KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
BAB 48 Cool blood



sebelumnya sudah di ceritakan tentang kisah persaudaraan antara King Alzov dan adiknya Pangeran Artur yang akhirnya tetap berdamai meski hubungan mereka sempat merenggang .


di cerita selanjutnya ini kisahnya juga masih merupakan kelanjutan dari THE NORTH KINGDOM tapi di sini konflik mulai terjadi pada generasi selanjutnya saat putra dari Pangeran Artur yang merasa terusir dari lingkungan kerajaan, dan akhirnya pergi ke Utara untuk mengklaim tahtanya sendiri dari King Alzov yang tidak memiliki seorang putra**.


*COOL BLOOD*


Tubuh Pangeran James terhempas kelantai setelah ujung pedang Zontus tepat menembus jantungnya .


"Tiap pertarungan harus ada pemenangnya !" tegas Zontus yang tidak pernah merasa salah akan tindakannya.


"Jangan menyebut tiap tetes darah dari ujung pedangmu sebagai keadilan, karena itu hanya bukti dari keserakahanmu anak muda !"


Kali ini Zontus berjalan mendekati pamannya Raja Keive.


"Aku tidak menginginkan singgasana mu paman, karena itulah kubiarkan kau hidup untuk menikmatinya sampai akhir hayatmu, tapi tidak untuk putramu! "


Tunjuk Zontuz dengan ujung pedangnya yang masih meneteskan sisa darah segar bukti kebiadapannya mengahiri hidup putra pamannya.


Tubuh sepupunya masih tergeletak di lantai dengan bekas luka menganga di dada yang masih mengeluarkan darah segar.


"Seharusnya adikku tidak melahirkan iblis sepertimu Zontus !"


                               *****


**Buat yang belum paham sedikit ku jelaskan disini


Zontus adalah putra dari Pangeran Artur dan Putri Aurora, semantara Pangeran James adalah putra dari Pangeran Keive, yang kali ini sudah menjadi Raja menggantikan tahta Raja Roland, sehingga otomatis Pangeran James lah yang akan menjadi putra mahkota selanjutnya.


Jadi antara Zontus dan Pangeran James adalah saudara sepupu.


Kenapa akhirnya Zontus membunuh saudara sepunya sendiri, nanti kalian akan tau....


Cerita ini sendiri sebenarnya terdiri dari 4 cerita dalam satu series. kuharap kalian semua bisa mendapatkan Manfaatnya.


ok silahkan lanjutbbaca**


*****


*THE WICTH*


Raungan kepedihan seolah ikut menggetarkan seluruh langit hutan.


Bahkan sihir tergelappun tak sanggup untuk kembali menghidupkan kekasihnya.


Semua sudah sangat terlambat, bahkan darah penyihirnya pun tak mampu menolong lagi.


Menyaksikan sisa tubuh kekasihnya yang di bantai dengan sadis, dengan luka menganga membelah dadanya, kemurkaanpun seolah mengisi seluruh rongga dalam tubuhnya.


Jemarinya mulai bergetar hebat, menahan kepedihan dan kemurkaan yang hampir membuat tubuhnya ikut meledak, seketika triakan penyihir wanita itu seperti raungan kepedihanya yang memenuhi langit hutan.


Dendam seorang penyihir wanita bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.


                              *****


Kapan semua di mulai.....


Sejak manusia mulai memburu para penyihir, sebenarnya mereka sendiri tidak paham dengan mahluk apa yang sedang mereka buru.


Ada banyak garis darah berbeda dari tiap keturunan, garis paling murni adalah hal yang paling mustahil untuk di kenali, terkecuali oleh garis keturunan yang sama.


Pada suatu ketika Pangeran James sedang mengejar seorang penyihir tanah yang kabur kedalam hutan terlarang,  dan itu adalah kali pertama dia memasuki rimba gelap tersebut. Pangeran James tidak punya pilihan, penyihir tanah itu sudah cukup meresahkan warga karena sering menculik anak-anak dari desa.


