Look at me, please

Look at me, please
#42 - MIMPI



Hallo..


Buat readersku yang baik hati, sabar untuk perihal up yaa karena cerita harus di review sama pihak manganya..


Ini episode ketiga yang mengendap 😭


Just enjoy the story🔥


***


Now playing // Evanescence - Bring me to life


***


Supir taxi yang mempunyai tag nama Heri itu membantu Nadine berjalan masuk ke UGD. Nadine masih sadar namun meringis kesakitan sembari memegangi perut kirinya dan jalan pincang karena paha kanannya yang terbesit.


"Apa perlu saya panggil polisi?" Ucap Heri membantu Nadine berjalan.


"Saya bingung.. karena sepertinya saya juga membunuh seseorang pak" ucap Nadine mencoba menstabilkan nada dan emosi bicaranya. Heri sedikit terkejut mendengarnya.


"Oh ya.. bapak bisa bantu saya menghubungi perusahaan Axelle Corp. saja. Beritahu kepada direktur utama bahwa istrinya sedang berada di rumah sakit ini. Saya bukan berasal dari Bekasi, maka dari itu saya mohon bantu saya " ucap Nadine dengan sedikit mengaduh. Heri mengangguk setuju, para suster membantu membawa Nadine dan menaikannya keatas ranjang yang bisa didorong. Nadine berteriak kesakitan dan suster dengan sigap mendorongnya masuk.


"Tunggu sus" ucap Nadine. Ranjang itu berhenti sebentar saat Nadine berbicara dan merogoh weistbagnya mengeluarkan dompet kecilnya. Mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dan menuduhkannya ke supir taxi yang sudah membantunya dan mengekori dirinya sekarang.


"Terimakasih pak. Tolong hubungi secepatnya ya, nomor perusahaannya banyak bertebaran di internet" ucap Nadine dengan susah karena menahan sakit perutnya. Heri mengambil uang itu, tak berniat melihat uang yang diberikan Nadine karena akan memakan waktu. Sampai Nadine masuk keruangan khusus dan Heri tak boleh masuk. Heri mencari nomor perusahaan yang Nadine tuduhkan, dan dia dapat.


Karena sudah tengah malam, Heri berkali-kali menelfon beberapa perusahaan yang dinaungi oleh keluarga Axelle. Saat Heri menelfon perusahaan Axelle yang bergerak di transportasi laut, barulah ada yang mengangkat.


"Hallo dengan Axelle Corp" ucap lelaki dengan bahasa formal.


"Ya. Bisa menitip pesan kepada direktur utama?" Ucap Heri.


"Maksud anda? " ucap lelaki diseberang sana dengan keliru.


"Istrinya sedang berada di UGD sekarang. Saya supir taxi yang membantu membawanya kesini dari hotel Bima Shakti. Keadaannya tragis, saya harap anda dengan sigap mengabarinya detik ini juga" ucap Heri dengan satu tarikan nafas.


Riko menerima telefon dari salah satu pegawai. Ia mengangkat telefon tersebut dan menganga tidak percaya.


"Tuan.. " ucap Riko menoleh kearah Gaga yang sedang duduk disebelahnya. Mereka sedang berada didalam mobil yang melaju ke arah bandara. Gaga yang sedang memangku dagunya dengan tangan kiri yang ia tumpukan ke jendela, menaikan halisnya.


"Saya tahu dimana istri anda " ucap Riko. Gaga langsung menegakkan badannya.


"Dimana?" Ucap Gaga masih dengan nada dingin.


"Sekarang sedang berada di rumah sakit. Tadi ada supir taxi menelfon ke nomor perusahaan kapal dan memberitahu bahwa istri direktur utama masuk ke UGD. Dan.." ucap Riko tak kuasa melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Dan?" Tanya Gaga menyerngit. Riko meneguk salivanya.


"Kondisinya tragis. Ia bersimbah darah dan sepertinya ada yang menerkam bagian perutnya dengan pisau" ucap Riko. Gaga mengusap mukanya frustasi. Ia panik sekarang dan menyuruh supir yang membawanya untuk cepat membawa mobilnya.


