KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 46 you're mine



Seperti malam-malamnya yang lain, Olive  duduk di ujung ranjangnya, semakin hari rasanya hanya seperti menunggu kematian.


Dia masih belum mengerti apa yang dia pikirkan, bukankah seharusnya dia masih membencinya.


Meski mungkin King Alzov membencinya karena dia putri Claire, tapi dalam kediamannya jujur Olive tetap tidak bisa membenci pria itu.


Di balik wajah kerasnya itu Olive tau King Alzov memiliki sesuatu yang hangat jauh di dalam sana, jauh ditempat yang tidak dia biarkan siapapun menyentuhnya. Mustahil, karena bagaimanapun dia tetap sang penguasa Utara yang terlahir bukan untuk merendahkan dirinya demi apapu.


Sulit dimengerti bagaimana Olive bisa mempercayainya, meski segalanya terasa benar saat mereka bersama, tapi tiap kali juga dirinya merasa di telantarkan oleh keangkuhan King Alzov.


Jika semua hanya bagian dari mimpi yang salah seharusnya dirinya sudah terbangun. Bukankah semua pada saatnya akan terlupakan,dan negri Utara pun jiga sudah semakin jauh, sama halnya harapannya yang tidak akan pernah datang.


Pada saat Olive ingin menyerah seperti ini semua pikiran itu membuat Olive mual.


Dari awal seharusnya dia tidak percaya dan memimpikan apapun, berulang kali Olive kembali mengingatkan dirinya.


Mungkin karena lelah sampai akhirnya tanpa sadat Olive sudah tertidur di tepi ranjang meringkuk memeluk tubuh kecilnya.


King Alzov tidak ingin mengusik tidur gadis itu, wajahnya nampak lelah dan kulitnya agak pucat. Seharusnya dia baik-baik saja...pikir King Alzov tanpa berani menyentuhnya meski keinginan itu sangat menggoda.


Baginya Olive tetap berhak mendapatkan hidup yang normal. Kelak saat gadis itu menyadari segalanya, pasti dia akan segera membenci dirinya. Tapi King Alzov yakin waktu mereka masih cukup panjang untuk saling memaafkan kelak...


Tubuh Olive hampir menggigil saat hembusan angin akhir musim gugur menyentuh kulitnya. Olive langsung terjaga dan mendapati jendela kamarnya yang terbuka.


Matanya mencari ke sekeliling, mencari sosok yang mungkin berdiri di sana. Meski ingatan terahir Olive tentang ular betina yang tiba -tiba muncul di kamarnya saat itu masih sangat mengerikan untuk di bayangkan, tapi kali ini dia tidak takut, seolah Olive memang sudah bisa merasakan kehadirannya.


"Kenapa tidak Anda matikan semua lilinnya My Lord...." bisik Olive dalam keheningan, dia melihat beberapa lilin yang masih menyala. Tentu karena King Alzov masih ingin melihat wajah gadis itu saat tertidur tadi.


Olive masih tak menemukan apa-apa sampai sesosok bayangan hitam itu mulai muncul di bawah temaram cahaya Bulan yang setengah tertutup awan. Perlahan siluetnya mulai nampak jelas, berdiri tak begitu jauh darinya. Kali ini Olive bangkit untuk mendekatinya lebih dulu.


King Alzov ada di depannya, di hadapan Olive.


Jujur King Alzov tidak mengerti dengan reaksi gadis itu, Olive masih menatapnya tanpa ekspresi senang atau marah. Sampai cukup dekat tangan lembutnya mulai memukul dan mencakar dada nya yang masih tak bergeming. Seperti ada kemarahan tertahan yang coba dia sampaikan gadis itu, namun King Alzov masih berdiri kaku, menunggu Olive selesai meluapkan kekesalannya, lagi pula pukulan itu sama sekali tidak menyakitinya.


Olive baru berhenti beberapa saat dengan nafas kepayahan.


"Andai aku bisa akan ku keluarkan iblis itu dari dalam sana!" satu telapak tangan Olive masih bergetar menyentuh dada pria di hadapannya.


