
Xin bertukar posisi dengan Agaphi.
Lysandra, mengeluarkan racikan tanaman obatnya untuk menghambat serigala kepala 5. Di tambah lagi di sekitarnya tertutupi oleh kabut hitam milik prajurit melian.
"Waktunya hanya 2 menit, Agaphi. Hewan itu tidak akan tumbang, jika pemiliknya masih bisa berdiri tegak di sana." Ucap Xin, bertelepati.
"Baiklah, saya serahkan padamu yang di sana," balas Agaphi.
Kedua tubuh itu melesat ke arah targetnya masing-masing.
"Hohoho... bertukar posisi denganya? apa dia telah kewalahan melawan ku? apa cuman begini saja kekuatan kalian," ucapnya menyombongkan diri.
"Fokuslah...! kau mengarah kemana." Ucap Xin yang tiba-tiba berada dekat di samping kanan tubuh pemimpin dhasos lalu berkata, " Enyahlah kau...!!!" seru Xin, dengan menendang tubuhnya hingga terlempar jauh.
"Uhuuk... uhuk...uhuk..." suara batuk berdarah dari sang pemimpin, sambil memegang dadanya karena sakit.
Xin, melangkah mendekatinya seolah perlahan namun, ternyata berkecepatan penuh hingga, tidak dapat terbaca langkahnya oleh pemimpin itu.
"Mana sikap sombong kau yang tadi," ucap Xin, dengan mengangkat baju zirahnya hingga membuat tubuhnya terangkat.
"Kuat sekali wanita ini," tuturnya pada diri sendiri.
Xin, yang sedari tadi memperhatikan bahwa mata kanan miliknya yang tertutup itu, ternyata sesuai dugaan Xin. Dia, sang pemimpin dhasos menanam mata kananya sendiri di salah satu kepala serigala 5 tersebut yang telah di potong oleh Xin. Xin, sangat yakin bahwa sumber kekuatanya adalah kelemahanya yang juga dia miliki tanpa dia sadari. Dimana saat ini telah berusaha di hancurkan oleh Agaphi, yang masih tertanam di kepala serigala yang terpotong tadi. Xin, kemudian melempar pemimpin dhasos ke tanah dengan begitu keras.
"Akkhh...." mengeluarkan darah.
"Ternyata kau cukup cerdik untuk memiliki binatang spiritual tingkat tinggi," ujar Xin, mendekat padanya berjongkok.
"Apa yang kau lakukan pada tubuh ku?" tanya sang pemimpin itu.
"Kau lihat di sebelah sana," ucap Xin menunjuknya lalu berkata, " teman saya telah melumpuhkan sumber dari kekuatan mu...!" sambung Xin.
Xin, kemudian membuka paksa penutup di mata kananya itu. Dia ingin melihat bagaimana gambaran dari mata yang sedari tadi bersembunyi di balik penutup kecil. Saat dia membukanya, sontak dia terkejut melihat pemandangan itu. Mata bagian kanan tersebut, rata dengan kulit yang lain dan tidak ada bekas sama sekali. Selanjutnya, Xin menoleh ke arah Agaphi dan saling menganggukan kepala, tanda pertarungan ini akan di akhiri.
Agaphi, mengeluarkan kekuatan dari unsur apinya yang kemudian membentuk sebuah belati tepat di tangan kananya. Belati itu tampak dalam wujud api yang kemudian di arahkanya pada mata kanan sang pemimpin dhasos, yang tertanam di kepala serigala sambil berucap, " setelah ini...! enyahlah kau, dan jangan kembali lagi. Jleeeb...!!" menusukan ke pusat tengah mata. Berbarengan dengan itu, Xin melihat seperti magma yang keluar dari mata bagian kanan pemimpin dhasos dengan retakan retakan kecil. Retakan magma itu keluar hingga menyebar ke seluruh tubuh pemimpin dhasos. Serigala dengan 4 kepala yang kehilangan kendali pun iku mati, dan sebelum kematianya tiba, serigala tersebut mengerahkan serangan terakhirnya dengan mengkibaskan ekornya ke arah Xin dengan sekuat tenaga. Namun, serangan itu di gagalkan oleh Agaphi, dimana dia dengan cepat membawa Xin pergi menjauh.
"Terimakasih..." ucap Xin.
"Ya... sama sama. Sudah sewajarnya," balas Agaphi.
Keduanya beserta prajurit melian yang tersisa melihat dengan mata kepala sendiri pemandangan yang cukup mengerikan itu, yang ternyata pasukan elit dhasos adalah mayat hidup.
"Bisa jadi, dia mengambil mayat sisa sia peperangan antar kerajaan untuk di jadikan budaknya," ucap Agaphi.
