Look at me, please

Look at me, please
#48



Gaga pov


Malam ini malam pergantian tahun. Istri dan keluarga juga mertuaku sudah berkumpul dirumah di Bekasi. Cuaca hari ini sangat cerah sehingga aku dan Gania berenang bersama.


Menjelang sore kami menyiapkan alat-alat untuk bakar-bakaran. Nadine terlihat sudah kembali sehat. Namun ia mengeluhkan sakit perutnya karena sedang mesntruasi. Aku sedikit kecewa. bukan karena benihku tak jadi, tetapi malam ini aku tak bisa melakukannya.


***


Nadine pov


Petasan kembang api di langit sangat indah. Aku diapit oleh kedua lelaki yang sangat berarti dalam hidupku, yakni ayah dan Gaga.


Setelah acara petasan selesai, kami masuk kekamar masing-masing setelah sang ayah mencium keningku. Lagi-lagi ia mewanti-wanti pada Gaga untuk menjagaku.


Aku masuk kedalam kamar dan langsung merebahkan badanku diatas ranjang. Ntah mengapa hari ini sangat lelah bagiku. Mungkin karena efek menstruasiku.


"Gak cimuk dulu neng?" Ucap suamiku. Aku menggeleng dan langsung memejamkan mataku.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan menutup. Tanda Gaga masuk kedalam. Dan beberapa menit kemudian aku merasakan ada yang menaiki ranjang disebelahku.


"Lagi mens ya?" Kini suamiku berbicara diatas kepalaku sembari memelukku dari belakang. Aku mengangguk. Terdengar ia menghela nafasnya kasar.


"Neng?"


"..."


"Jangan tinggalin aku ya"


"..."


"Jangan kemana-mana sendirian. Nanti aku suruh Erik buat terus jagain kamu kemana-mana. Biar gak ada yang bisa tusuk tusuk kamu lagi"


"..."


"Maafin ya aku gak becus jagain kamu. Aku sayang sama kamu neng. Kamu perempuan yang unik. Maafin aku kalau selama ini aku pernah sakitin kamu. Aku harap kita bakal langgeng sampe mati"


Ucapannya membuatku terharu. Hatiku menghangat dan juga semakin merasakan takut. Aku takut bila nanti aku salah, bukan aku yang meninggalkannya tetapi suamiku sendiri.


"Neng? Masih bangun kan?"


"Heem."


"Yaudah bobo." Ucapnya sembari mengecup pucuk kepalaku.


***


Kami sudah sampai di Jakarta. Dirumah kami semula. Gaga semakin memanjakanku akhir-akhir ini. Dan ia sempat menyinggung tentang buah hati pada saat kami mengobrol di mobil. Aku mengiya-iyakan saja karena memang aku ingin mempunyai anak juga.


***


Gaga pov


Dua hari setelah aku sampai di Jakarta, ada seorang perempuan datang kekantorku saat aku sudah mulai bekerja. Entah apa tujuannya sampai-sampai ia repot datang lagi kemari. Tentu saja kedatangannya tak aku tunggui atau aku harapkan lagi.


"Ada apa?"


"Bisa kita ngobrol?"


"Disini bisa kan?" Ucapku dengan nada menekan karena aku malas bila harus keluar dengannya.


Kami duduk bersebrangan di atas sofa. Ia mulai berbicara setelah menyeruput teh hangat yang sudah Keisha suguhkan.


"Nadine masih dalam bahaya" ucapannya membuatku mengerutkan dahiku. Aku masih tak mengerti.


"Ada seorang pria datang saat aku ke Thailand. Dan menyuruhku untuk bertemu seseorang di Jakarta saat aku pulang ke Indonesia. Ia menyimpan dendam pada tuan Winara dan ia bilang ia sudah memberi umpan padanya."


"Aku tidak mengerti" ucapku. Ia terlihat menghela nafasnya.


"Aku pikir kamu juga dalam bahaya Ga. Suruh ayah mertuamu itu pindah selamanya dari Indonesia dan membawa putri tunggalnya itu. Aku yakin itu solusi terbaik"


"Terserah ayah mertuaku ingin pindah atau tidak. Tetapi Nadine sudah menjadi istri sah ku dan aku akan tetap menjaganya meski dalam bahaya sekalipun."