Kin Alzov yang masih berdiri tak bergeming, tapi dalam kekerasan hatinya itu kadang dia juga berpikir, andai saja dirinya bisa menjadi seorang pria saja, hanya seorang pria... Hal sederhana yang di inginkan gadis di depannya, tapi dia tau itu tidak mingkin.....


"Itu bukan diriku, kau tau itu," tegas king Alzov.


Tentu dia tetaplah King in the North yang namanya saja membuat seribu prajurit gentar, mengharapkannya menjadi orang biasa hanyalah mimpi yang mustahil, Olive tau itu.


Tiap kali Olive muak dengan   keangkuhan aristokrat Raja negri Utara itu.


"Aku membencimu, sungguh membencimu," kutuk Olive, air mata mulai memenuhi bening matanya yang berkabut.


Olive meraih tangan King Alzov dan membawanya ikut menyentuh perutnya.


Otot lengan King Alzov seketika menegang, dadanya bergelepar ketika merasakan ada yang berdenyut di sana. Dan kali ini matanya terpaku pada sepasang Netra biru pucat Olive yang seperti  ter bungkus kaca cair.


"Dia hidup."


King Alzov sadar jika jantung kecil yang berdetak itu adalah hasil dari perbuatannya.


Mungkin karma memang ada,  dan kali ini King Alzov baru mengerti seperti apa rasanya.


"Sial Olive, sepertinya kau akan membuatku melanggar sumpahju sendiri."


Sekarang lantas apa beda dirinya dan Ramolus yang ia sebut penghianat itu. Tapi, Persetan...!!! bagi King Alzov yang sepertinya memilih tak peduli.


Dengan dua lengannya dia mengangkat tubuh Olive yang terasa ringan kembali ke atas tempat tidur, membaringkannya dengan lembut dan hati-hati. Rambut gelap Olive mengembang di atas hamparan sutra, nampak indah tergerai membingkai wajah lembutnya yang tak berdosa. Gadis muda yang mustahil untuk bisa ia tolak.


King Alzov masih menatap sepasang mata biru Olive, meski dia tau sudah tidak ada yang bisa menghentikannya kali ini. Menjadikan dirinya sesuai dengan gadis muda itu tentu bukanlah sesuatu yang mudah bagi King Alzov, terlalu banyak hal yang coba ia tahan selama ini, tapi kali ini dia tau gadis muda itu akan bertahan dengan dirinya.


Olive mulai menggigit bibir bawahnya sendiri, mencegahnya berteriak dan membangunkan semua orang. 


                             *****


Olive masih tertidur pulas saat tangan King Alzov kembali meraba perutnya yang masih rata.


Malam sudah hampir menjelang pagi, tak seharusnya King Alzov masih berada di kamarnya.


King Alzov baru sadar jika sepasang netra biru itu sudah menatapnya.


"Besok adalah pernikahanku, tapi Anda justru membuatku tidak ingin hidup lagi sampai hari itu," Olive merasa putus asa karena membiarkan dirinya kembali  menyerahkan dirinya pada pria yang salah.


King Alzov ikut menatapnya, Olive ingat bagaimana sepasang netra gelap pekat itu bisa menghangat saat mereka bersama ....


"Sebenarnya kita bisa pergi," King Alzov memang bisa mengabaikan segalanya, tapi kali ini justru Olive yang menggeleng.


"Sepertinya aku juga tidak bisa hidup dengan mahluk sepertimu."


Tiba-tiba King Alzov sudah kembali berada di atas tubuh Olive yang masih berbaring polos. Olive bisa merasakan kedua lengan liat King Alzov yang ikut berdenyut. Ada kemarahan yang sulit untuk di cerna, Olive coba menyingkirkan pikiran itu tapi rasanya percuma, karena justru dirinya semakin terjebak di sana.


"Pertama aku tidak bisa membunuhmu, kedua aku akan tetap membawamu pergi meskipun kau menolak," dan baru kali ini King Alzov merasa keputusannya  benar.


Bukan hanya karena tumbuh darah  dagingnya di sana, tapi karena dia benar-benar baru sadar jika, Artur benar.


Bahagia itu mungkin ... asal kita memilihnya.....


