Look at me, please

Look at me, please
#35 - RUMAH



Happy reading🖤


* * * * * * * * * * * * *


Nadine terbangun dari tidurnya. Merasa ada yang menggoyangkan badannya dan ia menoleh ke arah suara. Ternyata suaminya yang sangat tampan sudah berada disampingnya. Nadine tersenyum lirih nan manis pada Gaga, Gaga mrnyadari hal itu hatinya sedikit berdenyut bahagia. Ntah apa yang dirasakannya, pemandangan didepannya membuat hatinya hangat.


"I iya aku bangun " ucap Nadine sembari meluruskan badannya.


"Ke masjoy yuk. Abis itu ke rumah kamu" ucap Gaga lembut sembari mengelus-elus punggung Nadine.


"Yuk. " ucap Nadine sembari menguap dan mengucek matanya.


Dengan drama lalu lintas kota Bandung, akhirnya Nadine dan Gaga sampai di restoran Johan. Mereka menghabiskan waktu satu jam diperjalanan, karena jalanan yang macet membuat mobil Gaga tak bisa membelah kota Bandung dengan sempurna.


"Hallo bro!! " ucap Jo. Ia bersalaman dengan pasutri itu.


"Sana gih pesen. Udah siang nih seger kayanya makan baso aci" ucap Gaga menyuruh Nadine ke kasir. Nadine mengiyakan dan melangkah ke kasir untuk memesan menu.


"Gimana bro? Ada perkembangan lo sama Nadine?" Ucap Jo sembari menonton Nadine yang sedang berbicara dengan pelayan.


"Hmm berkembang pesat" ucap Gaga tersenyum melihat Nadine. Nadine berteriak sedikit "kamu mau baso aci apa?" Ucap Nadine "samain aja" ucap Gaga.


"Wahhh" ucap Jo menatap sahabatnya "berhasil?" Sambung Jo.


"Ck! Berhasil bukan karena lo! Gaada prrubahan apa apa, gua malah berantem sama dia pas lo dirumah" ucap Gaga menatap Jo dingin.


"Hmm waktu gue ngobrol sama dia pas si nanad berenang, dia ngadu sama gue katanya lo tuh blablabla" Jo menceritakan obrolan mereka hari itu. Gaga berfikir keras tentang itu sembari membagi pandangannya pada sang istri.


"Saran gue, lo mending tegas deh sama si Elsa. Karena si Nadine nganggap dirinya sebagai pelampiasan doang coy. Dan lo harus lebih peka dan harus lebih sayang sama dia" ucap Jo. Walaupun Jo seorang lelaki yang jomblo, namun dia selalu menasihati sahabatnya ini. Lagipula memang begitu kan manusia? Menasihati teman lain tapi tidak bisa menerapkannya pada diri sendiri.


Gaga mengangguk paham. Ia berfikir keras saat itu. Nadine datang ke mejanya dan duduk disebelah suaminya.


"Aku pesenin es teh manis ya.. tadi kamu gajawab si" ucap Nadine.


"Iya sayang gapapa" ucap Gaga mengelus rambut Nadine dan tersenyum manis. Lagi lagi Gaga membuat Nadine berbunga-bunga. Di atas kepalanya sekarang ada bunga-bunga dan kupu-kupu yang keluar dari perutnya. Hatinya menghangat dan jantungnya tak karuan. Pipinya merona mendengar kata sayang dari mulut suaminya yang keriting itu.


Gaga tak memerhatikan perubahan Nadine yang sedang berbunga-bunga. Dia hanya ingin bersikap manis dan ingin Nadine merasakan disayang didepan umum. Jo yang melihat itu, turut bahagia dan sedikit iri pada sahabatnya.


Pesanan datang. Gaga dan Nadine menyantap baso aci yang sangat menggoda itu.



Dengan kuah rempah yang menggoda, baso aci yang empuk dan beberapa topingnya yang kriuk menyempurnakan rasa di lidah. Memang Jo adalah cerdikiawan, eh-. Nadine membuat story makanan itu dan mentag stagram masjoy.


Disela-sela makan siang pasutri itu, Gaga bersama Jo berdiskusi perihal bisnis dan segala masalah dunia. Jo juga curhat mengenai perempuan yang sedang ia suka. Gaga hanya terus menyarankan Jo untuk segera menikah. Jo bilang, ia sedang mencari perempuan yang mau dengannya. Padahal Jo sangat tampan, ia bisa melelehkan perasaan wanita namun ketidak pekaan dan sikapnya yang datar membuat perempuan yang didekatinya tiba-tiba kabur tak ada kabar atau sudah berpacaran dengan yang lain.


