Look at me, please

Look at me, please
#43 - Mencari



Selamat membaca☺️


**


Now playing // Selena Gomez - Back to You


**


Hari sudah sore, matahari hendak menenggelamkan dirinya dan bersiap menyinari bagian dunia yang lain. Dari pagi saat Gaga menginjakkan kaki di ruang inap istrinya ini, Gaga masih setia disamping Nadine dan Nadinepun masih setia dengan mata terpejamnya. Gaga tertidur disamping Nadine dengan wajah yang sangat lelah. Mengenggam erat tak mau lepas dari tangan istrinya itu.


Gaga mengerjap terbangun. Sadar karena dirinya disebelah Nadine dan sadar juga Nadine masih terlelap. Gaga menarik nafas dalam dan membuangnya pelan. Ia mencoba tenang dalam setiap situasi. Dielusnya pipi Nadine lembut, ia rindu akan senyuman yang sang istri lukis diwajahnya. Entah mengapa, dia tak bisa berfikir jernih sekarang. Yang ia inginkan hanya Nadine bangun, dan ia akan benar-benar bernafas dengan lega.


Ia menundukkan badannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Nadine.


"Bangun.." ucap Gaga lembut. Ia menatap wajah Nadine yang pucat pasi.


"Bangun.. Nadine " ucapnya lagi. Gaga sekarang memejamkan matanya.


"Bangun.. sayang" ucap Gaga dengan lirih. Kembali air matanya terjatuh. Melihat lagi luka perut dan paha Nadine yang sudah terbalut steril.


Ada orang yang mengetuk pintu, ternyata suster. Ia hendak mengganti infusan karena sudah mulai habis. Dengan cepat suster tersebut melakukan aktivitasnya hingga ia pergi lagi.


Masuk Riana dan Bobi ke dalam ruangan itu. Yang pasti diawali dengan ketukan pintu dan pasti mereka tidak perlu persetujuan dari anaknya.


Riana yang menggunakan jumpswuit violet dengan motif bunga mawar berlengan sesiku itu berjalan mendekat ke arah anak lelakinya. Ia menggapai bahu anaknya itu dan mencium pucuk kepalanya.


"Kamu belum mandi ya?" Ucap Riana. Gaga mendongak menatap Riana dan menggeleng juga tersenyum.


"Makan?" Sambungnya. Gaga masih dengan jawaban yang sama. Riana mendengus. "Makan dulu, abis itu mandi. Mama bawain makanan sama baju juga buat kamu salin" ucap Riana lagi.


"Terimakasih" balas Gaga singkat.


"Sekarang sayang.. kalau Nadine nanti bangun liat kamu bau, jelek dan kurus, nanti Nadine sedih" ucap Riana. Gaga tersenyum manis lalu ia beralih pandang ke Nadine. Ia mengelus punggung tangan Nadine sebentar dan berdiri dari kursi yang sudah ia duduki sekitar delapan jam yang lalu.


***


Fajri merasakan hal yang janggal. Nadine tidak bisa dihubungi setelah hari itu. Setelah janji temu mereka kemarin dan Nadine menghilang begitu saja. Ada apa dengannya?


Fajri mencoba menanyai semua orang. Di grup, kepada teman dekatnya Luna dan Zahwa. Ia kehabisan jejak sekarang karena jawaban dari mereka sama. 'Tidak tahu'


Luna danZahwa juga sama, mereka terkejut dan memang saat menghubungi temannya itu, nomornya tidak aktif. Dan bila mereka mengirim pesan lewat stagram kepada suaminya pun, mereka pasti tidak akan dibalas karena mengingat Gaga tidak terlalu aktif disana walaupun ia bisa menjadikan stagram sebagai ladang usaha.


**


Gaga sudah selesai dengan segala ritual yang ibunya titah. Gaga menggosokkan handuk kepada rambutnya yang basah. Ia berkaca di cermin dan tersenyum, yaampun Gaga lo sampe lupa mandi. Batin Gaga.


Gaga keluar dari kamar mandi dan melihat ternyata Nadine sudah bangun dan ibunda Gaga sedang mencoba mengajak bicara sedangkan Bobi menyaksikan juga di sebelahnya.


