Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
BATTLE 2



Pertarungan keduanya masih tetap berlanjut Te Heya masih belum merasa kewalahan melawannya hanya dengan blood storm. Kali ini Apollodorus mengeluarkan kekuatan keduanya yaitu dengan menggabungkan blood storm dan segel api hitam miliknya.


"Huh...! itu," Ecidna yang melihat api hitam begitu ketakutan dan tanpa sengaja tubuhnya mundur perlahan menjauhi Apollodorus karena sangking takutnya sampai dia bergetar.


Te Heya, mengubah kristal berlatihnya menjadi 7 di sekitar tubuhnya dan melawan serangan dari Apollodorus itu. Tangan kanannya terdapat blood storm dan tangan kirinya terdapat api hitam. Apollodorus menyerang Te Heya dengan pukulan bertubi-tubi, sesekali Te Heya menggunakan dinding pelindungnya yang bercahaya putih berbentuk bola dan menyelubungi tubuhnya.


"Belum menyerah juga," ucap Te Heya


"Tidak akan semudah itu."


Kedua kekuatan itu sama-sama begitu kuat Apollodorus mencoba untuk terus memojokkan Te Heya agar dapat menunjukkan kekuatan dari pedang kabut es tersebut.


..."Duumm...dumm blaarrr"...


Suara yang menggelegar itu muncul kembali ini Apollodorus juga membuat kekuatannya meningkat dengan bantuan api hitam miliknya dia mengambil langkah cepat zig zag menuju ke arah Te Heya, dan Te Heya tetap melawannya dengan tenang. Dia berusaha tetap memojokkan Te Heya, sampai Te Heya mau mengayunkan pedangnya tersebut. Tibalah pada satu momen Apollodorus, dapat memukul mundur Te Heya, tepat di bagian perutnya pada bagian tangan kiri yang terdapat api hitam lalu dia terus memukul dengan kedua tangannya tanpa memberi celah kepada Te Heya untuk membalas pukulannya.


"Saya ceroboh. Uhuk...uhuk...uhuk!"


Te Heya, terjatuh dan mengatur napasnya sampai matanya begitu jelas tepat di hadapannya dia melihat gumpalan besar semerah darah yang kental dan melekat dengan api biru kehitaman bercampur dengan petir yang akan dilempar tepat mengenai tubuhnya.


"Hah.." Te Heya segera menghindar.


..."Blarr...blaarr...blarr"...


Serangan bertubi tubi dari Apollodorus.


..."Blarr..."...


..."Blaarr..."...


..."Duummm"...


Te Heya, melawan balik serangan demi serangan untuk melawan serangan dari Apollodorus yang semakin 'membabi buta'.


..."Duummm..."...


..."Duuarrrr..!"...


..."Blaarr..."...


..."Krataaakkk..."...


Cahaya yang begitu menyilaukan mengenai seluruh alam sekitar dari suara ledakan kumparan tersebut hingga membelah tanah.


"Hahahahah...!!! mati kau!"


"Kali ini aku akan serius meladeni mu," ungkap Te Heya.


"Ya... inilah pertunjukan yang kutunggu-tunggu," gumam apollodorus


Te Heya, bersiap membuka portal nya untuk memakai binatang spiritual miliknya yang berupa singa bersayap emas. Dia memanggilnya dengan sebutan singa emas. Setelah singa itu keluar dari portal, dia menaiki tubuh sang singa besar itu lalu, Apollodorus pun dengan sigap menggunakan monster ular naganya sebagai tunggangan dan bersiap untuk menyerang mereka berdua.


Te Heya, mengeluarkan bebatuan es berbentuk wajik segi empat berjumlah banyak kearah Apollodorus namun dapat dihancurkan oleh dirinya. Di atas Lembah mereka bertarung bersama tunggangan masing-masing, pertarungan sengit itu berangsur-angsur begitu lama. Te Heya, memainkan pedang kabut es nya yang lalu menekankan pijakannya pada singa emas miliknya dan kemudian melompat mengarah pada Apollodorus. Seranganya tersebut mendapat sambutan dari Apollodorus yang dibantu oleh Ecidna dengan kombinasi kekuatan api abadi.


