
Happy reading 🌸
* * * * * * * * *
Kekesalan masih ada di hati Nadine. Seharian ini dirinya yang berniat untuk menjadi wanita yang fokus, hanya sia-sia. Tubuhnya yang tak mau berhenti bergetar dan dadanya yang sakit, hanya membuat dirinya tak berkonsentrasi.
Bersandar di sofa adalah sedikit awal yang baik untuk menenangkan dan meregangkan tubuh. Nadine mengecek ponselnya mendapati chat dari "kitakitaaja" dan Luna temannya di Bandung yang masih terbelit akan skripshit 'koar' dengan mengejutkan Nadine maupun Zahwa*.*
Dibukanya chat Luna duluan., isinya membuat Nadine membulatkan matanya tak percaya.
"Maaf undangnya lewat ponsel karena gue gamungkin kirim ini ke lo langsung dan males juga kalo harus pake pengiriman. Datangya kalian jadi bridesmith gue... ajak suami lo ya Nad. "
Isi pesan yang terlampir juga sebuah foto undangan Luna bersama Anggara, membuat Nadine sedetik melupakan masalahnya.
Nadine: Eh lo serius kan Lun?
Luna: Masa boongan? Udalah Nad dateng aja ..
Zahwa: Jadi istri kedua?
Luna: iya. Datang ya kalo enggak gue kagak mau kenal lo lo lagi.
Nadine hanya mengerutkan dahi, ancaman yang baru saja temannya lontarkan itu menurut Nadine sama sekali tidak lucu. Yang membuat Nadine heran, mengapa Luna yang malang ini masih bisa membuat lelucon?
Mela: Waaa gila! Oke sekarang lo emang gila Lun!
Luna: ketularan lo!
Nadine: Gue masih bingung.. apa kita kena kutukan gitu Lun?
Luna: maksud lo?
Nadine: Nope.
Temannya yang ia kagumi akan keberaniannya dan kesuciannya selalu menjaga diri, malah jadi istri dari suami orang. Dari fisik saja Luna sangat baik untuk mendapatkan lelaki yang masih single, juga jiwanya yang supel mana mungkin hubungan dengan teman temannya hanya sebatas sapaan apa kabar saat bertemu.
Namun apa bedanya dengan Nadine? Yang merasa sudah kotor karena tak menjaga kehormatannya, masih mengharapkan kekasih yang sempurna? Memang Gaga adalah lelaki tampan dan sempurna bahkan tak kereporan untuk mencari uang. Tapi Nadine tak tahu apakah bisa- umm tidak! Apakah pantas Nadine mendapatkan hati seorang lelaki yang begitu sempurna itu? Walaupun memang Nadine tak peduli dengan masa lalu Gaga, tapi Nadine tetap berkaca pada diri sendiri.
Teringat lagi akan postingan Elsa. Nadine mengecek kembali stagramnya dan banyak pesan masuk yang memberi support padanya perihal 'tak dicintai' atau 'perempuan pelarian' saja. Chat masuk dari grup.
Zahwa: Nad.. Liat postingan berita_slbgram gih, lo sama Elsa lagi tranding topic tuh.
Nadine hanya membacanya dan tak berniat untuk mengecek postingan gosip itu. Bukan tak peduli, hanya ia takut akan semakin sakit.
Suara handle pintu dibuka, Nadine memang belum menguncinya. Dengan otomatis Nadine menoleh ke arah pintu melihat Gaga yang masih mengenakan celana bahan dan kemeja hitam, jas ia tenggerkan di lengan kirinya.
"Assalamualaikum.." ucap Gaga. Semenjak Nadine mengingatkan untuk mengucap salam setiap pulang, Gaga menurut hingga hari ini. Ntah kenapa hati Nadine menghangat setelah mendengar ucapan itu dari mulut Gaga.
"Waalaikum salam. " ucap Nadine sambil berdiri dan mengecup punggung tangan kanan Gaga.
"Mau mandi atau mau-" ucap Nadine lamun dipotong Gaga.
"Kamu capek ya?" Ucap Gaga sembari memegang bahu Nadine
"Enggak kok. " ucap Nadine yang menampilkan senyum palsunya. Namun Nadine memang tetap terlihat lemah lesu.
"Udah istirahat dulu, yuk " ucap Gaga menggandeng Nadine ke sofa yang baru saja Nadine tinggalkan.
"Kamu pasti lebih capek kak. Aku bawain minum dulu ya.." ucap Nadine dan melepas rangkulan tangan Gaga. Gaga ingin menahan namun Nadine tak bisa ditahan.
Nadine meletakkan es jeruk di atas meja. Menyuguhkan suaminya itu minuman segar karena Gaga terlihat sedikit lesu.
"Gimana kerjaan kamu?" Ucap Gaga disambung meneguk es jeruk buatan istrinya. Nadine hanya mengangguk dan menampilkan senyum terpaksanya. Nadine merasa tak mood untuk bertanya sesuatu pada suaminya itu. Lagipula Nadine tahu mau bagaimanapun sikap Nadine padanya, tak akan berpengaruh apa-apa. Toh, dengan postingan itu Gaga sama sekali tidak bertindak apa-apa. Ia membiarkan postingan itu tetap ada dan seperti tidak keberatan.
"Iya nad gapapa. " ucap Gaga sambil tersenyum pada istrinya.
"Aku kekamar duluan ya kak. " ucap Nadine dan berdiri meninggalkan Gaga.
