Look at me, please

Look at me, please
#50 HARI PERTAMA



Gaga membuka mata dengan perlahan didalam kamar yang gordennya terbuka sedikit. Cahaya matahari menusuk masuk lewat celahnya.


Ia mengerjap dan mengusap matanya, melihat kesekitar dan sang istri tidak ada disampingnya. Ini hal yang sangta biasa. Bulan-bulan ini Gaga sering begadang menyelesaikan pekerjaannya yang sangat amat menumpuk.


Bukan sengaja ia tumpuk, tetapi memang pekerjaannya tidak pernah selesai. Mungkin karena pekerjaan dari pak Graha yang membuatnya sedikit membutuhkan waktu yang banyak untuk bekerja.


Ia menyingkapkan selimut dari tubuhnya dan duduk di samping kasur sebelum ia beranjak dari sana.


Terdengar suara air yang jatuh didalam kamar mandi, ia menebak bahwa istrinya sedang membersihkan diri didalam.


Gaga keluar kamar dan berjalan ke meja makan. Diatasnya sudah tersaji nasi goreng kesukaannya dan tak lupa irisan tomat yang menghiasi makanan lokal itu membuat siapapun bisa menebak rasanya.


Gaga menarik sudut bibirnya, ia tersipu dalam hati ia mensyukuri segala sesuatu yang ia miliki.


Tak pernah selesai dengan pekerjaan, waktu makanpun ia sambil beberapa kali mengangkat ponsel dan membalas chat dari segala sudut pekerjaan.


Sampai suapan terakhir, Nadine datang dengan wangi parfumnya duluan yang menghampiri Gaga.


"Mau kemana? Udah wangi aja" ucap Gaga sembari melihat Nadine menghampirinya.


"Ke salon sayang, kemana lagi." ucap Nadine dengan lembut dan mengusap sembaru membenarkan rambut Gaga yang sedikit berantakan. Lalu wanita itu duduk disamping Gaga.


"Jangan ngambek lagi ya,  udah aku tambahin tomat" rayu Nadine kepada Gaga. Gaga tersenyum lalu menyambar lengan Nadine dan mengelusnya.


"Maaf ya-- Aku emang akhir-akhir ini lagi pusing sama kerjaan" ucap Gaga.


"everything ok?" tanya Nadine dengan wajahnya yang menyiratkan kekhawatiran.


"OK. Namanya juga bisnis, ada fase dimana harus naik, turun, jatuh dan bangkit lagi"


"Kalau ada yang perlu aku bantu, bilang aja ya A" ucap Nadine. Gaga langsung terkekeh, ia melihat kelucuan istrinya.


"Bantu apa?" tanya Gaga sembari mencengir.


"Yaa siapa tau kamu lagi butuh staf, aku serius loh!" ucap Nadine dengan wajah cemberut.


"Memangnya kalau kamu jadi pegawai aku mau?" ucap Gaga.


"Mau!!" ucap Nadine dengan antusias.


"Yakin nih" tanya Gaga lagi.


"Iya sayang, kalau tugasnya susah nanti aku belajar. Lagi pula dulu aku suka lihat papa kalo kerja" ucap Nadine.


"Yaudah besok ikut aku ke kantor" ucap Gaga.


"Haa serius?" ucap Nadine dengan girang. Gaga mengangguk dan tersenyum.


"Yaudah aku berangkat dulu, biar ga ke teteran tar." ucap Nadine.


"Hati-hati sayang" ucap Gaga sembari tangannya digapai dan di kecup oleh Nadine.


Betul, dia juga punya hak atas perusahaan ayahnya. Gumam Gaga dalam hati sembari melihat punggung sang istri menjauh dari pandangannya.


***


"Besok bakal ada istriku disini. " ucap Gaga kepada sekretarisnya Keisha


"Oh baik pak" ucap Keisha


"Kamu gak usah ngomong-ngomong tentang Elsa ya" ucap Gaga, Keisha terlihat bingung.


"Maksud saya kalau Nadine tanya tentang siapa yang suka datang tiba-tiba selain ayah dan ibu, jangan bilang apa-apa." ucap Gaga.


"Ohh-- baik pak."


***


Nadine bersiap untuk ikut sang suami ke singgah sana nya di salah satu gedung pencakar langit di Jakarta.


Wajahnya terlihat cerah dan berseri, ntah mengapa mood nya naik saat Gaga mengizinkannya untuk ikut ke kantornya. Mungkin karena Nadine memiliki kesempatan untuk berdekatan terus dengan lelaki yang ia cintainya itu.


"Hemmm udah wangi aja" ucap Gaga sembari mengusik matanya setelah melihat Nadine yang berdiri didepan kaca.


"Iya dong hari pertama aku bekerja" ucap Nadine dengan semangat.


"Ok-- awal yang bagus. Tapi ini masih jam 6 pagi neng Nadine. Gak kepagian?"


"Aku kan ada tugas juga dirumah--"


"Kalau kamu ikut kerja, sarapan biar bibi yang buat. Atau kita bisa sarapan diluar. Aku kalaupun telat masuk kantor juga ga masalah kecuali memang ada rapat."


"Tapi kan memang kamu sampe kantor pasti jam delapanan, paling telat kamu berangkat jam sembilan" ucap Nadine sembari terduduk di kursi empuknya sembari menoleh ke Gaga yang masih terbaring di kasur.


"Iya.. namanya juga aku. "


"Aku siapa?"


"Gaga Axelle dong. Sang penguasa bisnis di Indonesia HAHAHA" Ucap Gaga dengan bangga.


