru dan murid.
"Kau sungguh keterlaluan, dan kejam. Kau 'congkak' tidak punya aturan. Saya tidak pernah mengajari murid pafiliun venus untuk berbuat kejahatan. Jiwa kau hanya di penuhi oleh iri, dengki serta balas dendam saja. Oleh sebab itu, mulai sekarang kau bukan murid dari pafiliun venus gunung melian lagi," ungkap Agaphi.
''Itu semua karena kau! kau tidak pernah menganggap saya ada."
"Dewi, semua saga kembalikan pada kau. Tugas saya untuk mendidiknya sudah berhenti sekarang."
"Juri! segera umumkan."
Perintah Te Heya.
"Baik."
Juri memustuskan, " atas pelanggaran yang di lakukan oleh Liona, dia telah di diskualifikasi dan juga di keluarkan dari pafiliun venus. Dia juga akan di berikan hukuman penjara, sesuai dengan ketentuan yang sudah ada."
"Saat ini murid dari pafiliun bangau emas yang bernama Grece, dinyatakan telah kehilangan inti spiritualnya jadi, siapapun tidak boleh membiarkan dia menyakitinya lagi."
Suara bising dari para murid.
Liona mendekat ke arah Te Heya dan berkata, " saya puas karena, dapat membalaskan dendam ini kepadanya, dan ini semua belum berakhir. Ingatlah satu, bahwa masih ada dia yang belum kau taklukan hati dan pikiranya, Lobelia." Tutur Liona, seringai.
Te Heya, terdiam!
"Lysandra, kau rawat Grece hingga sembuh total, dan dia akan tinggal di tempat kau sementara hingga pulih."
"Baik, dewi."
Semua murid kemudian melanjutkan ujian lagi dengan teratur.
Di tempat lain : Mansion bawah.
"Hei, hei! tunggu, tolong tunggu sebentar."
Sera, memberhentikan langkahnya.
"Kau hari ini pasti tidak sibuk karena, mansion atas sedang mengadakan ujian kenaikan tingkat," ujar Phylos.
Sera, tidak menghiraukanya dan ingin segera pergi.
"Tu...tunggu tunggu, tunggu dulu!" menarik tangan Sera, menghentikan.
"Jangan pergi! kau sebenarnya kenapa? saya ingin duduk berdua sebentar, dan berbicara dengan kau," pinta Phylos.
"Sekarang bicaralah."
"Di tempat lain bisa? di sini terlalu banyak orang lalu lalang, bisa di dengar orang lain."
"Baiklah..."
Saat menemukan tempat yang tepat, "Katakanlah!"
"Kau sebenarnya kenapa? mengapa akhir akhir ini kau menghindari saya bahkan, kau memanggil nama saya seperti biasanya pun juga tidak."
"Sa...saya hanya sibuk."
"Kau sedang berbohong. Balas Phylos memegang kedua pipinya lalu menatap Sera dalam dalam.
"Tidak! saya tidak... " terpotong.
"Katakan, apa yang telah saya perbuat hingga, membuat kau seperti ini, menjauh tanpa alasan."
"Kau... apa kau telah memiliki kekasih?"
"Tidak."
"Oh! ah, itu sa..saya hanya memastikan agar tidak ada salah paham antar saya dan wanita mu nanti." Balasnya polos.
"Kau sedang bicara apa? saya masih sendiri."
Sera, melongo.
"Sa...saya hanya sedang tidak fokus saja sampai bertanya seperti itu. Saya benar benar sibuk," alasanya untuk menghindar karena malu.
"Eh... tu tunggu, tunggu!"
"Apa?"
"Ini, simpanlah. Saya telah membuatnya dengan sepenuh hati saya."
"Ini boneka kayu?" tanyanya.
"Hemm..."
"Untuk saya," menunjuk pada diri sendiri, memastikan lagi.
"Iya.. saya membuat boneka kayu ini khusus untuk kau. Mulai sekarang kaulah pemiliknya, saya tidak akan menahan kau pergi jika kau ingin. Namun ketahuilah, perasaan saya seperti boneka kayu ini, dia tidak akan patah jika tidak di patahkan oleh pemiliknya sendiri." Ungkap Phylos.
"Kenapa harus saya?"
"Sebab kau satu satunya."
Sera memerah mukanya seketika, hatinya telah terobati.
"Sesibuk apapun kau! saya akan setia menunggu sampai kau siap, Sera."
Sera, melongo mendengar pernyataan cinta dari Phylos.
"Sa... saya permisi."
Dalam keadaan canggung dia bergegas pergi dan berlari. Mukanya yang tersipu itu terlihat jelas, dan Phylos membalasnya dengan senyum bahagia.
.
.
.
Setelah kejadian di arena spiritual, Grece di rawat di tempat Lysandra selama beberapa bulan. Lobelia, tidak pernah mendengar berita tersebut.
"Bagaimana keadaan Ellgar. Saya harus segera keluar dari gunung ini jika ingin hidup bersamanya." Ungkapnya pada diri sendiri.
Area spiritual melian, adalah tempat yang di gunakan untuk ujian kenaikan tingkat manusia tahap menengah sampai berikutnya dengan segala prosedur yang jelas dan adil.
Ellgar, di mansion bawah masih membantu paman Baron seperti biasa dan melakukan kegiatan sebagai pandai besi.
Sudah 3 bulan berlalu, dia benar benar ingin tahu bagaimana keadaanya sekarang.
"Kau...! saya waktu itu tidak menghukum mu karena, urusan percintaan adalah privasi kau sendiri."
"Paman... terimakasih."
"Jaga diri baik baik kedepanya."
"Iya, paman... "
.
.
.
Akhirnya di up juga, tugas kerjaan banyak banget tapi harus update untuk para pembaca setia ku.
Btw, Lysandra atau Illios ini sekarang tengah dekat dengan Grece, lalu bagaimana dengan Elvern, dan juga bagaimana kisah cinta selanjutnya dari Ellgar dengan Lobelia.
Baca, & jangan lupa klik favorite agar pada saat update kalian sudah bisa langsung membaca. Like & komentarnya membuat Author makin semangat dan semangat lagi buat berkarya. 😘