Gaga belum ngeuh dengan perubahan Nadine, ia lebih memainkan ponselnya. Melihat banyak missed call dan pesan dari mantan kekasihnya, ia langsung memblokir semua akses lagi. Entah kenapa Gaga menjadi tak suka dengan sikap ambisinya, ilfeel bisa mewakili perasaannya pada Elsa.
Gaga merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Setelah menikah dan perubahan Nadine yang melakukan sikap seperti istri sempurna, Gaga menjadi ketergantungan mandi sehabis pulang kerja. Biasanya Gaga mandi saat akan pergi keluar ntah itu bekerja atau main, pulang pun bila tak terlalu kotor ia takan mandi.
Gaga masuk kekamar utama. Mendengar lagu yang membuat Nadine sedikit bernyanyi, Gaga hanya tersenyum. Ia melihat Nadine yang sedang duduk di meja rias mengelus permukaan mukanya dengan kapas yang sudah ia tuangkan cairan penghapus make up.
Gaga membuka kancing kemejanya dan membuka celana bahannya menyisakan boxer agak longgarnya. Menyambar handuk yang tergantung di pinggir pintu kamar mandi. Ia masuk kekamar mandi.
Setelah Nadine membuka segala riasannya, ia langsung bergegas mandi dan masuk ke kamar mandi yang sudah ada Gaga didalamnya.
Gaga tak curiga bila bath tube sudah penuh disana, karena sudah biasa dirinya langsung mandi karena sudah disiapkan oleh istrinya. Sedikit lemas dan malas, Gaga dengan susah payah menggapai punggungnya untuk diusap spons namun tak sukses tersapu.
Mata Nadine membulat melihat Gaga yang nampak setengah badannya sudah terendam dengan air hangat.
"Kak Gaga? Kapan masuk?" Ucap Nadine yang masih terpaku.
"Gakeliatan ya?" Ucap Gaga menatap istrinya hangat
"O.. iya maaf .. kalau g gitu aku-" ucap nadine sembari berbalik mencoba menggapai handle pintu namun dipotong dan ditahan oleh Gaga.
"Bantu saya bersihin punggung. Saya lemes" ucap Gaga berbalik membelakangi. Nadine hanya terpaku dan dilema. Ia sangat malu.
"Nad ..." ucap Gaga menyadarkan Nadine dari terpakunya.
"I iya kak" ucap Nadine menghampiri suaminya dengan langkah ragu. Ia mulai merengkuh jongkok dan menggosokkan spons di punggung suaminya yang lebar. Matanya berbinar seolah ia jatuh cinta pada setiap apapun yang ada di diri suaminya itu. Dengan lembut ia mengusap punggung itu dengan cinta kasih dan sayang.
"Besok saya ke Bandung, mau ikut?" Ucap Gaga sedikit menoleh ke belakang.
"Ngapain? " ucap Nadine yang masih fokus pada kegiatannya.
"Kerjaan. Ikut aja ya " ucap Gaga "sembari nengok rumah kamu. Saran aku sih kamu kontrakin aja.. lumayan kan jadi aset" sambung Gaga.
"Boleh juga.. disana berapa hari emang?" Ucap Nadine mencondongkan kepalanya ke sebelah kiri untuk sedikit berdekatan dengan wajah suaminya.
"Dua.. nanti saya bantu buat nemuin orang yang lagi cari rumah kontrakan di Bandung" ucap Gaga. Nadine hanya diam dan mengangguk melanjutkan kegiatannya.
Gaga yang merasa sedikit bergidik dengan nafas Nadine yang menyentuh punggungnya yang basah, ia sedikit terbawa bukan! Ia tak tahan akan sentuhan itu. Membuat hasratnya sebagai lelaki naik.
Gaga menggapai tangan Nadine langsung berbalik berhadapan dengan Nadine. Nadine hanya terpaku disana menatap Gaga dengan dadanya yang naik turun dan jantungnya yang berdegup kencang. Matanya membulat dan sedikit terkejut.
Gaga menarik Nadine untuk ia cium bibirnya yang masih sedikit ada jejak lipstik. Pipi Nadine yang mulai merona ia usap dengan tangan yang basah.
Nadine hanya memejamkan mata menerima kehangatan suaminya yang ia beri, merasa dirinya semakin jatuh kedalam cinta yang begitu dalam.
Satu persatu baju yang Nadine pakai kini sudah berserakan di lanta oleh tangan Gaga yang lihai. Sekali lagi Nadine larut dalam sentuhan Gaga yang lembut. Kini Nadine sudah berada di pangkuan Gaga. Nadine malah membayangkan perasaan Gaga sekarang, tak ada tindakan apa apa perihal postingan mantannya. Nadine yang tahu diri, menarik kebelakang wajahnya dan menatap sebentar wajah Gaga yang begitu tampan.
"Kenapa?" Ucap Gaga dengan menepelkan dahinya. Nadine hanya diam tak bisa berkutik apa apa. Gaga tak perdulikan sikap Nadine itu, ia terus memangut bibir ranum Nadine.
Bagaimanapun juga, Nadine seperti dilema. Bila menolak ia akan dosa tapi bila terus begini, ia akan semakin larut dalam perasaan yang ntah akan ia bawa kemana. Oh sudah lah Nadine hanya ingin menjadi istri yang sempurna. Bahkan perasaannya sendiri ia hiraukan demi menjalankan kodratnya.
* * * * * * *
Hey hoop siapa nic yang nunggu Nadine sama Gaga?
Mau promo dikit nih, baca juga novelku yang berjudul "Istri Kedua" okeh thx u❤️❤️❤️