Gaga langsung menelfon ayahnya dan ayah mertuanya. Mereka yang diberi tahu juga ikut panik apalagi sang mertua. Namun sang mertua tidak menyalahkan segalanya pada Gaga karena dirinya yakin Gaga tidak salah sepenuhnya. Graha melanjutkan pencarian siapa dalang dibalik semua ini, sampai sampai anak tunggalnya terluka.


***


Nadine masih mengaduh, bibirnya sudah pucat dan darah sudah keluar banyak dari perut dan pahanya. Para suster menenangkan dan memasukan jarum kemana-mana ntah untuk apa. Nadine mengucap 'Ayah.. Ibu.. i need you' sepertinya Nadine bergumam seperti itu sebelum ia menutup matanya tuntas.


Hingga akhirnya Riana, Gania dan Bobi sampai di rumah sakit. Mereka mencari Nadine yang sedang mendapat tindakan medis. Dokter disana meminta persetujuan pihak keluarga untuk segera melakukan operasi karena luka perut itu cukup dalam hingga hampir mengenai organ tubuh perut bagian kiri.


Bobi semakin panik dan langsung menelfon Gaga namun sepertinya nomornya tidak aktif karena terakhir ia sedang take off di China. Tanpa berfikir lagi, Bobi menyetujui segalanya karena ia tahu pasti bahwa dokter akan melakukan yang terbaik.


***


Dipesawat, Gaga sangat amat gelisah. Mengingat istrinya sedang bersimbah darah, takut sesuatu akan terjadi kepadanya. Memang sudah terjadi sesuatu tetapi kali ini Nadine pasti harus di operasi fikirnya. Semoga saja keluarga yang mewakilinya disana bertindak tepat.


Lima jam kurang Gaga mengudara, waktunya landing. Ia dengan buru-buru turun dari pesawat dan mengingat dirinya turun di Jakarta.


"Kenapa tidak langsung ke Bekasi saja Riko?!" Ucap Gaga berbalik sesudah membaca tulisan Jakarta di bandara. Riko tak banyak bicara, dirinya hanya menundukkan diri padahal Gaga yang memesan sendiri tiketnya.


Di Indonesia sekarang sudah hampir pagi. Matahari baru saja terbit dan Gaga harus berangkat ke Bekasi.


"Riko cepat.. " ucap Gaga. "Aku tidak akan berkendara, kau saja " sambung Gaga. Riko menurutinya.


Operasi Nadine berjalan lancar, untungnyaa golongan darah Nadine B dan di gudang darah golongan B memang kebetulan sedang banyak. Namun walaupun sudah selesai, Nadine belum sadar juga.


Graha terus berbagi informasi dengan besannya. Graha juga menghelaa nafas lega karenaa operasinya berhasil. Akhirnya ia menangis karena dari tadi ia berfikir bahwa menangis tidak ada hasilnya. Ponsel Graha berdering menandakan ada telepon masuk.


Rudy is calling


"Hallo Rud, bagaimana?" Tanya Graha


"Maaf tuan apa anda pernah mempunyai hubungan bisnis dengan pemilik hotel Bima Shakti?" Ucap Rudy


"Mr. Darius " ucapnya lagi. Hening sebentar karena Graha sedang mengingat ngingat nama itu.


"Tidak. Aku tidak pernah mengenal atau mendengarnya" ucap Graha. "Ah coba kau selidiki keluarganya" sambungnya.


"Baik tuan. Ohiya dan keadaan nona Nadine sekarang sudah berhasil operasi tetapi Nadine belum sadar. " ucap Rudy.


"Ya aku sudah tau, terimakasih Rudy" ucap Graha.


***


Nadine pov


Aku berada diruangan putih, semua putih sampai mataku menyipit silau. Banyak cahaya yang menyinari diriku. Namun keadaanku sekarang sedang berjalan dan aku memegang kelingking seseorang. Entah akan dibawa kemana dan ntah aku sedang mengikuti siapa sekarang. Ada suara perempuan samar samar memanggil namaku dengan lirih. Aku menghentikan langkahku dan mencari sumber suara itu. Hingga sampai suatu titik aku mendapati seseorang.