"Kamu keras kepala banget sih Gaga! Tidak bisa kah kamu hidup normal lagi? Jujur saja, kamu pasti dihantui dengan rasa cemas bila Nadine sendirian. "


"Siapa yang kamu temui?" Ucapku mencari jawaban.


"Ah- i-itu. Aku gak bisa mengatakannya"


"Cepat." Ucapku yang sudah mengeraskan rahang.


"Kalau kamu ingin tahu, datanglah ke fashion show ku di hotel Santika. Maka aku akan langsung memperlihatkannya padamu. Tenang, aku sudah merelakanmu. Aku merasa bersalah karena sudah mengkhianatimu dulu. Maka dari itu aku akan melindungimu" ucapnya kemudian pergi melangkahkan kaki. Namun sebelum dirinya keluar, Nadine sudah membuka pintunya duluan. Terlihat keduanya sedikit terkejut.


Nadine pov


Aku tak menyangka akan bertemu dengan Elsa di kantor suamiku. Sedang apa dia kesini? Aku menatapnya sampai akhirnya ia berpamitan dan aku hanya mengangguk saja.


"Hai sayang, dari mana?" Ucap suamiku yang menghampiriku.


"Dari rumah sakit. Kan jadwal aku checkup hari ini"


"Lah ko gak ajak aku?"


"Tadi pagi kan kamu buru-buru. Terus bilang ada rapat penting. Yaudah aku bisa sendiri ko" ucapku berusaha lembut.


"Tadi Elsa datang kesini dan kasih tau aku kalau kamu masih dalam bahaya" ucapnya yang membuatku bingung.


"Dia tau apa emang tentang masalah kita?" Ucapku yang sedikit kesal karena kali ini Elsa sudah sedikit mencampuri urusan kami. Tetapi setelah Gaga menjelaskan yang Elsa tadi sampaikan, aku mengerti.


"Mungkin yang dikatakannya enggak benar, tetapi kamu harus hati-hati ya neng"


***


Author pov


Tuan Winara baru saja menghadiri pertemuan rapat direksi pemegang saham. Karena bisnis batu bara baru ia lakoni, pak Graha tak terlalu bergeming. Ia menyimak saja, tetapi ia cukup mengerti aturan mainnya.


Sadar tak sadar, Graha seperti di tatap intens oleh seseorang. Dan benar saja sedari rapat berlangsung ada seorang lelaki menatap dendam padanya.


Ini tuan Winara yang sudah menghancurkan ayahku beberapa hari lalu? Tunggu saja, nanti kau tak akan bisa tertawa seperti itu lagi. Batin lelaki berwajah matang itu.


Ada beberapa pejabat yang ikut serta dalam rapat tersebut. Mereka adalah seorang gubernur dan menteri. Setelah rapat tersebut selesai, para anggota saling berjabat tangan. Tentunya Graha sudah tahu bahwa dari tadi dirinya diawasi oleh seseorang. Dan sekarang mereka saling tatap dan mengayun-ayunkan lengannya.


"Anda tuan Winara bukan?" Ucap lelaki tersebut.


"Iya. Anda? Saya baru melihat anda sekarang di rapat direksi."


"Saya baru saja mendapat warisan. Saya Farhan."


"Kalau begitu, senang bertemu dengan anda tuan Farhan" ucap Graha lembut. Farhan hanya mengangguk tersenyum. Setelah Graha menjauh, senyuman hangat itu menjadi senyuman kecut.


***


"Ayah sudah sampai?"


"Sudah sayang. Ayah di rumah kok"


"Salamin sama bi ani dan yang lain ya. Ayah jaga pola makan ya jangan lupa minum air putih dan mandi yang bersih. Kurangin rokok! Minta dibikinin jus sama bi Ani jangan kopi terus"


"Iya sayangku yang bawel" ucap Graha menggoda. Dirinya kini berada di Bandung di tempat tinggalnya dahulu bersama anak tunggalnya selama empat tahun dan tiga tahun di Jakarta.


Graha masih memikirkan sesuatu. Kebetulan dirinya mempunyai ilmu membaca tatapan dan fikiran seseorang dari sang buyut saat ia sekolah menengah atas. Jadi ia sedikit tahu bila seseorang itu tulus atau berbohong. Maka dari itu Nadine selalu jujur pada ayahnya mau itu buruk atau baik.