"Nadine? Sayang ini mamah" ucap Riana kepada Nadine dengan mata yang berkaca-kaca. Nadine menatap Riana lesu, ia masih lemah untuk berbicara. Lalu Gaga datang menghampirinya.


"Nadine?" Ucap Gaga menggantikkan posisi Riana tadi. Gaga langsung memegang tangan Nadine dan menggenggamnya erat.


Nadine merasakan kehangatan. Ia ingat bahwa tangan ini yang tadi menuntunnya pulang. Dan ia lihat wajah Gaga sekarang, hati Nadine begitu tenang sehingga ia tersenyum pada Gaga.


"Syukurlah.. kamu inget aku kan?" Ucap Gaga pelan dan lembut. Nadine mengangguk lemah dan meneteskan air matanya. Dengan cepat Gaga menghapus air mata itu.


"Kenapa nangis? Aku disini sayang.. jangan takut ya " ucap Gaga khawatir lalu mengecup punggung tangan dan mengecup kening Nadine.


"Syukurlah. Papah hubungi Graha dulu" ucap Bobi keluar ruangan sesudah Gaga mengiyakan. Sedangkan Riana menangis tersedu, ia masih merasa bersalah.


"Maafin mama sayang, harusnya mama larang kamu " ucap Riana disamping Nadine berhadapan dengan Gaga. Gaga langsung melirik kepada ibundanya. Gaga menggeleng seraya memberikan peringatan untuk tetap diam pada Riana.


"Apa ada yang sakit sayang?" Riana mengalihkan topik.


"Aduh ma saking senengnya aku gak hubungi dokter kalo Nadine udah bangun" ucap Gaga dengan menepuk dahinya dan dibalas senyuman oleh Riana. Ia kini menekan bel untuk memberi tahu dokter dan tiga menit kemudian mereka datang.


Dokter memeriksaa mata Nadine dan juga nadinya. Terlihat dari komunikasi dokter dengan suster, sepertinya Nadine baik-baik saja.


"Nona Nadine membaik dan syukur telah sadar. Tapi jangan dulu dibuat kelelahan dan jangan terlalu banyak bicara karena darah yang keluar saat kemarin, sangat banyak. Dan juga Nadine harus meminum vitamin dan makanan yang bisa menaikkan darah. " ucap Dokter yang terlihat sudah berumur itu. Ujarnya di angguki Gaga dan Riana. Dokter itu lalu berlalu setelah menerima ucapan terimakasih dari Gaga dan Riana.


Gaga kembali menatap istrinya. Nadine juga menatap kepada suaminya yang ia rindukan itu.


"Bukannya kamu di China? Ko udah pulang?" Ucap Nadine dan Nadine baru ingat bahwa dirinya tak tahu bebaring di kasur ini berapa lama. Gaga memasang wajah kesal dan dingin. "Eh aku tidur berapa lama ya?" Tanya Nadine.


"Tadi malem kamu operasi dan kamu baru bangun sekarang. Ini sudah mau magrib sayang" ucap Riana mengelus kepala Nadine. Nadine mengangguk dan tersenyum.


"Makasih udah rawat Nadine ya mama, kak" ucap Nadine.


"Gausah makasih. Aku yang minta maaf gak bawa kamu ke Cina" ucap Gaga. Nadine hanya tertawa kecil dan kemudian meringis karena ia merasakan sakit di perutnya.


"Jangan banyak ulah dulu, luka jaitan kamu masih basah" ucap Gaga.


"Ohiya.. perempuan itu apa dia baik-baik aja?" Ucap Nadine. Gaga sedikit bingung akan pertanyaan Nadine.


"Siapa?"


"Bodyguard itu yang nusuk aku"


"Nadine kamu banyak ngomong, istirahat ya" ucap Gaga.


"Kamu tidak membunuh siapapun Nadine. Tenanglah" ucap Gaga menenangkan Nadine.


***


Gaga menelfon Riko dan ia menyuruhnya mencari tahu lebih banyak. Dan saat Gaga keluar kamar ternyata Riko ada di luar.


"Kamu ngapain disini ?" Tanya Gaga bingung.


