Look at me, please

Look at me, please
#44



Happy Reading



***


Nadine mengerjap terbangun dari tidurnya. Dilihat kebagian kasur sebelahnya, Gaga sudah tidak ada disana. Wanita yang mulai pulih itu mendengar suara percikan air di kamar mandi, ia berfikir bahwa suaminya sedang didalam sana. Tak lama, Gaga keluar meguarkan aroma fresh dan hanya mengenakan handuk melilit di pinggulnya. Dengan keadaan shirtless, Gaga terlihat sangat seksi dimata Nadine.


"Ehh udah bangun?" Tanya Gaga pada istrinya sembari menggosok-gosok rambut basahnya. Nadine mengangguk dan tersenyum.


Entah mengapa setiap Gaga shirtless, pasti dada Nadine berdebar. Manusia satu ini memang benar bukan seperti manusia bila dilihat dari tubuhnya yang seolah tuhan ciptakan dengan hati-hati untuk memahatnya.


"Hey.. kok bengong sih?" ucap Gaga yang menyadarkan Nadine dari tatapan anehnya. Gaga berjalan menghampiri koper yang berisikan bajunya. Ia membawa satu helai kaos berwarna maroon dan memakai celana pendeknya.


"Aku ganteng ya, sayang?" ucap Gaga yang sekarang menghampiri Nadine setelah ia membeberkan handuk basah di kepala kursi. Setengah menggoda, ia memberi tatapan imut pada Nadine.


"Apa sih" ucap Nadine yang mukanya sudah memerah.


"Bilang aja" Gaga mencubit hidung Nadine dengan lembut.


"Kamu seger, aku jadi pengen mandi" ucap Nadine yang sekarang sudah tak berani menatap suaminya. Gaga mengulum senyum.


"Eh.. Aku pengen pinjem hp, boleh?"


"Buat apa?" ucap Gaga.


"Ngabarin Fajri, takutnya dia khawatir aku tiba-tiba gak ada kabar sampe sekarang. Gak papa kan?"


"Aku kan gak punya nomor hp nya. "


"ck. Bisa lewat instagram kok! Atau jangan-jangan.. kamu sembunyiin sesuatu ya?"


"Yaampun.. iya iya nih deh dari pada dicurigai sama istri sendiri" Gaga berdiri dari duduknya dan membawa ponselnya yang berasa di atas sofa. Nadine menerima ponselnya dengan senyum sumringah.


"Passwordnya?" ucap Nadine sembari menyodorkan kembali ponsel itu. Berniat untuk Gaga membuka kuncinya sendiri tetapi Gaga memberikan sandi nya langsung pada Nadine.


"8888"


Nadine menarik kembali tangannya dan membuka password ponsel pintar keluaran baru sang suami. Ia membuka aplikasi instagram dan meloginkan akun pribadinya. Masih banyak pesan dm masuk sebagai hujatan dan pujian serta tag nama di berbagai postingan gosip oleh netizen. Ternyata instagram bukan jalan terbaik, fikirnya. Tetapi bagaimana lagi, ia harus menghubungi teman-temannya.


Nadine akan mengetikan sesuatu di ruang pesan dengan Fajri, tetapi ia sedikit malas untuk mengetik.


"Boleh gak aku telefon Fajri lewat hp kamu? Aku males ngetik deh biar aku minta dulu nomornya" ucap Nadine dan dianggukki oleh Gaga yang sedang memakan potongan brownis yang ibundanya bawa kemarin malam.


Beberapa saat, Fajri membalas pesan Nadine dan memberikan nomor ponselnya. Ia langsung mengcopy nomor tersebut dan menelfonnya. Nadine langsung menceritakan segala kejadian dari mulai penculikannya hingga keberadaannya sekarang. Fajri juga akan menghampiri Nadine. Nadine juga tak lupa untuk menyuruh Fajri memberitahu teman-teman yang lain termasuk Zahwa, Luna dan Mela.


"Nih,, makasih" ucap Nadine dan menyodorkan ponselnya ke Gaga. Gaga mengambilnya dan meletakan benda itu di atas nakas.


