
SOUTH KINGDOM
enam bulan kemudian...
Enam bulan kemudian
Setelah Pangeran Artur menikahi Putri Aurora, mereka membawa serta Olive untuk tinggal bersama mereka . Olive mendapatkan pendidikan sebagai keluarga bangsawan, Putri Aurora juga sudah menjadi sahabat terbaik bagi Olive.
Putri Aurora sedang mengandung anak pertamanya dengan Pangeran Artur, mereka menjadi pasangan paling bahagia di seluruh negeri, dan semua orang ikut senang melihat kebahagiaan mereka, begitu juga dengan Olive.
Hamil muda ternyata tidak menjadi mudah bagi Putri Aurora, perutnya selalu memuntahkan apapun yang masuk lewat mulutnya, sering kali Olive ikut cemas melihat keadaan sang Putri.
"Benarkah Yang Mulia baik-baik saja? "Ini kali kelima Putri Aurora memuntahkan makanan paginya.
"Entahlah rasanya aku bisa memaafkan Artur karena kejahatan apapun tapi sepertinya tidak dengan yang satu ini."
"Fase ini akan segera berlalu."
"Darimana kau tau, aku memuntahkan semua isi perutku, sementara Artur bisa menikmati apapun yang ingin dia makan"... "Kau baru akan mengerti jika mengalaminya sendiri."
Tiap kali Olive hanya ingin tertawa melihat kelucuan Putri Aurora yang seperti sangat membenci pangeran artur belakangan ini.
"Putri sangat beruntung memiliki Pangeran Artur."
"Kau benar," Putri Aurora ikut ter tawa.
"Aku tidak tau bagaimana Putri bisa memaaf kan nya? "
"Entahlah mungkin karena aku terlalu naif, dia benar-benar membohongiku kau lihat sendiri."
"Pangeran Artur sangat mencintai Anda, Putri."
"Ya, tapi aku tidak tau ada orang tega berbuat seperti itu."
Kali ini Mara melihat Olive.
"Bagaimana denganmu? "
"Apa maksud Yang Mulia? "
"Kau juga pantas bahagia, Olive"
"Aku ikut bahagia hanya dengan melihat Putri dan Pangeran Artur bahagia."
"Pikirkan juga dirimu, Olive"
"Sepertinya aku tak seberuntung itu."
Tiba-tiba Olive terdiam...
"Sudahlah, dia bukan contoh yang baik untuk kau nilai, karena masih banyak laki-laki baik yang akan sangat beruntung memilikimu."
Mara tau kakaknya Keive sangat menyayangi gadis itu, tapi Mara bukannya tidak bisa merasakan sikap dingin Olive selama ini mungkin tidak lepas dari akibat perlakuan yang dia dapat selama di utara, lagi pula dia masih sangat muda.
Kadang diam-diam Olive juga berpikir, andai saja yang dikatakan King Alzov malam itu benar, mungkin dia juga akan bisa memaafkannya seperti Putri Aurora.
Jika kenaifan bisa mengubur segalanya sepertinya hanya Putri Aurora yang beruntung karena orang itu adalah Pangeran Artur, dan bukan kakaknya yang keras hati itu.
*****
NORTH KINGDOM
Seperti dosa kecil yang sulit di lupakan.....
Jujur King Alzov hanya bisa mengutuk dirinya sendiri tiap kali teringat kepolosan gadis muda itu saat mempercayainya, andai bukan karena Artur pasti dia juga tidak akan mengabaikan janjinya.
"Apa Yang Mulia sudah tau Pangeran Artur akan segera menjadi seorang ayah."
"Sampaikan aku ikut senang untuknya, Gabriel."
Pelayan itu sudah berniat untuk pergi sebelum akhirnya kembali berhenti untuk menengok kembali Rajanya yang masih berdiri memandang jauh keluar jendela.
Terlalu banyak perubahan yang dilihatnya dari Rajanya belakangan ini. Kadang Gabriel ingin memberitaukan yang sebenarnya tapi di lain sisi wanita itu juga belum siap jika harus mempertaruhkan masa depan Olive.
Tapi entahlah meskipun King Alzov tidak pernah menampakkan kesedihannya, tapi Gabriel seperti bisa ikut merasakan kesedihan seorang ibu saat putranya merasa tidak bisa menemukan kebahagiaannya.
"My Lord, benarkah Anda tidak ingin mengunjungi mereka? "
"Gabriel, aku sudah berjanji padamu, percayalah mereka akan jauh lebih baik tanpaku."
"Jangan terlalu bersedih, bukankah masih ada kau di sini, kau sudah lebih seperti Ibuku sendiri"
Kata-kata itu benar-benar mengharukan bagi seorang pelayan seperti Gabriel. Saat membesarkan mereka bertiga, Gabriel memang selalu menganggap mereka seperti anaknya sendiri, tapi tidak pernah terpikir olehnya jika diam -diam King Alzov juga akan menghormatinya sebesar itu.
"Oh...My Lord, maafkan aku, mungkin aku sudah menjadi orang tua paling egois karenanya," setelah kehilangan Claire dan pangeran Artur yang memilih pergi, Gabriel pikir dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Itulah kenapa Gabriel merasa kehadiran Olive menjadi satu-satunya hal berharga yang masih ia miliki.
"Maafkan aku, My Lord."
"Berhentilah meminta maaf dan menyebutku seperti itu."
"Apa yang Mulia tidak ingin tau kabar Olive ku? "
*****