"Bangun dong kalo gitu. Sang penguasa keburu rezekinya di patok ayam" ucap Nadine


Gaga tertawa kecil mendengar ocehan Nadine dan beranjak dari kasurnya.


Setelah mereka sarapan Gaga menatap Nadine dengan serius.


"Kamu yakin mau ikut kerja?" tanya Gaga.


"Yakin lah.. kamu kok kayak masih ragu gitu ?"


"Gak apa apa. Dunia kerja itu kalau orang gak siap gak akan bisa."


"Aku juga punya bisnis ya AA. Bisa dilihat progress nya kayak gimana. Toh perusahaan yang AA pegang juga ada sebagiannya punya ayahku. Aku ngerjain yang bisa meringankan AA aja. Lagipula aku sering bete dirumah, bingung mau ngapain."


"Kalau punya anak pasti kamu gak kesepian ya" ucap Gaga dengan santai namun beberapa detik kemudian ia tersadar akan perkataannya. Namun wajah Nadine yang asalnya datar menjadi tersenyum tipis.


"Iya.. kalau saja aku dengan cepat bisa dipercaya tuhan buat dapat titipan berharga, mungkin aku gak akan seperti ini." ucap Nadine dengan lembut.


"Neng-- maaf AA gak tau apa yang AA bilang, AA gak maksud---"


"It's OK a. Aku juga memang menggebu ingin punya anak. Kita satu tujuan kok dan mau gimana lagi selain sabar dan berusaha." potong Nadine. Gaga langsung menghampiri Nadine dan memeluk istrinya yang masih terduduk di hadapannya.


"Maaf ya maaf" ucap Gaga. Nadine tersenyum dan mengangguk.


"Yuk berangkat" ucap Nadine setelah melihat angka 08.20 di pergelangan kirinya. Gaga mengangguk dan melepas pelukannya. Ia lalu menggapai lengan Nadine dan menuntunnya sampai mobil.


Nadine merasa mood pagi nya dirusak oleh suaminya sendiri. Tapi ia mencoba berfikir jernih, ia hanya bisa menelan pahit seperti ini karena ia juga menginginkan hal yang sama.


Ia tidak ingin mencari uang, ataupun mencari kegiatan diluar sana. Ia ingin menjadi istri yang baik dan ibu yang sempurna.


Ia sangat berharap bisa mengandung anak didalam perutnya. Ia ingin mengubah hidupnya yang membosankan dengan kehadiran satu manusia yang mungil hasil jerih payah ia mengandung dan menyusui.


Tapi apa daya, takdir berkata lain. Ia dan suaminya hanya bisa bersabar dan pasrah dengan keadaan. Walaupun teman-temannya sudah terbatas bertemu karena sudah memiliki kesibukan masing-masing dan tentunya sudah menyusulnya duluan memiliki anak.


***


Gaga dan Nadine turun dari mobil SUV hitam. Sapaan hangat ia terima dimulai dari satpam dan pegawai lainnya saat memasuki gedung.


Sebenarnya yang membawa Nadine ingin ikut kesini adalah ia ingin tahu dunia ayahnya seperti apa dan mengapa ayahnya tidak bisa berdiam diri di tanahnya sendiri.


Bagian Nadine yang kesepian benar adanya, tetapi alasan lain yang lebih kuat yaitu ia merasa janggal dengan kematian ibunya dahulu dan ia ingin menyelidiki siapa yang telah menusuknya dahulu.


Pipi Nadine terasa pegal, ia tersenyum tiada henti karena banyak sekali yang menyapa dirinya.


"Hallo mbak Nadine. Selamat datang" ucap Keisha dengan ramah didepan ruangan Gaga.


"Keisha-- apa kabar?" ucap Nadine.


"Baik mbak. Silahkan masuk mbak" ucap Keisha. Nadine mengangguk dan mengikuti punggung suaminya memasuki ruangan.


"Udah lama aku gak kesini loh a" ucap Nadine.


"Kenapa kamu gak kesini aja?" ucap Gaga


"Aku jarang kesini karena aku takut gangguin AA. Aku juga malu sama pegawai lain kalo sering nengokin AA disangkanya posesif" ucap Nadine. Gaga membalas Nadine dengan seringai.


Sang penguasa itu duduk di singgah sananya. Ia langsung buru-buru membuka laptop yang sudah siap dihadapannya.


"Sudah hadir semua Kei?" tanya Gaga kepada Keisha.


"Sudah pak."


"Kamu belajar dulu sama Keisha ya, aku ada rapat sampai siang ini. Tapi jangan terlalu bising karena aku rapatnya online diruangan ini ya neng." ucap Gaga


"Noted AA"


Gaga melanjutkan pekerjaannya dan Nadine mulai membuka laptop yang Keisha berikan.


"Ini saya sudah buatkan akun untuk masuk ke akses website perusahaan kita mbak. Mbak lihat-lihat dulu saja, jika ada yang bisa saya bantu mbak bisa chat saya ya mbak." ucap Keisha.


"Kei-- boleh saya tanya sesuatu?" tanya Nadine.


"Silahkan mbak Nadine."


"Boleh saya akses halaman akuntan yang bisa buka riwayat keuangan dari duapuluh tahun lalu?" tanya Nadine dengan sedikit berbisik.


"UMM bisa saja mbak tapi saya harus tanya dahulu ke pak Gaga."


"Saya mohon. Cuma ingin lihat saja kok." ucap Nadine.


Gaga menyadari akan perbincangan yang sensitif itu dan memberi kode kepada Nadine dan Keisha seolah bertanya apa semuanya baik-baik saja.


Nadine memberi kode tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia menyuruh Gaga untuk melanjutkan pekerjaannya.


***


HAIII MAAF BARU UP.