Look at me, please

Look at me, please
#24



Gaga mendengar ketukan dari luar, dengan berhati-hati ia melepaskan badannya dari pelukan istrinya itu. Walaupun ini malam pertama mereka, tapi tak ada suatu hasrat satu sama lain untuk melakukan seperti layaknya seorang suami dan istri. Terlebih kondisi Nadine yang masih bersedih akan kepergian ayahnya, Nadine tak berfikir sama sekali tentang yang begitu. Ia hanya berfikir bahwa sekarang dan seterusnya yang menjaga dirinya adalah Gaga.


Tok tok


Gaga membukakan pintu kamar hotel, ia mengintip ibunya yang sudah berdiri di balik pintu.


"Ada apa mam?" Ucap Gaga


"Nadine? Sudah tenang?" Ucap Riana sembari mencoba menengok kedalam kamar yang ditutupi badan Gaga yang tegap


"Dia udah tidur mam, mau masuk?" Ucap gaga


"Engga sayang.. mama cuma mau kasih tau kita bakal pulang sekarang. Gania sekolah pagi ini, tau kan papa kamu kalo soal sekolah Gania" ucap Riana. Gaga melihat jam tangan semi formal yang masih menempel pada lengan kirinya. Jam menunjukkan pukul 01.00 pagi.


"Kalau papa.. aku gabisa nahan hehe. Aku juga nanti pagi mau kerumah Nadine dulu, dia mau aku suruh packing buat pindahan langsung ke Jakarta. " ucap Gaga


"Lebih baik kalian tinggal dulu di Bekasi, seminggu deh. Mama pengen Nadine gak terlalu sendirian. Kamu juga bakal sibuk kan sama kerjaan?" Ucap Riana


"Engga ko mah, Gaga rencana ngajak Nadine kerumah kita yang baru karena Gaga masih cuti. Gatau deh disuruh papah Gaga cuti dulu. " ucap Gaga sembari mengangkat bahunya


"Mmmm maunya beduaan nih? Memang cantik banget menantu mama ini.. Faranisa memang melahirkaan gadis yang cantik" ucap Riana. Disaut oleh senyum gaga yang juga setuju pada ucapan Riana dan dia menoleh ke arah Nadine yang masih berbaring diatas ranjang


"Gaada niatan honeymoon gitu kak?" Ucap Riana sembari menggoda pada Gaga. Gaga langsung cepat menoleh kembali kepada ibundanya


"Ih apaan si ma! " ucap Gaga malu-malu


"Ajaklah istri kamu honeymoon sayang. Liburan gitu kemana kek! " ucap Riana


"Iya ntar deh, Gaga masih capek kemarin bolak balik mulu Bandung Bekasi Jakarta " ucap Gaga sedikit mengeluh. Tak lama selama perbincangan anak dan ibu tersebut berlangsung, ayah dan Gania menghampiri Riana.


"Mah ayok, kak Gaga mana?" Ucap Gania. Gaga dan Riana dengan otomatis menoleh pada asal suara yang mereka kenali.


"Kak Gaga gaakan bareng kita, ada urusan dulu. " ucap Riana


"Gaga.. papa tunggu seminggu lagi dikantor. " ucap Boby pada anaknya yang masih pengantin baru


"Iya pah.. hati-hati kalian " ucap Gaga menyalami satu-satu keluarganya


"Jaga Nadine baik-baik. Nanti kita meeting khusus untuk masalah pak Graha " ucap ayahnya setengah berbisik pada Gaga saat ia menyalaminya. Gaga mengangguk seolah patuh pada ucapan ayahnya.


"Salam sama Nadine ya, jaga baik-baik istrimu. Mama papa sama adek pamit. Bye! " ucap Riana lalu ketiganya melangkahkan kaki sembari melambaikan tangan pada Gaga. Gaga hanya tersenyum dan balik menutup pintu.


