KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 5 stupid



"Kau perlu pakaian ganti, "Theo berdiri di depan pintu menyerahkan beberapa pakaian untuk Mara,"aku tidak melihatmu membawa apapun dari kemarin."


"Trimakasih," kembali lagi Marra sadar betapa bodoh dirinya, dan dia masih tidak menyangka jika ternyata Theo juga memperhatikan hal yang dipikirnya sesepele.


"Akan kucarikan pakaian yang lebih layak besok."


"Aku tidak ingin kau mencuri pakaian dari jemuran untukku."


"Aku masih sanggup membeli dua tiga pakaian untukmu, asal jangan meminta lebih," Theo terdengar agak kesal, walaupun Marra sepertinya sama sekali tak merasa sudah menyinggungnya.


"Kau bisa pakai uangku," Mara justru mengeluarkan beberapa koin emas dari kantongnya.  Marra merasa iti cukup untuk membeli beberapa pakaian.


"Sudah kubilang aku akan membelikanmu, simpan saja uangmu."


"Baiklah,jangan menyesal anak muda," Mara kembali menyimpan uangnya.


"Jangan lupa aku lebih tua darimu! "


Mara kembali mengabaikannya dan segera mengganti pakaian setelah Theo benar-benar pergi.


Theo baru memanggilnya kembali saat makan malam, dia membuat sup dari kelinci hasil buruan mereka sore tadi.


"Ini enak," kata Mara sungguh-sungguh.


"Sangat mudah membuatnya nanti kuajarkan."


"Benarkah kau akan mengajarkanku memasak? "


Jujur agak konyol membayangkan pria bertubuh tegap justru mengajarinya memasak.


"Secara tehnik aku mengajarkanmu cara bertahan hidup, tentu kau tidak ingin hanya memakan tikus tanah bakar saat tersesat bukan."


Kembali lagi Marra merasa Theo benar, karena seharusnya dia tau tehnik paling dasar untuk bertahan hidup, selain hanya membuat api maksudnya.


"Dan itu gratis untukmu."


"Hm, tentu aku tidak ingin membayarmu hanya karena mengajariku merebus kelinci."


Meski sebenarnya Pemuda itu masih agak jengkel tapi sungguh dia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk mulai menertawakan kebodohan Marra.


"Kau mau minum."


Mara coba menggeleng tapi tidak menolak dan langsung meneguk gelas yang disodorkan Theo.


"Dengar ini bukan tindakan yang bijak, kita hanya berdua dan kau memberiku anggur."


"Tidak," Mara justru menarik gelas yang masih di tangan Theo, Theo coba mencegahnya tapi setiap kali gadis itu berhasil menepis tangan pemuda itu. Entahlah mungkin Mara hanya ingin melupakan masalahnya sejenak dengan sedikit bersenang-senang menjadi orang bodoh.


"Sudah cukup Mara," Theo kembali coba menarik gelas Mara dengan tegas.


"Tolong sekali lagi," gadis itu coba merengek, tingkahnya sudah tidak seperti gadis waras yang ia kenal.


"Kau hanya akan memuntahkan daging kelinci yang susah payah kau cari sepanjang sore."


"Itu terdengar lucu... " Mara justru tertawa...


"Aku serius Mara,"


Theo berhasil mencegah tangan Mara untuk kembali meraih gelas di depannya, Theo masih menahan tangan gadis itu di atas meja.


Theo justru mendapati wajah gadis itu yang begitu dekat, dan Marra sedang menatapnya ....


"Di mana keluargamu Theo? "


Tiba-tiba Mara bertanya.


Theo menggeleng, "Aku tidak seberuntung itu."


"Maksudmu kau tinggal sendiri di tengah hutan di besarkan oleh beberapa kera dan ibu gajah?" sepertinya Mara sudah benar-benar mabuk.


Seingat Mara, dirinya hanya minum beberapa gelas setelah menghabiskan daging kelincinya tadi.


"Tidak ada kera tidak ada gajah Mara."


Mara merasa sepertinya ada lengan keras yang menahan punggungnya.


"Tidurlah kau sangat mabuk."


Wajah Theo mulai berputar-putar di kepala Marra dan tangan nya yang lancang justru mulai terulur untuk menyentuhnya.


"Kau tampan," Mara memperhatikan pemuda itu dengan lebih teliti dan melihat ada yang menghangat di matanya.


"Ingat jangan coba menciumku," Mara menjentikkan jari telunjuknya untuk menyentuh bibirnya.


"Kau mabuk Mara, ayolah pergi ketempat tidur."


Selanjutnya Mara hanya merasakan kakinya yang sudah tidak lagi menyentuh lantai.


*****