Look at me, please

Look at me, please
#40 - DIMALL SORE ITU



Maafkeun saya ya semuanya kalo up nya telat mulu..


minggu depan aku bakal ke sumatra nih, ada anak lampung kah disini?


But dijalan aku akan nulis ya kalau batreku aman dan sinyal memadai, jangan marah yaaa i love you all😭🖤


***


Fahmi adalah dokter pribadi keluarga Nadine saat SMA. Nadine tinggal di Jakarta dengan ayahnya saat pindah ke Indonesia dari Dubai.


Fahmi mengecek detak jantung Gaga dan juga suhu badannya. Menanyakan apa yang di rasa oleh pasiennya dan keluhannya, juga tak lupa menanyakan aktivitas terakhirnya. Dan hasilnya adalah Gaga kecapean juga masuk angin. Nadine sempat khawatir takut takut suaminya itu sakit parah. Namun akhirnya dia menghela nafas lega dan tersenyum pada sang suami. Padahal sang suami tadinya takut kena omel istri tetapi istrinya terlihat bersahabat.


"Yasudah.. dokter, terimakasih.. mari keruang tamu" ucap Nadine.


"Ohiya.. tuan Gaga, sebaiknya anda bedrest tiga atau empat hari agar bisa fit kembali" ucap Fahmi final sembari memberikan resep obat pada Nadine.


"Iya dok, terimakasih.." ucap Gaga tersenyum. Fahmi membalas senyumannya dan berlalu dari kamar.


"Sebentar ya" pamit Nadine pada Gaga sambil menutup pintu kamar.


Fahmi duduk di sofa yang di mejanya sudah tersedia jus jeruk segar. Diikuti Nadine yang duduk di atas sofa yang berhadap berlawanan dengan Fahmi.


"Dokter apa kabar? Masih bekerja di rumah sakit Cipta Husada?" Ucap Nadine sopan.


"Saya baik dan saya masih bekerja disana. Ohiya bagaimana kabar ayahmu? Dan pendidikanmu di Bandung, apa menyenangkan?" Ucap Fahmi.


"Ayah sedang di Dubai. Entah lah aku tidak mengerti urusan tuan Winara itu" ucap Nadine sedikit malas namun sedikit bercanda sehingga Fahmi tertawa kecil. "Ohiya dan kuliahku, aku sudah lulus dok. " lanjutnya.


"Dan mengapa kamu disini?" Tanya Fahmi lagi.


"Saya.. ikut sama suami disini" ucap Nadine. Fahmi tertegun dan baru menyimpulkan bahwa Nadine sudah menikah bersama anak pertama dari Bobi Axelle. Fahmi cukup kenal dengan keluarga Axelle dan ia tahu Gaga.


"jadi benar kamu sudah menikah?" Ucap dokter berdarah Jerman itu. Nadine mengangguk cepat sembari meneguk es jeruk miliknya.


"Dokter tidak datang yaa? Padahal saya undang lewat e-mail" ujar Nadine


"Ahh maaf.. saya akhir-akhir ini tidak membuka e-mail pribadi dek, karena isinya tagihan kartu kredit semua." Ucap Fahmi dan mereka berdua tertawa bersama.


"Iya gak papa kok " ucap Nadine ramah dan tersenyum manis. Percakapan mereka cukup menarik hingga setengah jampun berlalu. Fahmi yang berumur 33 tahun itu terlihat masih segar dan gagah, malah terlihat lebih dewasa dimata Nadine dari pada saat mereka terakhir bertemu sekitar lima tahun yang lalu.


"Kamu itu lucu dek, sampe sekarang juga masih lucu.. saya ga sadar malah kamu sudah sebesar ini" ucap Fahmi menggoda anak mantan partnernya itu.


