
Empat hari berlalu dan Nadine masih abu-abu terhadap perasaannya. Ia merenung menatap bayangan dibalik cermin besar yang ia tempelkan di tembok. Ia menonton dirinya yang benar-benar terlihat masih dibawah kata sempurna. Bukan, bukan karena fisik atau Gaga yang bukan ada di standarisasi *fiture husband *nya. Siapa yang tidak mau menikah dengan lelaki seperti seorang Gaga Axelle? Selain tampangnya yang oke, ia seorang pengusaha muda yang sukses mempunyai tiga kapal angkutan barang dan perusahaan konstruksi yang telah berproyek membuat beberapa pembangunan jalan, gedung dan lain-lain.
Tetapi Nadine merasa tak pantas untuk Gaga. Nadine bukan perempuan yang baik. Dia perokok, bergaul dengan banyak teman lelaki, lulusan bukan dari kampus luar negeri dan yang paling Nadine sesali yaitu dirinya sudah tidak mempunyai kehormatan.
Wanita yang masih mengenakan mukena putih bercorak bunga itu menangis meratapi kehidupannya sendiri, Begitu hancur hidupnya sekarang dan pasti ibundanya disana menyesal telah melahirkan perempuan sepertinya.
Pukul sembilan pagi, saat setelah dirinya sarapan bersama ayahnya dan menyiram tanaman, Gaga menelfon Nadine. Nadine tadinya tidak akan mengangkat panggilan itu, tetapi pikirannya ia harus mengangkat telepon tersebut karena apapun itu ia harus hadapi.
"Ha-"
"Jam 7 malam saya kerumah kamu. Kalau sampai kamu nolak, saya bakal laporin kalau kamu perokok ke om Graha" ucap Gaga dingin. Nadine terbelalak kaget mendengarnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa mendengar ancaman itu. Mana mungkin Nadine mau terbongkarkan rahasianya dari sang ayah.
"Ma maksud kamu?"
"Maksud aku? Kenapa aku bisa tahu gitu? Mana ada perempuan gak ngerokok bawa-bawa lighter di tasnya" ucap Gaga. "Aku juga tahu dari awal kita hang out ke gua, kamu sampe gelisah liat orang-orang pada ngerokok" sambungnya.
"Ck! Pernikahan itu bukan main-main ya pak! Lagian kalau aku setuju juga, nikahan bukan besok ijabnya kok" ucap Nadine membela diri. Nadine langsung menutup teleponnya dan berdecak kesal.
***
Mobil Pajero Sport hitam terparkir di halaman rumah Nadine. Bobi datang dengan keluarga lengkapnya yaitu Riana istrinya, Gaga anak sulungnya dan Gania anak bungsunya. Tatapan Nadine langsung terpusat pada Gaga yang begitu menawan dengan kemeja hitam dengan lipatan tangan hingga kesiku dan celana navy yang ia kenakan.
Nadine dengan Graha menyambutnya langsung didepan pintu depan dengan ramah. Riana menghampiri Nadine dan berhambur peluk. Ia tak kuasa menahan rindunya selama ini, anak sahabatnya yang dulu masih bayi kini sudah tumbuh dewasa menjadi gadis cantik.
Mereka masuk ke rumah Graha yang cukup mewah itu dan duduk di sofa. Gaga juga sedikit kagum akan kecantikan Nadine malam ini yang memoleskan make up tambahan yang membuat dirinya sedikit lebih segar dan cerah. Terlebih Nadine juga tidak melunturkan senyumannya pada keluarga Axelle.
Seperti biasa, obrolan mereka dibuka dengan basa-basi. Hingga pada akhirnya menuju ke topik yang serius dan inti dari pertemuan dua keluarga ini.
"Jadi.. maksud kami kesini yaitu untuk melamar kembali Nadine untuk menjadi calon istri anak sulung saya Gaga. " ucap Bobi ramah. "Gimana Nadine? Udah nentuin jawabannya kan?"
Nadine menunduk gugup sesekali meremas roknya. Akhirnya ia mencoba relax menarik nafas dan membuangnya.
"Makasih om, tanteu, Gaga dan adik Gaga udah dateng jauh-jauh kemari. Saya.." Nadine menghela nafas "akan menerima lamaran ini. " ucap Nadine. Keluarga Axelle dan Graha bernafas lega dan menguarkan aura kebahagiaan di ruangan itu.
"Tapi Nadine mohon.. Pernikahannya jangan buru-buru ya om, yah?" ucap Nadine.
"Berhubung ayah mau keluar negeri, sebaiknya dilaksanakan secepatnya ya?" ucap Graha. Bobi mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. "Saya pengen kalian menikah bulan depan, agar saya juga bisa merasakan kebahagiaan Nadine nanti setelah menjadi seorang istri"
"Ayah.. itu terlalu cepat" ucap Nadine
"Gak papa. Lebih cepat lebih baik" ucap Riana tersenyum seolah membela calon besannya.
"Ayah berangkat akhir bulan depan sayang.. waktu ayah gak banyak" ucap Graha membujuk.
"Tapi saya mau diadakan pertunangan terlebih dahulu. Mengundang beberapa teman dekat aja biar mereka gak kaget waktu saya tiba-tiba nikah" ucap Nadine. Bobi, Graha dan Riana tertawa kecil.
"Yaudah, minggu depan kita tunangan, aku bantu kamu siapin semuanya ya" ucap Gaga. Nadine hanya mengangguk karena mau bagaimana lagi, pertunangan harus dilakukan. Tetapi tunggu dulu, kenapa ia menjadi bersemangat begini?
