KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 14 olive hurt



Olive terbangun dengan rasa nyeri di seluruh bagian tubuhnya, tapi tubuhnya terasa hangat, sesuatu yang lembut membungkus tubuhnya seperti sebuah pelukan yang nyaman.


Otaknya tiba-tiba terjaga, ingatan terahirnya kembali mendorongnya untuk segera sigap.


Oh, ... di mana ini ... ? , bungung gadis itu dan kepalanya masih berdenyut. Olive masih kehilangan orientasi waktu dan segalanya ....


Siapa yang menggantikan pakaiannya, bahkan tubuhnya terasa lembut dan harum, hidungnya sempat mengendus-ngendus. Mustahil ada yang memandikannya di saat dia tidak sadarkan diri, jujur hal itu agak mengerikan untuk di pikirkan.


Oh ... tiba-tiba otaknya seperti diterjang kenyataan yang lebih mengerikan... Mencerna dirinya yang sedang berada di kamar yang sangat luas di atas tempat tidur yang dibalut wool dan sutra, wajar jika bulu halus di kulitnya mulai meremang. Olive merasa takut, sangat takut, apa yang sudah terjadi pada dirinya otaknya sempat kosong dan segera kembali berpikir cepat.


Olive yakin sepermenginginkanmu, benar-benar menjualnya, pada pria kaya, tidak ada alternatif lain yang bisa Olive pikirkan. Pasti Dominik memang tega melakukannya, terlebih dia pasti juga masih dendam mengenai pisau tempo hari. Olive mulai meremas kepalanya dan coba untuk menangis tapi tidak bisa.


"Nona sudah bangun?"


Seorang wanita paruh baya baru saja muncul dari pintu.


Gadis itu masih tercengang karena seumur hidup tidak pernah ada yang memanggil Olive dengan cara seperti itu, dia hanya anak seorang pengasuh kuda, semua orang hanya manggil nama pendeknya.


Wanita itu meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja tak jauh dari tempat tidur.


"Makanlah, Nona."


Wanita itu terlihat ramah, mebuat Olive cukup berani untuk bertanya.


"Dimana ini? "


Anehnya wanita itu hanya tersenyum dan memilih pergi dari pada menghiraukan pertanyaan nya.


Tidak hanya sekali, Olive bertanya pada tiap pelayan yang mengatarkan apapun ke kamarnya. Olive tidak habis pikir ada berapa pelayan sebenarnya di tempat tersebut. Olive mulai merasa seperti orang bodoh, karena tidak satu orang pun yang menghiraukan pertanyaan nya. Saat menjelang siang kembali seorang pelayan mengantar makanan sekaligus mengambil makanan yang tadi belum di sentuh Olive sama sekali, mereka semua sama acuhnya, dan tak satu pun yang mengajaknya bicara.


"Tempat apa ini?"


Olive kembali teringat kakak laki-lakinya, Dominik benar-benar tidak akan berbelas kasihan.


Olive mulai memeriksa bekas-bekas memar di beberapa bagian tubuhnya, rasanya memang masih nyeri tapi selebihnya Olive masih baik-baik saja,  dan hanya itu sisi baiknya, jika bukan karena itu mungkin dia sudah memilih untuk bunuh diri saat itu juga.


Bagaimana tidak, membayangkan dirinya dijual oleh saudara kandungnya sendiri saja rasanya sudah sangat mengerikan, walapun Dominim mungkjn hanya menukarnya dengan beberapa botol anggur, atau mungkin Dominik mendapatkan harga lebih baik kali ini. Olive  kembali memperhatikan seluruh perabot mewah di sekitarnya.


