KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 42 trap



"Apa kau tau di mana dia membawa Olive? "


"Aku tau di mana satu-satunya tempat ular wanita iti bisa bersembunyi."


Hanya ada satu tempat terlarang yang tidak bisa mereka datangi, markas tua penyihir, tentu saja Latuza akan bersembunyi di sana. Tempat itu ada di dasar telaga penghisap nyawa di tengah hutan terlarang.


"Ingat ular itu sangat licik, percayalah ini jebakan untukmu, Al."


"Aku sendiri yang akan mengambil, Olive."


"Itu yang di inginkannya, itu adalah tempat di mana kita bahkan tidak memiliki kekuatan untuk sekedar melindungi diri kita sendiri."


Dan itulah rencana Latuza....


Karena hanya di tempat itu dia berani menghadapi King Alzov tanpa kekuatan darah penyihir putihnya. Karena hanya penyihir hitam murni yang bisa datang kesana, bagi darah campuran sepertinya tentu akan menjadi tindakan bunuh diri, dan sepertinya ular betina itu sudah merasa memenangkan permainannya kali ini.


King Alzov bukan tipe  yang mau menunggu untuk berpiki soal ini, dia sendiri pergi ke telaga penghisap nyawa bersama kuda hitamnya.


Artur yang mengejar menyusul di belakang,dan tak perlu waktu lama bagi mereka untuk sampai di tepi telaga ber air hitam pekat tersebut.


"Tunggu di sini dan tetap pegang busurmu! " tegas King Alzov saat mencegah Artur yang sudah berniat ikut bersamanya.


"Bunuh semua mahluk yang keluar dari permukaan air!"


King Alzov mulai melepas bajunya, hingga tinggal tersisa celana panjang yang di pakainya. Dia akan menyelam dan hanya membawa pedang yang terserempang di bahu. King Alzov menceburkan dirinya kedalam pekatnya air di telaga penghisap nyawa, dia berenang sampai ke dasar telaga paling dalam.


*****


Laruza kembali mendekati Olive.


"Dengar, mungkin Rajaku sudah tidak menginginkanmu, tapi aku yakin bagi Pangeran Artur kau masih sama berhargannya dengan nyawa kekasih penghianatnya itu."


Menyadari perkataan Latuza, Olive segera teringat putri Aurora dan bayinya. mungkin mereka bisa ikut celaka .... dan pikiran itu membuatnya takut.


"Jangan pernah sekalipun berpikir untuk mencelakai Pangeran Artur."


"Sayang sekali, aku juga menghormatinya tapi apa yang bisa kau lakukan untuk mencegahku."


Latuza kembali tertawa.


Olive menyadari jalan buntu yang dia hadapi.


"Kalau perlu akan kubunuh diriku sendiri untuk itu."


"Hah.... Kau benar-benar putri ibumu," tawa Latuza semakin menggema, mengingat Lady Claire yang juga bunuh diri di depan kekasihnya.


"Sungguh aku akan membuat usahamu sia-sia gadis muda."


Olive masih menatap ular wanita itu dengan penuh kebencian.


"Jangan sentuh Artur atau siapapun di sekitarnya!!!" kecam Olive meski dia sendiri masih belum tau apa yang akan di lakukannya.


Mungkin bunuh diri bisa jadi pilihan yang tepat agar penyihir wanita itu tidak memanfaatkan nya, Olive sudah bisa menebak sejahat apa rencana yang sudah direncanakan Latuza.


"Lihat aku," Olive baru saja mematahkan ranting ber ujung tajam dari bagian sangkar yang mengitarinya dan mengarahkan ujungnya tepat ke tenggorokannya sendiri.


"Latuza kau tidak akan mendapatkan apapun jika aku mati, kau tidak akan bisa mencegahku untuk itu."


"Dengar, dia akan tetap datang untukmu, tak peduli kau masih bernafas atau tidak. Selama kau masih menghilang bagi mereka, tubuh tak bernyawamupun masih berguna untukku."


Latuza benar tidak penting Olive masih hidup atau sudah mati, selama mereka masih mengira gadis muda itu masih bersamanya tentu Latuza masih bisa memanfaatkannya.


Tubuh Olive bergetar membiarkan ranting tajam itu jatuh dari tangannya.


"Kau bukan lawanku gadis kecil, sebaiknya gunakan waktumu untuk beristirahat sebelum pangeranmu datang untuk menjemputmu."


Mereka sama -sama terkejut mendengar suara runtuhan batu yang baru saja jatuh dari langit-langit goa. Seperti ada yang sengaja ingin meruntuhkan tempat tersebut. Batu-batu itu masih berjatuhan membuat sangkar yang di tempati Olive pun ikut terlempar.


Tubuh Olive ter hempas kedasar lantai goa yang berbatu cadas. Gadis itu hampir pingsan menahan rasa sakit yang mendera tulang punggungnya, tubuhnya terhimpit di antara reruntuhan batu yang sempat ikut menimpa kakinya, Olive pikir hidupnya sudah berakhir saat dia mulai tidak sadarkan diri setelahnya.


Latuza terkejut melihat siapa yang benar-benar datang pada akhirnya.


