
Setelah mahluk mengerikan yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah, tubuh pangeran Keive yang sudah tercabik-cabik juga masih beberapa kali ter lempar hingga membentur pepohonan di tengah hutan, Olive hanya bisa menjerit saat King Azlov mendekatinya. Olive tau seorang King Azlov juga tidak akan segan untuk menyakitinya, gadis itu kembali menjerit saat merasakan tangan besar itu menyambar lehernya dan hendak melemparkannya kedalam lobang menganga ketika Olive tiba-tiba ter bangun dengan meneriakkan nama Pangeran Keive.
Masih tersentak dengan nafas tersengal, Olive berusaha menarik nafas sebanyak-banyaknya dan lega jika itu semua ternyata hanya mimpi. Masih dalam keadaan linglung Olive mulai sadar dia ada di sebuah kamar besar yang terahir di tempatinya beberapa bulan ini, Itu berarti dia sudah kembali berada di Utara, dan benar saja King Alzov Yang Mulia sedang duduk tak jauh dari tempat tidurnya....
Bagaimana dengan Pangeran Kieve. Otak olive masih berantakan untuk mencerna ingatan terakhirnya.
"Semoga tidurmu nyenyak? " Sambut King Alzov dengan tekanan yang mempertegas kemurkaannya.
"Dimana pangeran Kieve? " tapi sepertinya Olive tidak telalu peduli, dia hanyabteringat pangeran Keive.
"Apa kau juga tidak penasaran dengan sahabatmu Edmun itu? "
Oh Tuhan.... "Tolong jangan sakiti mereka," Olive segera bangkit dari tempat tidurnya, hendak berlutut di depan Sang penguasa negri Utara tersebut.
"Jangan khawatir , karena sepertinya para pemuda itu juga tidak keberatan mati untukmu gadis muda."
"Ini semua salahku, hukum saja aku."
"Kau pikir akan semudah itu, setelah kau beranu menghianati saudaraku."
"Aku hanya ingin pergi dari sini, aku tidak pernah menghianati siapapun!" Olive masih berani membantah untuk kebenarannya.
"Aku sudah cukup menahan diri demi saudaraku, aku coba menghargaimu tapi sekarang lihat apa yang kau lakukan !!!"
Tubuh Olive seperti ikut ter pental saat kemurkaan membuat King Alzov tanpa sadar menghempaskan tubuhnya sampai membentur dinding, hal itu membuat dada Olive nyeri dan sesak, nafasnya kembali tersengal.
Selanjutnya Olive hanya bisa meringkuk di dekat dinding menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya berulang kali. Tapi anehnya bukan rasa takut lagi yang ia rasakan kali ini
Sepasang Netra birunya seperti mengkristal saat menatap tajam dua manik gelap Sang Kingdom tanpa gentar untuk menantangnya walau Olive tau mungkin King Alzov masih ingin bermain -main dengan nyawanya dan tidak akan memberikan kematian yang mudah untuknya.
King Alzov kembali berjalan mendekatinya, sementara Olive hanya bisa beringsut untuk mendekap tubuh mungilnya di sudut. Mengacuhkan darah segar yang mulai mengalir dari sudut bibirnya, pipinya masih berdenyut. Mungkin akhirnya dia memang hanya bisa pasrah dengan ketidak berdayaan saat kembali teringat Edmun dan pangeran Keive.
"Sungguh kau boleh memberikan hukuman apapun padaku, tapi sekali lagi tolong jangan sakiti Pangeran Keive dan Edmun," air mata mai menuruni tiap sudut matanya, meski sepertinya King Azlov bukan mahluk yang akan berbelas kasih tapi Olive merasa tidak boleh putus asa untuk memohon.
Tubuh Olive mulai menggigil untuk mempertahannka keberaniannya, Olive tidak berani berpikir tentang apapun, karena bagaimanapun orang lain ikut celaka karena diri nya. King Alzov merunduk lebih dekat meraih dagu gadis muda itu untuk menatapnya.
"Berani sekali kau masih memikirkan orang lain! "
Tubuh Olive benar-benar bergetar, Olive tidak pernah menyangka jika King Azlov akan semurka ini, bahkan bisa ikut Olive rasakan nafasnya yang berdesis menahan geraman mengerikan di rahannya yang mengeras. Mungkin yang dia lakukan kemarin berlebihan tapi siapa yang peduli, bagi Olive kematian bisa jadi lebih baik dibanding harus tinggal lagi di tempat terkutuk ini.
Dalam sekejap King Alzov merenggut tubuh Olive dan kembali menjatuh kannya dengan kasar keatas tempat tidur.
"Dengar, aku tidak peduli apa yang akan di lakukan Artur setelah ini, kau benar-benar sudah bermain-main dengan batas kesabaranku."
King Alzov menarik tubuh Olive, mengurung gadis itu dengan dua lengan kerasnya yang berkedut, tidak sulit untuk membuat gadis itu tetap diam. Bagaimanapun King Alzov akan mustahil untuk di hentikan, Olive tak berdaya melawan saat pria itu mulai memaksanya dengan kasar.
Olive tidak peduli dengan rasa anyir dari sisa darah segar di mulutnya yang terpaksa kembali dia telan, dia masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat ujung ibu jarinya King Alzov menyapu bibir bawahnya yang berdenyut. Darah segar masih mengalir saat King Alzov kembali ikut memcicipinya. Olive pikir berteriakpun akan percuma, dia hanya bisa meronta dengan sisa tenaganya yang sia-sia.
"Jangan coba menggigitku lagi!" hanya dengan satu tangan King Alzov menekan kedua lengan Olive ke atas sisi kepalanya, sementara tangannya yang lain menahan dagu Olive mencegahnya bergerak setelah gadis itu kembali menggigit bibirnya.
*****