
"Mara apa itu kau? "
Mara tau hanya kakaknya Keive yang memangilnya dengan nama itu.
Pangeran Keive sungguh terkejut melihat adik perempuannya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku tau kau pasti akan kembali."
Mara pun berlari untuk memeluk saudara laki-lakinya.
"Kemana saja kau, Gadis Muda?"
Mara baru ingat apa yang ingin di sampaikannya saat berlari pulang tadi.
"Kak, Olive ada di Utara."
"Jadi kau juga tau Olive menghilang?" Pangeran Keive kembali terkejut mendengar perkataan Mara barusan.
Mara mengangguk, "Aku baru tau dia ada di istana King Alzov."
"Apa!!! "
Mara tau saudara laki-lakinya itu sangat peduli dengan putri Lady Claire, Mara sadar dengan perhatian lebih yang diberikan pangeran Keive pada Olive selama ini, meski mungkin gadis itu sendiri masih terlalu polos untuk mengerti perhatian seorang pria.
"Bagaimana kau bisa tau? "
Tentu Mara sedang tidak ingin membahas Artur atau Theo entahlah dia tetap pemburu berengsek yang menipunya. Mara merasa dirinya sangat mengenaskan karena telah jatuh Cinta pada salah satu dari mereka yang ternyata sama saja.
"Hanya satu hal yang aku yakin, baik pangeran Artur ataupun King Alzov mereka sama berengseknya."
"Kurasa kau bicara seperti itu karena kau kabur dari pernikahanmu."
Sungguh Mara sedang tidak ingin membahas masalah itu kali ini, walapun saya benarnya gadis itu masih ingin mendebatnya.
"Percayalah, Kak, kita harus segera menemukan Olive."
Sunggub Marra sangat mencemaskan gadis itu.
*****
NORT KINGDOM
Sementara itu jauh di negri Utara, Olive dan ketidak pastian nasibnya tiap kali hanya bisa mengatasi ketakutan nya seorang diri. Olove memang sangat menghargai kebaikan King Alzov yang telah mengobati punggungnya, tapi terlepas dari itu semua bukan berarti Olive tidak mendapat kan konsekuensi dari kemarahan Rajanya, karena selanjutnya Olive benar-benar merasakan menjadi tawanan di puncak kastil dan hanya ada pelayan dan pengawal perempuan yang bisa menemuinya.
Belakangan Olive merasa perkataan Edmun ada benarnya, Raja mereka memang sinting. Olive mulai berpikir untuk kabur lewat jendela andai saja kamarnya tidak terletak di menara paling tinggi hingga dia sendiri tidak bisa membedakan pohon dan rerumputan dari jendela kamarnya.
Sekarang yang bisa Olive lakukan hanyalah menunggu keajaiban.
*****
Dengan bantuan seorang pelayan wanita Edmun berhasil membawa Olive keluar benteng dengan menyembunyikannya di antara tumpukan jerami pakan ternak.
"Apa kau baik-baik saja? " tanya Edmun cukup hawatir melihat rambut berantakan Olive begitu keluar dari dalam jerami.
"Seperti yang kau lihat aku masih bernafas."
"Maaf, kita tidak punya banyak pilihan, setelah ini kita masih harus menyebrangi beberapa anak sungai, karena hanya itu jalan teraman menuju hutan terlarang, aku akan mengantarkanmu kembali kekeluargamu."
"Terima Kasih, Edmun."
Olive hanya bisa memeluknya sekilas, kemudian kembali membenahi gaunnya yang masih ikut kotor karena sisa jerami yang masih menempel.
"Tapi maaf Olive mungkin aku hanya akan mengantarkanmu sampai di tepi hutan."
"Tunggu, kupikir kau akan ikut bersamaku."
Edmun menggeleng.
"Akan ada yang menjemputmu di sana."
Selanjutnya Olive tak banyak bertanya lagi, dia cukup percaya pada Edmund, ia haya diam sepanjang perjalanan sampai mereka mulai memasuki tepi hutan terlarang . Olive sadar saat pepohonan semakin rimbun dan nampak suram, Olive mengekor saat Edmund membawanya melalui jalan setapak.
"Dia yang akan membawamu menyebrangi hutan terlarang."
Nampak sosok seorang pria baru saja keluar dari balik pohon yang cukup besar, Olive baru sadar ada dua ekor kuda diikat tak jauh dari pohon besar tersebut.