"Pantas saja jendral, kami tidak dapat melumpuhkan pasukan elit tersebut." Ucap salah satu pasukan elit melian.
"Baik..." jawab bersamaan.
Jasad dari pemimpin dhasos berubah menjadi gundukan tanah, akibat magma yang menyeluruh pada sekujur tubuhnya. Jasad pasukan dhasos, selanjutnya di bakar oleh mereka.
Tiga hari, setelah peperangan gerbang utama mengalami perbaikan dan selanjutnya dapat di gunakan kembali sebagaimana mestinya. Sebagai tanda terimakasih Te Heya, kepada pejuang melian, dia menggelar acara peresmian jendral perang Agaphi dan Xin. Dia mengundang seluruh tetua pafiliun di mansion atas termasuk para murid senior masing masing. Dia juga mengundang perwakilan dari mansion bawah yaitu, paman Baron, tuan Xirius, bibi Wani juga Phylos.
"Semuanya mari bersulang," ujar Te Heya menyambut kedatangan para tamu undangan.
Sesuai dengan yang dia rencanakan bahwa, kedua tetua itu mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Malam ini, mari kita berikan penghargaan pada Agaphi, Xin, dan juga pada para prajurit melian beserta pasukan elit melian yang telah berhasil melumpuhkan lawanya dengan sempurna di gerbang utama. Saat ini saya umukan secara resmi Agaphi akan menjadi jendral pria ke-2 setelah sekian tahun lamanya tidak ada yang menggantikan jendral Meirion. Dan juga Xin, akan menjadi jendral perempuan ke-2 sepanjang perjalanan melian." Umum Te Heya di depan para tamu undangan.
Agaphi dan Xin, maju kedepan tepat berhadapan dengan Te Heya di atas karpet merah yang menjulur hingga ke anak tangga dan berkata, " terimakasih banyak, dewi..." posisi setengah membungkuk yang kemudian Agaphi dan Xin saling bersulang di hadapan Te Heya, dan para tamu.
"Kedepanya jendral Agaphi akan memimpin prajurit hitam melian, dan jendral Xin akan memimpin pasukan putih melian. Mohon kesiapan dan kerjasamanya, jika suatu saat bahaya mendekat kembali. Tujuan kita adalah melindungi gunung suci melian." Seru Te Heya, mengumumkanya.
"Baik, dewi." Jawab keduanya bersamaan.
"Mari, bersulang kembali." Ucap Te Heya kepada semua tamu undangan, dan mempersilahkan mereka berdua duduk kembali di tempatnya.
Setelah kejadian di peperangan itu, orang orang gunung melian kembali menjalani aktivitasnya masing masing.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
"Lobelia, kau tak apa?" kenapa saya melihat kegelisahan di raut wajahmu?" tanya Ellgar, khawatir akan kondisi Lobelia.
"Hari ini, adalah batas waktu yang saya berikan kepada Apollodorus." Jawabnya, dia tengah berpikir rencana apa yang dapat mengelabui Apollodorus.
"Lebih baik kita melawanya saja. Kita bukan makhluk lemah. Jika memang ajal telah tiba, setidaknya kita tetap bersama." Ucap Ellgar, memegang erat tangan Lobelia.
"Terimakasih...kau telah menyadarkan saya," ucap Lobelia di jawab dengan senyuman.
"Saya selalu bersama kau, suka maupun duka kita berjuang bersama." Ucap Ellgar, bersiap dengan panahnya lalu berkata," Walau saya tak sehebat kau, tapi kekuatan cinta dan tekad yang kuat itu sudah cukup untuk melawan kejahatan. Setidaknya saya masih memiliki kemampuan dalam jarak jauh atau memanah."
"Iya...kau benar. Suka duka kita bersama. Kita sudah berjalan sejauh ini. Jadi, tidak boleh berhenti begitu saja," jawab Lobelia.
"Iya...dan satu lagi, percayalah dewa akan menolong kita, keluarkan keberanian mu yang kemarin. Saya yakin pedang yang kau pegang pun sama seperti saya. Kekuatan cinta dari guru mu lebih besar dari apapun sehingga, dia memilih senjata untuk kau dapat berlaku kebajikan di bumi. Dia lebih mengerti tentang mu di banding saya. Percayalah, jika kau mampu menguasainya maka kau dapat menggunakanya dengan baik saat bertarung melawan musuh mu." Terang Ellgar, dengan penuh kebijaksanaan.
"Baik.." jawabnya yang kemudian datang ke pelukan Ellgar, " terimakasih..." sambungnya memeluk erat.
"Sama sama...mari keluar dan hadapi bersama," ucap Ellgar.
"Eemm..." jawab Lobelia, mengangguk.