"Hahaha saya malah liat dokter kaya om om dulu.. tiba tiba jemput saya.. Temen-temen ngirain saya simpanan om om hahaha" ucap Nadine dengan tawa yang lebar. Gaga mendengar suara Nadine yang nyaring dari luar kamar. Ia bangkit dan mencoba melihat ke bawah dan menemukan istrinya sedang bercanda ria dengan dokter itu. Gaga geram dan menatap tajam lalu berjalan masuk lagi menuju kamar. Ia mencoba memanggil Nadine dengan suaranya yang lantang.


"Dok.. kayanya Gaga panggil aku, sebentar ya" ucap Nadine beranjak dari duduknya.


"Ehh yasudah Nad, saya pamit kalau gitu.. jangan lupa nanti diminum obatnya yaa" ucap Fahmi sopan. Lalu ia berpamitan pada sang nyonya rumah itu.


Nadine berjalan menaiki tangga. Sembari meneriaki Surti yang sedang di dapur. Ia berpesan jika ada orang yang mengantar obat, beri tau dia.


Nadine masuk kekamar dan mendapati Gaga yang terbaring diranjang memunggunginya. Nadine duduk dan mengusap lengan Gaga.


"Ada yang sakit?" Ucap Nadine lembut. Gaga tidak menjawab.


"Hey.." ucap Nadine masih ramah


"Nama saya bukan hey" ucap Gaga dingin. Nadine tertegun lalu mengulum senyum. Suaminya ini memang sangat menggemaskan.


"Ada apa? Mau aku ambilin apa? Haus? " ucap Nadine lagi. Gaga pun berbalik dan menatap Nadine tajam.


"Kamu cewek genit ya?" Ucap Gaga polos tanpa basa basi. Nadine seketika melebarkan matanya.


"Genit apanya? " tanya Nadine bingung.


"Sama dokter itu" ucap Gaga masih dingin. Nadine memutar bola matanya jengah.


"Yaampun.. aku udah kenal dia lama dari semenjak aku ke Indonesia ! Kenapa? Cemburu ya? Aku ga ngapa-ngapain juga" jelas Nadine yang sedikit menekan namun masih didalam suara yang pelan.


Perkataan Nadine membuat Gaga sedikit tersadar bahwa sikap Gaga ini memang sedang cemburu dan ia teringat pertemuannya tadi dengan mantannya. Mereka berdua berpelukan seolah Gaga sedang melepas rindu. Gaga merasa bersalah sekarang.


"Nad. Kalau aku ngobrol kayak gitu sama cewek gimana? Apa yang kamu lakuin?"


"Ya gak papa lah. Kan cuma ngobrol doang, asal aku dikasih tau aja ceweknya siapa. Ya kalau kamu sampe pelukan segala macem, baru! Gue gebok tu cewek sama kamu kamunya!" Ucap Nadine sedikit bercanda. Gaga hanya tersenyum nanar kepada Nadine dan memegang pipinya. Ia semakin merasa bersalah.


"Tapi aku percaya sama kamu kok. Aku juga percaya sama Allah, Allah gak mungkin salah pilihin jodoh buat aku" kini perkataan Nadine membuat hati Gaga tersentuh dan sedikit berdenyut sakit. Ia merasa telah melukai istrinya sendiri.


Tok tok


"Nyonya.. maaf ini obatnya sudah datang" ucap Surti dibalik pintu. Nadine menghampiri Surti dan menyambar keresek obatnya, tak lupa ia juga berterimakasih pada asisten rumah tangga itu


Nadine kembali ke kasur. Membuka satu persatu obat yang harus diminum Gaga detik ini.


"Nih minum obat dulu.." ucap Nadine. Gaga menurut dan mendudukan badannya. Ia mengambil segelintir obat yang ada di tangan istrinya, lalu memasukannya kedalam mulutnya dan meneguk air putih yang sudah disodorkan oleh Nadine hinggaa tandas. Memberikan gelas kosong nya kembali kepada istrinya yang sedang memerhatikannya. Lalu Gaga kembali berbaring dan mencoba memejamkan matanya.


