KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 4Home



coba merebahkan tubuhnya yang lelah saat tiba-tiba dia mencium aroma makanan yang mulai memenuhi gubuk kecil tersebut.


Karena penasaran Mara keluar untuk mencari tau dan ternyata Theo sedang terlihat sibuk mengerjakan sesuatu di dapur kecilnya. Theo sepertinya benar-benar membuat sendiri makan siang untuk mereka, jujur Mara tidak bisa banyak membantu, dan sadar betapa bodohnya dia selama ini. Marra merasa tidak akan bertahan hidup sehari di luar tanpa membuatnya kelaparan.


Mereka benar-benar berburu sore itu, tidak terlalu jauh dari rumah Theo sudah berhasil memanah seekor rusa sementara Mara hanya mendapat seekor kelinci.


"Jangan khawatir daging kelinci lebih lembut."


"Jujur kau sedang menghiburku atau sedang meremeh kan ku? " timpal Mara.


"Aku serius Mara, aku lebih suka daging kelinci," Theo kembali tertawa..


"Itu lucu sekali, Anak Muda."


"Ku ingatkan sekali lagi, aku lebih tua darimu."


"Itu tidak lucu, " tepis Marra, acuh.


"Binatang apa yang pernah kau buru sebelumnya? "Tiba-tiba Theo kembali bertanya.


"Mungkin 7 rusa," Mara asal menjawab tanpa benar-benar menghitung kemudian Mara kembali coba mengingat, "pernah juga seekor Elang."


"Apa yang kau pikirkan, kau mengarahkan panahmu pada seekor Elang ! " Theo berhenti untuk melihat Mara yang tadinya berjalan di belakangnya.


Elang adalah hewan terlarang untuk diburu, memang tidak ada aturan tertulis tentang itu tapi Elang adalah lambang dari kejayaan negeri Utara, karena konon itu adalah mahluk kesayangan King Alzov, membunuh elang sudah jelas bukan hal sepele.


"Tenang, aku akan menjaga rahasiamu," tambah Theo kemudian.


"Katakan kenapa kau merasa ingin membunuh elang?"


Kali ini Theo berpura-pura serius untuk menunggu jawaban Mara.


Mara sadar pemuda itu hanya ingin melihat sampai di mana batas kesabarannya. "Jangan berpura-pura, kurasa semua orang ingin melakukannya andai ada kesempatan," itu hanya sarkasme bagaimana sebenarnya semua orang membenci arogansi Raja Utara tersebut.


"Aku akan melakukannya jika ada kesempatan," sela Mara, lagi.


"Apa itu berarti kau lebih menyukai Arthur? "


Mara berpikir sejenak, "Tidak juga," geleng Mara.


"Kenapa kudengar dia pangeran yang tampan, kurasa bukankah semua wanita seharusnya menginginkannya? "


"Hanya wanita bodoh yang menginginkan pria yang masih mencintai wanita lain."


"Darimana kau tau? "


"Jangan pura-pura bodoh, semua orang tau, dia tidak akan pergi ke selatan jika bukan karena King Alzov membunuh kekasihnya," tambah Mara, "selama dia masih di Selatan, selama itu pula dia masih belum bisa mengubur wajah Claire nya yang tersayang itu."


"Kau bicara seolah kau belum pernah jatuh Cinta, Marra."


Marra coba mengabaikan sindiran Theo.


"Apa dia, Putri yang kau cintai itu juga tinggal di utara? "Mara hanya asal bertanya untuk mengalihkan tema tentang Artur.


Theo kembali berhenti sejenak untuk menoleh Mara yang berjalan mengekor di belakangnya.


"Tidak, dia tinggal di selatan," jawab Theo singkat tanpa perlu menoleh lagi dan sudah kembali bejalan lebih cepat.


Mara kenal beberapa Putri di Selatan, tentu saja dia mulai menebak-nebak.


Ada Putri Merry dari Burna, Putri Alexsis dari Hitemia, Maria dari Khoza, dari Rizona ada si kembar Tanya dan Tania tapi umur mereka masih sebelas tahun mustahil Theo menyukai anak-anak,dan sisanya hanya ada dirinya sendiri Aurora dari Kaokasia, tidak tentu dirinya tidak masuk hitungan itu konyol.


"Cepatlah hari sudah mulai gelap,"


Mara baru sadar jika langkahnya sudah tertinggal jauh...