
Mara...
Aku tidak sadar sudah tertidur, kepalaku pening karena tidak biasa tidur di siang hari, matahari sudah condong menjelang sore aku tidak tau apa Theo sudah kembali, dia pergi dari pagi.
Kudengar pekikan suara Hole, sepertinya suara berisiknya itu yang tadi membangunkanku.
Oh sial... Aku baru sadar dan reflek kuraih busur yang tersandar di dekat pintu.
Kurasa jika itu Theo pasti dia sudah masuk kedalam rumah, aku tidak yakin ada orang lain atau mungkin orang dari istana yang mencariku, atau mungkin hewan liar otakku mulai menghitung beberapa kemungkinan terburuk.
Aku sudah siap dengan busur dan anak panahku, berjalan mengendap keluar dari pintu belakang. Jika benar itu pengawal istana maka habislah aku.
Kulihat kesekeliling dan masih tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia, kecuali hole yang masih panik dan berputar-putar mengibaskan ekornya.
Tidak ada yang tau apa yang di cemaskan kuda itu, banyak kemungkinan hewan liar di hutan seperti ini, tapi aku sudah biasa memburunya, dan sepertinya hewan liar memang bukan ketakutan terbesarku kali ini.
Kudengar ada suara dari arah belakang, aku berjalan perlahan kembali mengendap-ngendap dengan langkah lebih pelan saat aku mulai yakin darimana arahnsuara tersebut. Sepertinya dari tepi danau, mungkinkah rusa atau beruang yang sedang minum, aku berjalan cukup berhati-hati mencari celah di antara tanaman semak di tepian danau di mana mungkin aku bisa melihatnya.
Oh Tuhan apa yang sedang kulakukan!
"Apa yang kau lakukan Mara? "
Dia seperti menyuarakan isi kepalaku dan sama terkejutnya denganku.
Theo sedang menggosok punggung kudanya, basah dan hampir telanjang.
"Kau ingin membunuhku? " Theo kembali mengingatkan.
Sepontan aku sadar dan baru kuturunkan busurku.
"
"Ya, beruang coklat," jawabku konyol.
" .... "
"Sudahlah aku akan kembali ke rumah," tepisku untuk buru-buru masuk nghjndat karena menemukan pria yang sedang mandi benar-benar bukan pengalaman yang pernah kubayangkan. Meski sebelumnya aku pernah membayangkannya berenang dengan bertelanjang dada, tapi sunggu semua itu tidak mampu mendeskripsikan apa yang kulihat sendiri dengan mataku.
"Kenapa kau tidak ikut bergabung? "
"Oh tidak, " mustahil, aku segera menggeleng.
"Ayolah sepertinya Hole juga ingin di mandikan."
Oh, tentu saja yang dia maksud adalah kudaku, irulahnknapa kuda itu gelisah daribtadi.
Kulihat Theo juga serius dengan perkataannya, dan membuatku tidak memiliki pilihan untuk menolaknya.
Kulihat kearah hole yang masih berputar-putar di tempat aku megikatnya. Aku kurang paham memangnya kuda harus di mandikan berapa hari sekali????
"Jangan bilang kau tidak pernah memandikan kudamu? "
Memandikan kuda benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku, tapi sepertinya tidak masalah, dari pada Theo akan mengira aku orang aneh yang tidak tau cara memandikan kuda.
Kutarik Hole untuk masuk kedalam air, awalnya tidak masalah tapi entah kenapa kuda itu tiba-tiba menjadi panik dan mulai menggila sampai kehilangan kendali saat menendangku dengan kaki belakangnya. Kuda itu sempat menginjak betisku sebelum kembali menendang tubuhku sampai terpental. Aku mengerang, rasanya tulangku ikut retak, kulihat Theo segera melompat menyambar tubuhku, menarikku keluar dari air dan kuabaikan Hole yang berlari panik entah kemana.