
Nadine yang merasa dirinya sedikit tak nyaman, akhirnya terbangun di tengah malam dan memutuskan untuk pergi ke dapur. Wanita cantik keturunan turki itu kini sedang mencari sesuatu makanan camilan di lemari. Ia menemukan beberapa camilan seperti cips jagung dan buah mangga di kulkas. Nadine melangkahkan kaki ke ruang televisi sembari membawa camilan juga mangga yang sudah dikupas dan dipotong, tak lupa ia membawa cola untuk minumannya. Ia menonton film yang ada di televisi, lalu ada seorang pria menghampirinya dari arah kamar tamu.
"Nadine? ..." ucap Jo
"Eh kak ... kak Jo yah?" Ucap nadine menengadah melihat pria yang berdiri tegap didepannya.
"Kamu ... kenapa disini? " ucap Jo. Aneh memang, tuan rumah yang harusnya bertanya seperti itu pada tamu. Namun Jo merasa lebih aneh pada tuan rumah ini, kenapa tak tidur bersama suaminya? Padahal mereka pengantin baru.
"Aku .. laper hehe " ucap nadine polos sembari memasukan mangga yang sudah ia tusuk memakai garpu kedalam mulutnya yang sedikit pias.
"Ohh.. Gaga mana?" Ucap Jo sembari duduk disamping nadine
"Dia udah nyenyak kak " ucap nadine datar. Nadine menyodorkan makanannya memberi kode pada Jo seolah berbagi bersama teman dekat suaminya itu.
"Kenapa ga bangunin dia? " ucap Jo dengan memakan chips yang nadine suguhkan.
"Buat apa? Kasian dia kalo dibangunin. Kan lagi cuti " ucap Nadine yang benar-benar polos. Jo tak mengerti lagi tingkah istri temannya itu.
"Oh .. iya juga ya . Maaf ya kalau aku tiba-tiba ganggu kalian kesini buat nginep " ucap Jo mengalihkan dan basa basi
"Oh gapapa kok kak! Sans aja ... " ucap nadine di akhiri dengan senyuman manis. Jo terlena dengan senyuman istri temannya itu, karena nadine memancarkan kecantikannya di balik muka natural dan polosnya itu. Sungguh menawan, Jo jadi iri pada Gaga.
Tak lama dari percakapan Jo dan Nadine yang dilanjutkan dengan menonton film itu, nadine kembali mengantuk dan berpamitan pada Jo untuk tidur kembali. Nadine juga berpesan jika jangan sungkan bila ingin memakai atau memakan sesuatu di rumah ini dan Jo mengiyakan dengan antusiasnya.
🦋🦋🦋
Nadine kembali ke kamar utama, ia melihat Gaga masih terlelap nyenyak. Nadine tidur disamping suaminya, dan menyeret selimutnya hingga dada. Ia menatap muka Gaga dengan seksama. Nadine mengakui bahwa lelaki yang telah sah menjadi suaminya dua hari yang lalu itu sangat tampan bahkan dalam tidur pun ia sangat memukau. Tangan nadine seolah tertarik untuk menyibakkan jambul Gaga yang menutupi matanya namun ia tarik kembali tangannya dan memutar balik badannya memunggungi suaminya itu. Tidak boleh! Pikirnya ia tidak boleh ada sentuhan lain walaupun Gaga memang suaminya. Nadine masih sakit hati dengan ucapan Gaga yang seolah merendahkan dirinya. Memang masa lalu nadine berpengaruh pada hidupnya sekarang, tapi bukan berarti dirinya menerima hinaan seperti itu terlebih dari mulut suaminya sendiri.
🦋🦋🦋
Kemarin malam Nadine yang menguarkan wangi fresh dari tubuhnya sehabis mandi, lain dengan pagi ini. Gaga yang sudah bersih berseri pagi ini, menguarkan aroma maskulin di kamar utama pengantin baru yang sedingin es itu. Nadine terbangun dari tidurnya. Melihat sekeliling dan mendapati Gaga yang baru saja memakai celana bahan dan sedang mengancingkan kemeja putihnya. Gaga menyadari bahwa nadine memperhatikkannya.
"Aku mau kekantor" ucap Gaga.
"Hm" jawab nadine berdeham. Wait! Nadine menyadari, bukankah Gaga masih cuti?
"Eh bukannya kamu masih cuti ya kak?" Ucap Nadine mengucek matanya dan bangun terduduk di atas kasur.
"Ya.. tapi.. ada urusan lain " ucap Gaga. Nadine mendengarkan dengan seksama dan menganggukan kepalanya samar seolah mengerti dan tak terlalu peduli. Ia menguap dan melakukkan gerakan ringan untuk melenturkan otot-ototnya.
"Nanti sesudah aku pulang, aku anter kamu ke club taekwondo daerah sini. Ayah kamu telfon aku tadi pagi waktu kamu masih tidur, kayanya jangan sampe kamu skip " ucap Gaga.
"Ayah udah sampai? Kabarnya gimana? Kok ga kabarin aku si?" Ucap Nadine heran.