Nadine hanya menyimak percakapan kedua sohib itu sambil menyantap nikmat makanan pedas favorit nya.


"Lo mending minta papa sama mama lo aja Jo buat dicariin cewek" ucap Gaga final


"Halahh males.. kebanyakan tu ya cewek cewek yang dikenalin sama gue itu cewek manja, suka dandan jadi muka aslinya ketutupan dan lain lain deh.. duit gue abis dong buat belanjain make up" ucap Jo menolak mentah-mentah. Gaga hanya menggedikan bahunya seolah tak terlalu peduli pengabaian temannya itu.


"Apa gue main aplikasi cari jodoh aja yak? Secara gue kan bussiness man, pasti banyak yang mau kan???" Ucap Jo semangat. Nadine tersenyum dan Gaga tertawa.


"Ehh lo.. masih banyak cewek di dunia real kok. Coba kalo ada yang berkunjung kesini ajak kenalan sama lo.." ucap Gaga. Jo berfikir, menurutnya perkataan Gaga ada benarnya. Lalu tak lama dari percakapan random mereka, datang seorang perempuan ayu betawi dengan kaos hijau botol polos dan celana boyfriend, memakai tas weistbag dan sepatu vans juga rambut curly yang terurai menguarkan aura kecantikan dan keceriaan wanita itu.


Matanya menyapu restoran dan mendapati Nadine yang sedang melahap baso aci.


"Nadiiiiinneeee!!!" Ucap Zahwa menghampiri Nadine. Nadine langsung berdiri dan memeluk wanita itu.


"Aaaaa jah... kok bisa kesini siii" ucap Nadine.


"Kejutan dong.. gue liat story lo beib kebetulan gue abis ke kosan temen gue yang kuliah di itenas " ucap Zahwa


"Yaudah duduk bareng gue" ucap Nadine. Zahwa mengangguk dan mengikuti Nadine ke mejanya. Zahwa duduk di samping Jo.


Jo sedari tadi menatap Zahwa berbinar karena aura kecantikannya tak kalah dengan Nadine, membuat dirinya terpaku kepada perempuan indonesia itu.


"Nih kak Gaga dan kak Jo, temenku Zahwa" ucap Nadine. Zahwa dengan antusias berjabat tangan dengan keduanya.


"Hallo aku Johan" ucap Jo. Zahwa tersenyum manis "Zahwa.." ucapnya.


"Ehiya kita kan pernah ketemu pas di nikahan Nadine?" Ucap Zahwa


"Ohiya? Saya.. lupa hehe" ucap Jo. Memang benar jo lupa, karena dia sedang dekat dengan wanita saat itu namun seperti biasa wanita itu hilang ditelan awan gelap. Zahwa mengangguk paham.


"Ohiya jah, dia yang punya masjoy ini. " ucap Nadine memperkenalkan Jo lebih dalam.


Zahwa memesan makanan dan menunggu. Ketika makanan Zahwa datang dan menyantapnya baru dua suapan, Nadine dan Gaga berpamitan. Zahwa mengeluh mengapa temannya sangat buru-buru. Namun Gaga tetap kekeuh untuk pergi sekarang dan menyarankan agar Jo menemani Zahwa makan saat ini. Tentu saja Jo sangat mau dan Zahwa pun mengiyakannya dengan terpaksa karena walaupun ditinggal dengan lelaki tampan yang punya restoran, ia masih rindu pada sahabatnya itu.


🦋🦋🦋


Pasutri melanjutkan perjalanannya menuju rumah Nadine yang ada di Bandung. Diperjalanan, Nadine teringat ayahnya dan berniat untuk menelfon ayahnya terlebih dahulu sekalian membicarakan perihal rumahnya yang akan ia kontrakan kepada orang lain.


"Hallo ayah?" Ucap Nadine


"Iya sayang... maaf ayah belum sempat menghubungimu. Bagaimana kabarmu dan suami?" Ucap Graha dari sebrang sana.


"Gapapa ayah, aku sama gaga baik kok.. ayah juga baik kan?" Ucap Nadine.


"Iya sayang.. ayah selalu baik.. sebentar lagi tahun baru, maaf ayah gabisa disamping kamu yaa" ucap Graha lagi-lagi meminta maaf pada putri tunggalnya.


"Iya ayah udah ah jangan minta maaf mulu...!" Ucap Nadine mengerjai ayahnya. Ayahnya hanya tertawa kecil mendengar perkataan anaknya yang cantik itu.


