
"Kenapa kalian tidak membiarkanku pergi?" Olive kembali bertanya pada pengawal yang kembali mengantarnya kekamar.
"Nona tidak akan kemana-mana."
"Apa sebenarnya mau kalian?"Olive masih tidak habis pikir, karena dirinya diperlakukan sebagai tawanan didalam sebuah kemewahan.
"Kami hanya ditugaskan menjaga Anda young Lady."
"Lihat kalian menjadikanku seperti orang asing yang tidak kuinginkan," Olive benar-benar kesal dengan tingkah para pelayan itu, kalau begini bagaimana dia bisa kabur.
"Sebentar lagi kereta Anda akan datang, Yang Mulya ingin makan malam bersama Anda My Lady."
"Kenapa aku harus menuruti keinginannya?"
"Tidak pernah ada yang menolak Raja kami, dan sunggub Anda sangat beruntung, Lady."
"Siapa Raja kalian? "
Buru-buru Olive bertanya.
"Anda sedang berada di Utara, Lady."
Olive tidak butuh jawaban lagi, karena lututnya tiba-tiba sudah terasa lemas...
Dan itu artinya ....
KING ALZOV !!!
*****
Selama ini bagi Olive King Alzov tak ubahnya tokoh gelap dalam legenda yang tentu tidak pernah dia harapkan akan untuk menjadi nyata.
Dialah King Alzov...!!! Raja Abadi negri Utara yang konon hidup tanpa hati dan belas kasih.
Olive kembali menarik nafas dalam dan berusaha menghembuskannya perlahan,berharap kegugupannya tidak akan mengacaukan segalanya. Karena rasanya hanya dengan duduk diam saja tiba-tiba dia merasa bisa kehilangan kepalanya kapan saja. Olive ingat bagaimana begitu mengerikan semua kisa yang pernah dia dengar selama ini tentang penguasa negeri Utara tersebut.
Gadis itu hanya berani mengintip dari balik bulumatanya, seolah bulu matanya tebal nya tersebut mampu menyembunyikan kegugupannya. Detak jantungnya pun mulai betantakan tiap kali Olive coba kembali menekan kecemasannya. Andai bukan karena korset yang diikatkan terlalu kencang oleh para pelayannya tadi mungkin jantungnya pun sudah ikut terlempar keluar kali ini.
Banyak cerita yang sering gadis itu dengar tentang King Alzov dan ke brutalannya, tapi semua itu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang di rasakan dan dilihatnya sekarang. Bahkan sampai sejauh ini Olive masih tidak percaya jika dia adalah kakak dari Pangeran Artur.
Bukankah seharusnya saudara itu mirip...
??????
Olive tau King Alzov sedang memperhatikannya dari tempat duduknya, Olive hanya berharap semoga pria itu tidak dapat membaca pikirannya, karena gadis itu harus menjaga tubuhnya tetap diam di tempat duduknya.
"Kuharap aku bisa memperbaiki selera makanmu," suara berat King Alzov terdengar tenang, tapi masih terasa mencekam bagi Olive.
Ini bukan kali pertama pertemua mereka, tapi jelas rasanya sangat berbeda setelah dia tau jika Pria dengan Netra hitam peka twit in adalah King Alzov, penguasa Negri Utara.
Setelah beberapa lama memperhatikan Olive yang masih tidak mau menyentuh makanannya akhirnya King Alzov memutuskan untuk berdiri dan mulai berjalan mendekati nya . Gadis itu masih coba mencengkram kuat kedua sisi tempat duduknya berharap dirinya tidak melompat, karena sungguh dia tidak berani membayangkan hukuman apa yang pantas dia dapat jika dia sampai berbuat demikian.
King Alzov masih berjalan semakin mendekat tangannya meraih botol kaca berisi cairan pekat dari tengah meja kemudian menuang cairan semerah darah tersebut kedalam gelas kristal bening di depan gadis muda itu. Olive dapat mencium aroma keras dari anggur tua yang seketika menyengat hidungnya.
Cairan itu masih bergolak menyapu tepian gelas kristal bagai gelombang darah dengan suara gemericik yang sudah cukup membuatnya menelan ludah panas karena ngeri karena Olive bukan peminum anggur yang baik. Tapi gadis itu sengaja lebih fokus pada gelas di depannya dari pada harus menyadari siapa yang kali ini yang sudah berdiri tepat di depannya dan menuangkan satu gelas anggur seolah dirinya adalah tamu terhormat. Sungguh Olive merasa itu aneh, mengingat seorang King Alzov sampai harus menuangkan anggur hanya untuk seorang gadis seperti dirinya.
Tanpa sengaja tiba-tiba Olive mengangkat wajahnya, hanya sepersekian detik saat King Alzov menangkap sepasang manik matanya, gadis itu buru-buru kembali merunduk dan berharap itu bukan dosa, oh..... Olive masih ingat bagaimana sepasang Netra gelap itu memandang tubuhnya beberapa hari lalu, jemari Olive mulai bergetar.
"