***


Satu tahun berlalu dan Nadine belum juga ada tanda-tanda mengandung. Sempat ingin mengikuti program, tetapi sang suami selalu saja sibuk bila mengikuti prosedur yang ada. Kehamilan akan terjadi bila sang ayah juga sehat dan menjaga pola makannya bukan.


Gania memutuskan untuk menjadi pramugari dan menolak ajakan nikah muda dari lelaki yang pernah di ceritakannya dulu. Gania fikir, dirinya masih ingin berkelana menggapai cita-cita dan kesuksesan sendiri. Toh kalau berjodoh, ia akan bertemu lagi dimana saat keduanya sudah siap.


Hari ini Nadine sedang tak enak hati. Setelah ia memecahkan pot bunga dirumahnya, ia jadi teringat sang ayah yang sedang di Bandung. Padahal baru beberapa hari kemarin mereka bertemu saat Nadine mengunjunginya di Bandung sekalian mengecek salonnya disana.


Selama setahun ini Nadine pernah mendapati tatapan aneh dari seseorang saat ia sedang berbelanja harian di supermarket. Untung saja Erik selalu di sebelahnya dan waswas menjaga Nadine. Ia juga dulunya mantan ajudan komandan tinggi, kinerjanya tidak diragukan.


"Ayah, ayah dimana? Gak terjadi apa-apa kan?" Ucap Nadine di telepon.


"Ayah gak papa kok. Ada apa?"


"Gak tau deh, aku punya perasaan ga enak dan ingetnya sama ayah"


"Sayang, ayah baik-baik aja ko. Kan ada Dinar juga disini. Dia baik banget sama ayah dan kayaknya Dinar sama Yulia cinlok deh. Ayah jadi iri sama mereka, geli sendiri liatnya. Kayak jaman ayah sama ibumu dulu waktu muda." Ucapan ayahnya membuat Nadine sedih.


"Ayah"


"Hem?"


"Ayah mau nikah lagi juga gak apa apa kok" ucap Nadine dan dibalas tawa oleh Graha.


"Ayah gak mikirin kayak gitu sayang. Siapa juga yang mau sama pak tua kayak ayah"


"Ayah masih muda. Masih seger dan ganteng buat seorang cewek. Lima puluh tahun itu gak terlalu tua ayah. Banyak ko diluar sana yang jadi om om seumuran ayah!" Kini ucapan Nadine dibalas dengan tawa yang lebih keras.


"Eh sudah dulu ya sayang. Ini ada Rudy baru dateng, ayah ada obrolan sama dia"


"Yaudah. Jangan lupa pesan aku ya ayah! Selalu minum air putih, ayah sekarang jadi tambah montok kok semenjak ngurangin rokok"


"Iya sayang bye."


Graha meletakkan ponselnya diatas meja dan menyambut Rudy seperti biasa. Kali ini Graha membatasi teman-temannya yang mengunjunginya dirumah karena toh dirumah sudah mulai ramai juga.


"Pak. Saya gak berani laporin ini ke bapak tapi.."


"Kenapa?"


"Anu pak. Laporan keuangan yang saya akan berikan sedikit ngaco"


"Berikan pada saya"


Rudy memberikan sebuah kertas didalam map hitam. Saat Grah mengambilnya, Rudy kembali berbicara.


"Tapi mungkin laporan itu salah. Biar besok saya konfirmasi lagi pada bagian keuangan pak"


Benar saja, laporan itu membuat Graha melebarkan matanya manatap tak percaya. Ia menghembuskan nafas dan membuangnya kasar. Melempar sedikit kasar map tersebut diatas meja.


"Laporkan kepada saya secepatnya kebenaran laporan tersebut Rud" ucap Graha. Rudy sendiri langsung mengangguk.


***


Hallo!! Author back nih


Lama deh up nya hmmmmm


Maafkan ketidak konsistenan ini ya gais. Novelnya sudah mau ke klimaks kok dan kabaar buruknya novel ini mungkin akan tamat dengan cepat hihi.


Author juga bahagia banget sama novel yang satunya ternyata alhamdulillah banyak yang suka😍


Terimakasih para readers setia!! Jangan lupa like ya biar author lanjut teroos up nya🥰


Tbc-