🦋🦋🦋


Nadine membuka matanya, mencoba beradaptasi dengan sorotan cahaya lampu. Mengucek matanya yang masih sembab. Merasakan kepalanya yang pusing akibat tangisannya semalam. Beranjak duduk dari asalnya terbaring lemas dan menyeret pandangannya sekitar, melihat lelaki dengan balutan kaos putih dan celana bahan sedang duduk dikursi dekat balkon hotel dan bermain game di ponselnya. Terdengar suara yang tidak terlalu keras yaitu suara tembakan dan lontaran umpatan dari bibir lelaki itu. Nadine memegang pelipisnya untuk mencoba meredakan peningnya. Ia beranjak dari kasur menuju kamar mandi namun suara lelaki yang ada disana membuat ia memberhentikan langkahnya.


"Udah bangun?" ucap Gaga sembari beranjak melangkahkan mendekati tubuh Nadine berdiri lalu menyakukan ponselnya.


"Hm" nadine berdeham sembari menatap Gaga


"Apa kamu perlu menenangkan diri lagi? " ucap Gaga yang sudah berdiri didepan Nadine. Nadine tengadah karena Gaga lebih tinggi darinya. Nadine mengerti maksud Gaga lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Aku mau mandi, badanku lengket. " ucap Nadine


"Yasudah bersiaplah. Kita akan mengurus pindahan. " ucap Gaga yang masih menatap Nadine


"Apa? Pindahan?" Ucap Nadine menatap bingung.


"Iya, kamu gak lupakan bahwa kita akan menetap di Jakarta sesudah menikah. "


"Tapi, aku ingin di Bandung dan bukannya kakak sudah dipindahkan ke Bandung? "


"Kenapa? Khawatir tentang bandmu? Atau ada rutinitas yang kamu khawatirkan?" Ucap Gaga


"Iya.. gimana dengan bandku yang semua berdomisili disini? Homecare ku, juga latihan rutin bela diri ... aku gak yakin bisa berjalan lancar seperti biasanya di sana" ucap Nadine. Gaga sedikit terkejut karena Nadine juga mempunyai latihan rutin untuk fisiknya.


"Aku akan mengizinkanmu bila ada latihan di Bandung dan pergi kesini, namun untuk latihan kamu bisa join sama club lain di Jakarta. " ucap Gaga


"Tapi kak .... " ucap Nadine


"Nadine ... kamu sekarang istriku. Nurut yaa!" Ucap Gaga seraya mengacak-acak rambut nadine. Nadine hanya bisa menonjolkan bibirnya dan berlalu kekamar mandi dengan kesal. Gaga hanya tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu. Namun mau bagaimana lagi demi kebaikannya, Gaga harus membawa Nadine ke Jakarta agar lebih aman dan Gaga bisa menjaganya tanpa kewelahan.


🦋🦋🦋


Sampailah mereka di kediaman Nadine dan ayahnya. Disambut Yulia dan Dinar yang masih ditugaskan Gaga untuk berjaga disana.


"Eh masih disini kalian?.." ucap Nadine


"Iya nyonya, saya sudah kemasi barang-barang nyonya. Tinggal di cek aja " ucap Yulia dengan sopan


"Kamu kok antusias banget! Dimana kopernya?" Ucap Nadine


"Dikamar nyonya ..." ucap Yulia dipotong oleh Nadine yang mulai melangkahkan kakinya masuk


"Jangan panggil saya nyonya. Panggil Nadine aja yah! Aku masih muda hehe " ucap Nadine lalu berlalu kekamarnya


Ia mengecek semua barang-barangnya. Sebagian sudah diangkut ke mobil truk tertutup untuk dipindahkan. Rumahnya sangat sepi seperti biasanya. Namun baginya detik ini sangat sepi. Walaupun hanya dipagi hari dan kadang malam hari atau akhir pekan dirinya bertemu dengan ayahnya. Kemanapun mereka berdua pergi, pasti mereka akan dipertemukan di rumah ini. Rumah mereka berdua. Tapi perasaan saat ini berbeda, Nadine benar-benar merasa sendirian. Seolah seperti anak kecil yang ditinggal ayahnya bekerja. Bi Eni pembantu dirumahnya dari kecil juga tak kunjung terlihat dan tak ada kabar darinya hingga saat ini.


