Look at me, please

Look at me, please
#20 - TITAHAN



Happy Reading


***


Wanita berpakaian formal, memakai pantofel hak 3cm, balutan rok span atas lutut dengan kemeja putih dibalik jas hitam dan membawa tas itu mengetuk pintu rumah Nadine. Ia tak sendiri, dibelakangnya juga ada


Tok tok tok


Namun dari sang penghuni tak ada yang membukakan pintu ataupun menjawabnya. Wanita yang bersama dengan lelaki berpakaian formal disebelahnya juga kembali mengetuk pintunya. Namun lama tak ada balasan. Mereka menelfon seseorang dan seseorang tersebut menitah mereka untuk membuka pintu saja menggunakkan kunci yang sudah mereka pegang. Wanita dan pria asing itu masuk kedalam dan melihat sekitar bahwa disana tak ada siapapun, hanya terdengar televisi di ruang keluarga yang masih menyala. Akhirnya si wanita melangkahkan kaki ke tangga menuju ke lantai dua dan mendapati kamar Nadine yang tertutup rapat. Ia mengetuk pintu itu.


Ketukan pintu tersebut mengagetkan Nadine yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Ia hendak membuka namun ragu. Ia ketakutan sekarang. Badannya bergetar, dadanya berdetak kencang namun ia mencoba mengatur nafasnya.


Oke nadine, kamu bisa! Kamu bisa bela diri nad. Siapapun itu kamu bisa lawan dia!. Batin nadine dengan percaya diri. Dia membuka gagang pintu perlahan dan langsung membanting perempuan yang ada dihadapannya. Nadine terlihat panik juga wanita itu.


"Kamu siapa?!!!!" Ucap Nadine. Lelaki yang tadi duduk di sofa langsung menuju keatas untuk melihat suara apa yang membuat ia terkejut.


"Nona.. saya bukan orang jahat, saya ..." ucap wanita tersebut dengan tersengal karena leher dan tangannya sudah dicekal erat oleh kedua tangan Nadine.


"Bohong! Kamu suruhan siapa? Mengapa bisa masuk kemari?" Ucap nadine dengan berteriak.


"Nona Nadine Ayana Winara, kami meminta maaf atas kelancangan kami masuk tanpa sepengetahuan anda. Kami suruhan dari pak Gaga untuk menemani, menjaga dan mengikuti setiap pergerakan anda. " ucap lelaki tegap itu pada Nadine yang sedikit khawatir melihat temannya yang baru beberapa jam bertemu itu. Nadine menatap pada lelaki tersebut dan mencoba membuka pegangannya pada wanita itu.


"Maaf sekali lagi nona. Kami tidak bermaksud untuk menerobos tapi nona tidak menjawab apapun jadi kami membuka pintu dengan kunci yang diberikan tuan Gaga. " ucap wanita itu yang seraya gugup sambil menunduk membenarkan pendiriannya. Nadine teringat akan ucapan Gaga kemarin bahwa akan ada supir dan asisten suruhannya.


"Aah maaf saya lupa. Tunggulah dibawah saya akan bersiap terlebih dahulu. " ucap Nadine yang membenarkan handuk kimononya dan membetulkan posisi handuk yang masih terlilit di kepalanya. Wanita dan pria suruhan Gagapun mengiyakan dan langsung turun menuju ruang tamu.


Nadine turun, menyiapkan teh hangat cukup lima menit saja. Nadine membawa suguhan tersebut dan meletakkannya di meja.


"Ahh nona, tidak perlu repot-repot" ucap wanita suruhan itu.


"Tidak apa-apa nona. Perkenalkan saya Yulia dan ini mas Dinar. Kami akan menjadi asisten juga supir pribadi anda. " ucap Yulia. Dinar mengangguk antisias.


"Saya Nadine. Gaga sudah memberitahu kedatangan kalian kemarin tapi saya lupa. Maaf sekali lagi untuk itu. " ucap Nadine tak hentinya meminta maaf. "Kamu gakpapa kan?" Ucap nadine menatap Yulia.


"Ahh saya tidak apa-apa kok. Wajar saja nona begitu, maaf sekali lagi atas keputusan kami yang lancang ini. " ucap Yulia terkekeh.


"Baiklah. Karena kalian sudah disini, saya ingin menemui eo teman saya Amel untuk membicarakan masalah pernikahan. Sebelumnya saya akan antar kalian ke kamar masing-masing. " ucap nadine


"Hari ini anda tidak boleh kemana-mana selama tiga hari kedepan nona. Setelah itu barulah anda bisa menemui eo teman anda. " ucap Dinar yang menyampaikan jadwal Nadine.


"Kenapa begitu? Saya ingin mengatur semua dari sekarang. Kasian Amel kalo nanti tiba-tiba ada yang tidak sesuai bagaimana? Nanti kewalahan." Ucap nadine terkekeh


"Maaf nona tapi kami hanya mematuhi perintah, dan tuan Gaga bilang bahwa bila nona membantah kami akan meyakinkan bahwa teman anda Amel sudah menyanggupi semuanya. Kalian juga tidak dilarang untuk berkomunikasi di ponsel. Menurut tuan itu lebih dari cukup daripada harus pergi dari rumah. " ucap Yulia dengan sopan. Nadine tak menyangka Gaga sudah benar-benar kejam padanya. Teringat pernikahan ini yang Nadine pahami hanya sebatas permintaan ayah, rasa iba juga pelarian cinta Gaga membuat Nadine pusing bagaimana dirinya bisa berada di posisi ini.


"Baiklah. Kalau begitu saya tidak akan kemana-mana " ucap Nadine. "Ayo saya antar kalian ke kamar." sambungnya sembari berdiri dan diekori dua penjaga itu. Namun tiba-tiba Nadine berbalik. "Ohiya besok jangan pake pakaian formal gini ya, ini rumah kok bukan kantor. Santai aja" ucap Nadine. Kedua penjaga itu mengangguk lembut dan Nadine kembali berbalik dan melangkah diikuti oleh mereka.


"Ini kamar mas Dinar, saya tempatkan dibawah ya karena anda lelaki. Ini kamar tamu dan sempat Gaga tidur disini juga. " ucap nadine membuka gagang pintu itu. Dinar masuk dan berterimakasih pada Nadine lalu mengikuti Nadine kembali.


Mereka naik ke lantai dua, berbelok ke arah kanan. Sebelum berbelok, tertata rapi dihadapannya rak buku dan satu sofa juga vas bunga di atas nakas di ruang tengah yang lumayan luas untuk baca buku disana.


Mereka berbelok kearah kanan dan mendapati dua pintu kamar satu di ujung dan satu di depan dekat ruang baca. Nadine membuka pintu kamar yang berada diujung.


"Ini kamar mbak yulia. Bersebelahan dengan kamar ayah. Dan kamar aya.. mm maksud saya kamar saya yang tadi, lurus dari sini yang paling besar. " ucap Nadine.


Lalu Nadine menyuruh mereka berbenah. Nadine turun ke dapur dan menyiapkan makanan untuk menyambut tamunya. Mereka sangat berterima kasih pada Nadine karena sikap lembut kepada mereka yang hanya sebatas titahan. Namun jangan disangka, Dinar adalah mantan ajudan presiden yang direkrut oleh keluarga Axelle dan dititah oleh Gaga untuk menjaga rumah ini dengan waktu singkat. Dan Yulia, dia adalah wanita cerdik dan telaten, dia sendiri adalah sekertaris dua pak Bobi.