"Nadine." Nadine berdeham "Kamu tahu postingan terakhir mantan ku kan?" ucap Gaga dan Nadine mengangguk. Gaga mengehela nafas.


"Maaf"


Nadine tidak bergeming sama sekali karena dirinya sedang malas membahas topik itu. Gaga memainkan ponselnya dan membuka aplikasi instagram miliknya. Ia memindahkan akun ke akun pribadi miliknya. Ia mengambil posisi siap merekam lewat kamera depan.


"Hallo teman-temanku. Mohon doanya ya untuk kesembuhan istriku tercinta karena sedang masa pemulihan. Beberapa hari lalu dia mengalami sedikit kecelakaan." ucap Gaga dengan lantang dan memasang raut muka yang hangat. Nadine terkejut akan perlakuan Gaga sekarang. Ia langsung melebarkan matanta dan menutup sebagiam mukanya. Sebelum Gaga melanjutkan kalimatnya, Nadine duluan bergeming.


"Hei.." ucap gaga yang sekarang menatap Nadine hangat. Nadine membalahnya dengan tatapan kesal. Gaga tak memperdulikan itu dan langsung mencium bibir Nadine yang sedikit pucat pasi.


"Jangan dengerin kata orang ya.. kita berjuang sama-sama" ucap Gaga dan sekarang ia memposisikan diri untuk mencium semua bagian wajah Nadine yang sudah memerah.


***


Graha sudah berkomunikasi dengan putri sematawayangnya saat setelah Nadine sadar. Sekarang Graha mulai mencemaskan lagi keadaan Nadine kedepannya. Ia tidak mau kejadian ini terulang lagi, dan satu-satunya adalah untuk mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Perasaan takut yang selama ini Graha rasakan, akhirnya terjadi.


Graha ingin sekali kembali ke Indonesia, hanya saja kedua orang tuanya menentangnya untuk itu. Mereka berfikir bahwa hal itu akan memperburuk suasana. Graha membantah hal itu karena ia semakin khawatir dan akhirnya kedua orang tuanya mengizinkannya.


Graha adalah seorang pebisnis yang disegani sehingga tak sedikit dari kompetitor itu sendiri menyimpan iri padanya. Seorang perantau dari negara luar bahkan tak ada setetes darah Indonesia mengalir di tubuhnya, bisa-bisanya sukses di tanah Indonesia dengan kecermatan dirinya didunia perbisnisan itu. Tutur bahasanya juga sangat baik. Ia melewatkan berbagai presentasi dengan mudah, sehingga mendapat banyak sekali uang yag ia hasilkan.


Graha dikenal dengan baik dikalangan pebisnis juga dengan anak sematawayangnya Nadine yang dari dulu sudah banyak pebisnis lain yang ingin menjadikannya sebagai menantu. Tetapi Graha memiliki pilihan lain.


Saat Faranisa meninggal, Graha dan Nadine pulang ke Dubai dan kembali ke Indonesia setelah Nadine akan masuk SMA. Mereka pindah ke Jakarta dan Nadine bersekolah di SMA yang mempertemukannya dengan ketiga sahabatnya dan teman-teman lain yang sekarang menjadi anggota band.


Selama perjalanan bisnis yang sudah ia bangun kembali di Indonesia, ia tak pernah mendengar atau mengenali pemilik hotel yang bernama Mr.Darius Zavic itu. Ancaman perempuan yang ia lontarkan pada anaknya, sama sekali tak masuk akal. Dirinya sangat baik-baik saja disini. Tunggu, apa musuhnya ini salah sasaran?


Rudy mengabari sesuatu yang mengejutkan. Ia melaporkan bahwa Darius Zavic adalah pebisnis amatir yang hotel tersebut adalah pemberian sang ayah satu tahun lalu. Darius sendiri terkejut saat ditanyai tentang kejadian Nadine hari itu. Dari kabar hotelnya, ia tidak mengetahui ada kejadian seperti itu. Darius juga bilang bahwa akan membantu mencari tahu segalanya, karena ini juga menyangkut kepada hotelnya.