"Hallo Gaga? Maaf ayah mengganggu. Ayah mau berkabar bahwa berterimakasih padamu dan bobi karena sudah membantu. Saya sudah sampai kemarin, beritakan pada Nadine saya baik-baik saja. Ayah saya juga turut membantu jadi besok rencana akan langsung ke German. " ucap Graha panjang lebar
"Ohh iya om .. maksud saya ayah .. " ucap Gaga namun dipotong oleh Graha
"Ohiya Gaga, carikan club taekwondo nadine yang baru. Sekarang memang kita tidak harus terlalu waspada untuk menjaganya, namun dia juga harus tetap mempunyai dan melatih ilmu itu untuk berjaga-jaga. Dan ... maaf bila saya harus menikahkan kalian, padahal masalah ini diselesaikan dengan gampang tanpa harus kalian menikah. Maaf menjadi beban bagimu Gaga .." ucap Graha. Bukannya menanyakan segala asetnya di Indonesia, ia malah mementingkan anak wanitanya.
Memang benar alasan utama Nadine dan Gaga dinikahkan adalah atas masalah yang terjadi karena Nadine menjadi sasaran kelemahan dari seorang ayah pebisnis itu. Namun ternyata dengan adanya bantuan dari kakek Emir, masalah Graha menjadi tidak berarti apa-apa baginya. Maka dari itu Graha meminta maaf pada Gaga. Juga berfikir seolah dirinya terburu-buru dan menjadi ayah yang buruk tidak memikirkan masa depan anak perempuan satu-satunya itu.
"Baik ayah. Bagaimanapun sekarang Nadine adalah istri saya. Jangan meminta maaf ayah, mungkin ini takdirnya. " ucap Gaga
"Gaga.. maafkan saya bila nadine membebani mu. Sekali lagi, jangan salahkan ia. Salahkan lah aku yang terlalu berambisi untuk pernikahan kalian. " ucap Graha dengan nada sesal
"Sudah ayah, tak usah difikirkan lagi. Bagaimanapun pernikahan ini sudah terjadi." Ucap Gaga. Merekapun saling menutup telfon.
Gaga mulai berfikir takdir apa sebenarnya yang membuat pernikahan ini berjalan. Bahkan alasan mereka menikah atas alasan masalah-masalah yang ada. Namun bukankah sangat konyol bila masalah itu tak seserius yang ia kira.
Nadine yang mendengar itu hanya cemberut dan merasa kesal karena ayahnya tak menghubunginya langsung. Ia langsung beranjak dan pergi mencuci muka dan langsung pergi ke dapur. Ia tak dulu mandi, karena ia tau pasti Gaga akan terlambat sarapan bila dirinya mendahulukan membersihkan badan.
Gaga turun dari kamar, melihat nadine yang sedang menumpahkan topping diatas pancake yang baru ia masak.
"Kak sarapan dulu.. aku udah suruh Surti bangunin kak Jo. " ucap Nadine hanya menatap Gaga sekilas.
Gaga menghampiri nadine, ia duduk menunggu nadine menyuguhkan sarapannya.
"Nad .. maaf soal semalam. " ucap gaga yang tak sungkan-sungkan. Nadine hanya diam mendengarnya seolah tak memperdulikan apapun.
"Tapi kita harus tetap tidur bersama. Bagaimanapun juga kita ini pasangan sah suami istri. Walaupun kita tak saling cinta tapi, itu sudah seharusnya. " ucap Gaga menatap Nadine yang masih sibuk menaburkan toping di atas pancake.
"Nadine ? " ucap Gaga
"Kak Gaga.." ucap nadine yang menatap Gaga dan menyodorkan sarapan untuknya. Lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Gaga "Bagaimanapun, ucapan mu benar. Tapi jangan pernah memandangku seperti itu. Sebaiknya bila memang urusan ayah sudah selesai, untuk apa pernikahan ini dilanjutkan? Aku mempunyai impian tersendiri walaupun aku sudah merusak diriku, tapi impian itu tetap akan aku gapai." Ucap Nadine menajamkan tatapannya. Gaga yang tidak terlalu mengerti dengan ucapan istrinya itu, memutar otaknya keras-keras.
"Impian apa maksudmu? Kamu siap jadi janda?" Ucap Gaga meledek dan senyum sinis. Nadine yang melihat ekspresi suaminya itu juga membalasnya dengan senyum sinis.
"Yang pasti gak akan bisa aku wujudkan bila bersamamu. Makan lah, hati-hati dijalan.." ucap nadine berlalu meninggalkan Gaga.
"Oh ya.. jangan bermimpi untuk bisa tidur seranjang bersamaku bila tak ada orang lain dirumah ini. Maaf tapi walaupun aku yang sudah murahan ini, tak akan sudi disentuh oleh lelaki yang sudah merendahkanku." Ucap Nadine berhenti sejenak dan lanjut melangkahkan kaki ke kamarnya. Gaga yang emosi sudah mengepal tangannya , matanya membulat.
Ia tak menyangka Nadine bisa termakan hati atas kata-katanya semalam. Gaga berniat untuk mencoba menyukai wanita itu, namun Nadine seolah tak tahu diri sampai-sampai berani berbicara mengakhiri pernikahan ini.