
Hi!
***
Kota Jakarta memang terkenal dengan kemacetannya. Gaga sudah sedikit terlambat untuk pergi ke kantor. Berkali-kali dirinya melihat ke arah jam tangan yang bertengger disebelah kirinya.
Kehidupannya selama setahun ini memang sangat membuatnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Memang benar cinta bisa mengubah segalanya.
Namun pagi ini ada adu mulut kecil antara dirinya dengan sang istri. Perkara sajian nasi goreng karena Nadine lupa mengiris tomat sebagai toping favorite suami. Ntah mengapa karena akhir-akhir ini Gaga sangat sibuk juga sering begadang, emosinya gampang menaik.
Gaga mengakui bahwa hal tersebut benar-benar salah bila ia harus marah karena perkara kecil seperti itu. Namun ntah mengapa hal kecil itulah yang membuatnya kesal pada Nadine. Ditambah kemacetan pagi ini membuat paginya buruk.
Suara dentuman sepatu kerja berwarna hitam mengkilap menggema di loby kantor Axelle. Mata elangnya terfokus pada pandangan kedepan, wajah Gaga menekuk karena sudah kehilangan mood hari ini.
Ia memasuki ruangan kerjanya diekori oleh Riko yang sudah mengunggunya sedari tadi. Gaga langsung duduk di kursi singgah sananya dan menghela nafas kasar lalu memijit pelipisnya kuat-kuat.
"Sorry saya telat" ucap Gaga kepada Riko.
"Tidak masalah pak. Hari ini tidak ada jadwal rapat untuk anda. Tetapi anda harus melihat ini" lapornya kepada sang bos sembari menyodorkan dua lembar berkas.
Gaga melihat profil seseorang disana. Ia mengerutkan dahinya seolah bingung apa yang sebenarnya Riko ingin sampaikan tentang lelaki ini.
"Ini siapa?" tanya Gaga.
"Ini-- seorang pemegang saham yang lumayan besar di perusahaan batu bara dimana Pak Graha pun ikut menanamkan asetnya disana"
"Farhan Suteja?"
"Iya."
"Lalu?"
"Dia adalah anak dari Vino Suteja. Yang dahulu pernah mempunyai masalah tentang perusahaan dengan pak Graha" ucap Riko.
"Siapa Vino Suteja?"
"Mungkin anda bisa tanyakan lebih dalam lagi kepada pak Graha atau pak Bobi."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Saya mencurigai ia adalah dalang dari penikaman Nadine satu tahun lalu. Karena ia juga beberapa kali bertemu dengan Elsa, mantan anda yang pernah menyuruh anda untuk waspada dan menjauh dari pak Graha. Sebelum saya melaporkan ini, saya sempat berdiskusi dengan Rudy, sekertaris pak Graha. Kami sepakat untuk mencurigai orang ini dari kasus penikaman Nadine dan kecelakaan pak Graha yang membuat istrinya sampai meninggal" ucap Riko panjang lebar.
Gaga tak percaya dengan pemaparan sekertarisnya ini. Seolah mereka sedang menguak sesuatu yang benar-benar berbahaya. Namun Gaga sama sekali tidak takut, apalagi ini menyangkut sang istri.
"Tetapi bukankah kecelakaan itu--"
"Pak Graha mengalah dan pergi ke Dubai sampai ia kembali kesini. Tiga tahun sampai Nadine lulus SMA di Jakarta, ia pindah ke Bandung karena demi keamanan. Beruntung musuhnya pak Vino tersebut sudah pensiun dari segala hal. Penyerahan aset dan perusahaan Suteja diambil alih oleh anak lelakinya yaitu Farhan, dan bertepatan dengan kejadian Nadine ditikam."
"Saya masih pusing dan belum mengerti."
"Mungkin anda perlu bertemu dengan pak Graha, ia yang lebih tahu" ucap Riko.
"Baiklah. Terimakasih. Apa tidak ada masalah apa-apa dengan kapal kita?"
"Tidak ada pak. Semua berjalan lancar" ucap Riko.
***
Nadine terlihat murung di halaman rumah yang menampakkan kolam renang didalam. Ia merasa sangat sedih karena kemarahan Gaga tadi pagi perihal tomat yang lupa ia iris.