"Ibu. " ucapku. Ya, aku melihat ibuku Faranisa yang menatapku dengan tatapan khawatir.


"Sayang, kamu kenapa?" Ucap wanita yang ku sebut ibu. Aku hanya menangis saat kedua pipiku ditangkup oleh sepasang tangan hangat. Sungguh nyaman.


"Belum waktunya kamu disini. Ayo ibu bawa kamu kembali " ucapnya.


"Sakit. " ucapku sebari memperlihatkan luka perutku yang menganga. Faranisa tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ibu tahu sayang, bersabarlah. Orang-orang disana mengkhawatirkanmu. Mereka semua sayang padamu. " ucap Faranisa. "Kau wanita kuat, anakku wanita yang sangat kuat"


Suara itu semakin tak terdengar dan jantungku tiba-tiba sakit. Aku melepas kelingking yang tadi aku genggam dan memegangi dadaku yang sangat sakit.


Aku teringat ayah dan suamiku. Suamiku, dimana dia? Apa dia tahu aku sekarang sedang kesakitan?


"Tolong.. aku ingin pulang " ucapku dengan suara serak ketakutan. Hingga pada akhirnya ada tangan hangat dan besar. Ia menarik tanganku dan menuntunku dengan damai. Tangannya tak kalah hangat dengan tangan bayangan ibu tadi. Ini seperti benar benar rumah dan benar benar tangan seseorang yang membuatku nyaman dan dadaku tidak merasakan sakit saat aku memegangnya erat.


Author pov


Gaga melangkahkan kaki cepat dengan langkah yang lebar. Pria dengan tinggi badan 182cm itu terlihat sedang mencari ruangan dengan diikuti oleh Riko.


Gaga bertemu dengan keluarganya. Dan Riana langsung memeluknya.


"Maafkan mamah mas" ucap Riana pada Gaga. Gaga membalas pelukan itu dan mengusap lembut punggung ibunya.


"Tidak. Tidak perlu meminta maaf mah, ini bukan salahmu" ucap Gaga lembut. Riana menenggelamkan mukanya yang sedang menangis di dada bidang anak sulungnya itu.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Gaga.


"Mbak belum sadar mas, mas kalau mau masuk boleh kok " ucap Gania.


"Eh kamu ko gaseko-" ucap Gaga di potong oleh adik perempuannya.


"Gak! Jangan ngomong apa apa mas, aku ga tega liat mama nangis dan papa kerepotan. Kan lagi sakit" ucap Gania kekeh. Gaga hanya mengacak rambut Gania dengan lembut dan tersenyum.


"Makasih."


"Udah cepet mas masuk. Mbak pasti udah nungguin" ucap Gania. Akhirnya Gaga melepaskan pelukannya dengan Riana dan masuk ke ruangan tersebut.


Gaga melihat Nadine yang terbaring lemah diatas ranjang. Dengan kabel-kabel dan selang yang menempel di badannya, mukanya yang pucat dan matanya yang masih setia tertutup. Gaga tak kuasa melihatnya, langkahnya memelan lemas tapi pasti.


Gaga duduk disisi ranjang dan memegang tangan Nadine. Ia menunduk dan mengecup punggung tangan Nadine. Wajahnya naik ke arah wajah Nadine, dikecup lagi kening sang istri dan bibirnya yang pucat dengan kidmat sampai-sampai air matanya menetes saat matanya sengaja ia pejamkan.


"Bangunlah sayang.." ucap Gaga lembut.


"Bangun.. maafin aku" sambungnya.


Gaga terisak menyesal telah meninggalkan istrinya. Terakhir, ia sedang dingin pada istrinya itu. Padahal hanya untuk menjadi bercanda saja karena istrinya sangat sabar, namun dirinya menyesal. Sangat menyesal.


🌻🌻🌻


Gimana nih? Gaga kayanya belum siap jadi duda🙈



Gilaaa lu thor!!! Bangunin Nadine guaa!!!



Gamau ah biarin aja kamu jadi duda, aku capek dicuekin kamu mulu


Likenya dong😍


-Belitang, 18.15


Tbc-