
Saat kembali pada Mara Artur mulai merasa cemas, benar-benar cemas memikirkan bagaimana gadis itu mulai mempercayainya.
Mara berjalan menyambutnya dengan senyuman hangat, tadinya Artur masih tidak menyangka dia akan mendapat sebuah pelukan tiba-tiba dari gadis itu.
"Mara."
"Lupakan, aku tidak akan pulang, dan aku tidak peduli meskipun kau masih menginginkan Putri manapu, aku sudah berpikir banyak tentang keinginanku sendiri."
Artur masih menatap Mara, setengah tidak percaya mendengar apa yang gadis itu ucapkan.
"Trimakasih, Mara."
Artur tidak tau bagaimana gadis yang selalu ingin lari darinya itu tiba-tiba kini bisa berada di dalam pelukannya dengan suka rela. Ya, Artur memang tidak akan pernah mau melepaskannya kembali, andai gadis itu akan membencinya sekalipun. Artur tidak peduli lagi dengan segala dustanya, asal Marra mau dengan suka rela untuk bersama dirinya, rasanya semua beban dosanya akan sepadan. Artur benar-benar masihbmemeluk Mara dan belum mau melepaskannya hingga sampai gadis itu mulai mengeluhbuntuk sedikitbmenarik nafas dengan lega.
"Aku sudah setuju memilihmu, Tuan pemburu bodoh," bisik Mara seketika membuat otot Artur kembali berkedut menegang. Artur sasar jika bukan dirinya yang sebenarnya yang telah membuat gadis itu jatuh Cinta, dan itu memang agak mengerikan untuk dipikirkan.
Mara menariknya ke meja makan, "Kali ini aku yang menyiapkan makanan malam," entah kenapa sepertinya senyum gadis itu justru membuat Artur merasa semakin cemas. Walaupun akhirnya mereka tetap menghabiskan makan malam yang serba hambarbitu itu dalam kehangatan sederhana yang menyenangkan.
"Bagaimana, apa tadi kau bertemu orang tua Olive? " tiba-tiba Mara bertanya sambil mondar-mandir membereskan sisa makan malam mereka.
Artur hanya menggeleng sambil mengedikakan bahu, "Dia memintaku menurunkannya di dekat batas desa." Artur meraih Marra untuk duduk di atas pangkuannya saat bicara.
"Theo, kau yakin dengan apa yang kau lakukan?" Mara memiringkan kepalanya saat bertanya, jelas ada kecemasan tiba-tiba yang ikut mengejutkan Artur.
"Seperrinya dia tidak ingin orang melihat kami."
Mara tau di mana keluarga Olive tinggal dan batas desa masih terlalu jauh dari benteng istana, "Apa kau sadar, kau sudah meninggalkan seorang gadis muda berkeliaran sendiri di tengah malam seperti ini ?" jelas sekali jika kecemasan Mara semakin nyata.
"Aku tidak tau, Mara, kupikir dia tinggal di desa," sepertinya Artur juga baru benar-benar menyadari hal itu.
"Mungkin kau benar, dia masih terlalu muda," Artur teringat kejadian beberapa minggu lalu saat menemukan gadis itu terjebak di antara berandalan.
"Theo, rasanya tidak bisa kumaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padanya, dia putri Hook," dan Mara tau benar bagaimana gadis itu tumbuh di sekitar keluarganya selama ini.
"Siapa Hook?"
"Dia pengasuh kudaku," jwab Mara acuh karena tidak sempat berpikir.
Artur masih melihat kecemasan Mara yang masih saja bejalan mondar-mandir, sepertinya gadis itu memang sangat peduli dengan nasip putri pengasuh kudanya. Artur percaya karena dia, Mara. Kecantikan itulah yang membuat Artur rela melakukan apapun untuknya.
"Kenapa kau diam?" tanya Mara terdengar agak kesal karena mendapati Artur hanya duduk menyaksikan dirinya hilir mudik di depannya.
"Seharusnya aku tau kau punya pengasuh kuda," Artur tak bermaksud benar-benar menyinggung masalah itu, mungkin dia hanya ingin agar Mara sedikit santai.
"Theo, aku serius!" Mara mulai agak marah.
"Baiklah, akan kucari tau besok, sekarang istirahatlah aku tidak ingin kau terlalu cemas seperti itu."
"Entahlah firasatku mulai tidak enak," gadis itu kau mbali menyentuh dadanya sendiri sambil menatap Artur, meskinkemudian hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Kemarilah, " Artur kembali menarik gadis itu untuk ikut duduk di sebelahnya.
"Aku janji, dia akan baik-baik saja," janji Artur saat menggenggam jemari Marra, dan gadis itu akhirnya mengangguk pelan.
*****