
Maafkeun jarang apdet🥺
baru beres UAS nih author..
Karena kebetulan episode Look at me lagi ada konflik, kalau asal nulis takutnya gak nyambung🙈🙏
Masa libur nih..
Kalau likenya banyak, aku langsung up karena aku bakal menuhin draft😍
***
Elsa Gayatri, ia sedang berada di Thailand sekarang. Dengan jalan lenggak lenggoknya diatas panggung, mendentumkan irama dari sepatu tingginya. Puluhan kamera mengerjapkan flash nya, ratusan pasangan mata menyaksikan kecantikan aura seorang Elsa model papan atas yang berasal dari Indonesia itu.
Ada sepasang mata yang menatapnya lekat lekat. Dan benar saja. Setelah Elsa turun dari panggung, lelaki setengah baya yang diekori lelaki berparas muda berjalan melenggangkan kakinya ke backstage.
"Mbak, ada yang nyariin mbak diluar" ucap Rina pada Elsa yang sedang memijat kakinya.
"Siapa?"
"Duh gak tau deh, maksa gitu. Nyuruh mbak keluar sekarang. Katanya sih penting. Dan dia orang indo" ucap Rina. Elsa berdecak kesal 'siapa sih' dalam benaknya ia bergumam. Tanpa berfikir panjang, ia langsung keluar dari tirai dan berhadapan dengan sosok lelaki misterius itu.
***
Tiga hari semenjak Nadine sadar, kondisi Nadine semakin membaik. Lukanya hampir mengering dan dokter menjanjikan bila kondisi Nadine hari ini semakin membaik, ia akan dipersilahkan pulang.
Teman-temannya sudah pulang hari itu juga. Cheko dan Julian mengantar kedua temannya pulang. Karena Nadine melupakan mobilnya di Bandung, jadi Luna dan Zahwa yang membawanya kesini.
Gaga harus pergi kekantor, walaupun ini hari Sabtu. Nadine bersama Gania di ruangan itu. Mereka jadi semakin akrab sekarang.
"Mbak.. mbak pernah pacaran kan?" Ucap Gania tiba-tiba.
"Pernah, kenapa Gan?"
"Mbak! Jangan panggil aku 'Gan' dong, kayak panggilan olshop ke pembeli laki-laki tau gak" ucap Gania sebal mengerucutkan bibirnya. Nadine tertawa dan menepuk pundak Gania.
"Panggil apa dong?"
"Panggil Nia yah mbak!"
"Oke deh.. jadi adekku Nia yang cantik ini kenapa nanyain mbak pernah pacaran?"
"Khmm" Gania mencoba menyiapkan suaranya yang sepertinya akan berbicara banyak. "Jadi gini mbak, aku tuh ada yang deketin cowok. Tapi dia udah lulus kuliah dan dia juga udah punya usaha sendiri. Ya walaupun dimodalin sama keluarganya, tapi dia bisa buat kedai kedaian buat nongkrong gitu mbak"
"Lalu?"
"Nah aku suka sama dia mbak. Tapi aku ngerasa masih bocil gitu karena dia udah dewasa banget"
"Maaf ya nia, mbak enggak melarang kamu berpacaran. Mbak juga dulu masa kuliah pacaran kok. Tapi lebih baik kamu fikirin hal lain dulu, sebelum kamu menyesal nantinya"
"Menyesal?" Nadine mengangguk.
"Mending kamu fikirin kelulusan kamu dulu dan fikirin nanti kamu bakal kuliah dimana. Jangan khawatir sama jodoh, karena udah diatur kok sama yang diatas"
"Sebenernya dia bukan ngajak aku pacaran mbak." Ucap Gania sedikit memelankan suaranya.
"Lalu?" Nadine berkerut seolah bingung.
"Dia ngajak aku nikah." Ucapan Gania membuat mata Nadine membulat. Tak menyangka adik dari suaminya ini ingin menikah muda. Ia teringat dulu saat Nadine seumuran dengannya. Bukan pernikahan yang ia impikan, tetapi baju gonta gantinya saat kuliah karena tidak harus berseragam seperti saat SMA.
Sepertinya fokus kepada sekolah dulu mungkin akan lebih baik. Benak Gania.
"Dokter udah kesini?"
"Katanya sih nanti sore kak. Dia ada operasi dadakan di rumah sakit satunya" Gaga mengangguk paham.
"Ayah lagi berangkat kesini." Ucap Gaga duduk di sebelah Nadine.