Meski akhirnya Pangeran James berhasil memburu penyihir tanah tersebut dengan anak panahnya, namun Pangeran yang awam mengenai hutan terlarang tidak pernah menyadari bahwa duri semak di tempat tersebut pun cukup beracun untuk membunuh manusia dewasa hanya dalam hitungan jam.


Awalnya Pangeran hanya merasa agak linglung untuk menemukan jalan kembali, saat itu dia belum menyadari efek dari racun tanaman hutan tersebut. Pangeran merasa mulai berhalusinasi dan perlahan pandangannya menjadi kabur sampai akhirnya dia benar-benar kehilangan kesadarannya dan tubuhnya ambruk telah hempas ke tanah hutan.


Saat dia kembali sadar,  ternyata dirinya sudah berada di sebuah gubuk kecil sederhana dan seorang wanita seperti sedang mengobati beberapa luka di tubuhnya.


Wanita itu menempelkan semacam ramuan yang baru dia tumbuk kemudian di tutup kembali dengan dedaunan berwarna hijau tua seukuran telapak tangan. Ada cukup banyak dedaunan yang akhirnya menempel di tubuhnya, dan Pangeran baru sadar jika ternyata tubuhnya telanjang dan penuh luka.


Sungguh pangeran James tidak pernah menyangka jika goresan duri kecil saja mampu membuat kulitnya hampir membusuk seperti itu.


"Jangan bergerak," cegah wanita itu saat dia ingin bangkit.


"Aku sedang mengobati lukamu."


Sungguh bukan hanya rasa berdenyut di lukanya yang membuatnya tidak nyaman, tentu ketelanjangannya di depan seorang wanita muda itu lah yang jauh membuat sang pangeran tidak nyaman.


"Bisakah kau memberiku pakaian."


"Kurasa tidak untuk beberapa hari kedepan, paling tidak tunggu sampai lukamu cukup kering."


Pangeran menatap sepasang netra biru terang dengan surai hitam pekat yang nampak kontras, tapi sungguh dia mahluk terindah yang pernah ia lihat. Entahlah, karena seharusnya manusia tidak nampak seperti itu, begitulah insting sang pangeran segera bekerja. Pangeran James segera menghirup nafas dalam untuk memastikan kecurigaannya dan merasa lega karena tidak mendeteksi aroma darah penyihir pada wanita muda tersebut. namun meski demikian tetap tak mengurangi rasa tak nyamannya saat membiarkan seorang wanita menyaksikan ketelanjangnya.


"Siapa namamu? "


"Eluise," jawab gadis itu singkat.


Bahkan suaranya terdengar lembut dan bergema indah.


"Trimakasih...kau boleh memanggilku, James."


Wanita muda itu hanya mengangguk dan tersenyum ringan, dan baru  saat itu Pangeran James memperhatikan sepasang netra biru terang yang seolah menjebaknya bagai mantra sihir.


                        


Beberapa minggu berlalu dan tak terasa hampir satu bulan wanita itu merawatnya, bekas luka Pangeran James pun juga sudah mulai menghilang, namun kedekatan yang terjalin di antara mereka justru membuat mereka enggan untuk berpisah.


"Apa kau akan pergi? "


Pangeran James menggeleng saat menoleh gadis muda yang masih menggosok lembut punggungnya .


Gadis itu tersenyum, rambut panjangnya yang terurai nampak mengambang di permukaan air yang tenang. Mahluk yang indah itu mulai berenang mengitari sang Pangeran , sampai akhirnya dia berhenti tepat di depanya, mengaitkan kedua kaki di pinggangnya, menarik tubuh pangeran membawanya menyelam kedasar telaga. Sampai beberapa saat tubuh mereka berdua kembali muncul di sisi kolam yang lain, masih saling bertautan bagai dua mahluk yang tak terpisahkan mereka kembali berenang dan menyelam.


Selama mereka tinggal bersama Pangeran James sama sekali tidak menyadari adanya kejanggalan apapun pada kekasihnya, bahkan Eluise juga tidak peduli meski dengan sadar dia telah menyerahkan diri pada pemburunya.


                            *****