
Seorang pengawal benar-benar datang untuk menemani Olive jalan-jalan hari ini. Dia seorang pemuda, mungkin usianya hanya selisih beberapa tahun di atas Olive.
"Mari, My Lady," pengawal itu mempersilahkan Olive untuk berjalan lebih dulu.
"Kita mau kemana?"
"Saya sudah menyiapkan kereta jika Anda ingin melihat danau atau sekedar berjalan mengelilingi taman istana."
"Kau bilang ada danau?"
Pengawal itu mengangguk.
"Saya akan segera menyiapkan kereta."
"Apa ada kuda? "
"Tentu kami punyai cukup kuda terbaik."
"Aku ingin berkuda."
Awalnya pengawal tersebut agak ragu.
"Jangan khawatir aku biasa berkuda."
"Baiklah."
Taklama pengawal itu kembali dengan membawa dua ekor kuda, satu untuk Olive dan satu untuk dirinya sendiri.
"Kuda yang Bagus," Olive benar-benar mengagumi kudanya.
"Namanya Hyra, dia kuda yang tenang saya sendiri yang mengasuhnya dari kecil."
"Kau mengasuh kuda? "
Pengawal itu tersenyum dan mengangguk, "Secara turun temurun keluargaku sudah menjadi pengasuh kuda istana."
Hal itu benar-benar mengejutkan bagi Olive.
"Siapa namamu? " tiba-tiba Olive bertanya.
" Namaku Edmun, My Lady."
"Jangan memangilku seperti itu, panggil saja namaku, Olive."
"Saya tidak berani, My Lady."
Entahlah Olive selalu merasa kurang nyaman dengan julukan baru itu, meskipun dia tau semua itu hanya untuk menghormati Pangeran Artur, entahlah dirinya tetap merasa tidak layak mengingat dirinya bukan siapa-siapa.
"Hanya diantara kita berdua, "Olive tersenyum, semua itu bukan tanpa alasan,Olive tau Edmun pemuda yang baik.
"Mari, My Lady."
"Olive ... ingat namaku, Olive," Olive sudah duduk di atas kudanya.
"Baiklah Lady Olive... " pemuda itu tersenyum, meski tau ini salah tapi bagaimanapun Olive memang gadis yang sulit ditolak.
"Kau dulu aku akan menyusul."
Kuda hitam Edmun berlari lebih dulu, dan tak lama Olive sudah berhasil menyusul di sampingnya. Mereka menyebrangi padang rumput ke arah Utara masih di dalam area benteng istana tentunya.
Angin yang bertiup cukup kencang membuat rambut gelap Olive yang meluncur dari ikatan jadi sedikit berhamburan berkibar-kibar melintasi wajahnya.
"Tak jauh lagi kita bisa mulai melihatnya."
Ya, tentu saja Olive terkagum-kagum, ada sebuah kastil cantik yang diapit dua buah danau. Ada jembatan melengkung yang menghubungkan kedua danau tersebut, beraneka jenis bunga berwarna-warni tertata rapi di kanan kiri jalan menuju kastil. Kastil tersebut nampak kontras dengan bagunan kompleks istana yang keseluruhan nya seperti selalu di selimuti kabut gelap.
Olive sempat berpikir mungkin mawar merah di kamarnya waktu itu juga berasal dari tempat ini, dan tak salah lagi karena memang banyak beraneka jenis Mawar di tempat tersebut. Labirin-labirin mawar nampak indah melengkung menaungi jalan -jalan setapak yang berkelok di tepian danau.
"Apa ada yang tinggal? "
"Dulu kastil ini milik Lady Claire, meski sudah tidak ditempati kastil masih di rawat dengan baik, kita juga bisa melihatnya."
"Apa kita bisa masuk? "
Olive benar-benar penasara seperti apa tempat tinggal Lady Clare yang tersohor karena kecantikannya itu.
Tiapkali Edmun mempersilahkan Olive untuk berjalan lebih dulu setelah penjaga yang berdiri di pintu membukakan gerbang untuk mereka.
Meski tak sebesar istana-istana yang lain di komplek tersebut, tapi kastil ini sangat indah.
"Kastil ini adalah hadiah dari pangeran Artur untuk Lady Claire," terang Edmun.
Olive benar-benar mengagumi segala hal yang ada di kastil tersebut, bisa ikut Olive rasakan sebesar apa Cinta pangeran Artur pada kekasihnya tersebut.
"Apa itu Lady Claire? "
Sebuah lukisan kanvas besar tergantung di tengah ruangan luas beratap tinggi berbentuk kubah runcing penuh dengan ornamen rumit namun penub dengan detail yang indah. Mungkin ini salah satu ruang khusus untuk menyambut tamu.
"Dia sangat luarbiasa cantik."