"Really?" Mata Nadine berbinar kala mendengar ayahnya akan pulang. Gaga mengangguk dan tersenyum, ia sangat turut berbahagia karena Nadine senang.
Nadine melirik pada Gania yang sedari tadi diam seribu bahasa. Ia memberi kode agar Gania mengucapkan sesuatu pada kakaknya ini. Tetapi sepertinya Gania memberi kode untuk memberitahu kepada Nadine bahwa Gania tidak akan berbicara sekarang.
Hari sudah menjelang sore. Keluarga Axelle sudah berkumpul di ruang VIP ini. Menunggu kabar baik dari dokter bahwa Nadine bisa mereka bawa pulang. Dan benar saja, Nadine sudah diperbolehkan pulang.
Baju-baju dan alat-alat segala macam sudah Fitri bereskan. Nadine juga sudah bisa berjalan walau masih harus dituntun Gaga karena kakinya masih pincang. Gaga berfikir bahwa wanitanya ini memang wanita yang kuat.
Pasangan itu diperintahkan untuk tinggal sementara di Bekasi, dikediaman keluarga Axelle. Nadine dan Gaga menyetujui itu. Apalagi besok lusa adalah hari pergantian tahun. Mereka harus berkumpul untuk merayakannya.
"Ke konter aple dulu yuk, beli hp baru buat kamu" ucap Gaga kepada istrinya yang duduk di kursi penumpang samping kemudi.
"Asikk.. oke" ucap Nadine kegirangan. Gania yang duduk dibelakang hanya terdiam memikirkan rangkaian kata yang nanti ia akan sampaikan kepada kakaknya terlebih dahulu.
"Dek" ucap Gaga. Gania tersadar dari lamunannya.
"Eh iya kak?"
"Karena kamu udah mau temenin mbakmu terus, kakak bakal beliin hp baru. Mau?" Mata Gania langsung berbinar tak percaya. Kapan lagi kakak lelakinya ini memberi hadiah padanya. Ia langsung mengangguk semangat dan Nadine hanya tertawa kecil melihatnya.
Nadine turun dari mobil dengan mengenakan rok selutut dan kemeja peach. Ia ditutun oleh Gaga, untungnya Nadine tak terlalu kerepotan karena luka jaitannya tak terlalu sakit.
Mereka berjalan ke toko distributor resmi ponsel dengan berlogo apel yang telah digigit. Nadine membeli ponsel yang paling keluaran baru berwarna purple dan Gania, ia di belikan dengan type yang sama namun berwarna rosegold.
Kedua wanita yang Gaga sayangi ini terlihat sangat bahagia. Biarlah pikirnya sesekali memberi hadiah kepada adiknya ini, agar ia tahu bahwa abangnya ini sangat sayang padanya.
"Nomor kamu masih berfungsi kok Nad. " ucap Gaga.
Setelah ritual belanja kebutuhan sekundernya, mereka berjalan ke parkiran dan memasuki mobil Nadine yang berwarna kuning. Sedangkat mobil Gaga dibawa oleh Riko ke Jakarta sekalian dirinya harus kembali bekerja karena Gaga meminta cuti kepada ayahnya.
"Ayah udah sampe mana ya kak?" Ucap Nadine sembari menyeruput Chattime yang tadi mereka beli di mall.
"Kayaknya masih dipesawat. Sabar yaa.." ucap Gaga. Nadine mengangguk paham lalu menikmati lagu-lagu yang berputar. Gania sibuk memainkan ponsel barunya, ia terlihat sangat bahagia sekali.
"Awas ya dek kalau nilai-nilai kamu turun. Kakak bawa lagi hp nya!" Ancam Gaga sembari bercanda. Nadine memukul kecil kelengan kiri Gaga, Gaga tertawa kekeh. Yang diancam hanya mendorong bibirnya kedepan.
"Jadi kamu mau kuliah dimana tar?" Ucap Gaga yang membuat Gania sedikit terkejut. Nadine menoleh ke arah Gania, namun Gania hanya diam saja. Gaga juga melirik sesekali ke kaca sepion tengah.
"Mungkin Gania masih bingung kali, nanti aja biar dia fokus UN dulu kak" ucap Nadine menengahi. Gaga akhirnya mengangguk. Nadine menoleh ke arah Gania dan tersenyum, Gania membalasnya dengan senyum terimakasih. Kakak iparnya ini memang sangat perhatian.
***
Haiii aku kombek nihh!!!
Banjirin sama like yuk biar langsung aku up episode berikutnya, minta 30 aja gakpapa kok hihi🖤
Tbc-