
Olive berusaha keras untuk tidak memikirkannya, meski rasanya mustahil. Olive sempat tergoda untuk menanyakannya pada Pangeran Artur, meski dalam tiap kali kesempatan dia mengurungkannya juga.
Olive sudah terlalu sering mendengar tentang legenda keabadian Sang Kingdom, tapi Olive belum pernah benar-benar memikirkannya sampai seperti ini.
Mungkin benar King Alzov tidak akan pernah menua, Olive sudah melihat sendiri kenyataannya. Tapi masih terlalu sederhana jika hanya mendefinisikannya sebagai mahluk abadi, siapa dia sebenarnya.... Mungkin memang hanya Pangeran Artur yang bisa memberinya jawaban.
Hampir tiap malam Olive menggunakan waktunya untuk berpikir, meski selalu saja hanya mendapati jalan buntu. Anehnya lagi kadang dia sengaja membuka jendela kamarnya lebar-lebar, entah apa yang di harapkannya. Rasanya memang koyol, King Alzov memang tidak pernah mengunjunginya lagi sejak malam itu.
Sungguh Olive benar-benar ingin mengutuk dirinya sendiri saat kadang dia diam-diam berharap ada yang tiba-tiba kembali mengetuk jendelanya.
Pagi ini Putri Aurora mendatangi kamar Olive, karena belakangan ini gadis itu terlihat jarang keluar.
"Olive apa kau baik-baik saja? "
Olive hanya mengangguk dan tersennyum menyambut Putri Aurora yang nampak lebih segar dengan perut buncit kecilnya.
"Tadi kakakku menanyakan keadaanmu."
"Oh... Sungguh sampaikan terima kasihku atas perhatiannya Yang Mulya, apa keadan Pangeran sudah lebih baik?"
"Dia sudah mulai bisa kembali berkuda."
Olive nampak ikut senang mendengarnya.
"Olive, kakakku sangat mencemaskanmu."
Mara duduk di ujung ranjang saat kembali bicara. "Pernahkah kau memikirkan nya? "
"Tentu Yang Mulya, aku juga sangat mencemaskannya, jika bukan karena aku Pangeran Keive tidak mungkin celaka."
"Bukan itu maksudku, aku tidak ingin kau merasa bersalah karenanya, kakakku memang sudah memperhatikanmu dari dulu."
Olive mulai menyadari kemana arah pembicaraan Putri Aurora.
"Oh... Yang Mulia saya hanya Putri seorang pengasuh kuda yang tidak mungkin berani mengartikan apapun tentang kebaikan Pangeran."
"Lihatlah Olive kau gadis yang luarbiasa cantik, kurasa tidak salah jika kakakku memilihmu, semua pria akan rela saling membunuh untuk gadis sepertimu."
"Ma'af Putri, saya tidak berani, semua orang di sini sudah terlalu baik padaku, itu semua sudah lebih dari apa yang pantas kuterima."
"Tenanglah Olive, aku hanya ingin kau mulai memikirkannya saja," senyum Mara terlihat tulus saat menyentuh pipi Olive dengan tangan lembutnya. "Sebaiknya kubiarkan kau beristirahat, karena sepertinya kau memang kurang sehat, nanti biar ku suruh tabib istana untuk memeriksamu."
"Tidak perlu Putri, sepertinya aku hanya kurang tidur saja beberapa malam ini."
Dan itu memang benar....
Setelah Putri Aurora pergi, Olive benar-benar mulai berpikir sepertinya masalahnya tak sesederhana yang dia kira.
Olive senang tinggal di tempat ini, karena Olive bahagia bisa melihat Putri Aurora dan Pangeran Artur bahagia, tapi kadang dia juga berpikir, inikah hidupnya????
Memang kadang Olive merasa menyaksikan kebahagiaan Pangeran Artur dan Putri Aurora rasanya sudah lebih dari cukup. Tapi kadang dia juga berpikir tiap orang kelak pasti ingin memiliki keluarganya sendiri, bahkan bagi seorang pelayan sekalipun.
Bukannya Olive tidak sadar dengan begitu banyak perhatian yang sering dia dapatkan tapi benarkah Itu yang dia inginkan????
Tentang Pangeran Keive, Olive benar-benar tidak berani memikirkannya. Tidak bisa ia pungkiri Pangeran Keive memang selalu baik padanya tapi selama ini Olive memang tidak pernah berani mengartikan nya macam-macam. Bukan hanya karena dia seorang Pangeran, tapi entahlah Olive tidak mengerti, mungkin sama seperti Putri Aurora ,Olive juga merasa pria itu pantas mengisi sosok seorang kakak yang selama ini tidak pernah Olive dapat.
Entah kenapa Olive tiba-tiba justru membandingkannya dengan King Alzov yang sebenarnya tidak pernah bersikap baik padanya, mungkinkah Olive mempertimbangkan tawarannya itu?
"Ikut kembali ke utara...."
Andai saja ada yang bisa di ajaknya bicara tentang hal ini. Selama ini Olive tidak pernah memberitahukan mengenai perihal kedatangan King Alzov pada siapapun, karena itu akan terdengar luar biasa gila.
Jika teringat janji King Alzov malam itu sungguh Olive merasa lemah untuk menolaknya, seolah dia bukan siapa-siapa jika di banding segalanya yang dimiliki Pria itu. King Alzov yang sudah memiliki segala hal yang di inginkannya, lantas untuk apa dia masih menginginkan gadis seperti dirinya yang bukan siapa-siapa dan akan menua jika memang hanya sebatas kecantikan fisik yang di inginkan King Alzov. Olive benar-benar tidak berani melanjutkan pikirannya, kecuali dia akan teringat kembali dengan berbagai keintiman yang sempat mereka lalui, dan betapa takutnya dia bermimpi tentang semua itu.
