KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 16 Artur



Artur kembali memacu kudanya menyebrangi hutan terlarang....


Artur sangat mengenal saudaranya dan dia sadar bisa jadi ini sudah sangat terlambat, tapi dia tetap harus bisa membawa kembali putri Claire.


Artur pergi ke utara seorang diri, setelah menyuruh beberapa pengawalnya untuk mejemput Mara yang masih tinggal di tengah hutan, bahkan dia sama sekali tidak sempat memikirkan entah bagaimana nati reaksi Mara. Bagi Artur yang terpenting kali ini adalah membawa Olive kembali dengan selamat.


*****


DELAPAN BELAS TAHUN YANG LALU ....


"Kita bisa pergi."


Sang gadis masih menggeleng, membuat pria yang berbaring di sampingnya itu kehabisan cara untuk membujuknya. Gadis itu memiliki mata biru, dan rambut keemasan yang masih tergerai di atas hamparan sutra yang sebagian menutup kulit lembutnya. Tangan pria itu mulai menyusup kedalam lapisan sutra, mencari di mana kulit telanjang hangat itu terasa lembut dalam sentuhanya.


"Claire kumohon... "


Tangan itu menemukan tempat di mana kehidupan baru itu mulai berdenyut ....


"Kita bisa membesarkannya bersama, bukan orang lain."


Namun gadis itu hanya kembali memejamkan mata untuk menghayalkan sesuatu yang tidak masuk akal.... andaikan saja benar-benar ada tempat untuk mereka berdua....


Semua orang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya esok hari, pernikahan yang akan menjadi pesta paling dinanti di seluruh negeri.


Dia akan menikah dengan seorang pangeran, pria paling luar biasa dan tidak akan pernah ada gadis manapun yang akan seberuntung dirinya.


Pria paling menawan di negeri ini menginginkannya, bagaimana bisa dengan begitu bodohnya dia justru sengaja menyusup kedalam selimut seorang martir. Benar-benar bukan pilihan cerdas, terlebih dia adalah pengawal kepercayaan sang raja, penghianatan itu pasti akan menjadi sesuatu yang tak termaafkan.


"Kita masih memiliki kesempatan untuk pergi."


"King Alzov tetap akan tau kemanapun kita pergi, dan kenyataannya memang tidak ada tempat untuk kita," Claire tau jelas siapa Raja mereka.


Seluruh penjuru negeri tau seperti apa sifat Rajanya, kekuasaan sang Emperor bahkan melingkupi beberapa kerajaan lain di seluruh penjuru.


"Dia hanya orang berengsek yang memiliki kekuasaan, tidak akan kubiarkan kecongkakaknya memisahkan kita."


"Aku mengenalnya lebih dari siapapun, dan aku tau apapun memang sanggup dilakukannya."


Claire tidak salah mengenai Raja muda mereka yang terkenal kejam itu, meskipun dia tau adik laki-lakinya sangat mencintainya tetap saja bukan berarti King Alzov akan mengampuni pengkhianatannya.


"Ramolus !" terdengar suara memanggilnya.


"Itu King Alzov," Ramolus seketika panik dan segera melompat dari tempat tidurnya. Mereka sama-sama tau siapa yang sedang mencarinya "sial aku lupa akan menemani Raja untuk berburu sore ini"


Pria yang masih bertelanjang dada itu mulai kembali mengumpat kesialanya.


Persahabatan mereka memang cukup dekat, karenanya King Alzov sudah biasa mendatangi tempat tinggal pengawalnya itu tanpa merasa perlu mengetuk pintu lagi.


"Dia akan masuk."


Claire pun masih panik, dan belum sempat membenahi dirinya saat pintu kamar mereka sudah terbuka.


King Alzov sudah berdiri di sana dan sudah sangat terlambat untuk mereka berdua, karena sepertinya hidup mereka telah berakhir saat itu juga.


"Apa yang kau lakukan di sini Claire!!!"


Triak King Alzov.


Tubuh gadis itu masih membeku terbalut sutra tipis yang seperti hanya mengambang di atas tubuh telanjangnya. Matanya beralih pada sosok pria yang berdiri tak jauh dari ranjang...


"Ramolus sunggub aku akan membunuhmu!" kecam King Alzov dengan bibir berdesis.


"Kami saling mencintai, My Lord," kata pria itu masih cukup berani.


"Berngsek, kau akan menikah dengan saudaraku besok pagi, Claire!"


"Maafkan aku, Al."


"Jangan berani menyebut namaku!!! "


Mereka tumbuh bersama dan sudah biasa menyebut Rajanya itu dengan namanya, dan tidak pernah sekalipun merasa keberatan.


"Kau membuatku murka, kupikir aku bisa mempercayaimu, Ramolus."


"Pria berbicara dengan pedang,"  tegas King Alzov yang sudah menarik pedang peraknya, "kupegang kata-katamu sebagai seorang kesatria."


"Tidak!!! " triak Claire mengetahui apa yang di maksud dengan sikap kesatria, mereka akan bertarung sampai mati, Claire sudah tau aturan umum itu. Meskipun Ramolus kesatria paling kuat di negri ini, dia tetap buka tandingan raja mereka.


Dan benar saja, satu tebasan baru saja melintang membelah dadanya saat tubuh besar itu ambruk tersungkur di depan tempat tidurnya.