"Dia akan menjagamu lebih baik dari pada siapapun, percayalah."
"Pangeran Keive," tentu Olive mengenalinya.
"Terimakasih, Edmun," kata pemuda itu setelah lebih dekat.
" Ini sudah tugas saya, Pangeran."
"Olive, apa kau baik-baik saja? "
Olive hanya mengangguk karena syok, bagaimana bisa Pangeran Keive ada di sini????...
Tentu Olive bisa mempercayainya lebih dari siapapun, tapi bagaimana dengan Edmun. Olive tidak berani membayangkan apa yang bakal menimpanya jika pemuda itu memilih untuk tinggal.
"Ikutlah Edmun, ikutlah bersama kami."
"King Alzov akan tau kau lah yang membantuku kabur."
"Jangan mencemaskanku."
"Kenapa kau tidak mau pergi?"
"Aku harus menjaga ibu dan kedua adikku, percayalah kami sudah tidak punya saudara lagi di sini untuk menitipkan mereka."
"Aku benar-benar mencemaskanmu."
"Pergilah Olive, waktu kita tidak banyak."
Olive menghampiri kuda yang sengaja di bawa pangeran Keive untuknya.
"Terimakasih, Pangeran."
Pangeran Keive hanya tersenyum.
"Ayo kita harus lekas pergi."
Mereka berdua mulai memasuki hutan terlarang, kuda Olive mengejar Pangeran Keive yang sudah lebih dulu di depannya. Mereka harus mempercepat kudanya karena bagaimanapun mereka tidak ingin bermalam di hutan mengerikan tersebut.
Seperti menyadari kehadiran sesuatu yang janggal, kuda yang di tunggangi Olive tiba-tiba memkik dab berputar, Olive mulai panik Pangeran Keive coba membantunya tapi tiba-tiba beberapa mahluk melata seperti bermunculan dari dalam tanah yang terbelah. Kuda Olive melompat sampai melemparkan tubuhnya begitu pula Pangeran Keive.
Pangeran Keive coba meraih pedang yang tertinggal di punggung kudanya, namun mahluk itu bergerak lebih cepat dan menghempaskan tubuhnya berulang kali. Bahkan tiap kali Pangeran Keive coba kembali berlari ke arah Olive mahluk itu selalu lebih dulu menghempaskan tubuh sang pangeran dengan ekor bergeriginya. Untuk kesekian kali Olive menjerit menyaksikan tubuh Pangeran Keive terpental-pental sedemikian rupa, meski sang pangeran belum juga menyerah tapi monster-monster tersebut tetap bukan lawan yang seimbang untuknya.
"Lari olive! "..."lari! " Triak pangeran Keive untuk kesekian kalinya.
Olive menoleh kudanya ragu, tidak mungkin dia meninggalkan Pangeran Keive dan mahluk itu meski tak banyak juga yang bisa dia lakuakan.
"Lari Olive! " triak Pangeran Keive lagi..
Oh Tuhan.....!!!
Olive baru menyadari siapa yang datang kemudian.....
King Alzov dengan kemurkaannya sedang menunggangi kuda hitam berlari kearah mereka.
Olive segera naik keatas punggung kudanya, tanpa berpikir lagi gadis itu segera menghentakkan kaki untuk memacu kudanya berlari. Olive merasakan bagaimana tangannya bergetar ketika menggenggam kekang kuda. Dalam kepanikan seperti itu Olive hanya bisa membawa kudanya berlari tak tentu arah, baginya dia hanya ingin lari sejauh mungkin dari King Alzov yang masih mengejarnya.
Kemampuan Olive berkuda bisa dibilang lumayan untuk ukuran wanita, selama kudanya masih kuat berlari dia tidak akan mengalah.
"Hentikan Olive!!! "
Triak King Alzov setelah cukup dekat, Olive bisa merasakan kemurkaan pria itu tapi dia tidak peduli dan membiarkan King Alzov mengejarnya. Tanpa perlu menghiraukan teriakan tersebut, Olive justru mempercepat laju kudanya. Meskipun sebenarnya percuma karena sebenarnya begitu mudah bagi King Alzov untuk mengejarnya, tapi Olive sepertinya hanya ingin membuat King Alzov kesal. Padahal saat kuda King Alzov sudah berada tepat di belakangnya...
"Berhenti Olive!!! "
Gadis itu kembali mengabaikannya...
"Gadis keras kepala!"
