
Semua mahluk yang panik berlarian meninggalkan goa, dengan berbagai wujud mahluk-mahluk sihir tersebut meluncur layaknya rudal menembus kepermukaan air di mana anak panah Artur sudah menunggu. Jerit dan lengkingan mahluk-mahluk sihir beraneka wujut itu menggema keseluruh langit hutan, saat satu-persatu anak panah Artur kembali membuatnya hancur menjadi abu. Dalam sekejap permukaan telaga jadi berkabut oleh sisa debu abu yang memenuhi udara, dan Artur mulai cemas karena Al belum juga muncul. Mahluk terakhir seekor duyung hitam ber wujut wanita cantik dengan gigi-gigi runcing baru saja hancur menjadi abu di dekat kaki Artur.
Artur masih berdiri di dekat air, menunggu sampai kabut mulai menghilang.
Tak lama air telaga yang pekat tiba-tiba berubah warna, biru terang hampir bercahaya saat tiba-tiba sosok King Alzov muncul dari dalam air dengan membawa tubuh pingsan Olive.
"Segera bawa dia pergi."
King Alzov menyerahkannya pada Artur.
Bukannya Artur tidak menyadari ada keanehan pada saudaranya tapi sayang Artur tidak punya waktu untuk bertanya, karena dia harus segera membawa Olive naik ke atas kudanya dan membawanya kembali ke Selatan.
*****
"Apa dia akan baik-baik saja?" Mara mulai cemas karena sudah dua hari sejak Artur membawanya pulang namun masih belum ada tanda-tanda gadis itu akan siuman.
"Tenanglah Mara, nafasnya mulai teratur, sepertinya dia akan segera siuman."
"Apa sebenarnya yang terjadi? "
Mara menayakan pertanyaan yang sama di otak Artur.
"Aku tidak tau," Artur menggeleng, seharusnya Olive sudah bangun dari kemarin jika benar dia hanya pingsan. Karena apa yang Artur lihat tubuhnya baik-baik saja bahkan tidak ada sama sekali bekas luka di sana.
"Kita tunggu saja Mara, istirahatlah biar aku yang menjaganya."
"Aku mencemaskannya, Artur."
"Tenanglah kita juga punya tabib terbaik yang akan selalu menjaganya."
"Menurutmu apa King Alzov sudah tau keadaannya? "
"Sepertinya dia tau."
Artur ingat bagaimana Al nampak berbeda saat itu, Artur merasa ada sesuatu yang sengaja dirahasiakan nya tapi ia tidak berani menebak.
King Alzov memang sudah mengambil cukup banyak resiko untuk sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan.
Satu minggu berlalu keadaan Olive belum menunjukkan perubahan, kecuali rona wajahnya yang mulai nampak segar tak sepucat saat dia pertamakali dibawa pulang saat itu. Dia benar-benar nampak seperti seorang putri yang sedang tertidur setelah menggigit buah apel.
Tubuh Mara tiba-tiba terlonjak menyadari metafora yang baru melintas di pikirannya.
Snow white....
Mara teringat dongeng yang sering di ceritakan ibunya.
"Artur apa kau percaya jika saudaramu itu mencintainya."
"Aku belum pernah melihat Al melakukan sesuatu seperti yang dia lakukanya pada Olive."
"Kalau menurutmu dia peduli kenapa dia tidak pernah mengunjunginya kemari? "
"Entahlah, tapi Aku percaya Al tidak main-main."
"Apa karena dia putri Claire, hingga dia belum bisa memaafkannya."
"Al tidak pernah membencinya Mara, meskipun dia sudah tau Olive putri Claire."
Artur mengangguk, "bahkan sebelum Olive tau."
"Oh... " Mara benar-benar terkejut kali ini.
"Dia mengunjungi Olive, diluar sepengetahuan kita."
"Maksutmu Olive merahasiakan semua itu dari kita? "
"Darimu tepatnya," tambah Artur membuat mata biru gadis itu melebar, Mara kembali menggelus perutnya yang semakin membesar.
"Menurutmu apa Olive juga mencintainya?"
"Mungkin, sebelum dia tau bahwa dirinya adalah putri Claire."
Mara bisa mengerti alasan gadis itu jika akhirnya harus membenci pria yang mungkin juga di cintainya.
"Artur menurutmu apa mungkin ada pangeran berkuda hitam yang bisa membangunkan snow white?"
"Jangan konyol Mara," Artur tau kemana arah sarkasme Mara, "sejahat apapun saudaraku itu, aku percaya dia benar-benar peduli dengan Olive."
Mara masih berpikir keras ketika tiba-tiba seorang pelayan memberi tahu mereka bahwa Olive sudah siuman.
Sungguh luar biasa baik Mara ataupun Artur juga tidak pernah menyangka jika Olive benar-benar sudah duduk di ranjangnya saat mereka datang.
"Putri Mara, Pangeran Artur,"
Gadis itu tersenyum hormat, seolah dirinya bukan gadis yang baru bangun dari tidur panjang.
Mara segera berlari memeluknya...
"Putri sepertinya perutmu menendangku."
Olive benar, Mara menyadari bayi di perutnya bergerak sangat aktif, Mara segera melepaskan pelukannya dan tersenyum saat mengoreksi keadaan Olive, dia yakin gadis itu baik-baik saja.
"Sepertinya bayi Anda sangat sehat."
"Sebenarnya tidak biasanya dia suka menendang," Marra juga heran "Mungkin dia menyukaimu, Olive."
*****
Mara melihat jika Olive memang baik-baik saja, gadis itu menemaninya minum teh pagi ini sampai Pangeran Keive yang baru datang ikut bergabung bersama mereka.
Mara tau bagaimana perasaan kakaknya itu terhadap Olive, karena dia juga salah satu orang yang paling hawatir selama keadaan Olive beberapa hari kemarin.
Tapi kali ini jujur Mara merasa serba salah, bagaimanapun Mara tidak ingin melihat kakaknnya kecewa, tapi di lain sisi dia tau masalah Olive dan King Alzov juga tidak sederhana.
Entah apa yang sedang dipikirkan gadis muda itu di balik senyumnya, yang jelas Mara tidak bisa tiba-tiba bertanya tentang masalah tersebut. Olive sendiri memilih untuk tidak bercerita pasti karena dia juga punya alasan, dan Mara tentu masih sangat mengerti siapapun butuh waktu untuk menerima masalah serumit itu. Meskipun Mara setuju King Alzov memang layak di benci tapi jika yang di katakan Artur benar, sepertinya juga tidak adil jika bersikeras menuduh King Alzov tidak punya hati sama sama kali.
Mungkin kali ini Olive hanya belum bisa memaafkan, tapi suatu saat waktu pasti bisa melihatnya. Tak ubahnya Mara, bagaimana akhirnya dia sadar untuk tetap memilih Artur bahkan setelah segala kebohongannya.
Olive berhak bahagia, Mara yakin itu...
*****