KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 12 prince



"Ingat antarkan dia sampai dekat benteng istana."


"Naiklah Olive," perintah Marra.


Olive yang merasa canggung hanya bisa mengikuti dengan patuh saat harus duduk di pelana depan, karena mereka hanya akan membawa satu kuda.


"


" berterimakasih.


"Aku ingat," Artur masih menatap sepasang Netra biru di depannya yang tak bergeming, siapapun tidak akan pernah lupa jika melihatnya.


Artur mengagumi Mara dengan segala hal dalam dirinya, Mara Putri yang cantik luar biasa, gadis yang berani mengikat hatinya hingga membuat bayangan Claire berlalu. Sementara Olive hanyalah gadis yang sangat polos untuk mengerti bagaimana seorang pria tidak akan pernah melupakannya.


"Pangeran bisa mempercayaiku," Olive berjanji pada dirinya, "Putri Aurora sangat beruntung memiliki pangeran yang sangat mencintainya," Olive kembali tersenyum.


"Baiklah, akan kuantar kau pulang," kata Artur setelah berpikir sejenak.


Artur kembali menaikan Olive keatas kudanya dan mereka kembali menyebrangi hutan.


"Aku bisa turun di sini," kata Olive setelah mereka mendekati perkampungan.


"Kau yakin? " Artur kembali bertanya karena hari sudah mulai gelap, dan mereka baru memasuki batas perkampungan.


Olive hanya tidak ingin ada yang melihatnya bersama pangeran Artur.


"Baiklah, berhati-hati lah,"


Artur segera berbalik arah sesaat setelah menurunkan Olive di dekat jalan utama menuju gerbang kampung.


Rumah keluarganya masih ada di komplek lingkungan istana, di dekat kandang kuda tepatnya. Olive hanya harus berjalan tidak terlalu jauh, tapi hari sudah sepenuhnya gelap saat Olive melewati jalanan kota.


"Olive!"


"Sial!" pekik Olive pelan.


Itu suara Dominik yang sedang mabuk seperti biasanya.


"Olive kemari !" triak pemuda itu, lagi.


Dominik sedang bersama beberapa temannya yang sama-sama mabuk.


"Kau tidak dengar aku memanggilmu!"


Olive sudah siap berlari saat tiba-tiba lengan besar Dominik sudah mencekal pinggangnya.


"Dominik lepaskan aku!!! "


Olive mulai berteriak dan menendang-nendangkan kakinya saat Dominik mengangkat tubuhnya.


"Dominik berengsek kau!!! "


"Aku masih ingat kelakuanmu tempo hari," bisik Dominik di dekat telinga Olive.


Olive kenal siapa Dominik, karenanya dia tau dia tidak pernah main-main, Dominik membawa Olive pada teman temannya.


"Benarkah ini saodarimu? "


Ada beberapa yang bertanya..


"Kau bisa mengambilnya dan anggap hutangku lunas."


"Dominik apa yang kau lakukan! " Olive menjerit saat mendapati tubuhnya berpindah tangan.


"Dominik terkutuk kau!! " triak Olive.


"Nikmati saja malammu, Olive kecil, kau akan segera tumbuh dewasa! "


Olive merasa tangan-tangan kotor itu mulai meremas pinggangnya, dia masih meronta dan berteriak pada Dominik yang meninggalkannya begitu saja.


"Kau benar-benar gadis yang luar biasa cantik."


Mulut-mulut kotor itu berbau busuk, Olive benar-benar tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini.


Olive janji akan menggunakan sisa hidupnya untuk membunuh Dominik setelah ini, dan mungkin kemudian dia bisa lega untuk mengahiri hidupnya sendiri setelahnya.


Orang-orang kotor itu menarik tubuh Olive beramai-ramai kedalam rumah. Salah satu yang paling besar mendorong tubuh Olive ke dlam kamar, gadis itu masih berusaha melawan meski sia-sia, dia justru merasakan bahunya membentur dinding. Olive berteriak, berusaha terus melawan pria bertubuh besar yang kembali memukulnya itu, Olive menjerit saat tangan besar itu seperti mencekiknya.


Olive menendangkan kakinya, dia berhasil lepas untuk menghirup udara, nafasnya tersengal pria itu kembali menarik kakinya dengan kasar, Olive kembali terjatuh dan berteriak kesakitan, tapi kali ini sepertinya dia tidak sendiri.


"Tolong jangan bunuh aku."