KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 38 morning Olive



Mara datang begitu pagi untuk mengetuk pintu kamar Olive, bukannya pelayan seperti biasa, kali ini sang Putri sendiri yang datang.


Olive sudah mandi dan berganti pakaian, karena semalam dia tidak memiliki kesempatan tidur jadi Olive memutuskan untuk segera mandi sebelum pagi.


Setelah semalam kekhawatirannya jadi berlebihan, siapa tau orang lain bisa mencium aroma yang tertinggal di tubuhnya. Olive berendam cukup lama pagi tadi meskipun dia tau tidak mungkin semua orang memiliki penciuman seperti King Alzov.


"Boleh aku tau kenapa kau nampak segar sepagi ini? " sambut Mara saat mengitari ranjang Olive yang sudah rapi kemudian dia duduk diatasnya dan masih sambil memperhatikan Olive.


Pipinya lebih merona pagi ini, tiap kali senyumnya mengembang dari bibir penuhnya yang merah alami di pagi hari, matanya berbinar dia nampak bahagia. Mara tidak terlalu bodoh untuk menebaknya, dia juga pernah jatuh Cinta, tentu saja Pangeran Artur selalu membuatnya merasa luarbiasa di pagi hari.


"Olive katakan mungkin ada yang ingin kau ceritakan padaku?" Mara benar-benar berharap Olive mau bercerita tentang apa yang dilakukannya dengan Pangeran Keive kemarin.


"Putri, sepertinya tidak ada yang menarik dariku untuk diceritakan."


"Ceritakan tentang kakakku."


Olive terkejut meski tetap berusaha tenang.


"Pangeran Keive sangat baik."


"Kau yakin hanya itu? " pancing Mara mulai membuat Olive salah tingkah.


"Tunggu, siapa yang membuatmu tersenyum sepanjang pagi ini?"


Oh... Olive tiba-tiba merasa ada yang salah dengan senyumnya, tentu Putri Aurora tidak bodoh .


Mara masih menunggu saat Olive mulai kembali tersipu, sebelum kemudian kembali melihat Mara dan menggeleng.


Mara bisa menangkap senyum yang tiba-tiba pudar di wajah gadis itu, jelas Olive cemas bagaimana jika Putri Aurora sampai tau, dan sampai kapan dia bisa menyembunyikan pria besar yang sering diam-diam menyusup ke kamarnya. Sementara perhatian Pangeran Keive jelas akan semakin sulit untuk di abaikan. Oh... Olive meras serba salah kali ini...


Ingat bagaimana King Alzov sangat tidak menyukainya dekat dengan siapapun. Mungkin lebih baik Olive mulai memikirkan cara untuk memberitau mereka seandainya dia ingin mulai mempertimbangkan tawaran King Alzov untuk ikut bersamanya.


"Putri bolehkah aku bertanya? "


"Tentu," Mara menunggu.


"Setelah Putri tau semua yang dilakukan Pangeran Artur, kenapa Putri memilih untuk memaafkannya ?"


"Kau ingin tau seperti apa rasanya? " Mara tersenyum.


"Kau akan memaafkannya lagi, dan lagi.... Memilihnya lagi...dan lagi...karena akhirnya kami sadar kami tetap ingin bersama."


Semua itu terasa benar bagi Olive, jika mengingat apa saja yang telah dilakukan King Alzov, kenyatannya dia masih menginginkannya lagi...dan lagi... memaafkannya lagi...dan lagi...


"Sepertinya kau sedang jatuh Cinta Olive," tebak Marra yang ikut tersenyum bahagia.


Olive bingung apa yang harus di katakannya sekarang.


Pangeran Artur yang tiba -tiba muncul seperti dewa penyelamat baginya.


"Mara aku ingin mengingatkanmu tentang perjamuan Raja Roland malam ini."


"Oh aku hampir lupa, sebaiknya kusiapkan hadiah untuk kakakku."


"Tapi Putri aku.. "Olive ter gagap bingung.


"Tenang aku akan membantumu, aku tau apa yang di inginkan pria," kata Pangeran Artur menyela.


"Oh terimakasih Artur, bantu Olive aku akan bersiap dulu."


Mara segera pergi meninggalkan mereka berdua...


Tinggal Olive dan pangeran Artur disana, tadinya Olive benar-benar ingin bertanya hadiah apa yang sekiranya pantas tapi buru-buru sikap janggal Pangeran Artur mengalihkan perhatiannya.


"Olive kau bisa membohongi Mara, tapi tidak denganku! "


Olive nampak bingung mencerna maksut Pangeran Artur yang masih berjalan mengelilingi kamarnya.


"Katakan padaku kenapa ada begitu banyak aroma saudaraku di sini? "


Olive tercengang..... Tentu saja dia bisa merasakannya, bodoh sekali Olive, mereka saudara....


"Pangeran aku tidak berani. "


"Apa dia coba menyakitimu?" Tebak Artur.


Olive menggeleng.


"Sial, seharusnya aku tau dia pasti mendatangimu."


"Ma'af, Pangeran Artur... "


"Aku tau persis seperti apa saudaraku," Artur menghela nafas berat, "jangan sampai Mara tau tentang ini."


Olive mengangguk sebelum kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Dia memintaku ikut ke Utara."


"Sudah kuduga dia akan melakukannya, "Artur coba kembali menghela nafas, "kau tau Mara tidak akan senang mendengarnya."


"Aku akan tinggal bersama kalian. "


"Aku tidak selalu setuju dengan Al, apapun itu kami hanya mencemaskanmu."


"Saya tau, Pangeran."


"Mara ingin malam ini kau ikut bersama kami, sementara aku tidak yaki itu ide yang bijak untuk di lakukan sekarang."


"Aku tidak keberatan Pangeran, aku bisa datang."


"Ya, tapi ingat Olive, aku sangat mengenal saudaraku, dia tidak akan suka tentang ini."


Olive tau itu benar.


*****