
"Siapa kau nona...?" tanya Wuxian.
"Saya...saya Ecidna. Teman kecil Hua," balasnya.
"Teman kecil," jawab Wuxian, bertanya. Ecidnya merespon dengan anggukan benar sambil tersenyum. Lalu Wuxian menoleh ke arah Wuji dan berkata, "Putri kami Hua Shanguang, tidak pernah memiliki teman kecil kecuali nona Zhu Wulan," ungkap lelaki gagah itu menatap dengan kedua bola matanya.
"O, oh.. begitu," jawab Ecidna, menunduk dengan tampilan ekspresi murungnya. Dia begitu kecewa namun, tetap berusaha berprasangka baik kepada Hua Shanguang lalu berkata, "I...ini berikanlah liontin ini pada putri Hua. Semoga pernikahanya terberkati," sambungnya menyodorkan liontin miliknya kepada Wuxian.
"Baik, nona. Terimakasih... "
Ecidna, kemudian pergi meninggalkan mereka semua. Semenjak hari itu, Ecidna tidak pernah bergumbul dengan manusia sehingga energi perubah bentuknya pun menurun karena, memang adaptasi yang kurang baik dengan sekitar, dan hanya Hua Shanguang serta Zhu Wulan lah yang mampu memberikan energi manusia sepenuhnya pada diri Ecidna.
Selang beberapa bulan, Ecidna juga mendengar bahwa Zhu Wulan telah menikah dengan pedagang terkenal di sana. Namun, dia mendengar bahwa keluarga dari sang suami menghianati mereka. Ecidna, menyimpulkan sendiri bahwa manusia tidak ada yang bisa di percaya sepenuhnya. Mereka terlalu bernapsu mengenai materi, sama seperti keluarga Hua Sahanguang dan Zhu Wulan yang menikah politik karena ingin meningkatkan status sosial di masing-masing keluarga. Dia benar-benar merasa sendiri seperti dulu lagi, terasingkan dan hanya termenung mengingat kenangan bersama teman-teman kecilnya.
Tubuh ular naga yang besar itu kini tengah tergeletak di pinggiran hutan di atas batu besar. Dia tengah beristirahat sejenak. Walaupun fisik begitu menakutkan tapi hati Ecidna di penuhi oleh rasa welas asihnya. Saat dia tertidur, ekornya tidak sengaja terlihat oleh sepasang mata yang mungil. Dia penasaran, dan mendekat semakin mendekat ke arah ekornya lalu mengikuti perginya ekor besar itu dan ternyata, "a.. aa..aaaaaaakkkk.....mmm...mon, monsterrrr...." teriakan seorang anak kecil yang begitu ketautan. Mulutnya terbuka lebar dan ngap ngapan tidak bisa berkata apa-apa saat melihat Ecidna. Ecidna, berniat menenangkanya akan tetapi, reaksi anak tersebut tidak sesuai yang di harapkan. Dia membuat anak itu semakin ketakutan hingga suaranya tidak bisa dia dengar sendiri. Berita itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru bahwa adanya monster ular naga yang masih hidup dari sisa pertempuran di lembah merah. Berita monster ular naga terdengar sampai ke telinga Hua Shanguang yang di ketahui namanya adalah Ecidna, namun Hua memberikan saran kepada suaminya atau sang raja yang baru terpilih agar tidak menyakitinya. Karena, dia yakin bahwa Ecidna tidak sejahat yang di rumorkan warganya. Berita tersebut menyatakan bahwa, sang monsterlah yang telah menyakiti seorang anak kecil tak berdoasa hingga, membuat anak itu mengalami kebisuan dan cedera kaki yang parah. Berita seketika menyebar karena sang anak mampu menggambarkan tubuh ular naga tersebut.
"Baiklah... barang siapa yang dapat membawa monster ular naga Ecidna. Siapapun yang dapat membawa tubuhnya hidup atau mati akan di beri hadiah sebesar 20 tael emas, dan 15 tael perak," umum sang raja yang bernama raja Yin Guanxin.
Berhari hari telah di lakukan pencarian, namun gagal. Kesempatan di momen tersebut di gunakan dengan baik oleh musuh kerajaan Hong untuk melakukan penyerangan karena, kurangnya sistem penjagaan di saat itu. Saat itu pula, Hua Shanguang baru saja melahirkan putri pertamanya.
Druuuummm.... druummm....
Suara genderam tanda bahaya sudah mendekat ke pintu utama kerajaan.
"Huaa... kau selamatkanlah anak kita," ucap Yin Guanxin.
"Tubuh saya masih begitu lemah raja," balas Hua Shanguang.
"Musuh sudah masuk ke gerbang utama, sudah tidak ada waktu lagi. Para penjaga masih di hutan mencari Ecidna. Saya mohon pergilah..."
"Bagaimana saya mampu untuk meninggalkan rakyat yang selama ini hidup bersama saya, sedangkan saya harus pergi menyelamatkan diri."
"Mohon... saya mohon... pergilah," ujarnya memohon pada istrinya tersebut.
"Baik... jaga diri kau baik baik raja," ucap Hua Shanguang.
Hua pergi bersama kedua pelayan istana dan juga putrinya. Namun, bertepatan dengan itu pula matanya melihat begitu banyak pertumpahan darah dan mayat tergelak di mana mana.
"Apakah ini akibat ulah kau Ecidna. Semua menjadi kacau balau karena kau menunjukan diri mu yang begitu menakutkan. Pergilah kalian... bawa sang putri ke tempat teraman," Ujarnya.
"Tapi... tapi ratu. Raja berpesan untuk kau segera pergi."