"My Lord, aku tau Yang Mulia akan datang."


Latuza coba bersikap tenang menghadapi kemunculan King Alzov di depannya.


King Alzov baru saja mencabut pedang di punggungnya saat sisa air masih menetes-netes dari tubuh basahnya yang ber telanjang dada.


Tidak di pungkiri Rajanya tersebut memang sosok yang sempurna, satu-satunya pria yang akan membuatnya rela berlutut untuk sebuah cinta.


Sekali lagi Latuza coba berpikir waras, karena semenawan apapun mahluk itu dia tetap tega memenggal kepalanya. King Alzov bahkan sudah menelantarkannya, dan hanya keabadian yang tidak akan pernah meninggalkannya.


"Berani sekali kau mengabaikan perintahku."


"Sayangnya  tidak ada yang bisa memerintahku disini."


King Alzov memandang ular betina itu dengan mata berkilatnya, jujur Latuza sempat gentar tapi sekali lagi dia mengingatkan dirinya.


"Darah sihirmu tidak akan berguna di tempat ini."


"Apa maumu Latuza? "


"Aku hanya menginginkan keabadian dari darah murni Anda, My King."


"Lancang sekali kau dengan mimpimu itu."


"Anda sudah datang kemari, My Lord. Dan akulah penguasanya sekarang," sombong Latuza.


King Alzov tetap bersikap tenang seolah sama sekali tidak terprovokasi oleh ke congkakan Latuza yang sudah merasa menang.


"Kau lupa meskipun tanpa darah penyihir busuk itu di tubuhku, aku tetaplah Putra Sang Kingdom!! "


Jelas sekali kecemasan mulai menaungi wajah Latuza saat King Alzov berjalan mendekatinya. Tentu seharusnya Latuza tau bagaimanapun tetap mengalir darah murni seorang Raja yang selalu di berkati.


"Jangan pikir aku tidak mampu memenggal kepalamu dengan pedangku! "


"Aku tetap Rajamu yang tak terkalahkan, dengar itu ! "


King Alzov mengayunkan pedangnya sekali dan Latuza berhasil menghindar.


Sekali lagi King Alzov menyerangnya, dalam tebasan kedua King Alzov berhasil menebas lengan kiri Latuza.


Penyihir itu meraung menyadari lengannya jatuh ketanah, bagaimanapun King Alzov tetap bukan tandingannya. Tubuh ramping Latuza mulai melompat dari satu batu ke batu yang lain, Latuza bergerak cukup lincah tapi tak terlalu sulit bagi King Alzov untuk mengejarnya.


Latuza yang mulai kualahan terhimpit di salah satu sudut dinding goa. Nafasnya mendengus-dengus karena segala mantra yang dia coba  selalu berhasil di tepis oleh pedang King Alzov.


Kali ini Latuza mulai mengembangkan tubuhnya, pelahan tubuh sempurnanya yang nyaris telanjang itu berubah menjadi monster melata, kulitnya bersisik menyerupai ular tapi bercakar tajam. Dengan cakarnya dia coba menyerang King Alzov yang tak kalah lincah bergerak melompat dari dinding batu yang satu kedinding batu yang lain, dengan ekor panjangnya latusa menyambar tubuh pingsan olive bersamanya. King Alzov yang mengejar dengan kemurkaanbya seketika membelah bongkahan batu cadas besar dengan pedangnya kemudian melemparkannya ketubuh Latuza. Ular betina itu berhasil menghindar dengan masih membawa tubuh Olive bersamanya. Terahir King Aljov melempar pedangnya tepat menembus tubuh Latuza yang akhirnya terkunci tak bergerak di sebongkah batu besar di tepi didnsing goa. Mahluk itu meronta tidak bisa berkelit kemudian melempar tubuh Olive sampai menghempas dinding batu goa, King Alzov tidak sempat berpikir saat melihat tubuh gadis itu terlempar dan terpental di dinding.


"Sudah cukup membuang waktuku ular betina."


King Alzov mencabut pedangnya kemudian melompat dengan satu tumpuan kakinya, tubuhnya terpelanting hingga hampir menyentuh langit-langit goa kemudian menghujamkan pedangnya tepat di puncak kepala Latuza yang tidak sempat menghindar. King Alzov membelah tubuh penyihir itu hingga menjadi dua bagia. Kaki King Alzov kembali mendarat bersamaan dengan tubuh terbelah monster Latuza yang jatuh berdebum ketanah.


Langit-langit goa mulai runtuh, sisa waktunya tidak banyak lagi air akan segera memenuhi goa sampai akhirnya tempat tersebut musnah, King Alzov segera menemukan tubuh Olive di antara puing reruntuhan.


Nadinya masih hangat dan jantungnya berdetak, belum pernah King Alzov merasakan kelegaan yang luar biasa sepanjang eksistensi kehidupannya.


Goa sudah benar-benar runtuh dia harus segera pergi membawa tubuh Olive berenang sampai kepermukaan. Bukannya tanpa resiko, ingat bagaimanapun Olive hanyalah manusia biasa dengan luka sedemikian rupa. King Alzov tau keputusannya ini tidak akan mudah.


*****