
Artur sudah berdiri di depan singgasana mendiang Ayahnya, pangeran Artur masih ingat bagaimana dulu keagungan King Hanry yang di kagumi seluruh rakyatnya. Sepertinya masa-masa itu sudah lama berlalu, saat langit di utara masih terlihat cerah dan hutan larangan terlihat hijau. Segala kedamaian itu sudah lama musnah sejak saudaranya memimpin dengan pedang dan darah. Negri Utara menjadi tanah paling mengerikan untuk di injak, langitnya selalu terlihat gelap di naungi awan hitam pekat yang membentang hingga sepanjang garis hutan.
Artur memang tidak pernah cocok dalam berbagai hal dengan saudaranya itu, meski sedetikpun Artur tetap tidak pernah bisa membencinya. Tapi kali ini saat melihat saudaranya itu, tiba-tiba Artur merasa dia benar-benar tidak pantas berada di sana, di singgasana Ayahnya.
King Alzov tidak bergeming saat satu anak panah Artur tepat menembus dadanya.
"Aku tau kau tidak akan mati semudah itu, tapi paling tidak kau pantas merasakan kematian."
King Alzov masih memegang anak panah di dadanya saat mulai jatuh berlutut.
"Artur kenapa kau tidak membunuhku," mereka saling tau hanya Artur yang mampu melakukannya, "apa kebencianmu masih belum cukup pantas untuk membuatmu rela membunuhku," King Alzov sedikit menertawakannya.
Memang hanya Artur satu-satunya orang yang bisa mengakhiri hidupnya, hanya Artur, dan Artur yang tidak akan pernah sanggup melakukannya sampai kapanpun. Karena itulah mungkin King Alzov akan tetap menjadi mahluk abadi, karena sebenci apapun Artur padanya, kebaikan hatinya tetap tidak akan sanggup membuatnya tega mengambil hidup saudaranya sendiri.
"Kau bisa membiarkanku mati saudaraku, hidup sudah terlalu membosankan dengan kutukan ini, kau pikir berapa ribu tahun lagi kita harus menanggung rasa sakit yang sama berulang-ulang."
King Alzov mengeluarkan belati berukir dari balik pinggangnya, kau mudian meletakkannya di tangan Artur.
"Lakukan! "
Hanya Artur yang bisa memotong nadi di tangannya dan belati itu lah yang akan menghisap tiap darah nya yang menetes hingga tetes darah terakhir, karena memang hanya dengan cara itu kutukan darah penyihir itu akan berakhir.
Duhulu kala belati berukir itu adalah milik seorang penyihir wanita penguasa hutan terlarang. Mekeyna, dia adalah penyihir terkuat di antara yang terkuat, dengan segala tipu dayanya penyihir wanita tersebut berhasil menaklukkan hati King Hary yang tidak bisa menolak kecantikannya.
Tahun demi tahun berlalu Meski sudah melahirkan dua Putra untuk Rajanya, tetap saja niat serakahnya untuk menguasai kerajaan di utara tidak pernah padam. Penyihir itu mulai merencanakan pembunuhan terhadap Sang Raja, yang merupakan suami sekaligus ayah dari kedua putranya.
Setelah berhasil membunuh penyihir putih istana kepercayaan Rajanya, penyihir wanita itu meminum darah dan menjadikan tulang nya sebagai sepucuk belati untuk mendapat keabadian. Penyihir wanita itu tidak akan pernah bisa mati hingga darah terakhirnya menetes dari ujung belati sihirnya, dan untuk itu semua hanya garis keturunan darahnyalah yang bisa melakukannya.
Mungkin Sang Ratu tidak pernah menyangka jika kepolosan Putra mahkotanya itu yang justru tega mengahiri hidupnya.
King Alzov masih menatap Artur," Jangan pernah lupa jika kita sama-sama mewarisi darah kotor itu, Artur." Tentu darah penyihir wanita itu masih mengalir di tubuh mereka,"Selamanya kita akan menanggung kutukan dan seluruh kepedihan seumur hidup kita yang panjang."
"Bunuh aku, mungkin kelak kau akan cukup beruntung jika putramu mau melakukannya untukmu."
Artur menepis pisau tersebut sampai terpental kelantai.
Hanya garis darahnya yang bisa mengahiri kutukan abadi mereka. Hidup abadi tidak selalu menyenangkan jika kau hanya bisa merasakan sakit dan penderitaan untuk selamanya.
Jika beruntung mungkin putranya sendirilah yang akan mengahiri hidupnya. Jelas itu bukan perkara sederhana yang bisa dibayangkan siapapun pada keluarganya.
"Aku membencimu Al, tapi kau tidak bisa meninggalkanku sendiri, kau pikir berapa ribu tahun lagi yang harus ku lalui, berapa kehilangan yang harus kutanggung. Tidak akan kubiarkan kau pergi sendiri!" tegas Artur ketika mencabut anak panah dari dada King Alzov, dan bekas menganga itu kembali tertutup sempurna seperti tidak memang tidak pernah ada luka di sana.
Bahkan King Alzov sudah pernah melakukan berbagai cara untuk mengakhiri hidupnya, memotong nadinya sendiri, memotong lengan bahkan membelah perutnya, tapi selalu tubuhnya kembali utuh dan hidup lagi.
"Aku sempat berharap kau bisa berubah," ungkap Artur, kemudian.
"Aku tidak pernah membencipmu tentang Claire, tapi kali ini kau juga coba mempermainkan putrinya."
"Maksudmu Olive," potong King Alzov.
Kali ini Artur yang terkejut.
"Jadi kau sudah tau dia putri dari Claire? "
"Ya dan apa kau juga akan menghukumku karena menginginkannya," kata King Alzov masih setenang biasanya.
"Sungguh Al kupikir bukan gayamu mencuri seorang gadis dari kamarnya."
King Alzov hanya memiringkan kepalanya seolah tidak mengerti bahasa Artur.
"Berhentilah memaksakan keinginanmu."
"Percayalah aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu pada wanita ku."
"Aku tau kau mengunjunginya."
"Maafkan aku tentang itu."
"Kau tau dia masih sangat muda."
"Percayalah aku sudah cukup bersabar untuk itu," kelit King Alzov yang sepertinya akan selalu menemukan jawaban untuk Artur.
"Lalu untuk apa kau menculiknya?"
"Menculik Olive? " King Alzov balik bertanya.
Bukannya Artur tidak menyadari keterkejutan saudara laki-lakinya itu
"Kau tau, aku kesini untuk menjemputnya."
"Sungguh aku tidak akan pernah melakukannya."
Selanjutnya mereka hanya saling pandang, seolah mencari apa yang salah, bagaimanapun Artur percaya saudaranya itu tidak akan pernah berbohong padanya.
"Dimana Olive ? " kali ini
King Alzov yang balik bertanya .
*****