"Semua orang mengaguminya," tambah Edmun yang kali ini sudah berdiri di samping Olive.
"Kau juga memiliki mata yang indah," tambah Edmun mungkin tak disengaja saat tanpa sadar pemuda itu ternyata masih terpaku pada sepasang Netra biru Olive yang sebiru langit cerah di siang hari, begitulah kecantikannya bisa dilukiskan.
"Maaf aku tidak bermaksud lancang."
Jujur Olive tidak marah karena hal itu, Olive hanya bingung mendapati kebenaran dalam kata-kata Edmun barusan. Diakui atau tidak gadis di lukisan itu memang mirip dirinya, mungkin jika bukan karena Olive berambut lebih gelap.
"Apa dia juga di makamkan di sini? "
Edmun menggeleng, "King Alzov tidak pernah mengijinkan nya."
Terdengar kejam rasanya bagi Olive membayangkan nasib Lady Claire yang bahkan saat sudah tak bernyawapun masih harus terusir dari istana. Sebesar apa sebenarnya kebencian King Alzov padanya, rasanya masuk akal jika akhirnya Pangeran Artur memilih untuk tinggal di Selatan.
Setelah mengajak Olive mengelilingi sebagian kastil, Edmun mengajaknya untuk berjalan di sekitar danau.
Mereka mulai banyak bicara dan berhasil mengusir kecanggungan, meski Olive masih sempat beberapa kali mengingatkan Edmun untuk memanggilnya, Olive saja.
Setelah hari itu hampir tiap sore Edmun menemani Olive berkeliling, kadang hanya sekedar berjalan kaki di sekitar istana atau berkuda ke tepi danau seperti yang sering mereka lakukan belakangan ini.
Edmun pemuda yang baik dan perlahan membuat Olive merasa nyaman, selain karena usia mereka yang tidak terpaut jauh sepertinya latar belakang Edmunlah yang membuat Olive merasa semakin nyaman bergaul dengannya, bersama Edmun membuat Olive merasa sedikit normal.
"Ceritakan tentang keluargamu."
"Maaf sepertinya tidak ada yang menarik," Edmun hanya tersenyum dan menggeleng cepat.
"Aku hanya ingin mendengarkan," bujuk Olive.
"Tidak ada yang hebat, aku lahir di tempat ini dan sejauh yang ku tau secara turun-temurun keluargaku hanyalah pengasuh kuda. Aku mendapatkan kesempatan sebagai seorang pengawal dua tahun lalu saat usiaku yang ke sembilan belas."
"Itu Bagus," Olive tidak pernah memberitaunya jika dia juga hampir menghabiskan sepanjang hidupnya di kandang kuda. Tapi untuk kali ini Olive benar-benar merindukan tempat itu, rumah dan keluarganya.
"Kudengar kau dari Selatan?"
Tiba-tiba Edmun balik bertanya.
Olive menghela nafas panjang sebelum menjawab "ya, aku rindu keluargaku."
Olive mendapati Edmun memperhatikannya, belakanngan ini pemuda itu sudah lebih dari sekedar teman bagi Olive. Mungkin karena hanya dialah teman bicaranya selama ini, mereka lebih seperti sahabat. Sungguh Olive sangat beruntung bisa menemukan sahabat sebaik Edmun di tempat seperti ini.
"Aku tidak pernah tau kenapa pangeran Artur meninggalkanku disini."
"Kurasa karena dia menyayangimu."
"Sebenarnya dia tidak perlu melakukan ini semua, aku bisa kembali ke keluargaku."
Edmun nampak bingung.
"Pangeran Artur akan menjemputmu."
"Darimana kau tau? "
"Aku mendengarnya sendiri."
" Pangeran Artur akan menikah dengan Putri Aurora."
"Siapa Putri aurora, bukankah dia mencintaimu? "
"Tidak, Pangeran Artur sangat mencintai Putri Aurora."
Edmun nampak terkejut.
"Kenapa kau bisa berada di sini? "
"Ceritanya panjang, tapi kurasa Putri Aurora yang meminta Pangeran Artur untuk menjagaku."
"Apa King Alzov tau itu?"
"Entahlah aku tidak tau, jujur aku tidak pernah ingin tinggal di tempat ini, aku ingin pulang, andai itu mungkin ... " sesal Olive merasa tak berdaya.
"Dengar Olive sebaiknya jangan sampai King Alzov tau tentang Putri Aurora."
"Kenapa kau berpikirĀ seperti itu?" Olive nampak bingung.
"Aku serius Olive, semua itu untuk kebaikanmu."
Olive baru sadar mungkin Edmun benar, bukankah selama ini King Azlov baik padanya karena mengira dirinya kekasih dari saudaranya.
"Oh, kau benar."
*****