King Alzov coba menyambar tubuhnya namun Olive berhasil berkelit dan kembali membawa kudanya yang terseok terus berlari menyebrangi padang rumput terbuka.
Olive menoleh kebelakang tanpa mengurangi kecepatan kudanya, saat itu Olive hanya dapat melihat King Alzov dari balik rambut panjangnya yang berkibar-kibar, dan King Alzov masih belum menyerah untuk mengejarnya.
Benar-benar di luar dugaan, karena kali ini King Alzov lah yang tiba-tiba justru melompat keatas punggung kudanya.
Olive yang panik mendapati lengan King Alzov sudah mecekal pinggangnya, reflek Olive menarik tali kudanya sampai kuda itu ter jungkal dan mereka berdua bersamaan terlempar berguling ke tanah. Punggung Olive membentur tubuh King Alzov yang jatuh di bawahnya.
King Alzov juga tidak menyangka kuda itu akan melemparkannya. Olive coba berguling belum menyerah, tapi King Alzov kembali lebih dulu menangkap nya. Olive yang menggila masih coba melepaskan diri sampai mereka kembali bergulat di atas tanah basah yang agak berlumpur.
"Hentikan Olive!!! "
Olive tidak peduli tubuhnya mulai ikut penuh lumpur, demikian pula dengan King Alzov.
"Lepaskan aku," geram Olive dengan bibir berdesis karena marah. Entah adrenalin dari mana hingga dia berani marah pada sosok seperti King Alzov.
Lengan King Alzov masih menahan tubuhnya, dan sekali lagi Olive mencoba lolos dengan menggigit lengan pria itu.
Entah bagaimana Olive bisa kembali berkelit, dia mengambil sebongkah lumpur kemudian melemparkannya tepat mengenai kepala King Alzov yang tak bergeming, bahkan Olive tak peduli jika King Alzov akan semakin murka setelahnya.
Olive berhasil lolos, sayang tak butuh waktu lama bagi King Alzov untuk kembali mejerat kakinya . Ternyata cukup merepotkan hanya untuk menangkap seorang gadis , King Alzov sampai ikut mengabaikan tubuhnya yang jadi ikut peuh lumpur.
"Diam, kau boleh menggigitku!!! " King Alzov menyampirkan Olive kepunggungnya layaknya sekarung gandum, dan benar saja King Alzov tak bergeming mengacuhkan segala usaha gadis itu untuk menyeranng nya.
Olive tidak tau King Alzov akan membawanya kemana setelah ini, jika mengingat kemurkaannya tadi mungkin dia akan dilempar untuk dijadikan makanan monster melata penghuni hutan. King Alzov masih membawanya berjalan tanpa mengajaknya bicara sama skali . Jelas semurka apa dadanya yang sedang bergemuruh kali ini, Olive sendiri tidak berani bersuara,gadis itu pasrah jika harus menghadapi kemarahan penguasa Negri Utara tersebut.
Olive mendengar suara deru air dan udara lembab menerpa wajahnya, Olive coba mendongak untuk mencari tau, dari balik punggung King Alzov dengan posisi kepala ter jungkal yang ternyata hanya semakin membuat kepala pening.
Oh..... Olive sadar mereka ada di tepi tebing, dan gadis itu belum sempat berpikir saat King Alzov tiba-tiba membawanya terjun bebas menjatuhkan tubuhnya.
Olive hampir pingsan menyaksikan tubuhnya meluncur terbang bebas sampai terjebur kedalam air yang serasa seperti menelan tubuhnya. Olive bisa berenang tapi tidak dalam keadaan seperti ini, tangannya mengais-ngais keatas dia hampir kehabisan oksigen dan sempat menelan air saat tiba-tiba lengan King Alzov kembali menariknya kepermukaan.
Olive tidak peduli dia hanya ingin menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk kembali memenuhi paru-parunya. Mungkin hanya King Alzov yang gila, orang lain akan lebih memilih pancuran atau berendam di bak air hangat untuk membersihkan diri, bukannya terjun bebas seperti aksi bunuh diri seperti yang baru saja mereka lakukan. Olive hanya ingin mengutuk King Alzov yang kali ini sungguh sangat dekat dengannya, lengannya menahan tubuh Olive agar tetap mengambang karena tubuhnya terasa lemas saat King Alzov membawanya berenang ketepi sungai , entahlah mungkin dia pingsan saat itu.
*******