Namun sikap Graha yang tidak gampang percaya pada orang itu, masih menyangkal bahwa Darius tidak tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa anaknya hingga sampai-sampai nyawanya terancam. Graha akan terbang ke Indonesia besok pagi, tujuannya adalah untuk memancing lawannya. Ia tidak ingin bahaya mengahampiri gadis satu-satu miliknya itu.


***


Zahwa dan Luna sengaja datang bersama ke Bekasi menggunakan mobil Nadine yang ia tinggalkan di rumah Luna. Mereka memutuskan pulang memakai travel saja karena Zahwa malas bila harus membawa dua mobil. Sedangkan Mela, dia masih berasa di luar negeri. Pekerjaan yang diwarisi keluarga memang menuntutnya untuk bepergian jauh meninggalkan negara Indonesia.


Tentu saja kabar Nadine yang mereka terima dari Fajri membuat mereka panik tak karuan. Bagaimana bisa sahabat sendiri tidak tahu menahu tentang keadaan sahabatnya itu. Saat sampai di kamar Nadine, mereka berhambur peluk dan menangis lega karena Nadine terlihat sedikit segar. Tidak seperti yang mereka bayang-bayangkan. Gaga yang melihat Nadine membutuhkan waktu bersama kedua sahabatnya itu undur diri.


"Lo kenapa bisa kaya gini sih? Gak bosen apa berantem mulu?" ucap Luna yang matanya sedikit sembab karena mengkhawatirkan sahabat jauhnya itu.


"Tau nih.. gue bilang kemana-mana bawa semprotan cabe! Gak denger sih lo!" ucap Zahwa kesal. Yang ditegur malah cengengesan.


"Btw, lo kusut banget sih Nad. Untung ide gue bener tadi belanja bahan krimbatan buat lo. Yuk kita keramasin" ucap Zahwa diangguki oleh Nadine dan juga Luna. Mereka kemudian menyiapkan segala hal agar keinginan mereka terlaksana.


Gaga menerima berita dari Graha bahwa ayah mertuanya tersebut akan take off jam 10 pagi ini. Riko melapor bahwa Darius sendiri adalah pebisnis amatir, ia melaporkan segalanya kepada Gaga seperti Rudy melaporkan tentang Darius kepada Graha.


Tak lama, terlihat Fajri sedang berjalan ke arah kamar Nadine. Gaga tahu Fajri adalah sepupu mantan kekasihnya dan Fajri juga tahu betul Gaga mantan kekasih sepupunya yang keras kepala itu. Fajri yang kebetulan melihat Gaga sedang duduk bersama Riko, menghampiri dan menyapanya terlebih dahulu.


"Maaf untuk hal ini, karena aku Nadine jadi terluka" ucap Fajri to the point


"Kami sedang mencari dalang dari semua ini. Maaf bukan bermaksud mencurigaimu, tetapi biasanya musuh bisa saja orang terdekat kita" ucap Gaga dengan nada dingin. Rahang Fajri lansung mengeras mendengar perkataan yang keluar dari suami temannya itu.


"Aku bukan orang seperti itu. Apalagi sampai menyakiti wanita." ucap Fajri yang nadanya sedikit meninggi. "Nadine sudak ku anggap seperti adikku sendiri. Bagaimana bisa aku.." Fajri menarik sudut bibirnya "Aku akan membantu mencari siapapun itu, kejadian ini juga berada di mall milik kakakku. Kau tak memintapun aku akan lakukan pencarian sendiri" sambungnya. Tepat saat Cheko, Baskara dan Julian datang bersama. Mereka juga bertegur sapa dengan Gaga lalu memasuki kamar inap Nadine.


Gaga menghela nafas dan membuangnya kasar saat setelah menonton punggung keempat orang terdekat istrinya itu.


"Apa aku harus mencurigai mereka?" ucap Gaga yang sekarang memandang Riko yang sedari tadi menemaninya berdiri.


"Siapapun itu, kita harus berhati-hati tuan" ucap Riko dan diangguki oleh Gaga.


****


Tbc-