Look at me, please

Look at me, please
#45



Nadine sakit, penulis jadi ikut dropπŸ™ˆ


Maaf baru update ya, diusahakan update sampe tiga episode deh😘


Happy reading


***


Nadine yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tengah ditemani oleh kedua sahabatnya. Mereka dengan senang hati mendengar segala kejadian yang sebenarnya yang dialami Nadine hingga menjadi seperti ini.


"Jadi gue itu ke mall sama mertua, terus apdet kan di socmed. Liat kan kalian?" Zahwa dan Luna mengangguk.


"Itu mall punya kakaknya kak Fajri, drummer gue. Dan dia juga ngajak ketemu katanya mau cerita sesuatu tentang.. mantannya suami gue" kalimat terakhir Nadine setengah berbisik dan diangguki oleh kedua sahabatnya.


"Dah gitu gue pamit ke mertua, eh pas gue jalan ke wakacao malah ada yang narik gue dan bekap gue. Sampe gue bangun-bangun di hotel, mana gue tau Bekasi itu hotel apaan kan. Gue bangun dan nyoba buka pintu, tapi kekunci. Dateng tuh cewek perawakan hampir sama kayak lo deh Lun" ucap Nadine sembari menuduhkan pada Luna yang mempunyai badan ramping. "Tapi agak isi dikit. Eh btw lo kok makin kurus?" Ucap Nadine malah mengalihkan.


"Masak sih?" Ucap Luna tak terima, ia mencoba merentangkan tangannya dan menunduk melihat tubuhnya.


"Ya gitu emang, mana ada bahagia jadi istri muda. Belum seminggu nikah udah ditinggal-tinggal" ucap Zahwa mengejek. Luna hanya mendengus dan menyuruh Nadine melanjutkan bercerita.


"Dia suruh gue diem dan banting badan gue ke kasur. Gue gak terima dong, setelah dia mau balik keluar gue dorong dan jatuhin dia. Gue pake tas gue dan dia goresin tu pisau di paha gue. " ucap Nadine sembari menuduhkan kakinya, kedua sahabatnya merintih linu. "Gue lawan tu cewek, gue tonjok gue dorong. Pas gue maju lagi dia malah nusuk gue dan gue mundur. Sakit banget" ucap Nadine diselangi tarikan nafas dan membuangnya. "Udah gitu gue tarik tu pisau dan gue lawan dia. Gue kesetanan, gatau deh setan apa yang masuk ke diri gue sampe gue bisa tancebin tu pisau ke dada dia. "


"Lain kali, lo gak boleh kemana-mana sendiri Nad. Gue dengernya aja ngeri tau" ucap Luna berekspresi seolah merasakan sakitnya.


"Iya tapi kan ayah gue dan Gaga bilang gue udah aman. Gue gak curiga sama siapa-siapa tapi gatau deh. Gue yakin suami dan ayah gue juga mertua gue gak mungkin biarin masalah ini gitu aja"


Luna dan Zahwa mengangguk paham.


"Kalian juga hati-hati ya. Karena kalian orang terdekat gue, bisa aja kalian juga diserang. Gue gak mau bawa kalian lagi ke masalah kayak gini" ucap Nadine. Dulu memang Nadine wanita pemberani, sampai-sampai musuh yang iri padanya dimasa SMA menyerang kedua sahabatnya.


"Gak mungkin Nad. Kita jauh sama lo sekarang" ucap Zahwa sembari meminum pocary sweat. Nadine juga meminum air putih diatas nakas.


"Yaudah.. kita langsung keramasin lo yuk. Kasian lo keliatan kisut " ucap Luna meledek. Nadine hanya menyerngitkan dahinya sedangkan Zahwa tertawa.


Saat mereka akan melakukan aktivitasnya, pintu diketuk tiga kali lalu Cheko, Baskara, Fajri dan Julian datang.


Nadine sangat senang begitu mereka datang karena ia merindukan teman teman band nya itu. Namun Luna sepertinya terkejut dengan kehadiran Cheko karena sebelumnya hubungan keduanya sangat dekat.


Luna dan Zahwa melakukan aktivitasnya. Nadine mencoba sembari bercerita kembali kepada teman-teman yang lain. Fajri juga tidak berhentinya meminta maaf pada Nadine. Dan Baskara, ia begitu terlihat sangat khawatir sampai-sampai meminta Nadine untuk mengabarinya bila butuh bantuan.


Disela percakapan mereka, Gaga meminta izin untuk keluar rumah sakit sebentar pada istrinya dan menitipkan istrinya pada semuanya.


***


Gaga keluar dari pintu penumpang mobil SUV nya. Ia mencoba mencari taxi yang berplat nomor sama seperti yang tertera di ponsel hitamnya. Setelah tiga menit mencari, ia langsung menemukan taxi berwarna biru itu.


