
Setiap kali Olive di tinggalkan sendiri, karena para pelayan nya memang akan segera pergi setelah semua tugasnya selesai. Olive masih duduk di tepi ranjang menghadap jendela terbuka di depannya dan tiba-tiba dia tergoda untuk menengok keluar dari jendela tersebut.
Tidak ada yang bisa dia lihat kecuali angin yang berhembus kencang dan pepohonan hijau yang berada jauh di bawah sana. Pemandangan itu menyadarkannya, andai saja dirinya bisa kabur, tapi rasanya mustahil. Seandainya dia bisa keluar dari Benteng ini sekalipun, Olive tetap tidak tau harus kemana, rasanya tempat itu terlalu jauh dari rumahnya.
Olive kembali mundur dan duduk di ujung ranjangnya kembali, kali ini gadis itu lebih tertarik memperhatikan apa saja yang ada di kamarnya.
Olive memperhatikan dinding merah yang mencolok, hiasan bermotif sulur-sulur emas hampir memenuhi dinding tersebut, Olive hanya berpikir sepertinya lempengan tempa itu memang terbuat dari emas sungguhan. Ada terlalu banyak warna merah tua dan emas yang hampir mendominasi mulai dari dinding, tirai -tirai yang menjuntai bahkan permadani yang kali ini diinjaknya.
Berbagai barang indah dan menawan menghiasi beberapa sudut dan rak-rak cantik, tapi dari segalanya itu ada yang cukup menarik perhatiannya. Satu vas mawar segar yang juga berwarna merah tua diletakkan di depan meja rias, Olive berjalan mendekatinya.
"Ini Mawar sungguhan."
sulit membayangkan sebuah Mawar bisa tumbuh di antara benteng - benteng tebal di kastil-kastil megah nan suram tersebut.
Olive menyentuh lagi kelopak Mawar tersebut, olive suka mawar, terutama yang berwarna merah darah seperti itu, seperti ada sesuatu yang bisa memberinya perasaan yang sulit untuk dipahaminya.
Gadis itu mengambil beberapa tangkai dan di bawanya ketempat tidur.
*****
Olive baru terbangun saat mendapati seseorang duduk di tepi ranjangnya. Olive segera bangkit, ini masih terlalu pagi untuk sebuah kunjungan, dan apa yang sedang dilakukan King Alzov di kamarnya sepagi ini.
Olive coba membenahi posisi duduknya, karean tiap kali pakaian yang dikenakannya selalu membuatnya tidak nyaman, mungkin pakaian seperti ini normal untuk masyarakat di Utara tapi tidak dengan Olive yang selama ini dibesarkan di selatan.
"Tenanglah, aku hanya ingin melihat mu."
Olive masih bergetar setiap kali King Alzov mengangkat dagunya, sadar betapa dekat sepasang Netra pekat itu dapat memandangnya.
"Pergilah keluar, akan kusuruh orang untuk menemanimu berkeliling."
Mengejutkan dan masih cukup aneh untuk Olive cerna, seolah jalan-jalan adalah hal sepele yang sedang dia inginkan, karena jelas bukan itu keinginannya.
"Untuk apa aku ada di sini, My Lord ?" bibir Olive hampir bergetar tiap kali menyebut nama King Alzov dengan istilah apapun, karena tetap tidak mudah saat harus menyadari posisinya yang renta.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu."
"Semua ini membuatku bingung," sebenarnya kata-kata itu hanya untuk Olive dengar sendiri meski tanpa sadar dia tetap mengucapkannya.
Olive berharap tidak menatap sepasang Netra gelap itu, andai saja dirinya bisa berpaling.
"Aku ingin kau merasa nyaman tinggal di sini, karena itu juga yang diinginkan saudaraku."
Artur... Seperti baru mendapat pencerahan, mata Olive seketika berbinar.
"Apa Pangeran Artur tau aku ada di sini? " tanya gadis itu tiba-tiba bersemangat.
"Tentu dia yang ingin kau tinggal."
Olive tidak bisa menyembunyikan kelegaannya.
"Sepertinya kau sangat bahagia hanya dengan mendengar namanya. "
"Aku banyak berhutang budi padanya, My Lord," Olive kembali tersenyum, dan itu senyum pertamanya selama dia berada di tempat tersebut. Ini adalah kelegaan yang luar biasa bagi Olive, senyum cerahnya menimbulkan rona kemerahan di kulit pucat strowbery nya yang Indah.
.
"Terimakasih, My Lord," ucap Olive dengan keceriaan yang tidak dapat dia sembunyikan lagi.
"Kau tidak perlu melakukan itu, aku harus segera pergi dan buatlah dirimu merasa nyaman." King Alzov berjalan meninggalkan kamarnya.
Saat itu Olive mulai berpikir, mungkin King Alzov tidak seburuk apa yang sering didengarnya selama ini.
Tak lama seorang pelayan datang untuk mengurusi segala keperluannya, jujur Olive masih merasa tidak nyaman harus di layani seperti itu.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Bibi," Cegah Olive sebelum wanita yang sudah nampak berumur itu kembali menuangkan sup sarang burung di mangkuknya. Olive sendiri tidak mengerti kenapa dia harus sering makan makanan seperti itu di tempat ini.
"Maaf My Lady, biarkan saya melakukan pekerjaan saya."
"Panggil saja aku ,Olive."
Pelayan itu masih terkejut dengan perubahan besar yang dilihatnya pagi ini, sudah hampir satu minggu dia mengantarkan makanan tiap pagi tapi tidak pernah sekalipun gadis itu mengajaknya bicara, gadis mida itu emang selalu terlihat murung.
"Siapa namamu? "
"Saya Gabriel."
"Tolang panggil aku,Olive," semua perlakuan ini benar-benar membuat Olive tidak nyaman.
Wanita itu kembali menatap Olive dengan senyum ramahnya yang menenangkan.
"Saya memiliki Putri seusia Anda, my Lady," ucap pelayan itu dengan tatapan hangat.
"Oh...benarkah, Bibi," nampak keceriaan disuara gadis itu saat mendengar ada gadis muda seumuran dengannya.. "Dimana dia? "
Nampak gurat kesedihan tiba-tiba namun pelayan itu segera mengerjap menyadari kekikukannya, "dia meninggal karena wabah beberapa tahun lalu."
"Oh... Maafkan aku, Bibi."
Wanita itu menggeleng pelan
Olive bisa merasakan sepasang manik hangat yang mulai berkaca-kaca itu adalah milik seorang ibu, Olive rindu ibunya tentu saja. Olive juga rindu sup encer yang dulu di bencinya.
"Mulai sekarang panggil saja namaku ,Olive," gadis iti kembali meyakinka.
"Saya tidak berani, bagaimanapun kami harus menghormati yang Mulya Artur."
Sepertinya semua orang tau, dia ada disini hanya karena Pangeran Artur. Olive sendiri tidak mengerti kenapa pangeran Artur membiarkannya tinggal di sini, apapun alasanya Olive percaya Pangeran Artur tidak akan mencelakainya.
Olive kembali teringat mungkin dirinya sudah membunuh Dominik dan mengakhiri hidupnya sendiri andai saja tidak ada yang menolongnya waktu itu.
King Alzov lah yang selama ini diam-diam mengutus pengawal untuk selalu memata-matai adiknya. Meski biasanya Pangeran Artur sangat sulit untuk di ikuti, tapi kebetulan sore itu dia terlihat sedang berkuda dengan seorang gadis muda yang di turunkannya di tepi batas desa, dan dari situlah beberapa pengawal King Alzov mulai mengikuti Olive.
*****