 Seperti kebahagiaan sederhana yang sempat dibayangkannya beberapa menit lalu, dan tiba-tiba sekarang dia rela mati untuk itu, meski kematian hanya kiasan belaka karena nyatanya tidak akan sesederhana itu baginya.


"Tidak! " tolak Olive tetap tegas menggeleng....


"Jangan menolakku !" King Alzov coba kembali mengintimidasi.


"Lihat, kau akan terus melakukannya sampai aku bosan hidup hanya untuk menunggu janjimu." tegas Olive.


Olive masih ingat jelas malam pertama King Alzov memintanya untuk bersama, dan janji itu lah yang masih coba dia pegang sampai detik ini.


"Kau punya segala kemampuan untuk menuruti keinginanmu, sebaliknya aku seperti hanya bisa menunggu belas kasihanmu setiap kali."


Itulah kenapa Olive merasa semua hanya akan menjadi hubungan yang sulit kedepannya.


King Alzov nampak berpikir, dan heran jika ternyata justru Olive masih mengingat janji sederhana itu, tapi ada kebahagiaan luar biasa yang tiba-tiba di rasakan oleh King Alzov dari hal itu ....


Mungkin Olive hanya belum sadar sudah seterikat apa mereka sekarang.


"Kau boleh memiliku, selamanya...!"


Ulang Sang Kingdom kembali menegaskan.


Olive masih menatapnya untuk berpikir tapi sepertinya pria itu sudah kembali merenggut tubuhnya tanpa memberi kesempatan untuk menolak.


Selamanya......


Bahkan mungkin Olive pun belum memahami dengan benar makna selamanya ... yang baru saja ditawarkan  King Alzov.


Olive hanya ingin menyentuhnya,  jari-jari lembutnya menyusuri tiap inci keindahan luar biasa  yang bisa dari mahluk yang begitu menawan.....King Alzov dan segala kesempurnanya......  meski mungkin iblis itu masih bersemayam di dalam sana, tapi Olive sudah tidak perduli,  mungkin gadis itu bahkan rela untuk ikut terbakar bersamanya.


"Sepertinya kau akan membuatku menjadi penghianat dan pencuri."


Selama ini Olive sebenarnya juga penasaran bagaimana tiap kali King Alzov bisa datang dan pergi melewati jendela kamarnya.


Tanpa menunggu persetujuan gadis itu, King Alzov menyambar tubuh Olive membawanya melompat melalui jendela yang masih terbuka.  Seketika Olive merasakan hembusan angin malam saat tubuhnya meluncur turun, tidak seperti terjun bebas atau terlempar jatuh daribjendela, karena gerakannya ringan dan tepat saat tubuh King Alzov kembali membawanya menginjak tanah. Olive masih tidak mengerti manusia bisa berbuat seperti itu, layaknya elang yang bergerak tenang tanpa harus mengepakkan sayap. Olive baru sadar dialah elang itu, kali ini dia menatap sepasang Netra gelap King Alzov.


ELANG HITAM....


Olive ingat pola tinta hitam di punggung King Alzov yang menyerupai cakar tajam atau mungkin sayap-sayap runcing. 


"Bagaimana kau naik? " mungkin itu pertanyaan paling bodoh yang pernah King Alzov dengar.


"Kau penasaran sekali,"


Olive yakin hampir melihat wajah keras itu tersenyum, dan ada yang menghangat dari sudut matanya yang mengernyit. Entah bagaimana dia masih bisa terlihat begitu luar biasa menawan dengan ekspresi geli seperti itu.


Olive  kembali memeluknya lebih erat dan mengangguk pelan ....


King Alzov kembali membawanya melompat, tidak sampai setinggi menara kamarnya tapi cukup untuk membuat Olive mengerti. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata kali ini mereka mendarat di atas punggung seekor kuda.


Kuda hitam yang besar, sama sekali tidak seperti kuda manapun yang pernah Olive lihat.  King Alzov melepas jubahnya untuk Olive, memastikan gadis itu bersandar dengan nyaman di pangkuannya sebelum kemudian menyentak pelana kudanya, dan mahluk itu membawanya meluncur menembus kegelapan hutan seperti peluru hitam.


                             *****