"Aku telfon Keisha yaa.. " ucap Nadine seraya mengambil ponselnya diatas nakas.


"Untuk apa? " ucap Gaga membuka lagi matanya.


"Aku mau bilang kalau kamu gabisa masuk kantor beberapa hari kedepan" ucap Nadine


"Gausah.. besok saya bakal kekantor dan dua hari lagi saya harus ke China " ucap Gaga memejamkan matanya kembali.


"Mau apa? Kok jauh banget" tanya Nadine


"Mau kerja lah, mau apa lagi?" Ucap Gaga yang masih setia memejamkan matanya. Nadine hanya mendengus sebal, andai saja suaminya sedang tidak sakit akan ia omeli habis-habisan.


Nadine berdiri dan beranjak pergi kedalam kamar mandi. Mengambil wudhu dan sholat magrib di sudut kamarnya. Gaga memperhatikan istrinya itu, ia semakin mengagumi wanita ini. Tapi ntah mengapa hatinya sebal karena Nadine mengobrol dengan dokter itu hingga terbahak-bahak.


🌻🌻🌻


"Kamu yakin udah sehat?" Ucap Nadine yang berjalan sejajar dengan Gaga yang menarik koper kecil berisikan beberapa salin.


"Aku udah sehat.. liat sendiri deh " ucap Gaga. "Ohiya.. kamu sementara tinggal di rumahku yang di Bekasi ya" sambung Gaga memberitahu. "Aku sudah menyuruh Erik untuk menjemputmu. " sambungnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Nadine.


"Agar aku tidak khawatir dan menjagamu agar tetap aman. Setidaknya kamu dekat dengan papah" ucap Gaga. Nadine hanya mengangguk patuh pada suaminya yang sedang dilanda sifat dingin itu. Mungkin bila ia membuka kacamata hitamnya sekarang, bandara ini akan membeku.


"Makanan dijaga ya.. minum antibiotiknya " ucap Nadine yang sekarang berhadapan dengan suaminya yang akan berpisah di tempat mereka berdiri. Tanpa basa basi Gaga mendekat dan mencium dahi Nadine mesra.


"Bawel. " ucap Gaga sembari mengusap rambut Nadine dan tersenyum hangat padanya. Oh Nadine merasa akan rindu pada suaminya ini.


"Pak Riko.. tolong dijaga suami saya ya" ucap Nadine pada sekertaris suaminya. Riko hanya mengangguk patuh dan tersenyum.


🌻🌻🌻


Nadine telah sampai dikediaman owner pengusaha raja ekspedisi ini. Rumahnya sangat indah dan asri, halamannya yang luas dan tanamannya yang segar membuat Nadine mendapatkan good vibes sore ini. Ia jadi teringat sahabatnya Luna, apa dia baik baik saja?


Nadine masuk kedalam dan disambut ramah oleh pekerja di rumah itu.


"Tuan dan nyonya sedang berada di ruang tamu " ucap Ira pada majikannya yang baru. Nadine mengangguk, memberikan koper yang lebih kecil dari yang Gaga bawa kepada Ira dan ia langsung jalan mendekati ruang tamu.


"Assalamualaikum.. " ucap Nadine sambil menghampiri kedua mertuanya.


"Waalalikum salam.. Nadine sudah sampai?" Ucap Riana sembari menyambut menantunya itu dengan senyuman ramah dan pelukan hangat.


"Sudah mah.. mamah apa kabar? Papah?" Ucap Nadine menatap mertuanya masing-masing.


"Kami baik sayang.. " ucap Riana duduk bersama Nadine. Mereka berbincang setelah itu membahas segalanya karena Nadine baru mengunjungi mertuanya itu ketika ia sudah menikah.


Hari sudah larut dan percakapan merekapun sudah mulai hening. Riana merasa mengantuk begitu juga dengan Bobi.