"Saya kan nganter bapak tadi kesini. " ucap Riko. Tuannya ini memang pelupa.


"Udah makan?"


"Sudah pak. Tidak usah khawatir-"


"Saya perlu bantuan kamu. Selidiki lebih dalam " ucap Gaga.


"Kebetulan anak buah saya sudah memberi kabar tentang retasan ponsel itu. Namun saat saya akan memberi tahu, anda sedang tertidur pak" ucap Riko.


"Bagaimana?" Tanya Gaga.


"Nadine dan Fajri adalah teman baik. Ia sedang khawatir dan menanyai kesana kemari. Sepertinya ia khawatir karena temannya yang tiba-tiba hilang" ucap Riko


"Lalu?" Ucap Gaga yang kini sedang mencari tempat duduk yang nyaman


"Nadine juga tidak ada rencana yang mencurigakan dari setiap percakapannya dengan temannya" ucap Riko lagi.


"Eh apa ada pesan yang mencurigakan di ponsel Nadine? Seperti lelaki yang mengajaknya bertemu atau berbasa basi" ucap Gaga.


"Ada beberapa pesan dari lelaki tapi Nadine tidak menggubris pesan pesan itu" ucap Riko dijawab anggukkan oleh Gaga. Mereka duduk di kursi tunggu yang ada televisi disana


"Lalu Elsa, dia juga tidak ada percakapan lain. Dan saya harus mengabari ini, sepertinya Elsa akan pergi ke-" ucap Riko


"Kamu tak usah memberi tahu tentang itu. Aku tidak peduli" ucap Gaga yang acuh. Riko mengangguk paham.


"Ohiya, kau selidiki hotel kejadian itu. " ucap Gaga.


"Apa anda mengenal Mr. Darius?"


"Darius siapa?" Ucap Gaga. Kini dengan wajah yang serius.


"Darius Zavic" ucap Riko.


"Tidak sama sekali" ucap Gaga.


"Tuan Graha pun tidak mengenalnya. Bila yang punya hotel itu tidak anda kenal juga, lalu siapa dalangnya?" Ucap Riko. Gaga berfikir.


"Sepertinya aku harus menghubungi teman lamaku" ucap Gaga


***


Gaga menggeledah tas milik Nadine saat Nadine terlelap. Ia melihat ponsel Nadine yang sudah remuk, padahal ponsel itu berkamera tiga di belakang. Sayang sekali, tapi Gaga akan memberikannya yang baru.


Gaga tidak menemukan kejanggalan disana. Gaga membuka dompet Nadine dan juga tidak ada sesuatu yang mesti dicurigakan. Hanya saja ia melihat foto Nadine yang sedang berada di Dubai. Sepertinya ia masih duduk di sekolah dasar. Membuat Gaga tersenyum karena wajah Nadine menggemaskan didalam foto itu.


Gaga tidur di sebelah Nadine karena cukup ruang untuk keduanya. Sepertinya Nadine terusik akan gerakan Gaga.


"Maaf sayang aku bangunin kamu" ucap Gaga. Nadine hanya tersenyum


"Ada yang sakit gak?" Ucap Gaga.


"Kamu udah sembuh?" Ucap Nadine mendongak. Iya memang terakhir Nadine bertemu bahwa Gaga sedang sakit.


"Aku selalu sehat Nad. Janga khawatirin aku" ucap Gaga.


"Yakin? Gapusing?" Ucap Nadine. Gaga menggeleng pelan. Kini dirinya mengangkat kepala Nadine untuk tidur di lengannya. Gaga tidak mau membuat Nadine banyak bergerak. Lukanya masih basah.


"Engga sayang. "


"Kamu ko bisa disini? Supir taxi itu beneran kan hubungin kamu?"


"Iya.. untungnya resepsionis kapal selalu ada 24 jam"


"Maaf, ponselku remuk. Gatau deh diancurin siapa"


"Kamu ingat sesuatu?" Ucap Gaga. Nadine menggeleng.


"Selain yang aku jelaskan, aku gainget apa apa lagi" ucap Nadine.


"Yaudah kita tidur yaa.. good night" ucap Gaga lalu mencium puncuk kepala Nadine.


***


Like nya dong


Tbc-