..."Duuummm..."...


..."Duaar...blaarrr"...


Suara menggelegar itu kembali lagi menguasai alam sekitarnya seketika lembah-lembah menjadi berguncang dan tanah di sekelilingnya mulai meretak perlahan demi perlahan.


"Ecidna," seru apollodorus agar dengan cepat menyerang Te Heya.


Direspon oleh Te Heya dengan cepat menggunakan pedang kabut esnya lalu singa emas juga mengeluarkan kekuatan nya berupa bulu emas tajam untuk menyerang balik serangan dari Ecidna. Sembari melawan singa emas Ecidna tetap membantu tuanya dan juga memperhatikan cara kerja dari pedang kabut es tersebut. Ecidna, mengeluarkan api dari mulutnya dan singa emas mengeluarkan cahaya surgawi yang berwarna putih dan kedua kekuatan itu selanjutnya saling beradu lalu Te Heya, tetap melakukan serangan demi serangan untuk perlawananya pada Apollodorus sampai pada tingkat tertinggi Te Heya yang berkombinasi dengan singa emas nya mengeluarkan kekuatan dari pedang kabut es yang berwarna ungu kombinasi dengan kekuatan kristalnya yang dipadukan dengan cahaya surgawi milik singa emas. Ketika cahaya itu menjadi satu hingga menjulang tinggi sampai ke langit dan dilepas dengan kuat ke arah Apollodorus. Apollodorus, bersama Ecidna juga menggunakan blood storm bersama api abadi miliknya yang membentuk cahaya kemerahan begitu besar untuk menahan serangan dari Te Heya. Kali ini dia sengaja tidak menggunakan kekuatan dari api hitamnya untuk mengumpulkan energi karena dia tahu bahwa, Ecidna dapat menyerap energi dan hanya api hitam yang dapat menetralisirnya. Pada akhirnya, kini giliran Te Heya lah yang memukul mundur Apollodorus dan Ecidna hingga terjatuh dengan begitu keras sampai ke tanah.


..."Duk, duk..! buak!"...


Suara tubuh Apollodorus dan Ecidna. Namun, disisi lain Te Heya dan singa masnya juga kehilangan begitu banyak energi.


"Tuan.." seru singa mas.


"Tidak apa"


"Apa yakin tidak apa?"


"Ya''


Te Heya dan singa mas, telah melihat Apollodorus yang tergeletak dan tak bergerak lagi di tanah dan berencana untuk pergi namun ternyata Apollodorus belum lumpuh juga bersama dengan Ecidna. Hanya manusia setengah dewa lah atau sang Dewa Morpha itu sendiri lah yang mampu untuk mengalahkan kombinasi dari Kekuatan tersebut. Atau juga bisa di kalahkan dengan pemegang liontin naga karena didalamnya terdapat lingkaran api abadi segel naga.


"Mati kau...!!!" ucap Apollodorus yang menyiapkan sebuah Trisula besar yang berasal dari api hitam miliknya dan berkobar-kobar lalu, dilempar lah ke arah Te Heya yang kala itu sedang berjalan membelakangi mereka berdua.


"Jleeeb...!"


"Tu- an ku...." ucap singa emas.


"Kau...?! Mengapa kamu lakukan itu padaku?"


"Aku akan sangat bersyukur sekali jika dapat mengabdikan diriku kepadamu. Terima kasih telah merawatku, Tuanku."


Pengorbanan dari singa emas berhenti sampai dengan detik itu pula dan dia merasa cukup sangat sedih setelah ditinggal pergi olehnya karena dia mau mengorbankan nyawanya sendiri untuk dirinya.