Semuanya nampaka luar biasa, Olive melihat ke arah kerambu-kerambu yang menjuntai-juntai indah menaungi jendela kaca besar yang sebagian sudah dibuka entah oleh siapa, bahkan dia sendiri tidak berani berpikir siapa yang sudah menggantikan pakaiannya tempo hari. Jujur Olive merasa tidak nyaman dengan apa yang di kenakannya, sebuah pakaian tipis dari bahan sutra dan mendeskripsikan tiap jengkal lekuk tubuhnya yang mulai tumbuh sempurna sebagai gadis muda. Usianya baru akan menginjak tujuh belas tahun bulan depan tapi hormonnya seperti tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Olive merasa tidak nyaman dalam arti yang sesungguhnya, sangat tidak sopan dan tidak bermartabat melihat beberapa bagian tubuhnya terekspose seperti *******. Olive kembali teringat bahwa dia sedang di jual,  dan dia hanya bisa kembali mencengkram kepalanya Olive benar-benar ingi menangis kali ini ....


Tiba-tiba suara pintu kembali terbuka.


"Kudengar kau tidak mau menyentuh makananmu."


Suaranya terdengar berat dan bergema layaknya suara laki-laki dewasa.


Olive yang sigap segera memeluk tubuhnya yang hanya di balut pakaian tipis hampir transparan jika dia berdiri, karenanya Olive memilih tetap duduk meringkuk di atas ranjang, Olive menunggu cemas saat langkah kaki itu mendekatinya.


" Makanlah, apa aku harus membujukmu," tiba-tiba pria itu sudah berdiri di depannya, aksen bicaranya agak aneh bagi telinga Olive,  dan gadis itu sama sekali tak berani menatapnya, dia masih merunduk memeluk dirinya sendiri seperti kepongpong kecil yang coba bersembunyi.


"Kau menangis? "


Tangan pria itu sudah ter ulur untuk mengangkat dagunya, jelas wajah lembab Olive yang penuh air mata itu tidak dapat dia sembunyikan lagi.


Saat itulah mata birunya menemukan sosok pria berambut gelap yang sudah berdiri menjulang tepat di depannya. Benar-benar gelap, bahkan lebih gelap lagi dari rambut Dominik, hampir hitam mungkin, Olive tidak yakin karena matanya masih berkabut karena air mata.


Pria itu tidak seperti siapapun yang pernah di lihatnya Apa dia manusia..???? bahkan Olive sempat menpertanyakan hal sebodoh itu di kepalanya.


Sulit di jelaskan bagaimana sepasang netra gelap itu seperti memiliki potensi untuk membuat tubuh bergetar hanya dengan menatapnya , begitu dominan dan tetap sulit di gambarkan dengan kata-kata yang tepat. Olive masih tidak bisa mencerna apapun kecuali tubuhnya yang mulai menggigil.


"Apa yang Anda inginkan dariku? "


Olive hampir ingin mati saat justru merasakan sentuhan pria itu ketika menyusuri bibir bawahnya  dengan lembut. Belum pernah dalam seumur hidupnya dia merasakan seorang pria menyentuhnya seperti itu, Olive sadar kali ini dia tidak akan bisa lari meskipun dia ingin. Mungkin dia akan mati setelah ini, Olive menyerah dan tidak akan berani lagi menatap sepasang Netra gelap itu. Dia mulai memejamkan mata dan menangis, Olive mulai berdoa dalam hati apakah akan ada pengampunan untuknya dengan kematian seperti ini.


"Jangan tutup matamu," terdengar nada tidak suka dari suara berat itu, dan Olive hanya bisa merasakan air matanya semakin deras meluncur jatuh saat tiba-tiba jari-jari hangat itu mengusapnya dengan lembut dan tidak menyakitkan hingga gadis itu memiliki keberanian untuk kembali membuka matanya perlahan. Olive menemukan sepasang Netra gelap itu masih menatapnya.


"Aku bisa mengerti kenapa dia menginginkanmu," suara berat itu kembali terdengar lembut saat pria itu sudah mendekatkan wajahnya untun menyusuri kulit lembit Olive yang ikut bergelayar oleh sensasi hangat yang membuat tengkuknya mulai meremang. Seperti sedang mengendus sesuatu dari tubuhnya, beberapa kali Olive merasakan desiran nafas hangat menyapu kulit lehernya.