Nadine berdiri dibalkon. Menatap langit yang cerah juga mendengar kicauan burung yang indah. Seolah membangunkan semangatnya kembali untuk tidak selalu bersedih. Pipinya yang sudah dibanjiri mutiara beningnya yang tak sengaja itu, kini diusapnya dan melukiskan senyuman manis. Ia melangkah menuju kasur dan mendudukinya. Mengusap permukaan kasur yang dibaluti selimut putih bermotif mawar itu. Seolah Nadine berpamitan pada kasurnya yang selalu mendekapnya semalaman. Menyapu pandangannya keseluruh bagian kamarnya yang bernuansa soft pink itu. Barang-barang diatas meja-meja dan nakas disana sudah kosong. Yulia memang hebat, membereskan semuanya dengan bersih.


Tok tok tok


"Boleh aku masuk? " teriak Gaga sembari mengetuk pintu


"Masuk ajaaa" ucap nadine sedikit berteriak. Ia langsung menyeka kembali air matanya yang sedikit keluar


"Udah beres?" Ucap Gaga menghampiri nadine sembari menyapu pandangannya


"Udah kok. Yuk!" Ucap nadine antusias


"Nadine ... " ucap Gaga yang kini tengah duduk berendengan dengannya di kasur


"Ka Gaga, aku mempunyai beberapa pertanyaan padamu. " ucap Nadine


"Hm? Apa?" Ucap Gaga tenang dengan suara khas baritonnya


"A aku sekarang kan sudah menjadi istrimu. Apa kamu be benar benar akan menjagaku? Dan melindungiku selagi ayah gak ada?" Ucap Nadine menunduk gugup akan pertanyaannya. Gaga merasa geli akan pertanyaan Nadine, padahal hanya hal sepele baginya untuk menjaga satu orang wanita. Gaga menggapai dagu Nadine dan mengarahkan muka Nadine pada mukanya.


"Look at me, apa aku terlihat tidak bisa menjagamu?" Ucap Gaga serius. Nadine hanya terdiam menatap Gaga


"Nadine.. mau tidak mau aku harus menjagamu. Aku juga dibekali petuah dulu sama mendiang nenek. Jadi suami itu harus ini itu dan menjaga istri itu udah kewajiban. " ucap Gaga. Nadine masih menatap Gaga yang wajahnya sekarang sangat dekat dengan dirinya. Jantungnya bergejolak tak karuan. Tapi masih ada ganjalan didalam hatinya.


"Tapi ... pernikahan ini kan hanya status? Bukan kehendak kita berdua " ucap Nadine. Gaga yang masih menggenggam dagu nadine sedikit berfikir dan menatap Nadine dengan dalam.


"Ya kamu benar. " ucap Gaga terang-terangan lalu dia melepaskan genggamannya dan tidak menatap muka indah Nadine. Mereka termenung atas apa yang sudah terjadi. Satu yang baru Gaga sadari, dirinya sudah menikah dan mempunyai istri yang belum ia cintai. Walaupun dirinya waktu kecil menyayangi Nadine, tapi hatinya tetap sudah terebut oleh Elsa yang ia masih sayangi detik ini. Walaupun sudah dikecewakan, rasa cinta tetap ada bukan?


Sedangkan Nadine, dia tenggelam dalam diam. Perasaan yang campur aduk karena jawaban Gaga tadi membuatnya mengasihani diri sendiri. Ia berfikir tuhan sedang menghukumnya. Nadine ditinggalkan di Indonesia oleh ayahnya, dan dia sudah bersuami namun suaminya sendiri seolah tak menginginkannya. Nadine merasa tak berarti, namun hatinya tetap pasrah. Dirinya menangkap kesimpulan bahwa jangan sampai dia mencintai suaminya sendiri, karena mencintai hanya sebelah pihak itu tak ada yang enak. Lebih baik dirinya menjaga perasaannya sendiri dan membuat ayahnya tak khawatir disana. Terlebih Nadine tahu Gaga masih mencintai orang lain.


\==================================


tbc-