"Ohiya Nad.. besok mama mau berkunjung ke butik mama yang ada di mal Pesona Park, kamu ikut mama ya" ucap Riana. Nadine mengiyakan itu. Setelah itu Nadine masuk kedalam kamar yang sudah ia pilih untuk tidur.


Nadine memilih untuk tidur di kamar suaminya dulu. Ia sangat suka ruangan ini karena nuansanya yang biru, ia juga menikmati aroma kamar ini. Khas aroma suaminya, dan itu membuat Nadine nyaman.



Ponsel Nadine bergetar menandakan ada pesan masuk. Ternyata dari Riko, sekertaris Gaga yang sedang bersama suaminya disana.


[kami sudah sampai.. bapak Gaga berpesan bahwa sebaiknya kau menjaga pola makan dan tidur. Terimakasih - Riko ]


Nadine tersenyum membaca pesan itu dan bernafas lega. Ia tak membalas prsan tersebut, memilih langsung menuju toilet untuk membersihkan mukanya dari make up dan memoleskan skincare rutinnya.


Nadine mengitari pandangan saat ia sedang mengenakan piamanya. Lagi-lagi ia menemukan kotak misterius di kamar Gaga. Ia membukanya dan melihat isinya. Ternyata ada buku dan dua album berwana hitam dan putih. Nadine tak mau malam ini menjadi malam yang suram karena tersulut cemburu, ia memilih untuk menutup kotak itu dan menyimpannya kembali. Nadine membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuk milik suaminya itu. Sungguh wangi dan bersih, sangat nyaman.


🌻🌻🌻


"Mama sudah capek kalau harus bahas pekerja yang gitu sayang" ucap Riana mengaduh pada menantunya yang sedang berada dihadapannya sedang menyantap steak ayam.


"Sabar mah.. nadine juga suka pusing kalau ada pekerja yang ngeyel, dibiarin nanti usaha kita rusak eh kalo dipecat ga tega" ucap Nadine menenangkan mertuanya yang sedang sebal pada salah satu pegawai di butiknya. Riana mendengus setelah itu tersenyum pada menantunya.


"Ohiya mama mau langsung pulang?" Tanya Nadine.


"Iya sayang.. mama pening, kenapa?"


"Nadine mau mengunjungi teman Nadine disini ke tokonya, kebetulan orangnya lagi ada disini mam. Boleh?" Ucap Nadine


"Boleh aja tapi mama gak diizinin ninggalin kamu" ucap Riana khawatir.


"Ayo dong maa please. Nadine gak aneh-aneh kok bakal langsung pulang nanti" ucap Nadine. Riana menghela nafas dan membuangnya kasar.


"Oke tapi, sebelum magrib kamu udah dirumah ya " ucap Riana. Nadine membalasnya dengan anggukkan senang dan senyum yang manis.


Riana sudah berjalan menuju parkiran bersama Ira, assisten yang ia bawa dari rumah untuk membawa barang belanjaan. Sedangkan Nadine berjalan menuju lift yang ada disudut mall. Ia mencoba menelfon Fajri, teman band sekaligus adik dari pemilik mall ini. Namun saat teleponnya belum terhubung, Nadine sudah di tarik oleh seseorang berbadan besar dan membekam mulutnya dengan sapu tangan yang basah dan membuat Nadine tak sadarkan diri.


***


Sabar ya good people, aku tau kalian kesel nunggu cerita ku😭


Makasih untuk komentar baik dan memotivasi, mentalku sebagai penulis amatir sedikit tersentil namun aku menjadi tahu diri dan makin sayang sama kalian😘❤️


Pokoknya jangan lupa like yaa...


Maaf kalau upnya tidak sesuai janji karena meningat episode sebelumnya udah 30+, cerita harus direview terlebih dahulu oleh pihak manga. Maka dari itu bersabar ya bosque😘


Bandung, 05 jan 2020. 22.32


Tbc-