"Sebenernya gini yah.. aku mau bilang sesuatu" ucap Nadine menuju inti karena telfon luar negeri lumayan mahal. "Ada apa sayang?" Tanya Graha.


"Rumah yang di Bandung aku kontrakin gapapa? Baru rencana sih yah.. tapi kalo ayah-" papar Nadine namun di potong oleh Graha.


"Bukan ayah gangebolehin kamu sayang.. tapi ayah kalo mau ke Indo nanti diem dimana? Kamu kan udh punya aset apartemen.. masih kurang?" Ucap Graha lembut. Nadine berfikir, menurutnya ayahnya ada benarnya.


"Iya juga sih.. yaudah Nadine ngerti ayah.. aku tutup yaa biaya telfon mahal hehe" ucap Nadine.


"Tapi kalau kamu mau kontrakin juga gapapa sayang.. itu gimana kamu" ucap Graha.


"Iya ayah aku bakal fikirin lagi.." ucap Nadine. Ia menoleh ke arah Gaga namun hanya tersenyum simpul pada suaminya itu dan membuatnya bingung.


Sampailah mereka di pekarangan halaman rumah Nadine. Terlihat Yulia bersama bocah lelaki sekitar 13 tahun di halaman, masing-masing sedang membaca buku.


"Ehh Yulia, ini siapa?" Ucap Nadine. "Kenapa kamu disini Yul?" Sambung Nadine kembali.


"Nad.. aku suruh Yulia sama Dinar disini. Untuk jagain rumah" ucap Gaga membenarkan. Nadine mengangguk dan tidak terlalu mempermasalahkannya.


"Ini siapa Yul?" Ucap Gaga.


"Hallo pak, bu.. ini anaknya bi ani, katanya pak Graha sudah mengizinkannya diam dirumah ini bersama kami" ucap Yulia.


"Ohiya? Bi ani mana?" Ucap Nadine langsung masuk kedalam rumahnya. Ia menemukan bi ani sedang memetik bunga dihalaman belakang.


"Bi aniiii" ucap Nadine berteriak. Wanita paruh baya itu mendongak dan memeluk Nadine yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Bibi dari mana aja? Kenapa baru kesini? Kenapa gak kabarin aku?" Ucap Nadine mengerucutkan bibirnya.


"Maaf non, bibi hp nya rusak.. dan bibi gak tau kalau non melakukan pernikahan cepat seudah tunangan. Maafin ya non" ucap Ani bermuka menyesal.


"Gapapa tapi bibi sehat kan? Tadinya aku mau susul bibi kesana.. " ucap Nadine


"Sehat non.. non sehat kan? Suami non mana?" Ucap ani. Gaga menghampiri majikan dan pembantu itu.


"Saya disini bi" merangkul nadine dan tersenyum.


"Oalah.. makin guanteng banget ini mah non" ucap ani. Nadine dan Gaga tersenyum-sentum.


🦋🦋🦋


Hari ini Nadine, Ani dan Yulia saling membantu di dapur. Mereka menyiapkan bahan makanan untuk melakukkan barbeqiue. Nadine yang mempunyai ide, karena ia baru bertemu lagi dengan pengasuhnya itu yang sudah setia mengurusnya selama 16 tahun.


Sedangkan Gaga, Dinar dan Zaki anak bi ani, mereka menyiapkan tikar, piring piring dan menyiapkan perapian untuk membakar daging.


Hari ini terasa indah bagi Nadine. Ia merasa kembali pulang ke rumahnya yang sebenarnya. Walaupun rumah ini tak lebih mewah dan lega dari rumah suaminya di jakarta, namun rumah ini membuat Nadine merasa lebih hangat dan nyaman. Ia sangat rindu pada ayahnya sekarang.


Fikiran tentang rumahnya akan dikontrakkan, jadi terurungkan karena ia melihat bi ani yang membutuhkan tempat tinggal. Nadine sangat menyayangi wanita paruh baya itu.


"Kak, malem ini nginep sini ya?" Pinta Nadine pada suaminya yang sedang membolak balikkan daging. Gaga membalasnya dengan rangkulan dan senyuman. Ia menganggukkan kepalanya setuju.


Lihatlah, yang dibutuhkan Nadine sekarang adalah hangatnya rumah dan keluarga yang menyayanginya. Memang benar, harta yang paling berharga adalah keluarga.


* * * * *


Baca komik ku yang satu yuk!!!


Judulnya "ISTRI KEDUA"


Jangan lupa like!!