Olive buru-buru naik ke atas tempat tidur dan membiarkan jendela kamarnya tetap terbuka.
Malam itu tidak turun hujan, langit terlihat cerah dengan bintang -bintang yang bisa dia lihat dari jendela kamarnya yang terbuka. Olive mulai tertidur setelah tengah malam, mungkin karena lelah sampai dia tidak ingat dia bermimpi apa tadi malam.
Saat dia bangun di pagi hari sinar matahari sudah mulai terik menyilaukan, Olive ingat jendelanya masih terbuka matahari nampak cerah di sana, hari yang indah tapi entah mengapa ada perasaan kecewa dalam dirinya yang sulit diungkapkan.
Siang harinya Pangeran Keive benar-benar datang untuk mengajaknya berkuda, tidak jauh hanya di sekitar taman istana, Olive menemaninya hampir setengah hari itu. Sungguh Pangeran Keive yang baik tapi mengapa Olive tetap tidak bisa menganggapnya lebih dari sosok yang seharusnya memang dia hormati.
Tanpa di duga Pangeran Keive memegang tangan Olive, Olive yang masih terkejut hanya bisa diam. Sungguh Pangeran Keive sangat menawan dan penuh wibawah tapi bodohnya Olive justru tiba-tiba memikirkan King Alzov di saat yang tidak tepat itu, Pangeran Keive mengecup punggung tangannya.
"Kemarilah temani aku minum teh, sebelum kubiarkan kau pulang," senyum Pangeran Keive sangat ramah dan mustahil untuk di tolak.
"Olive kau tau aku selalu memperhatikanmu," kata Pangeran Keive setelah seorang pelayan baru saja menuangkan teko teh Mawar di cangkirnya, olive memperhatikan bagaimana kuntum Mawar itu kembali merekah di dalam cangkirnya, gadis itu benar-benar memerlukan bantuan untuk kembali berkonsentrasi.
"Apa yang sedang kau pikirkan Olive?"
Oh gadis itu agak terkejut, "Saya merasa sangat beruntung, Pangeran," jawab Olive lembut, buru-buru gadis itu memperbaiki sikapnya, dan Pangeran Keive masih memperhatikannya tak bergeming.
"Tapi kau tidak nampak senang mendengarnya."
"Ma'af Pangeran, saya tidak berani... "
Kalimat Olive terputus saat jari telunjuk Pangeran Keive menyentuh bibirnya .
"Kau boleh memanggilku, Keive.. "
"Saya tidak berani Yang Mulya"
"Hanya di antara kita berdua" Pangeran Keive mengembangkan senyum yang luar biasa, normalnya seorang gadis akan mencair karenanya, jika bukan lagi-lagi justru sosok King Alzov yang kembali terlintas di kepala Olive. Belakangan ini entah kenapa otak Olive seperti diracuni sosok gelap yang seharusnya dia benci itu.
Apapun yang di katakan pangeran Keive sore itu rasanya Olive tetap sulit berkonsentrasi. Olive sangat bmsenang Pangeran Keive mengijinkannya pulang sebelum gelap. Olive benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, bisa- bisanya dia mengabaikan pria sebaik Pangeran Keive.
Olive segera kembali kekamarnya, membersihkan diri cukup lama di bak mandi, merendam dirinya dengan berbagai bungan aroma terapi, dia baru keluar saat pikirannya dirasa sudah cukup tenang. Olive kembali ke kamar setelah makan malam bersama Pangeran Artur dan Putri Aurora, Olive bersyukur karena Putri Aurora tidak banyak bertanya.
Setelah kembali ke kamarnya Olive kembali merasa sendirian, entah apa yang di inginkannya mungkin dia hanya merasa kesepian. Olive bahagia di sini tapi kadang dia teringat bibi Gabriel dan Edmun, entah apa Olive bisa bertemu mereka lagi. Ada kesedihan luar biasa tiap kali Olive membayangkan hal itu. Dan King Alzov, kadang Olive ingin marah dengan cara yang aneh, sesuatu yang tidak bisa Olive mengerti mungkin dia sendiri tidak sadar jika alam bawah sadarnya mungkin merindukannya.
Olive sudah mulai tertidur saat dia merasa ada lengan kokoh yang memeluknya.
Seperti hawa panas yang menyengat tubuhnya Olive berjingkat tapi lengan tersebut berhasil menahannya untuk tetap diam.
"Kau tau aku tidak senang ada aroma orang lain di tubuhmu."
Suaranya beratnya terdengar seperti bisikan lembut di belakang telinga Olive yang meremang.
Olive merinding, mustahil manusia bisa mengendus aroma seperti itu. Tapi dia masih bergerak menyusuri tubuh Olive seperti benar-benar memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Kau membersihkan dirimu dengan baik."
Memang tadi Olive cukup lama berendam tanpa maksud apapun, dia benar-benar tidak tau jika aroma orang lain bisa tertinggal di tubuhnya. Oh Tuhan.. Olive kembali berjingkat. Itu artinya Pria itu mengawasi Olive sepanjang hari ini. Bagaimana bisa..
Taklama dia sudah berada di depan Olive, menatapnya cukup dekat dan Olive menyentuh bibir bawahnya.
Terasa nyata dan dia tidak sedang bermimpi....
*****