Setelah berbincang mengenai pertunangan, keluarga Axelle pamit undur diri. Gaga juga seolah perhatian meminta Nadine untuk menjaga diri dan menjaga fisiknya agar tidak sakit. Bobi dan Graha melihat pendekatan mereka semakin baik itu merasa puas dan yakin bahwa kedua anak mereka berjodoh. Padahal Gaga hanya bergimmik saja.
Setelah mereka pulang, Nadine langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ia benar-benar lelah hari ini dari pada hari kemarin saat dirinya shooting video cover bersama teman bandnya. Memang band Nadine adalah band sosial media di Youtube yang mempunyai konten mencover lagu sampai seunik dan senyaman mungkin orang mendengarnya. Dari awal sang leader iseng mengcover, ternyata respon dari masyarakat sangat baik dan mereka berantusias untuk menunggu coveran lain.
Band Red Rope ini berdiri sejak sebelum Nadine masuk SMA. Nadine masuk band ini setelah vokalis perempuannya undur diri, dan Nadine yang terpilih untuk menjadi vokalis baru. Cheko kakak kelas sekaligus sepupu pacarnya Nadine masa itu sangat menyukai suara Nadine yang khas mirip-mirip dengan vokalis band luar yaitu Paramore. Hingga sampai band nya sudah dibuat punah karena genrenya musiman, mereka beralih haluan ke youtube dan mempunyai konten yang sudah tadi dijelaskan.
***
"Hi kak Gaga? Tumben nih vc aku, ada apa?" ucap Eldi yang terlihat seperti sedang duduk di kursi dan suster beserta orang-orang lain berlalu lalang di belakangnya.
"Kamu dimana? Ada Elsa? Dia baik-baik aja kan?" ucap Gaga langsung ke inti.
"Baik kok. Tapi dia masih dirawat sekarang. Kak Gaga gak tahu?" ucap Eldi bingung karena dirinya belum tahu bahwa kakak perempuannya itu sudah putus. Gaga hanya terdiam dan tak berkutik, ia bingung akan berbicara apa dan ada rasa kaget karena Elsa harus berada dirumah sakit.
"Oke deh, aku anter kakak ke ruangannya ya. Aku tahu kak Gaga pasti sibuk makanya sampe kabar kak Elsa aja gak tahu" ucap polos Eldi.
Eldi berjalan menuju ruangan Elsa dan membalikan kameranya untuk langsung memperlihatkan Gaga keadaan real dihadapan sang empunya ponsel. Eldi membuka *handle *pintu dan ternyata terlihat pemandangan yang membuat Gaga menyesal menanyakan kabar mantan kekasihnya itu.
Elsa sedang dikecup keningnya oleh seorang lelaki yang Gaga tahu pasti ia siapa. Lelaki yang saat itu tengah bermesraan dengan kekasih hatinya diapartemen pribadi milik Elsa. Andai saja hari itu saat Gaga baru pulang dari German tidak langsung menemui kekasihnya, pasti ia tidak akan tahu kebusukan apa yang Elsa sudah tutupi.
"Kak Elsa!" Teriak Eldi. Gaga langsung menutup telfonnya. Ia membanting ponselnya ke ranjang dan mengusap wajahnya frustasi.
Dilain belahan kota Bandung, Nadine tengah sibuk di salon homecarenya. Ia sedang melakukan kunjungan rutin setiap seminggu sekali. Saat Nadine sedang mengecek data keuangan, ponselnya berdering.
Gaga is calling..
"Hallo.."
"Dimana?" ucap Gaga.
"Diluar, kenapa kak?" ucap Nadine lembut. Ia sedikit mengaca diri karena mulai dari kemarin ia memutuskan untuk bersikap lembut pada lelaki yang satu ini walaupun Nadine sadari pasti akan sulit.
"Ngapain? Pulang jamberapa?" tanya Gaga
"Saya lagi di salon. Udah satu jam disini, kenapa?" ucap Nadine.
"Sendloc, saya nanti kesana" ucap Gaga
"Ada apa kak? Aku bawa mobil kok, kalau kakak mau jemput mah gausah"
"Yaudah kabarin kalau udah dirumah." ucap Gaga. Nadine pasrah mengiyakan.
***
Gaga sudah meminta izin pada Graha untuk mengajak Nadine pergi ke suatu tempat. Nadine yang dibawanya tidak tahu dirinya akan dibawa kemana. Apapun itu bila sudah ada perstujuan ayahnya, ia semakin tidak bisa menolak.
Jam menunjukkan pukul 19.57, Gaga dan Nadine sudah siap untuk berangkat. Nadine tahu perjalanan yang ditempuhnya sekarang sudah sampai tol Karawang menuju Jakarta. Nadine cuek saja karena pikirnya Gaga akan mengajaknya kerumahnya di Bekasi. Tetapi mobil Gaga terus berjalan tak keluar tol saat sudah sampai Bekasi.
"Kita sebenernya mau kemana?" ucap Nadine mulai penasaran.
"Serang, Banten" Nadine melebarkan bola matanya.
"Ngapain?"
"Main." ucap Gaga dingin. Nadine hanya menghela nafas dan membuangnya kasar. Ia lagi-lagi tak bisa menolak, toh posisi mereka sudah setengah jalan. Nadine memilih untuk tidur dikursi kemudi.
Tbc-