Gaga mengetuk kaca pintu mencoba membangunkan sang supir yang sedang tidur. Supir tersebut langsung membuka kacanya dan menyapa Gaga.


"Siang pak, mau diantar kemana?" Ucap sang sopir ramah. Gaga mulai berfikir sepertinya tidak baik juga bila bicara di dekat hotel ini. Gaga langsung memasuki mobil di kursi penumpang dan sebelum itu Gaga memerintahkan Riko untuk mengikutinya dari belakang.


"Antar saya ke starbuck terdekat saja pak. " ucap Gaga.


"Sebenarnya saya ada perlu sama bapak. Saya akan membayar bapak tiga kali lipat" ucap Gaga. Sang sopirpun sedikit bingung dengan perkataan pelanggan yang satu ini. Ia hanya mengangguk dan menjalankan mobilnya.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


"Bapak, beberapa hari kemarin apa ada sesuatu di hotel itu?" Ucap Gaga.


"Maksudnya pak?"


"Ya.. seperti kejadian janggal mungkin yang bapak tahu"


"Kejadian perempuan menangis gara-gara memergoki suaminya selingkuh mungkin, seperti itu?" Ucap sang sopir yang masih tak paham alur pembicaraannya. Gaga hanya bergidik ngeri, ternyata tempat itu lumayan sedikit bebas juga.


"Mungkin seperti perkelahian?" Ucap Gaga. Sang sopir sedikit berfikir.


"Ada. Terakhir kali saya pernah mengantarkan wanita yang berlumuran darah " ucap sang sopir. "Apa bapak seorang intel? Atau seorang penyidik atau sejenisnya? Kalau begitu saya tidak mau ikut kedalam masalah ini pak, saya siap menjadi saksi tapi demi allah saya tidak ada sangkut pautnya dengan dalang dibalik semua itu. " ucap sang sopir. Gaga semakin penasaran, mengapa supir ini berkata seperti itu.


"Saya bukan semacam itu pak. Saya.. suami dari perempuan yang bapak bawa ke rs malam itu" ucap Gaga. Sang sopir terlihat menghela nafas dan membuangnya pelan.


"Sebenarnya saya kasihan sama neng itu pak. Setelah kejadian, saya ingin sekali membantu melapor polisi tetapi perempuan itu menolak saat saya tawari karena dia bilang dia juga membunuh seseorang. Setelah kembali kehotel saya memutuskan untuk meminum kopi, saya melihat seorang lelaki sedang menelfon seseorang di ponselnya." Ucap pak supir dijeda dengan helaan nafas. "Dan ia bilang bahwa.. 'perempuan itu kabur' dan mukanya terlihat kesal" sambung sang supir. Gaga sangat terkejut mendengar itu dan mengacak mukanya frustasi.


"Maaf pak, saya merasa bersalah tidak mengabari polisi saat itu. Karena menurut naluri saya, istri anda yang mendapat desakan atau tekanan yang saya tidak tahu kejadiannya seperti apa" sesal pak supir.


"Tidak apa-apa pak. Terimakasih telah memberi tahu. "


"Saya siap bila menjadi saksi kalau kalau kasus ini dibawa ke pengadilan" sambung supir lagi.


"Kalau begitu saya meminta nomor telepon bapak, boleh?" Ucap Gaga. Sang supir mengangguk dan memberikan digit nomor teleponnya. Gaga menekan tombol hijau. "Kalau kalau ada sesuatu yang mencurigakan, saya harap bapak bisa melapor kepada saya dan kalau bisa bapak rekam atau foto. Soal bayaran, saya akan memberikan jumlah yang setimpal" ucap Gaga. Sang supir hanya mengangguk.


"Saya tidak janji untuk membantu lebih dari ini pak. Saya hanya seorang supir taxi yang ingin menafkahi anak istri dirumah dengan uang halal. " ucap supir itu khawatir.


"Tak apa. Saya mengerti, anda orang baik. Tepikan saja mobilnya didepan dan salam kenal pak, saya Gaga Axelle" ucap Gaga. Sang supir menepikan mobil sesuai permintaan Gaga.


Ohh ternyata benar, neng tersebut mempunyai suami seorang direktur utama. Batin Heri.


"Saya Heri. Semoga kasus istri bapak terpecahkan" ucap Heri menyodorkan tangan yang langsung disambut Gaga. Gaga langsung keluar setelah memberikan lima lembar seratus ribu. Heri melotot bukan kepayang, memang bukan kali ini saja dirinya menerima uang dengan jumlah banyak dari orang kaya tetapi ini baru sekitar 4kilometer dari hotel dan ia mendapatkan uang yang banyak.


***


γ€€


γ€€


Tbc-