"Pergilah..." ujarnya dengan lantang lalu mengampil anak panah bersamaan dengan busurnya bersiap melawan sisa pasukan musuh yang ada. Dia pun menyaksikan rajanya di siksa oleh raja kerajaan musuh dari tengah yang di bantu oleh kerajaan barat daya, banyak murid-murid dari gunung yang turun membantu namun naas, raja dari musuh berkekuatan penuh yang bisa meluluh lantahkan semua orang yang membantu kerajaan Hong.
Dengan baju merah berpadukan putih, tatapan matanya yang begitu tajam, otot-otot di sekitar lenganya siap meluncurkan busur panahnya kepada musuh. Kerajaan yang telah porak ponda, di penuhi oleh api tepat di belakang tubuhnya yang saat ini tengah berdiri tegak, dia menguatkan mentalnya untuk melesatkan sang anak panah terkuatnya. Kedua pamanya Wuji dan Wuxian telah mati di tempat melindungi raja dan ratunya.
"Mattilllaaaah......!!!" teriaknya. Anak panahnya mengenai sang raja tersebut yang membuatnya mati seketika. Namun, bertepatan dengan itu pula suaminya juga ikut terbunuh oleh musuh.
"Aakk...aaakkk..." suara dari Hua Shanguang yang melihat Ecidna menggendong anaknya.
"Saya akan membawanya ke tempat teraman," ujar Ecidna, menoleh berjalan mundur. "Kenapa kau semenyedihkan ini, apa kau tahu jika kau telah di permainkan oleh orang-orang mu sendiri hingga kau lupa sama teman kecil ini." Ungkap Ecidna.
"Kau.. jangan.. bunuh.. anak.. saya," ucap Hua yang tidak mampu menahan sakit lagi di sekujur tubuh.
"Saya tidak pernah menyakiti. Namun, kalianlah yang menyakiti saya."
Hua Shanguang sontak terkejut dan, "Aakkkh...uhuk uhuk," dia memuntahkan darah dan wafat. Ecidna, mengambil kembali liontin miliknya dari leher Hua Shanguag.
Ecidna, memiliki sebuah surat untuk orang tua angkat dari anak itu nanti. Dia mendengar bahwa, gunung suci dari selatan terkenal dengan predikat AA untuk status perguruan tertingginya yang dilingungi oleh para Dewa. Sebelum dia pergi ke gunung itu, dia mendatangi Zhu Wulan yang sudah pindah ke wilayah perbatasan Timur.
"Katakan pada anak cucumu kelak jika, liontin ini pemberian dari istri sang raja Yin Guanxin dari kerajaan Hong yaitu, ratu Hua Shanguang." Pesan yang dia sampaikan kepada Zhu Wulan dengan memberikan wasiat liontin naganya.
"Baik. Lalu bagaimana dengan anak Hua," tanya Zhu Wulan.
"Dia akan baik-baik saja dan masa depanya akan terjamin di tempat yang telah saya pilih."
"Baik... berhati hatilah."
Ecidna, pergi ke perguruan gunung suci tersebut di malam hari. Namun, dia gagal karena tidak dapat menerobos masuk ke dalam dinding pelindung. Dia lupa bahwa dia adalah seekor moster yang menghisap energi manusia. Jadi, di pagi hari dia berusaha beradaptasi dengan sekitar, karena kala itu bertepatan dengan pembukaan murid baru di gunung tersebut. Demi misinya dia mengambil satu orang wanita untuk makananya. Ecidna, mengambil energi kehidupan wanita tersebut hingga, membuat sang wanita lemah.
"Tenang nona, saya tidak akan menyakiti kau atau membunuh kau. Saya hanya membutuhkan sedikit bantuan kau. Sebagai gantinya ini ada 15 tael perak."
Ucapnya Ecidna yang menyenderkan tubuh wanita itu di batu. Wanita itu lalu pingsan, dan Ecidna pergi meninggalkan dia.
Ecidna, telah berhasil memasukan diri ke dalam perguruan itu dan menitipkan anaknya tepat di depan pafiliun bangau emas lalu mencari cara untuk keluar dari gunung. Tubuh Ecidna tidak mampu menahan energi besar di tempat itu, badanya terasa panas dan seperti akan terkoyak.
Selang beberapa bulan Ecidna mendengar kabar tentang kematian Zhu Wulan yang mengidap penyakit dingin. Dia berpikir keras bahwa, mungkin itulah yang membuat Hua Shanguang begitu dekat dengan Zhu Wulan, yaitu karena ingin meneliti tentang penyakitnya. Serta Zhu Wulan membutuhkan pengaruh dari Hua Shanguang untuk status di lingkungan masyarakat Timur.
Sejak saat itu Ecidna mengurung diri di tempat tinggalnya, dan tidak pernah merubah bentuk ke wujud manusia lagi.
#FlashBack Off.
.
.
Ilustrasi Ecidna
Kesakitanya kali ini begitu terasa sangat berbeda dengan saat dia bersama teman temanya. Dia sadar, Apollodorus bukan teman tapi tuan yang menganggapnya budak. Berbeda dengan Hua Shanguang dan Zhu Wulan yang menjadikanya teman tanpa rasa takut dari mereka walau akhirnya menyakitkan. Kesadaranya sedikit kembali, dia berharap agar seseorang yang membawa liontinya dapat membantu melepaskan dirinya dari jeratan lingkaran kontrak darah api hitam di kemudian hari.
Nama-Nama tokoh dan latar tempat adalah hasil kreasi dari Author sendiri. Terimakasih atas dukungan untuk meninggalkan jejak di Love In The Las Holy Mountain. ♥