Claire hanya bisa menjerit dan ikut tersungkur merenggut tubuh kekasihnya.


"Lihat betapa kalian sangat menjijikkan!"


King Alzov masih berdiri tanpa belaskasihan setelah menebas tubuh pengawal kepercayaannya yang berani mengotori ranjang istananya.


"Bunuh saja aku," Claire sudah tidak keberatan saat ujung pedang itu masih mengarah di depan wajahnya dan meneteskan sisa darah segar kekasihnya.


"Katakan sendiri pada saudaraku bertapa kotornya dirimu."


*****


Selama hampir setahun Claire menghilang, Artur masih yakin dengan harapannya.


Dia tetap akan menikahi gadis yang di cintainya itu saat dia kembali nanti.


Claire Rose Howard bukan hanya gadis yang dicintainya, dia juga gadis yang tumbuh bersamanya, bukan gadis yang salah untuk membuatnya jatuh Cinta dan dinikahi. Tapi, tiba-tiba mimpinya hilang, seluruh hidupnya hilang hari itu juga saat Claire kembali.


Wanita itu masih menangis berlutut di depannya, menyayat seluruh hidup yang dia bangun bersama saat tiap tetes air mata yang dia serahkan untuk laki-laki lain.


Artur tidak pernah berpikir ada yang salah pada dirinya, sampai dia tidak sanggup membuat gadis itu hanya jatuh cinta kepadanya saja.


Artur masih tidak mengira akan ada hari seburuk ini dalam hidupnya meski pun dia selalu mematuhi segala aturan ....


"Kau tidak perlu memaafkanku," tanpa menghiraukannya Artur memilih berpaling pergi meninggalkan waita yang masih berlutut tersebut. Hatinya benar-benar hancur Claire cintanya, Claire sahabatnya dan Claire hidupnya tiba-tiba hilang menjadi orang asing yang hanya bisa menangis dan berlutut untuk orang lain yang bukan siapa-siapa di antara mereka.


Karna itu Artur memilih pergi ....


Sepuluh langkah berlalu saat terdengar suara logam berdenting jatuh kelantai bersama tubuh Claire nya yang terhempas lunglai dengan darah segar masih merembas dari dadanya, bahkan sepasang Netra biru terang itu masih menatap Artur.


"Dia sendiri yang memilih mengakhiri hidupnya," jelas sama sekali tak tersisa sedikitpun simpati dari King Alzov saat menyaksikan wanita itu terkulai di tengah genangan darahnya sendiri.


"Mungkin ini tidak perlu terjadi seandainya aku mau sedikit pemaaf," Artur masih berlutut memeluk tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa.


" Wanita itu penghianat menjijikkan!" desis King Alzov, " bahkan jasadnya pun tidak layak berada di tanahku! "


"Dia wanita yang kucintai, Al."


"Tidak ada cinta dan omong kosong, sudah kubilang jangan percaya hal seperti itu !"


"Dia Claire, Claire yang sama-sama kita kenal," Artur masih ingin memohon untuk kekasihnya agar tetap mendapat kan pemakaman yang layak walau pun King Alzov menganggapnya seperti bangkai yang harus segera di singkirkan dari hadapannya.


"Dia tetap tidak pantas mendapatkanmu, kau hanya masih terlalu muda dan polos saudaraku."


"Hanya Claire yang ku kenal."


"Dengar, aku yakin dia akan kabur bersama kekasihnya jika bukan karena aku yang lebih dulu menebas tubuhnya, dunia ini dipenuhi penghianat sebaiknya jangan percaya satupun dari mereka!"


"Mungkin seharusnya kau juga tidak membunuhnya, Al."


"Dia menghianatimu saudaraku."


"Jangan menyebut tindakan itu sebagai pengorbanan untuk membelaku," tepis Artur yang bersikeras tidak dapat menerima tindakan saudaranya itu.


"Akan kuberikan semua wanita ku padamu jika kau masih meragukanku!"


"Mereka hanya wanita yang kau tiduri, Al, hanya wanita yang tak berarti samasekali buatmu ...."


Pangeran Artur yang selama ini selalu hadir bagaikan lentera dalam kegelapan bagi kepemimpinan saudara laki-lakinya yang brutal dan kejam itu sepertinya juga sudah ikut menyerah. Sejak kepergian Lady Claire, sepertinya lentera hidupnya juga ikut padam. Pangeran muda berhati malaikat yang selalu peduli dengan bangsa mereka kini sudah tidak ada lagi. Bagai awan kegelapan kesedihan ikut menyelimuti seluruh negeri terutama setelah Sang Pangeran memilih tinggal di kastil yang cukup jauh di Selatan, Pangeran Artur sepertinya memang benar-benar ingin pergi sejauh mungkin dari kenangan dan mungkin juga dari saudaranya.


Pangeran Artur dan King Alzov memang tidak pernah sepaham, tapi walau cara King Alzov sangat tidak manusiawi bagi Artur, tapi sejatinya mereka tetap saudara yang saling menyayangi. Sifat keras King Alzov mungkin lebih karena bagaimana cara hidupnya di tempa, dia memang harus bertahan dari yang terburuk untuk diatasi, dan telah tumbuh melampaui ambang batas yang sangat luar biasa tidak masuk akal. North Kingdoom menjadi kerajaan besar tak terkalahkan juga tidak bisa di pungkiri karena kebrutalan Raja muda mereka.


*****