"Kau harum," desiran nafas itu semakin membuat kulit Olive memanas, tubuhnya mulai kembali bergetar, karena bagaimanapun dirinya hanya gadis polos yang benar-benar ketakutan saat di sentuh pria.


"Tolong jangan menyakitiku," Olive berani mengatakannya karena dia tau mungkin akan memilih mati setelah ini.


Terdengar helaan nafas berat dari pria itu, " Jangan takut, aku tidak akan menyentuhmu meskipun aku  sangat menginginkannya untuk diriku sendiri, dan kau masih terlalu muda."


Pria itu sudah menjauhkan wajahnya dan kali ini Olive mulai berani menatap pria yang sudah kembali bersikap rilek di depannya. Ada kelegaan tiba-tiba dalam dirinya paling tidak dia tidak harus benar-benar menghadapinya sekarang, meskipun entah apa bedanya nanti apa dia masih bisa kabur, karena jika melihat pria di depannya itu, sepertinya dia memang bukan orang sembarangan.


"Nikmatilah harimu, karena aku tidak akan mengganggumu setelah kau makan sesuatu."


Pria itu mendekatkan makanan yang terakhir di antar pelayan.


"Katakan berapa Anda membeliku? "


Pertanyaan itu sepertinya agak mengejutkan.


"Membeli mu? "


Entah kenapa tiba-tiba Olive merasa ingin tau berapa Dominik menghargai dirinya.


"Aku tau pasti kakakku yang menjualku pada Anda."


"Kakakmu? " pria itu masih nampak tenang, meski dengan keterkejutannya yang aneh.


Olive mengangguk, "Ya, karena aku yakin dia tega menukarku mungkin hanya untuk beberapa botol anggur."


Pria itu tersenyum wajahnya terlalu datar untuk di baca. Mungkin dia bisa jadi mahluk pling menawan di seluruh peradaban umat manusia tapi dengan cara yang sama sepasang netra gelapnya itu jauh lebih menakutkan dari kematian.


Bibir olive kembali bergetar saat pria itu kembali mengangkat dagunya, tiba-tiba Olive merasakan tubuhnya seperti benda rapuh yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi debu hanya dalam sekali jentikan jari.


Olive sama sekali tidak bisa berpaling dari ketakutannya jangan sampai pria itu berubah fikiran karena mulut lancangnya ,dan kalinini Olive mulai menyesali rasa ingin taunya.


"Menukar wajah cantik ini hanya untuk beberapa botol anggur."


"Sepertinya aku sangat beruntung jika itu benar."


Olive lega ketika pria itu kembali melepaskannya, dan mulai berjalan perlahan mendekati jendela yang tirainya belum terbuka.


Seketika cahaya memenuhi ruangan, Olive sempat mengeryit, dan bingung mendapati tubuhnya yang nyaris transparan itu harus tertimpa cahaya matahari. Bukannya dia tidak menyadari bagaimana sepasang mata gelap itu menatapnya, reflek gadis itu segera mendekap tubuhnya. Olive benar-benar tidak menggunakan apapun di balik pakaian tipisnya, mungkin entah siapapun yang memberinya pakaian ini tidak mau repot.


Pria itu kembali berjalan mendekatinya. "Makanlah makananmu, aku tidak ingin melihatmu lemah," pria itu berhenti sejenak di depan Olive, masih memperhatikan kekikukan gadis itu yang coba menyembunyikan tubuhnya meski sebenarnya tetap sia-sia. Para pelayannya memang sudah cukup terlatih untuk menyiapkan para wanita di ranjangnya, dan Olive benar-benar tidak nyaman dengan cara pria itu menatap nya kali ini.


"Aku akan menemuimu lagi besok."


Setengah tidak percaya tapi


Olive lega pria itu akhirnya benar-benar  pergi.


Olive kembali memperhatikan tubuhnya setelah yakin pria itu benar-benar tidak akan kembali.


Kulit Olive berwarna putih dengan semburat stowbery, tapi kali ini Olive sadar dia pucat sepucat kapur, sepertinya dia memang butuh sinar matahari dan makanan.


*****