Nadine menghela nafasnya dengan wajahnya yang cemberut. Ia merasa tak berguna sebagai istri, menyiapkan sarapan yang simpel saja dirinya kewalahan.
"Tapi apa harus aa marah sampai seperti itu?" tanya Nadine pada langit cerah siang ini. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya, menangkis fikiran buruk yang sedang berkumpul di otaknya.
"Enggak-enggak, mungkin aa lagi capek aja.. " ucap Nadine.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berenang dan menunggu Gaga sampai sore hari. Mood Nadine seharian ini juga buruk akibat awalan hari yang tak menyenangkan. Pasalnya Gaga baru kali ini meperkarakan makanan yang ia buat.
Nadine duduk di sofa empuk ruang tengah sembari meminum teh manis dicampur sereh. Ia membaca buku mencoba mencari ketenangan disana sampai akhirnya Gaga kembali pulang.
"Assalamu'alaikum" ucap Gaga begitu dirinya masuk rumah dari pintu garasi.
"Lagi ngapain?" tanya Gaga kepada Nadine yang terduduk dihadapannya. Ia menghampiri sang istri, menyodorkan lengan kanannya dan duduk disamping Nadine.
"Baca buku aja, mau dibuatin teh?" tanya Nadine setelah mencium punggung tangan Gaga.
"Nanti saja.." ucap Gaga sembari menyandar memejamkan matanya. Nadine menghela nafasnya, ia fikir bahwa sang suami masih kesal dengannya.
"Temanku baru lahiran" ucap Gaga.
"Ohiya? Siapa?" tanya Nadine sembari melanjutkan acara membaca bukunya.
"Dira.. dia baru up di sosial media" ucap Gaga.
"Dira?"
"Iya"
"Ternyata kita masih belum saling mengenal ya a" ucap Nadine sembari menutup bukunya.
"Maksudnya?" tanya Gaga terheran.
"Aku saja sampai tidak tahu teman aa siapa saja." ucap Nadine.
"Iya-- maaf. Lagipula aku tidak mempunyai banyak teman yang aku pedulikan." ucap Gaga.
"Yah.. tapi aku tidak tahu satupun selain Riko"
"Iya maaf.. aku jarang bercerita"
"Gak apa-apa, aku mengerti kok" ucap Nadine sembari tersenyum.
"Setelah aku mengucapkan selamat, Dira bilang kapan aku menyusul" ucap Gaga dengan hati-hati. Jujur, dalam hati dirinya sangat ingin mempunyai anak.
Ntah mengapa perkataan Gaga kali ini membuatnya lebih sakit dari sikap Gaga tadi pagi. Bukan dia saja yang ingin dikarunai anak, tapi Nadine juga menginginkan hal itu.
"Mungkin nanti.." ucap Nadine sembari menundukkan kepalanya.
"Mau kedokter?" tanya Gaga.
"Kalau kamu masih banyak kerjaan keluar kota, mending jangan dulu" ucap Nadine.
"Kenapa?"
"Nanti berhenti ditengah jalan lagi.. Sabar, sampai tuhan memberikan kepercayaan sama kita" ucap Nadine.
Gaga tahu bila membicarakan tentang keturunan, Nadine menjadi sedikit terlihat sedih.
"Yasudah aku buatin minum dulu sama siapin air mandi buat kamu" ucap Nadine. Saat dirinya hendak berdiri, lengannya Gaga tahan agar Nadine terduduk di pangkuannya.
"Maaf untuk tadi pagi ya neng" ucap Gaga pada Nadine sembari memeluknya dan menghirup ceruk leher sang istri.
"Iya.. gak apa-apa" ucap Nadine setelah menghela nafasnya.
"Aku cinta banget sama kamu" ucap Gaga.
Nadine tersenyum lalu berbalik dan memegangi wajah Gaga yang terlihat sedikit kusam karena debu dari luar.
"I love you too" ucap Nadine dengan senyuman yang manis lalu mencium bibir Gaga sekilas dan pergi dengan cepat ke arah dapur.
Gaga tersenyum melihat Nadine yang kabur dari pelukannya. Dalam hati ia berdoa tentang pernikahannya. Ia yakin bahwa kebahagiaan akan terus datang pada mereka berdua.
***
Lama yak gak up wkwk
**Maaf-maaf.. semoga suka sama ceritanya :***
tbc-