KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 2 morning Marra



"Gadis sepertimu mau ke utara? apa kau yakin tidak akan tersesat atau jatuh kedalam lumpur?"


Marra hanya tidak ingin tersinggung dengan ejekan pemuda itu, karena bagaimanapun Theo benar. Marra juga tidak yakin. Tapi tiba-tiba Marra juga mulai berpikir, mungkin memang hanya tempat itu yang bisa menyelamatkannya, karena tidak akan pernah ada yang menyangka gadis seperti dirinya akan berani pergi ke utara.


"Kau tau seperti apa di utara?"


"Mungkin lebih dingin," bukannya Mara tidak tau apa yang dimaksut pemuda itu, Mara hanya berpura-pura mengacuhkan kecemasannya tentang hal itu.


Negeri Utara adalah kekuasaan King Alzov, semua orang tau nama besar dan arogansi penguasa itu.


Ada kisah tentang bagaimana hutan terlarang menjadi pemisah antara negeri Utara dan Selatan yang tak ter tembus hingga sekarang, kecuali hanya oleh orang-orang tertentu.  Hanya ada satu kerajaan besar di Utara yang juga sering dijuluki dengan North Kingdom yang abadi, jelas sangat berbeda dengan peradapan di selatan yang masyarakatnya terbagi dalam beberapa kerajaan besar dan kecil yang damai dan tenang.


Seperti kerajaan Raja Roland salah satunya, tanah kelahiran Mara yang makmur dan damai. Tentu gadis itu tidak ingin pergi andai saja ayahnya Raja Roland tidak gegabah memaksanya untuk menikah dengan Pangeran Artur. Karena alasan itu gadis polos seperti Mara sampai bermimpi untuk menyebrangi hutan terlarang, meskipun dia seorang Putri sekalipun, bukan berarti dia tidak bisa lenyap kedalam hutan yang penuh mahluk tanpa belas kasihan itu.


"Kau masih yakin akan pergi kesana ?" ulang Theo.


Mara sudah siap dengan kudanya saat Theo kembali bertanya dan tiba-tiba Mara sudah terlanjur yakin dengan keputusannya kali ini, karena jika Marra berbalik arah pasti akan terlihat aneh, entahlah Mara tidak mau Theo menertawakannya seperti pengecut.


"Aku bisa mengantarkanmu kesana jika kau mau."


Mara masih mencerna keseriusan pemuda di depannya dan Gadis itu justru balas menatapnya curiga.


"Tentu jika kau membayarku," imbuh Theo, dam entah kenapa jawaban itu sepertinya justru membuat Mara lega.


Tentu Mara paham, "Aku punya uang," sepertinya ini jalan terang bagi Mara.


"Tapi apa kau yakin tau jalan kesana? ", sinis Mara curiga jika pemuda itu hanya coba membodohinya, "ingat dia tega mencuri, Mara !" otak warasnya coba kembali mengingatkan.


"Kau pikir kemana aku menjual hasil curianku."


"Tentu saja..., " bating Marra, memang terdengar sangat luar biasa tapi sekali lagi itu cukup melegakan.


"Baiklah, kita sepakat!" tegas Mara.


Theo hanya tersenyum.


"Kapan kita bisa pergi? "


"Mungkin minggu depan."


Dan Mara terkejut, "Aku tidak bisa menunggu selama itu" Mara coba mencari alasan. "Aku tidak bisa kembali ke kota."


Dahi Theo berkerut, "Jangan bilang kau juga melakukan kejahatan gadis muda."


"Itu bukan urusanmu !"


"Lucu sekali, jangan lupa kau mencuri anak muda."


"Kau salah, aku lebih tua darimu."


"Oh, katakan saja berapa aku harus membayarmu? " anggap saja Mara sudah kehabisan akal, dari pada harus berdebat.


Theo nampak berpikir sejenak, "Kau bisa ikut denganku."


"Kemana?"


"Pulang."


"Kau punya rumah?"


Tentu dia punya rumah....Mara merasa bodoh karena tidak pernah memikirkannya. Semua orang punya rumah untuk tinggal, meski mungkin bukan istana seperti tempat tinggalnya.


"Tenang saja tidak akan ada yang menemukanmu di sana."


"Apa itu jauh? " Mara hanya memastikan.


"Tidak terlalu jauh dari sini."


"Kau bilang punya rumah tak jauh dari sini dan kau memilih bermalam di dalam hutan," bagi Mara itu aneh "Kenapa tadi malam kau tidak pulang saja kerumahmu?"


"Bukankah aku sudah bilang untuk menemanimu."


Oh... bodoh jika Marra pikir bisa mempercayai pemuda ini, insting Marra kembali waspada ....


Mara sudah berniat untuk pergi saja mengacuhkan tawaran bodoh tersebut, tapi nyatanya dia masih membeku di atas punggung kudanya, walaupun rasanya mustahil membiarkan orang asing membawanya pulang.


Sepertinya Theo cukup menangkap kecemasan gadis itu, "Jangan khawatir aku tidak akan bersikap tidak sopan padamu."


Mara masih menilai, dan tidak ingin gegabah.


"Tentu selama kau membayarku," imbuh Theo.


"Jangan khawatir aku akan membayarmu," jawab Mara kaku.


"Aku percaya," Theo memutar kudanya lebih dulu. "Ingat aku bisa meminta bayaran yang tidak sopan jika kau berani membohongiku," bisik pemuda itu saat berjalan melalui Mara lebih dulu. Marra tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengekor di belakangnya.


*****